
Aku benar-benar tak bisa mengendalikan diriku lagi sekarang. Saat ini aku sedang berada di tempat yang sama sekali tak ku ketahui tempatnya, aku hanya bisa menonton diriku di luar sana yang sedang mengamuk tanpa arah membunuh dengan kejam. Aku tak bisa melakukan apapun, aku sangat pasrah di tempat aneh ini.
Diriku yang tidak terkontrol itu pergi mencari mangsa baru, dan orang itu adalah Tygruth. Sementara itu aku tak bisa melakukan apapun, aku sangat membenci diriku yang seperti ini. Lagi-lagi aku tak bisa melakukan apapun, dan hanya diam hingga akhirnya diriku dikuasai oleh orang lain sepenuhnya.
"Kumohon hentikan ini sekarang juga! kumohon... hentikan..." ucapku yang memohon pada anak kecil itu dengan pasrah.
"Aku tak bisa melakukannya... kau sendiri lah yang harus melakukannya" ucap anak kecil itu yang sepertinya sedang mempermainkan ku.
"Apa kau bodoh! tak ada yang bisa kulakukan saat ini! jadi hentikan dia!" ucapku.
"Dia? bukankah itu adalah dirimu sendiri? jadi kaulah yang harus menghentikannya" ucap anak kecil itu yang membuatku terkejut.
Sementara itu diriku yang sebenarnya sedang menggenggam sebuah pedang, dan bersiap untuk menebas Tygruth. Syuuuuut... pedang itu aku ayunkan, dan... tiba-tiba saja diriku berhenti melakukannya tepat saat pedang itu berada di atas leher Tygruth. Tanganku bergemetaran, seperti ada sesuatu yang menahannya.
"Argh! tak akan kubiarkan diriku merenggut nyawa temanku!" ucapku diriku yang entah kenapa tiba-tiba aku bisa melakukanya, untuk mengendalikan diriku diluar sana.
"Kau... tidak mungkin... mustahil! kau harus terus berada di siji bersama ku! kau harus menemaniku, dan jangan pergi!" ucap anak kecil itu yang terlihat sedih, dan meneteskan air matanya, dan membuatku terkejut. Tapi aku tak terkecoh semudah itu, aku tetap berusaha mengendalikan, dan mengambil alih tubuhku kembali.
"Argh! aku tak akan kalah dari diriku sendiri! berjuanglah... berjuanglah Gernath!" ucap diriku kepada diriku yang sedang dikendalikan oleh anak kecil itu.
Prang! akhirnya pedang yang ku genggam itu terjatuh, sementara itu diriku sudah sangat kelelahan karena aku sudah mengeluarkan seluruh kekuatan ku sekuat tenaga untuk mengendalikannya. Tapi aku tak bisa melakukannya sampai tuntas, dan pada akhirnya diriku mengambil pedang itu kembali, dan bersiap untuk mengayunkan kembali.
__ADS_1
"Hahaha! sudah kuduga! kau tak bisa melakukannya! aku senang akhirnya kau tetap berada disisi ku" ucap anak kecil itu yang tampak bahagia. Sementara itu aku jatuh tergeletak, dan melihat diriku sambil memohon kepada diri ku sendiri untuk tak melakukan hal yang akan membuatku menyesal.
Tapi semuanya... sudah terlambat sekarang, syuuuuut... tang!. Tiba-tiba saja ada sebuah pedang yang menghalangi ayunan pedangku. Dan orang yang menangkis itu adalah Mouri, dia datang dengan secepat kilat dengan mesin aneh yang sepertinya itu adalah ide milik Tygruth.
Tubuh Mouri penuh dengan luka, mungkin itu akibat dari ledakan saat itu. Aku yang melihatnya sangat bersyukur kalau akhirnya Mouri masih hidup, dan diriku yang ingin membunuh Tygruth pun berhasil di hentikan olehnya, "Tidak! dasar brengsek! padahal tinggal sedikit lagi!" ucap anak kecil itu yang marah.
"Ada apa denganmu Gernath! Gernath yang kukenal tidak seperti ini!" ucap Mouri yang menggenggam pedang di tangannya dengan tegak, "Gernath yang kau kenal? tapi inilah diriku yang sebenarnya, diriku yang belum kau kenal" ucap diriku kepada Mouri dengan tatapan pembunuh.
Kemudian teman-teman ku yang lainnya pun akhirnya sampai, dan berdiri dihadapan diriku. Aku yang melihatnya semakin bersyukur kalau mereka semua masih hidup meski mereka banyak luka. Elysna, Vloid, Boa Boa... mereka masih hidup! aku sangat senang bisa melihatnya. Tapi apakah mereka bisa menghadapi diriku yang ini?.
"Kakak sadarlah! ini sama sekali bukan diri kakak yang ku kenal. Kakak Gernath yang kukenal sama sekali tidak memiliki sifat yang busuk seperti ini! kak Gernath yang kukenal orangnya sangat menyenangkan, meskipun terkadang kau bersikap menyebalkan!" ucap Vloid yang mencoba menyadarkan ku.
"Benar... meskipun aku masih belum mengenal dirimu lebih lama. Aku sangat menghormati mu sebagai orang yang memimpin tim ini, dan juga sebagai seorang kakak yang baik" ucap Boa Boa.
"Kalian ini sedang bicara apa? aku sama sekali tak mengerti" ucap diriku yang membuat mereka terkejut dengan perkataan ku. Kemudian diriku mengambil sikap kuda-kuda, dan bersiap untuk mengayunkan pedangnya untuk membelah mereka.
"Bagus! inilah yang ku tunggu tunggu! lebih baik kau menyerah saja" ucap anak kecil itu padaku.
Pats! aku terbang bagaikan bayangan yang tak terlihat, dan dalam sekejap mata sudah berada di depan mereka. Tapi... tiba-tiba saja diriku yang ingin menebas mereka berhenti bergerak, dan membuat si anak kecil itu terkejut, "Aku tak akan menyerah bocah! karena masih ada orang-orang yang berharga untuk ku lindungi di dunia ini" ucapku yang mencoba dengan keras untuk mengendalikan diriku kembali.
"A-apa!? bagaimana bisa kau? ini tak boleh terjadi!" ucap anak kecil itu yang mencoba mengambil alih tubuhku kembali. Tapi kali ini aku tak akan kalah! karena mereka semua adalah orang-orang ku yang berharga! aku tak akan menyerah begitu saja.
__ADS_1
Meskipun mustahil aku tak akan pernah menyerah, meskipun mengubah takdir sekali pun aku tak akan menyerah. Karena seluruh dunia ini ada dalam genggaman ku! Semuanya... mereka semua sangat membutuhkan ku, mereka semua menaruh harapan besar padaku yang padahal diriku ini tidak pantas untuk menerima harapan itu.
Tapi karena mereka sudah menaruh harapan padaku! aku tak akan mengecewakan mereka!. Aku akan terus berjuang, dan tak akan pernah menyerah!. Karena masih ada banyak hal yang masih belum ku wujudkan, dunia ini masih belum damai, dan aku masih belum menikah dengan Elysna.
Aku tak akan mati, dan aku tak akan membiarkan mereka mati. Karena akulah yang akan membuat lawan ku mati, bukan mereka yang membuat kami mati, "Hyaaah! berjuanglah diriku! berjuanglah!" teriakku dengan mengeluarkan seluruh kemampuan ku untuk mengendalikan diriku.
Kemudian muncul sebuah cahaya yang menyinari diriku, "Tidak... tak akan kubiarkan kau mengambil apa yang seharusnya milikku!" ucap anak kecil itu yang berusaha keras untuk mengambil alih kembali tubuhku. Namun pada akhirnya akulah yang menang, dan anak kecil itu terlihat pasrah.
"Jangan pergi... jangan tinggalkan aku sendirian... kumohon padamu... aku tak ingin sendirian lagi disini... kumohon tetaplah berada di sampingku" ucap anak kecil itu yang meringkuk sambil menangis. Entah kenapa aku bisa merasakan kepahitan itu, penderitaannya, rasa sakit yang dia rasakan.
Seolah-olah dia adalah diriku, tapi..., "Maaf... aku tak bisa bersamamu... karena mereka masih membutuhkan diriku. Jika mereka sudah tak membutuhkan ku lagi... aku berjanji padamu untuk berada di samping mu" ucap ku yang sebentar lagi akan segera pergi dari sini, dan masuk kembali ke tubuhku semula.
"Tidak mungkin... hal itu tidak mungkin terjadi... mereka tak akan pernah membuang ku... jangan hanya berkata manis di depanku kalau kenyataannya begitu pahit" ucap anak kecil itu yang menangis.
Kemudian akhirnya aku pergi dari tempat aneh yang tak ku kenali itu, dan kembali ke tubuh asli ku. Aura hitam yang menyelimuti diriku itupun akhirnya menghilang, dan aku sudah kembali menjadi diriku lagi. Diriku yang sangat dibutuhkan oleh mereka yang membutuhkan ku, "Gernath... apa kau sudah kembali?" ucap Elysna yang terlihat lega.
"Ya... aku sudah kembali semuanya... terima kasih telah mengatakan kata-kata indah itu" ucapku yang tersenyum kepada mereka. Kemudian akhirnya mereka sangat senang sampai meneteskan air mata kebahagiaan, dan melompat ke arahku dengan bersamaan, "Dasar bodoh jangan membuatku takut" ucap Elysna.
"Kau memang bodoh seperti biasanya! tapi itulah dirimu yang ku kenal" ucap Mouri.
"Dasar menyebalkan! kakak yang sangat menyebalkan! hahaha!" ucap Vloid.
__ADS_1
Sementara itu Boa Boa pergi menghampiri Tygruth untuk menetralisir tubuhnya yang terkena serangan zat kimia dari makhluk-makhluk busuk itu. Setelah itu Elysna menggunakan kekuatan heal untuk menyembuhkan kami semua. Dan inilah akhir dari pertarungan yang sangat melelahkan.