
Dan ini adalah hari libur kami yang kedua, dan akan segera di mulai. Aku bangun-bangun pagi sekali untuk membangunkan semua teman-teman ku untuk bersemangat menjalani hari yang menyenangkan. Kecuali Rouge yang tidak tinggal bersama kami di penginapan ini. Karena setiap malam dia harus berpisah dengan kami.
Meskipun begitu aku tak peduli jika dia pergi, karena dia masih bersikap sangat menyebalkan pada kami. Dia bilang sebelum pergi kalau ada keluarga yang harus dia urus, kaki terkejut begitu mengetahuinya saat dia bercerita kalau dia memiliki keluarga kecil yang bahagia saat malam hari sebelum berpisah.
Sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan istri, dan anaknya. Apakah dia akan baik-baik saja hidup bersama dengan pria aneh ini. Membayangkannya saja sudah membuatku merasa iba kepada anak, dan istrinya Rouge. Sepertinya dia sangat tersiksa selama hidupnya setelah menikahi Rouge.
Tapi ngomong-ngomong yang menjadi pertanyaan ku adalah. Kenapa istrinya mau menikahi pria aneh bertopeng itu, dan apakah istrinya pernah melihat wajahnya. Namun begitu aku bertanya kepada Rouge mengenai hal itu sebelum dia berpamitan untuk pulang, dia bilang kalau tidak ada seorangpun yang pernah melihat wajahnya yang di tutupi topeng itu.
Saat itu juga aku melihat tangan Elysna yang sudah bergemetar, dan mengigit bibirnya karena dia sangat penasaran sekali dengan wajahnya. Tapi dia harus menahannya karena kami semua tahu kalau tidak ada seorangpun yang dapat menyentuhnya, dengan kekuatan miliknya yang unik, dan menyebalkan itu.
Di pagi pagi hari ini begitu aku keluar kamar ku untuk membangunkan Elysna, dan Boa Boa di kamarnya setelah aku berhasil membangunkan Tygruth yang malas sekali itu. Tiba-tiba saja Rouge sudah berada di depan pintu ku sejak tadi, aku masih belum terbiasa dengan penampakan dirinya meskipun dia sering sekali begini saat aku keluar kamar.
"Uakh! lagi-lagi kau mengagetkan ku!" teriakku yang terkejut sambil memegang dadaku yang sedang berdegup dengan kencang.
"Ah, maaf... apa hari ini kita akan pergi berlibur lagi?" ucap Rouge yang terlihat sangat menantikan liburan bersama kami yang merupakan teman-teman barunya.
__ADS_1
"Tentu saja... aku ingin pergi membangunkan para wanita, dan kau periksa dia, apakah dia tidur lagi atau tidak" ucapku kepada Rouge sambil menunjukkan jari jempol ku ke belakang yang mengarah ke Tygruth sedang terlibat terkantuk-kantuk itu.
"Baiklah..." ucap Rouge, dan kemudian aku pergi membangunkan Elysna, dan Boa Boa di kamarnya. Tanpa basa-basi aku langsung mendobrak pintunya dengan sangat keras sambil berteriak, "Semuanya! ayo bangun! hari ini kita...!?" ucapku yang mendadak berhenti begitu melihat mereka sedang mengganti pakaian mereka. Aku langsung menutup mataku, dan berjalan keluar begitu melihat mereka hanya memakai pakaian dalam saja.
"Gernath! awas kau! hei mau pergi ke mana kau! sebelum pergi tutup dulu pintunya dasar bodoh!" teriak Elysna yang marah-marah padaku dengan wajahnya yang merah karena malu di lihat olehku dengan keadaan seperti itu.
"Ba-baiklah! maafkan aku!" ucapku yang kembali untuk menutup pintu kamarnya kembali, dan setelahnya aku kembali ke kamarku dengan jantung yang berdegup dengan kencang, dan pikiran ku selalu membayangkan hal aneh tentang mereka.
"Dasar... Gernath... dia masih saja mesum..." gumam Boa Boa yang terlihat tersipu malu, dan itu menimbulkan kesalah pahaman bagi Elysna yang mendengar kata-katanya.
Sementara itu aku kembali kamarku, dan menutup pintu kamar, lalu bersender di depan pintu dalam keadaan jantung yang berdegup dengan kencang sekali. Kemudian entah kenapa aku merasakan hak yang tidak enak dekat dari sini. Ternyata itu adalah Tygruth, dan Rouge yang menatap ku dengan datar setelah mendengar teriakan para wanita tadi. Meskipun dia memakai topeng aku bisa tahu seperti apa wajahnya itu.
"A-apa!? kenapa kalian melihat ku seperti itu? oh ayolah, aku benar-benar tidak sengaja!" ucapku yang mencoba menjelaskan situasinya kepada mereka.
"Jadi ini adalah bagian dari rencana mu menyuruh ku untuk menjaga Tygruth?" ucap Rouge yang membuat kesalah pahaman ini terus berlanjut menjadi semakin parah.
__ADS_1
"Apa kau bisa diam bodoh?" ucapku dengan singkat, dan itu sangat menusuk bagi Rouge.
"Lalu apa saja yang kau lihat?" ucap Tygruth sambil menyipitkan matanya kepadaku, dan itu membuatku menjadi tegang.
"A-aku... tidak sengaja melihat tubuh Boa Boa..." ucapku sambil menelan ludah ku dengan dalam dalam, dan entah kenapa suasana disini menjadi semakin menegangkan. Hingga akhirnya Tygruth menepuk pelan kepalanya sambil menghela nafas.
"Dasar kau ini... bahkan orang pertama yang kau sebut adalah kekasih orang lain, padahal kau sudah memiliki Elysna. Kalau saja kau adalah orang lain, sudah pasti aku akan menghabisi mu karena telah melakukan tindakan yang berhubungan pelecehan" ucap Tygruth yang kalau di pikir-pikir dengan perkataannya, dia benar.
Dia tidak pernah marah sekali pun padaku mengenai kesalah pahaman ku kepada Boa Boa selama ini. Kalau pun dia marah, dia hanya marah dengan bercanda, dan tidak terlihat serius. Tygruth benar-benar orang yang sangat pandai dalam mengatur emosinya agar tidak meledak. Dia bukan orang yang mudah untuk marah karena suatu hal.
Tapi kalau di pikir-pikir soal Tygruth yang benar-benar marah... sepertinya dia pernah melakukannya walau hanya sekali saja. Kalau tidak salah saat aku, dan Mouri dulu menghinanya karena saat itu dia masih belum tahu kekuatan seperti apa yang dia miliki. Padahal saat itu dia yang meminta kami untuk di hina, tapi kenapa malah dia yang marah.
Kemudian setelahnya Tygruth tak bisa mengendalikan emosinya. Emosinya meledak-ledak, dan menghancurkan segalanya yang dia lihat, tanpa memandang siapapun. Aku, dan Elysna berusaha sekuat tenaga untuk menghentikannya. Tapi dengan kekuatannya yang luar biasa karena perpaduan dengan emosi yang meledak, itu membuat kekuatannya meningkat drastis melebihi batas kekuatan itu sendiri, dan itu adalah benar.
Apa yang di ajarkan oleh guru Mouberg sangat kami hormati. Tentang emosi yang bercampur dengan kekuatan, itu adalah hal yang luar biasa. Ku pikir awalnya itu hanyalah omong kosong, karena setiap orang pasti memiliki batas kekuatannya masing-masing. Tapi begitu aku merasakannya sendiri sekitar sepuluh tahun lebih yang lalu saat melawan Yugoslavia.
__ADS_1
Saat itu emosi ku benar-benar tak stabil, dan di luar kendali ku. Aku benar-benar tak bisa memikirkan apapun, dan jiwaku hanyut ke dalam amarah ku yang membeludak. Yang ku pikirkan saat itu hanyalah... membunuh seseorang yang telah membuat semuanya menjadi seperti ini.