Artificial God

Artificial God
Perjalanan Menuju Kerajaan Gygash


__ADS_3

Di pagi harinya kami sudah bersiap-siap untuk meninggalkan desa ini. Segala kebutuhan, dan barang-barang yang kami perlukan sudah ada di dalam inventori sihir milikku. Kalau saja Mouri masih ada disini, sepertinya kami tidak perlu repot-repot membawa barang-barang ini kembali setiap kali kami mampir di suatu desa.


Biasanya hanya makanan saja lah yang ada di dalam inventori ku selama ada Mouri. Tapi semuanya sudah berakhir... rasa kesedihan itu masih terasa di hatiku. Dia adalah wanita yang baik, yang hanya menginginkan cinta sebenarnya dengan orang yang ia cintai. Tapi aku sudah terlanjur mencintai Elysna, karena rasa kasihan ku padanya, saat dia berkata jika suatu saat nanti kita bereinkarnasi, aku akan membuat dia menjadi wanita paling bahagia di dunia.


"Semuanya! kami pergi dulu! dadah!" teriak Elysna sambil melambaikan tangannya kepada seluruh penduduk desa di depan gerbang desa. Semua orang menyoraki untuk menyemangati kami dengan tujuan kami. Meski semuanya terlihat sedih karena kami pergi meninggalkan desa mereka, mereka masih bisa memasang wajah ceria seperti itu.


"Gernath tunggu!" teriak seseorang yang berlari ke arahku untuk mengejar ku yang sedang berjalan pergi. Orang itu adalah paman Suji, dia berlari tergesa-gesa ke arahku hingga keringat membasahi tubuhnya.


"Eh!? ada apa paman Suji?"


"Kau melupakan ini..." ucap paman Suji dengan tersenyum sambil memberikan sebuah pedang. Aku terkejut, dan sekaligus terharu. Aku sangat ceroboh sekali sampai melupakan pedang peninggalan ayah. Hanya inilah barang peninggalan ayahku yang bisa ku kenang meski aku belum pernah melihat beliau.


"Terima kasih... karena telah membawakan pedang ini kepadaku, paman Suji" ucapku sambil memasukkan pedang itu ke dalam inventori sihir milikku.


"Hahaha! ini bukan apa-apa jika dibandingkan kau yang telah membuat seluruh bandit bertobat" ucap paman Suji yang membuat kami mendengar perkataannya dengan wajah heran.


"Eh!? a-apa maksudmu?" ucapku yang terheran-heran.


"Yah... pokoknya seperti yang ku katakan sebelumnya. Mulai sekarang perjalanan mu akan terasa sangat menyenangkan, karena tak ada bandit lagi yang akan menggangu mu" ucap paman Suji yang kemudian pergi kembali ke desa setelah ada seorang anak-anak yang memanggilnya untuk bermain dengannya.


Meskipun kami masih sangat kebingungan dengan apa yang di maksud perkataan paman Suji, tapi ku harap apa yang dikatakannya itu benar. Tentang para bandit yang tak akan menggangu perjalanan kami. Mungkin dengan begitu aku tak perlu merasakan hari-hari yang menyebalkan pagi sepanjang perjalanan ku dengan teman-teman ku.

__ADS_1


Kemudian kami pergi meninggalkan desa itu, dan melanjutkan perjalanan kami yang menegangkan. Di pagi hari yang cerah, dan udara yang menyegarkan akan menjadi pertanda baik untuk kami. Kami melanjutkan perjalanan kami dengan senang hati, setiap langkah yang kami jalankan akan menjadi perubahan yang besar pada dunia ini.


"Hei tidak bisakah kau menggunakan kekuatan mu untuk terbang? aku sangat lelah kalau harus berjalan seperti ini" ucapku kepada Tygruth yang sudah kelelahan karena terus berjalan menaiki bukit, dan menuruni bukit.


"Tenanglah... bisa gawat jika kita menunjukkan diri kita di atas langit. Apa kau lupa dengan apa yang dikatakan kepala desa pada kita tentang daerah ini?" ucap Tygruth yang mengingatkan ku kembali tentang pesan yang diberikan kepala desa kepada kami sebelum kami pergi. Kalau jalan yang akan kami tempuh ini adalah jalan yang cukup berbahaya.


Daerah yang sedang kami masuki ini adalah daerah yang rawan terjadi peperangan. Melihatnya langsung ternyata benar dengan apa yang dikatakan kepala desa. Ada beberapa bekas tulang-belulang, dan peralatan perang di sekitar sini yang sudah terkubur oleh tanah, dan tertutup rerumputan.


Karena di daerah sini sudah masuk ke dalam wilayah zona kerajaan. Yang merupakan wilayah ini, dan wilayah seterusnya kami akan menemukan banyak kerajaan lainnya, dan desa-desa terbuang seperti makhluk campuran. Entah kenapa semakin kami berjalan masuk lebih dalam, udara disini semakin panas, padahal di sekitar sini banyak rerumputan, dan pohon-pohon hijau. Tapi kenapa udaranya panas?.


"To... tolong... siapa... saja... tolong... aku" ucap seseorang dengan suaranya yang letih.


"Elysna!"


Kemudian aku mengeluarkan air, dan makanan dari inventori ku untuk ku berikan kepada orang yang terluka itu. Melihat dari pakaiannya yang berpakaian tempur, sepertinya dia adalah prajurit sisa yang masih selamat di sekitar sini. Tapi ngomong-ngomong sudah berapa lama perang ini terjadi? dan sepertinya perang ini sudah terjadi cukup lama, tapi kenapa dia masih bisa hidup dalam keadaan seperti ini selama ini?.


"A-anu... te-terima kasih..." ucap orang itu yang masih dalam keadaan lemas.


"Sebenarnya apa yang terjadi disini?" ucapku yang sedang mencari petunjuk untuk perjalanan kami.


"Ke-kerajaan kamu sudah hancur lebur di tangan kerajaan Gygash!" ucap orang itu dengan wajah sedih, dan kami terkejut begitu mendengarnya.

__ADS_1


"Hah!? apa maksudmu? bisakah kau jelaskan lebih detail?" ucap Tygruth tiba-tiba yang sepertinya sangat penasaran dengan cerita ini.


"Tempat yang saat ini kalian pijak adalah sebuah kerajaan sebelumnya... sampai pada akhirnya raja dari kerajaan Gygash turun tangan, dan menghancurkan leburkan kerajaan kami menjadi rata seperti ini. Lalu dia menggunakan kekuatannya yang sangat gila untuk menutupi bekas kerajaan kami dengan rerumputan, dan pohon-pohon hijau disini" ucap prajurit itu yang membuat kami benar-benar terkejut.


Seseorang yang menghancurkan sebuah kerajaan bagaimana sedang menghancurkan kaca yang sangat tipis. Apakah orang itu benar-benar ada? sebenarnya orang macam apa dia, dan lagi sepertinya nama kerajaan yang orang sebut ini sama seperti sebuah kerajaan yang di ceritakan oleh kepala desa. Itu adalah kerajaan yang harus kami waspadai, dan kami di peringatkan untuk tidak coba-coba mengusik kerajaan itu.


"Lalu... sudah berapa perang ini terjadi?" ucap Tygruth dengan sangat seriusan.


"Hanya satu malam saja... tepatnya kemarin malam dia menghancurkan kerajaan kami dengan kekuatannya yang luar biasa" ucap prajurit itu yang merasa sedih karena kehilangan keluarganya, sekaligus kerajaan yang sangat dia hormati.


"A-apa!? ba-bagaimana bisa kita tak menyadari hal ini?" ucap Tygruth.


"Raja itu menciptakan barrier untuk memutuskan kontak luar. Agar tidak ada siapapun yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam barrier yang dia ciptakan" ucap prajurit itu.


"Tapi... pertanyaan nya adalah... apa yang menjadi penyebab kerajaan Gygash menyerang kerajaan kalian?" ucapku.


"Kami sama sekali tak tahu... kami sama sekali tak mengusik kerajaan itu. Tiba-tiba saja kerajaan itu menyerang kami dengan sepupu ribu prajurit yang mengerikan. Tapi yang sebenarnya hanya raja itulah yang menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan kerajaan kami" ucap prajurit itu yang tiba-tiba kami semua memikirkan hal yang sama di benak kami setelah mendengar cerita prajurit ini.


"Apa kalian memikirkan hal yang sama dengan ku?" ucapku yang kemudian menatap mata kepada semua teman-teman ku. Kemudian mereka mengangguk, kecuali hanya Boa Boa yang bodoh yang sedang bermain dengan kupu-kupu yang dia temukan disini. Malaikat itu... benar-benar menyebalkan, tapi sayangnya dia adalah anggota grup Shan kami.


Kemudian Tygruth menciptakan sebuah awan yang dapat di pijak untuk prajurit itu. Setelahnya prajurit itu di kirim ke desa yang baru saja kami tinggali. Saat ini kami sedang bergerak untuk memasuki wilayah kerajaan itu, wilayah kerajaan Gygash. Kami tahu apa yang dia inginkan... menghancurkan sebuah kerajaan tanpa alasan... sudah pasti dia ingin menantang kami. Sial juga kalau menjadi terkenal begini, karena ini banyak orang yang ingin menantang kami, dan kami terima tantangan mu raja sialan!.

__ADS_1


Akan ku buat kau bertobat!


__ADS_2