
Sudah tiga bulan berlalu sejak pertama kali kami tinggal di desa ini. Mungkin tinggal beberapa hari lagi kami harus meninggalkan desa ini, untuk melanjutkan perjalanan kami. Kami tidak boleh berlama-lama disini, dan bersantai-santai. Kami harus mewujudkan impian kami, dan juga teman kami yang telah tiada. Sementara itu untuk para bandit ini, mereka akan tinggal di desa ini, dan menjaga desa ini dengan segenap jiwa mereka.
Mereka sudah menjadi orang yang sangat baik, dan di hormati di desa ini. Seharusnya kami tidak menyebutnya dengan bandit lagi, atau kami harus menyebutnya dengan mantan bandit, atau orang-orang baik. Mendengar kami akan segera meninggalkan desa dalam beberapa hari ini, para warga desa merasa sedih, dan resah.
"Apa!? jadi kalian akan pergi meninggalkan desa kami?" ucap pak kepala desa.
"Benar... kami hanya bersinggah, dan lalu pergi" ucapku kepada pak kepala desa yang membuat pak kepala desa, dan warga desa yang mendengarnya merasa sedih.
"Tapi... untuk apa kalian datang ke sini, dan pergi setelahnya?" ucap pak kepala desa yang tidak terima, karena dia sangat mempercayai kami, dan berniat untuk menyerahkan desanya kepadaku.
"Kami hanya ingin membuat kenangan indah di setiap desa yang kami kunjungi. Oleh karena itu setiap kami menemukan sebuah desa, kami akan tinggal di desa yang kami temukan untuk sementara waktu, untuk menciptakan kenangan bersama desa yang kami temui" ucapku yang tersenyum sedih melihat warga desa dengan wajahnya yang murung.
"Baiklah... kami juga tak berhak untuk menghalangi kalian. Karena kalian adalah para pahlawan yang akan menciptakan perdamaian. Kami sangat menantikan perdamaian yang indah yang akan kalian ciptakan itu" ucap pak kepala desa yang akhirnya mengerti tentang keinginan kami.
"Kakak... apa kakak akan benar-benar pergi?" ucap seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari ke arahku, dan memeluk kakiku.
"Maaf ya... ada urusan yang harus kakak selesaikan di dunia ini. Suatu hari nanti kalau dunia ini sudah damai, kita akan berkumpul kembali bersama dengan orang-orang dari pelosok dunia mana pun" ucapku sambil mengelus-elus kepalanya dengan lembut.
__ADS_1
"Janji?..." ucap anak kecil itu yang memberikan jari kelingkingnya untuk mengingat janji ini, dengan wajah yang tersenyum riang mengharapkan ku kembali. Kemudian aku memberikan jari kelingking ku juga, sambil tersenyum, "Iya... kakak janji..." ucapku yang tersenyum padanya. Entah kenapa sekilas aku jadi teringat sosok Vloid, dan itu membuatku semakin sedih.
Besok... besok adalah hari dimana kami akan meninggalkan desa ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin ku lakukan di desa ini, dan desa-desa sebelumnya yang kami kunjungi. Tapi kami tak memiliki waktu, dan kami tidak boleh melupakan tujuan utama kami. Kami harus terus berjalan menempuh tempat yang baru, dan hari yang baru.
Masa hidup Leonis juga sangat sedikit, malaikat, dan Elf hidup begitu lama sampai ribuan tahun. Sedangkan Leonis hanya bisa hidup di atas seratus tahun saja. Hidup yang begitu singkat, yang membuatku memikirkan hari dimana Elysna akan sendirian setelah kepergian ku karena umurku yang begitu pendek.
Aku sudah pernah membicarakan hal ini dengan Elysna. Namun begitu dia mendengarkan cerita ku ini, dia menangis, dan memeluk ku dengan erat. Saat itu dia mengatakan, "Jangan pernah berbicara begitu lagi! huwaaaa!" tangis Elysna dengan keras, dan tersedu-sedu.
"Tapi memang begitu kan kenyataannya" ucapku yang memasang wajah sedih, memikirkan bagaimana kehidupan Elysna tanpa ku.
"meskipun begitu! jangan tinggalkan aku lebih dulu! biarkan aku yang mati lebih dulu! huhu! karena aku tak sanggup kehilangan mu, Gernath! hiks" tangis Elysna yang benar-benar hatinya merasa sedih.
Waktu itu Elysna terus memikirkan hal itu selama seminggu, dan karena ucapan ku mengenai hal itu, dia jadi tidak bisa tidur semalaman. Wajahnya lesu, dan matanya memiliki kantung mata karena terus menangis membayangkan hal yang kami bicarakan saat itu. Tapi aku berjanji pada diriku, kalau aku akan melindungi Elysna segenap jiwaku.
Malam hari kemudian...
Saat ini aku sedang bertengger di jendela sambil menatap bulan yang bersinar bersama bintang-bintang kecil yang berkilauan. Mataku berbinar-binar menatap langit malam dengan suara yang sunyi yang menenangkan. Rasanya aku seperti berada di dimensi yang berbeda begitu aku terlalu menikmati indahnya dunia malam. Tapi...
__ADS_1
"Gernath apa yang kau lakukan duduk di jendela?" ucap Tygruth yang saat ini ada di kamarku, dan sedang membaca buku di tempat duduk milikku. Aku merasa sedikit kesal karena dia telah mengganggu ku yang sedang menikmati langit malam.
"Kau ini... bisakah kau diam, dan tidak berkomentar?" ucapku yang mengerutkan dahi ku karena kesal.
"Kau selalu saja begini setiap kali akan pergi meninggalkan desa" ucap Tygruth.
"Memangnya kau tak merasa sedih? ah iya aku lupa tentang mu... kau adalah pria dingin brengsek yang pernah ku temui" ucapku yang merasa sedikit kesal karena Tygruth selalu saja mencampuri urusan ku.
"Kau masih saja berpikir seperti itu sejak dulu... tapi yang paling ku takutkan tentang kehilangan seseorang... orang itu adalah kau, Gernath" ucap Tygruth yang membuatku merasa sedikit terkejut. Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau apa, aku benar-benar bingung dengan apa yang dia bicarakan barusan.
"Apa maksudmu? kenapa harus aku? dan bukannya orang tuamu, atau Boa Boa?" ucapku yang merasa heran dengan ucapan Tygruth.
"Kau juga pasti merasa begitu kan?" ucap Tygruth yang membuatku benar-benar terkejut kali ini, dan sekaligus membuatku terdiam. Karena entah kenapa rasanya apa yang dia katakan barusan tadi itu tepat sekali. Tapi... apa benar ya? kalau sosok Tygruth lebih berharga dari pada Elysna orang yang ku cintai. Aku terus memikirkan perkataan Tygruth sembari memahami arti kata yang dia ucapkan dalam hatiku.
"Ah sudahlah... ini sudah malam lebih baik kau keluar dari kamarku! aku ingin tidur!" teriakku sambil mengusir Tygruth dengan mendorongnya. Brak! cklek! aku langsung menutup pintu kamarku, dan menguncinya agar dia tak masuk lagi, dan mengganggu ku. Kemudian aku bersender di depan pintu sambil kembali memikirkan perkataan Tygruth sebelumnya.
"Apa-apaan dia itu?... dasar orang aneh" ucapku sambil menghela nafas ku, dan berjalan ke tempat tidur ku lalu berbaring dengan lemas untuk menghilangkan semua beban pikiran ku. Jika aku di tanya oleh seseorang tentang siapa orang yang tidak bisa ku pahami. Mungkin orang itu adalah Tygruth, dia adalah orang yang sangat misterius, dan sepertinya menyimpan banyak rahasia yang dia sembunyikan dari kami.
__ADS_1
Aku tak tahu apa yang dia sembunyikan, atau yang dia rencanakan. Tapi aku sangat yakin dia adalah orang baik, aku benar-benar tak merasakan adanya niat jahat darinya. Meskipun dia menyebalkan, dan tak terlihat peduli, sebenarnya dia adalah orang yang baik. Dia benar-benar orang yang sangat misterius. Seberapa lama aku mengenalnya itu tidak akan mengubah kalau aku benar-benar mengerti tentangnya. Seakan-akan tidak ada cara yang tepat untuk memahami orang sepertinya, dia benar-benar orang yang misterius sampai saat ini bagiku, sekaligus... orang yang berharga bagiku.