Artificial God

Artificial God
Gadis Kecil


__ADS_3

"Pencuri! kejar pencuri itu!" teriak dari salah satu pedagang buah yang baru saja membuka barang dagangannya. Ada pencuri kecil yang menutupi dirinya sendiri jubah berwarna coklat berlari, dan bersembunyi di sela-sela bangunan. Pencuri itu sudah banyak sekali mencuri barang dagangan orang-orang, dan dia sudah menjadi buronan tingkat elite.


"Hihi... buah-buahan segar ini milikku sekarang" ucap pencuri kecil itu yang bersembunyi di salah satu sela-sela bangunan, yang sedang berbicara kepada buah-buahan yang sudah ia curi itu.


Tap!..., "Apa yang kau lakukan disini anak kecil?" ucapku yang menghampiri anak kecil itu setelah mendengar ada seseorang yang berteriak soal pencuri. Saat itu aku sedang mengepel lantai, tapi begitu mendengar suara orang minta tolong aku segera berlari secepat kilat, ini adalah waktu yang lumayan untukku agar tidak membersihkan penginapan seharian.


"Eh!? a-apa? sejak kapan paman berada disini?" ucap pencuri kecil itu yang terkejut. Dia menutupi wajahnya dengan jubahnya, dan membuka sedikit untuk melihat ku melalui sela-sela jubah itu. Mendengar dari suaranya saja aku sudah tahu kalau dia adalah adalah gadis kecil.


"Hah? k-kau anak kecil? dan lagi seorang gadis?" ucapku yang kemudian membuka paksa jubah yang menutupi dirinya hingga aku bisa melihat sosok anak kecil itu. Aku sangat terkejut begitu melihat seorang gadis kecil dengan pakaiannya yang lusuh, dan rambutnya yang kuning seperti Boa Boa, dan Tygruth. Lalu melihat dari telinganya... sepertinya dia dari bangsa anjing.


"Kumohon jangan tangkap aku! aku hanya kelaparan!" ucap anak kecil itu yang merengek kepadaku sambil meminta mohon dengan memasang wajah memelas. Karena dia memasang wajah memelas seperti itu, dan lagi dia seorang gadis kecil, itu membuat hatiku merasa kasihan padanya.


"Baiklah... tapi kau harus berjanji untuk tidak mencuri lagi ya, gadis kecil" ucapku sambil mengelus-elus rambutnya dengan lembut sembari dengan memberikan senyuman yang tulus kepada anak kecil. Kemudian wajah anak kecil itu tersenyum dengan senang padaku, dan menganggukkan kepalanya padaku.


"Ta-tapi... bagaimana caraku bertahan hidup kalau tidak mencuri?" ucap anak kecil itu yang memanyunkan bibirnya kepadaku.


"Soal itu kau tidak perlu khawatir, karena mulai sekarang kami yang akan mengurus mu" ucapku dengan percaya diri, dan memperlihatkan sisi keren ku di depan anak kecil itu.


"Kami? bukankah paman hanya sendirian disini?" ucap anak kecil itu yang kemudian tiba-tiba seluruh teman-teman ku datang menghampiri ku menggunakan kekuatan teleportasi milik Elysna. Tapi entah kenapa hawa keberadaan mereka membuatku sesak.


"Nah itu mereka sudah datang" ucapku sambil memasang pose keren.


"Hei brengsek berani-beraninya kau pergi, sementara pekerjaan mu belum selesai!" ucap Elysna yang terlihat kesal, begitu juga dengan yang lainnya kecuali Boa Boa yang terbengong sambil menatap anak kecil itu.

__ADS_1


"Ah!? i-itu... biar aku jelaskan" ucapku yang pasrah. Kemudian akhirnya kami kembali ke penginapan itu, sembari membawa anak kecil itu, dan aku menceritakan semua kejadiannya bersama anak kecil itu. Kemudian anak kecil itu juga menceritakan kisahnya yang menyedihkan selama dia hidup.


Anak kecil itu baru saja berumur sepuluh tahun, dan dia dilahirkan di kerajaan ini tanpa tahu apa yang terjadi. Dia bilang kalau begitu dia memiliki kesadaran, dia sudah berada di pinggir jalan, dan masih berumur empat tahun. Anak kecil itu sudah di tinggalkan oleh orang tuanya sejak kecil, dan membuat kami terharu mendengar kisahnya yang menyedihkan.


"Baiklah, mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita" ucap Elysna yang sudah memutuskan hal ini setelah mendengar kisah anak kecil itu.


"Tapi ngomong-ngomong dia ini dari bangsa apa? telinganya seperti telinga anjing" ucap Tygruth yang memeriksa telinga anak kecil itu dengan seksama.


"Ja-jangan menyentuhnya... uh... dan aku bukan dari bangsa anjing, tapi bangsa rubah" ucap anak kecil itu yang sepertinya telinganya itu adalah bagian yang sensitif baginya. Karena dia langsung memeluk telinganya setelah Tygruth memegangnya untuk meneliti dari bangsa apa dia berasal.


"Rubah!?" ucapku yang terkejut, karena aku berpikir dia adalah bangsa anjing sama seperti apa yang Tygruth pikirkan.


"Lalu... siapa namamu gadis kecil?" ucap Boa Boa sambil tersenyum manis kepada anak kecil itu.


"Wah! imutnya..." ucap Elysna, dan Boa Boa serentak begitu Yuki menunjukkan wajahnya yang malu-malu saat memperkenalkan diri.


"Baiklah kalau begitu bukankah kita juga harus memperkenalkan nama kita juga?" ucapku.


"Benar... namaku Tygruth si tampan, dan dingin. Lalu dia Elysna si... ah, tidak jadi... lalu dia Boa Boa kekasih ku yang paling cantik sejagat raya. Kemudian yang terakhir si bodoh, Konyol, Sialan, brengsek itu adalah Gernath!" ucap Tygruth yang memperkenalkan kami dengan wajah datarnya.


"Hei apa katamu! kenapa julukan ku seperti itu! sementara kau menyebut dirimu si tampan, dan apalah" ucapku yang merasa kesal, dan tak terima dengan Tygruth yang sudah memberikan nama yang jelek untuk ku.


"Baiklah Yuki, ayo kita main disana bersama ku" ucap Boa Boa yang meraih tangan Yuki, dan membawanya pergi untuk bermain bersama.

__ADS_1


"Hei aku juga ikut!" ucap Tygruth yang kemudian pergi begitu saja, dan tak mau meminta maaf padaku. Kemudian mereka bertiga meninggalkan ku, dan Elysna di kamar berdua. Tygruth memegang tangan Yuki di sebelah kanan, dan Boa Boa memegang tangan Yuki di sebelah kiri. Entah kenapa hal itu membuatku berpikir kalau mereka berdua sudah memiliki anak, dan berkeluarga.


"Wah lihat itu... mereka seperti sebuah keluarga yang bahagia... hei Elysna, kapan kita punya anak?" ucapku yang tanpa sadar mengatakan hal yang seharusnya ku katakan dalam Hatiku. Ini karena aku terlalu terbawa perasaan saat menyaksikan mereka bertiga. Karena rambut mereka serba pirang, karena itu mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia.


Namun Elysna yang mendengar perkataan ku langsung tersipu malu. Wajahnya merah bagaikan buah tomat yang segar, dan dia menggigit bibirnya karena menahan malu, "A-apa yang kau pikirkan!? ki-kita kan belum menikah!" ucap Elysna dengan suaranya yang kecil karena malu-malu.


"Eh!? ah!? ma-maksudku bukan begitu! hahaha! a-aku hanya asal bicara tadi!" ucapku dengan lugu karena terlalu panik. Kemudian setelahnya kami hanya diam-diam di kamar yang sama, dan saling membelakangi karena menahan malu. Terkadang kami juga saling melirik, namun setelahnya langsung membuang muka lagi.


"Elysna... berjanjilah padaku..."


"Berjanji untuk apa?"


"Berjanji untuk tetap hidup"


"Baiklah, kau juga berjanji ya, kalau kau harus tetap hidup!"


"Tentu saja... namun jika nyawa mu terancam bahaya... maka aku akan lebih dulu menyelamatkan mu"


"Begitu juga dengan ku... aku akan menyelamatkan mu juga jika terjadi sesuatu"


"Hmm... ternyata kita memang saling mencintai ya, haha"


"Uh... di-diam!"

__ADS_1


Suasana malu-malu itu terus berlanjut sampai kami melupakan pekerjaan kami yang di tugaskan oleh bapak pemilik penginapan ini. Akhirnya kami di marahi karena di kira malah bermalas-malasan, dan tidak bekerja. Karena itu, kami malah harus kerja lembur hari ini sebagai hukuman kami.


__ADS_2