
Meskipun aku sempat bingung karena perkataan anak kecil yang berwajah bayangan hitam itu. Aku tetap pada pendirian ku, dan untuk selamanya aku tak akan berubah. Tapi entah kenapa aku merasa simpati terhadap anak kecil itu. Sebenarnya ada apa dengan diriku? ada apa dengan dunia ini? kenapa semuanya begitu rumit.
"Apa kau sungguh untuk memilih kesendirian itu?" ucap anak kecil itu.
"Aku tak mengerti dengan apa yang kau katakan, akan tetapi aku tidak sendirian. Karena nya... bukan, karena mereka aku tak lagi sendirian di dunia ini. Lebih baik kau cari orang lain saja yang benar-benar membutuhkan mu" ucapku.
"Karena suatu saat mereka semua akan mati, kakakku yang akan membunuh semua orang yang berharga untukmu. Dan setelah itu kau akan merasakan kesendirian itu" ucap anak kecil itu yang kata-kata nya sangat mengejutkan.
"Kalau begitu aku hanya perlu melindungi mereka, karena aku hidup untuk mereka. Kau mau bertaruh dengan ku?" ucapku yang menyeringai.
"Hidup untuk mereka?... untuk apa kau hidup untuk mereka sementara mereka melukaimu. Tapi aku terima taruhan mu, dan lihatlah suatu hari nanti kesendirian itu akan menghampiri mu" ucap anak kecil itu yang membuatku merinding.
Setelahnya aku langsung terbangun dari mimpiku dengan nafas sesak seperti biasanya. Aku baru ingat kalau aku tidur di samping Elysna sebelumnya untuk menjaganya karena dia masih merasa kesakitan pada kakinya. Namun sepertinya semuanya akan baik-baik saja, dan aku... tak akan membiarkan siapapun mati di tanganmu anak kecil.
Mouri membuatkan kaos kaki yang panjang, dan tebal untuk menutupi bercak-bercak di kakinya. Untunglah kaos kaki itu cocok di pakai oleh Elysna, dan karena kami telah menyelesaikan masalah itu. Semua penduduk desa campuran sangat senang, dan sangat berterima kasih pada kami.
Mereka memberikan kami uang yang sangat banyak, ini adalah pertama kalinya aku melihat alat tukar yang bernama uang. Karena di desaku dulu tidak menggunakan sistem uang seperti ini untuk hidup. Kami hidup sendiri-sendiri, mencari makan sendiri, dan semua yang berhubungan untuk kebutuhan hidup harus berusaha sendiri.
Namun sepertinya sebanyak apapun mereka memberikan kami uang, sepertinya itu tidak ada gunanya. Karena kami memiliki mesin uang disini, yaitu Mouri yang dapat menciptakan apa saja dengan kemampuannya yang luar biasa. Jadi kami menolak pemberian uang yang mereka berikan begitu banyak karena semua masalah keuangan bisa diselesaikan dengan mudah karena Mouri ada bersama kami.
Karena kami menolak pemberian mereka, mereka merasa tidak enak kepada kami yang sudah menyelamatkan desanya. Kemudian aku membicarakan masalah pemberian apa yang cocok untuk kami dengan kepala desa. Aku mengatakan dengan memberikan rumah, dan sambutan yang ramah itu sudah cukup untuk kami. Meskipun Mouri bisa melakukannya, tapi sambutan ramah, dan perlakuan yang hangat itu tak bisa tergantikan.
Dengan begitu masalah ini selesai, "Hei... setelah ini kita akan kemana?" ucap Mouri.
"Entahlah, aku tidak tahu... bagaimana denganmu Tygruth?" ucapku dengan lesu.
__ADS_1
"Terserah kalian, aku sedang sibuk membaca buku" ucap Tygruth yang asik membaca buku sendirian. Tentang masalah Boa Boa, keadaan mereka masih sedikit canggung meskipun Tygruth sudah minta maaf sekalipun. Tapi karena Tygruth tak memberikan alasan, atau semacamnya hubungan mereka berdua kini menjadi sedikit rusak.
Kemudian disisi lain di saat hubungan Tygruth, dan Boa Boa mulai tergores. Vloid mendapatkan keuntungan darinya, dengan begini hubungan Vloid, dan Boa Boa wanita yang dia cintai akhirnya hubungan mereka semakin dekat. Tapi aku kalau dari sudut pandang ku dengan perlakuan Boa Boa terhadap Vloid lebih ke arah kasih sayang kepada seorang adik dari seorang kakak.
Rasanya sedih begitu aku mengetahui hal itu, tapi lebih baik aku tak memberitahu hal ini pada Vloid karena sepertinya dia akan sedih, dan kemungkinan terburuknya Vloid akan melakukan berbagai cara hanya untuk mendapatkan hati Boa Boa. Dan mungkin itu akan mengerikan sekali jika hak itu terjadi.
"Apa tidak boleh kalau kita tinggal lebih lama disini?" ucap Boa Boa yang baru saja datang ke teras rumah.
"Aku juga inginnya begitu, tapi apa kau lupa tujuan The Power of Peace?" ucapku.
"Kakak Boa Boa... main sama aku sebentar yuk" ucap Vloid yang menghampiri Boa Boa dengan wajah bahagia.
"Baiklah adik ku yang menggemaskan" ucap Boa Boa yang mencubit pipi Vloid. Kemudian akhirnya mereka pergi keluar berkeliling desa.
"Hei Gernath, apa kau menyadari perubahan sikap Vloid akhir-akhir ini? dia agak..." ucap Mouri.
"Hei aku tidak ingat pernah membawa buku ini?" ucap Tygruth yang menunjukkan bukunya kepada kami yang berjudul, "Arwah Penderitaan".
"Ah itu buku milikku" ucapku.
"Jadi kau suka buku yang seperti ini ya, kekanak-kanakan sekali" ucap Tygruth yang membuatku jengkel.
"Terserah kau saja pak tua yang suka baca buku sejarah. Lagi pula cobalah sekali membaca buku yang lain" ucapku.
"Baiklah, sepertinya aku akan membacanya karena sampul bukunya keren" ucap Tygruth.
__ADS_1
Buku itu menceritakan tentang seorang wanita yang bunuh diri dengan menggantung lehernya di dapur rumahnya. Karena dia merasa sakit hati melihat calon suaminya yang bermesraan bersama dengan wanita lain. Dengan begitu akhirnya wanita itu mati dengan penuh kebencian, dan balas dendam.
Arwahnya selalu bergentayang di dapur saat di malam hari. Dan setiap malamnya dia menghantui calon suaminya, dan pacarnya di setiap malam mereka. Arwah itu memiliki kekuatan untuk menciptakan rasa lapar kepada kedua orang itu. Dengan begitu mereka akan pergi ke dapur, dan memasak sesuatu untuk dimakan.
Dengan begitu saat mereka memasak, tiba-tiba saja lampu dapur mati, dan menjadi gelap gulita. Kemudian tiba-tiba saja ada yang memasak masakan yang mereka masak di tengah kegelapan itu. Membuat calon suaminya itu merinding ketakutan.
Setelah itu suaminya pergi mencari saklar lampu, dan menyalakannya kembali. Namun tidak ada siapapun di dapur begitu lampu itu dinyalakan. Dan suara seseorang yang sedang memasak itu pun menghilang, kemudian muncul sebuah tali gantung di atap.
Setelah itu terdengar suara, "Bunuh... bunuh..." itulah suara yang diucapkan berulang kali oleh arwah wanita yang meninggal itu. Dengan penuh kebencian, dan balas dendam di akhir hidupnya membuatnya menjadi hantu peneror. Tali gantung itu pun berjalan di atap, dan mendekati calon suaminya.
Saat calon suaminya ingin kabur dari dapur, tiba-tiba saja ada sebuah tali yang mengikat dirinya sehingga tak dapat bergerak. Kemudian begitu tali gantung itu berada di depan mata, tali itu melilitkan ke leher calon suaminya itu dengan sendirinya, dan menariknya ke atas hingga akhirnya mati.
Kemudian untuk pacaran dia baru saja datang ke dapur, dan melihat pacarnya meninggal menggantung. Dan pacarnya pun diperlakukan hal yang sama oleh arwah wanita itu. Akhirnya mereka semua mati dalam keadaan tergantung. Namun hanya dengan itu saja kebencian, dan balas dendam pada arwah itu tidak cukup.
Sehingga akhirnya arwah itu pergi ke rumah orang tak bersalah, dan menunggu di dapur untuk menggantung mati orang tersebut, "Seperti omong kosong, lucu sekali... cerita yang seperti ini tidak mungkin ada" ucap Tygruth yang berada di kamarku karena takut tidur di kamarnya sendirian setelah membaca buku hantu milikku.
"Apa kau takut?" ucapku.
"Hah!? ta-takut tentu saja tidak, mana mungkin bagi laki-laki sedingin ini takut pada hal yang tidak jelas adanya" ucap Tygruth.
"Lalu kenapa kau tidur di kamarku?" ucapku.
"Ah itu... di kamarku banyak serangga, jadi aku malas untuk tidur di kamarku" ucap Tygruth yang beralasan.
"Benarkah? baiklah kalau begitu biarkan aku yang bersihkan kamar mu" ucapku yang segera pergi. Namun Tygruth langsung menahannya dengan menarik tanganku, "Jangan... percuma saja kau membereskan serangga itu, aku sudah mencobanya berkali-kali namun mereka tetap muncul" ucap Tygruth. Dari wajahnya sudah jelas kalau dia berbohong, dan takut untuk tidur di kamarnya karena membaca buku hantu milikku.
__ADS_1
Krak! tiba-tiba saja ada suara yang berasal dari lantai bawah. Letak kamar ku berada di lantai dua bersama dengan kamar Vloid, dan Elysna. Sementara itu di lantai satu ada kamar untuk Mouri, Boa Boa, dan Tygruth. Letak kamar Tygruth bersampingan dengan ruangan dapur.
Suara itu membuat bulu kudukku berdiri, namun aku harus bersikap tegar di depan si penakut ini.