
Tapi ada yang aneh dengan serangan orang yang tadi menolong kami. Bagian tubuhnya yang disayat, dan mulutnya yang dipotong tipis tumbuh kembali. Padahal biasanya dia selalu meregenerasi tubuhnya yang terkena serangan, dan lagi ada serangan yang tadi meninggalkan bekas warna putih.
Kemudian aku memotong kedua lengan, dan kedua kakinya agar dia tak bisa bergerak disaat sedang meringis kesakitan. Dengan begitu aku bisa menggali informasi tentangnya, mungkin begitu aku mendapatkan informasi aku akan mendapatkan petunjuk yang tak terduga.
"Jawab aku... siapa yang mengirim mu?" ucapku sambil meletakkan kakiku di atas kepalanya.
"Aku tak akan memberitahu mu! tuan ku adalah orang yang hebat!" ucap makhluk itu dengan suara yang tidak jelas karena mulutnya terpotong. Meski begitu aku masih dapat mendengar cukup jelas karena telinga kucing ini. Sementara itu Boa Boa sedang menetralisir udara yang kotor menjadi udara yang bersih kembali.
Setelah itu Boa Boa ku perintahkan untuk mengurus Elysna. Karena mungkin kekuatannya dapat membantu untuk menyembuhkan luka yang ada di kakinya. Kaki Elysna sudah membusuk, dan sepertinya sudah tidak bisa disembuhkan.
"Aku paham dengan orang seperti mu... percuma saja jika aku terus bertanya, dan membuang waktu ku untuk orang seperti mu. Maka matilah dengan tenang..." ucapku yang kemudian memenggal kepalanya. Setelah itu aku segera kembali ke hadapan Elysna yang masih merasakan kesakitan itu.
"Apa yang terjadi dengan kakinya?" ucapku.
"Sepertinya kakinya membusuk karena terkena zat kimia dari makhluk aneh itu" ucap Tygruth.
"Sial! sial! sial! apa lukanya tidak bisa disembuhkan!?" ucapku yang panik, dan tak tega melihat Elysna merasa kesakitan begitu.
"Aku sedang mencobanya sebisa mungkin..." ucap Boa Boa yang melakukan sesuatu kepada kaki Elysna yang terluka.
"Gernath... sakit... sakit sekali" ucap Elysna yang meringis kesakitan.
"Elysna... bertahanlah... aku ada disini untukmu..." ucapku.
Kemudian setelah memakan waktu yang cukup lama kakinya yang membusuk itu perlahan-lahan mulai pulih kembali. Namun lukanya meninggalkan bekas di kakinya, seperti ada bercak-bercak di kakinya. Boa Boa sudah berusaha dengan keras untuk mengobati lukanya, dengan kemampuan yang dia miliki.
Namun bercak-bercak yang ada di kakinya tidak bisa dihilangkan begitu saja. Karena sepertinya akan selamanya akan begitu, namun aku rasa kemampuan penyembuhan milik Elysna, dan Boa Boa sangat berbeda. Kemampuan penyembuhan milik Elysna tidak dapat bekerja untuk mengobati kakinya yang membusuk.
Sementara itu kekuatan penyembuhan milik Boa Boa dapat bekerja meski lambat. Bukan! sejak awal kemampuan milik Boa Boa bukanlah kemampuan untuk menyembuhkan. Akan tetapi menetralisir sesuatu untuk mengembalikan sesuatu seperti semula.
"Hahaha! hanya dengan memenggal kepalaku itu tidak akan membuatku mati! tapi... kenapa tubuhku yang menerima serangan orang itu tak dapat beregenerasi?" ucap makhluk itu yang beregenerasi kembali setelah ku potong kaki, tangan, dan kepalanya.
Dasar monster, "Gernath! cepat serang dia dengan seluruh kemampuan yang kau miliki!" ucap Tygruth yang menahannya agar tidak bisa kabur dengan mengikat tubuh mahluk itu menggunakan gundukan tanah.
"Baiklah... akan ku balas perbuatan brengsek!" ucapku yang kemudian petir menyambar dengan dahsyat. Yang membuat langit menjadi hitam karena amarahku, kemudian aku mengangkat pedang milikku ke langit, seketika semua petir menyambar pedang milikku yang memberikan energi petir yang sangat kuat.
__ADS_1
Duar! aku menyambar seperti kilat ke arah makhluk itu hingga seluruh tubuhnya hancur, "Tidak! kau... akan mati..." ucap makhluk itu yang kemudian menghilang karena serangan ku. Tygruth, dan Mouri terlihat sangat terkejut, dan merasa merinding begitu melihat ku yang seperti ini.
Hal ini membuat mereka teringat sesuatu saat diriku tak terkendali. Langit yang hitam karena amarahku yang sangat besar, membuat mereka terlihat waspada, "Semuanya... berwaspadalah terhadap Gernath" ucap Tygruth.
"Hah? kenapa kita harus waspada terhadapnya?" ucap Vloid.
"Lihat saja... jika dia berbalik menghadap kita. Saat itulah kemungkinan terburuk akan terjadi" ucap Tygruth yang membuat yang lainnya ikut berwaspada.
"Memangnya ada apa dengan Gernath? apa yang terjadi padanya Tygruth?" ucap Elysna yang masih tergeletak karena kakinya masih terasa lemah.
"Saat ini dia sedang... ah... pokoknya kita harus berwaspada terhadapnya" ucap Tygruth. Tapi entah kenapa Tygruth merasakan sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya. Entah apa itu tapi yang lainnya harus tetap waspada terhadap diriku.
"Hah... sangat melelahkan! eh!? kenapa wajah kalian seperti itu?" ucapku yang berbalik dengan lega bisa membunuh makhluk itu sampai tuntas.
"Eh!? Gernath... apa kau baik-baik saja?" ucap Tygruth yang kebingungan.
"Hah? apa maksudmu? memangnya ada apa dengan ku?" ucapku yang ikut bingung.
Kemudian semua orang menyorot Tygruth dengan tajam, "Ahahaha... aku bisa jelaskan soal ini nanti, benarkan Mouri?" ucap Tygruth yang menggaruk-garuk kepalanya.
"A-apa!? tidak!"
Syukurlah akhirnya kami bisa mengalahkan makhluk yang aneh itu. Tapi lagi-lagi kenapa harus Elysna yang terluka, kenapa harus dia lagi?. Aku tak tega melihatnya terus menjadi korban yang paling parah di antara kami. Bukan berarti aku menginginkan yang lainnya lebih terluka dari apa yang dirasakan Elysna.
Akan tetapi rasanya semua keburukan yang terjadi hanya berlaku terhadap Elysna saja. Dia terus terluka, dan terluka lagi... dan aku, tak bisa melindunginya. Lagi-lagi aku malah melindungi yang lain, seharusnya aku mendahulukan perlindungan untuk Elysna dibandingkan yang lain.
Ah tidak! apa yang kupikirkan sih, itu sama sekali tak benar. Aku harus melindungi semuanya, dan tak boleh mendahulukan siapapun hanya karena perasaan pribadi. Karena semuanya sama pentingnya bagi hidupku saat ini. Meskipun aku tak lama mengenal Boa Boa sekalipun, selama dia menjadi bagian dari hidup ku. Aku harus melindunginya tanpa pandang bulu.
...*****...
"Kau sangat memahami orang lain ya" ucap Tygruth yang berdiri di depanku dengan tersenyum.
"Kalau soal tentang siapa yang lebih memahami orang lain sepertinya itu adalah dirimu, dan bukan aku yang payah ini" ucapku.
"Kau sangat memahami orang lain ya" ucap Tygruth yang mengulang perkataannya.
__ADS_1
"Hah... aku kan sudah bilang kalau soal itu kau yang lebih ahli" ucapku.
"Kau sangat memahami orang lain ya" ucap Tygruth yang lagi-lagi mengulang perkataannya. Bukan hanya perkataannya, ekspresinya sama sekali tak berubah. Seperti melihat sesuatu yang di putar secara berulang-ulang kali.
"Tygruth..." ucapku yang lagi-lagi Tygruth mengulang perkataan yang sama dengan ekspresi yang sama. Kemudian tiba-tiba saja wajah Tygruth yang kulihat menjadi blur, perkataannya semakin tidak jelas di dengar tapi aku tahu dia mengulang perkataan yang sama seperti sebelumnya.
Setelah itu tiba-tiba saja ruangan yang kulihat berubah dalam sekejap, lagi-lagi ruangan ini... aku selalu berada di ruangan ini. Sebenarnya ada apa dengan ruangan ini? ada apa dengan kamar ini!?. Tidak hanya itu... sosok Tygruth yang kulihat kini hanya wajahnya saja yang menjadi hitam.
"Kau sangat memahami orang lain ya" ucap orang itu yang kurasa itu bukanlah Tygruth lagi. Akan tetapi sosok yang lain sosok yang pernah kulihat sebelumnya, karena suara, dan hawa keberadaannya berbeda.
"Siapa kau! kenapa kau selalu muncul... eh!?" ucapku yang melihat ada anak kecil yang berlari menuju sosok itu. Anak kecil ini... aku juga pernah melihatnya sebelumnya, biasanya dia selalu muncul bersama dengan sosok aneh ini. Tapi hanya dia yang tak bisa melihat keberadaan ku.
Sosok anak kecil itupun masih sama seperti dulu, wajahnya tak terlihat karena ditutupi oleh sesuatu yang berwarna hitam sama seperti sosok orang itu. Kemudian tiba-tiba saja anak kecil itu rasanya sedang menatapku, mungkin saja aku salah tanggap, aku sangat terkejut begitu dia menghadap ku.
Setelah itu anak kecil itu menjulurkan tangannya kepadaku, dan membuatku terkejut. Dia tersenyum dengan sedih kepadaku, "Ayo ikut bersama kami... dirimu terlihat kesepian" ucap anak kecil itu yang meluluhkan hatiku. Tapi aku harus tetap tegar, dan tak boleh mendengarkan perkataannya meski dia terlihat meyakinkan sekalipun. Entah kenapa aku berpikir begitu terhadap anak kecil itu.
"Tidak... aku tak merasa kesepian lagi, banyak orang-orang yang membutuhkan ku" ucapku.
"Tidak, kau salah... bukan mereka yang membutuhkan mu. Akan tetapi kau yang membutuhkan bantuan kami, karena itu... bergabunglah bersama kami" ucap anak kecil itu dengan wajah sedihnya.
"Aku tidak akan pernah bergabung dengan kalian!" ucapku.
"Bergabunglah, dan akan kami berikan kebahagiaan yang pantas untukmu. Semua yang kau inginkan agar kau tidak sendirian lagi" ucap anak kecil itu.
Kesendirian?... apa aku memang sendirian? yah... sejak awal aku memang sudah hidup sendirian, dan tak memiliki siapapun. Meski begitu aku terus berbuat baik kepada seluruh penduduk desa, dan penduduk desa pun membalas kebaikan ku. Sejak saat itu aku merasa kalau diriku tak sendirian lagi karena banyak penduduk desa yang membutuhkan bantuan ku.
Kemudian... mulai datang sosok pertama yang ingin berteman dengan ku. Tygruth, dialah orangnya... dia orang yang berharga dalam hidupku yang mengubah kesendirian ku menjadi tahu banyak hal tentang sesuatu yang bisa dilakukan bersama. Setelah itu Mouri, awalnya dia sangat membenciku namun entah kenapa dia tak membenciku lagi dalam waktu yang singkat.
Kemudian Elysna datang, meskipun awalnya hubungan kami buruk, namun dengan perlahan hubungan kami membaik karena kami saling terbuka. Setelah itu Vloid, meskipun awalnya dia tak menerima keberadaan ku entah karena apa mungkin karena aku cukup menjengkelkan baginya. Namun kini hubungan kami menjadi lebih dekat, bahkan sangat dekat.
Begitu juga dengan penduduk desa Vampir yang awalnya tak mempercayai kami karena mengira telah melakukan sesuatu terhadap tuan muda mereka. Namun karena ulah Vloid yang seorang tuan muda dengan mudahnya mereka mempercayai kata-katanya. Setelahnya mereka langsung bersikap baik kepada kami, rasa yang hangat.
Setelah itu... Boa Boa, dia terlihat agak suram karena masa lalunya. Namun entah kenapa dia sangat mempercayai kami yang padahal dia memiliki trauma terhadap orang lain. Dia sangat mempercayai kami kalau kami tak akan berbuat jahat padanya, dan kemudian akhirnya dia bergabung bersama kami, dan menjadi lebih akrab.
Apakah setelah semua yang ku lalui selama ini... aku masih sendirian?
__ADS_1