Artificial God

Artificial God
Pemanggilan


__ADS_3

Semuanya terlihat kebingungan, karena mereka tidak tahu harus senang, atau tidak. Karena saat ini keadaan di seluruh dunia sedang genting dengan penyerbuan makhluk, dan monster yang mengerikan. Tapi satu hal yang pasti, mereka akan sangat senang begitu bertemu dengan dewa. Lalu yang membuat mereka tidak senang adalah apa yang akan terjadi jika kami semua di panggil di saat keadaan sedang kacau balau seperti ini.


"Ada apa dengan kalian? kenapa kalian berhenti menyerang?" ucap makhluk itu yang terlihat kebingungan.


"Maaf saja, tapi dalam dua jam ke depan kami semua akan menghilang dari dunia ini" ucapku yang membuat mereka semakin bingung.


"Apa maksudmu? terdengar seperti omong kosong seorang bocah" ucap makhluk itu.


"Kami akan pergi menemui dewa kami..." ucapku yang membuat raut wajah mereka terkejut, sekaligus terlihat kesal. Apa-apaan wajah mereka yang hanya mendengar kata dewa saja sudah begitu. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang dikutuk oleh dewa karena membangkang.


"Siapa orang yang kalian sebut dewa itu?" ucap makhluk itu yang terlihat membencinya. Kami yang melihat wajah ketidaksukaan dari makhluk busuk itu ikut merasa kesal. Karena kami berpikir makhluk-makhluk busuk itu telah menganggap remeh dewa kami.


Aku cukup terkejut melihat makhluk itu yang terlihat sepertinya sama sekali tak mengenal dewa. Apa mungkin mereka adalah makhluk-makhluk terbuang untuk tak pernah sekalipun bertemu dengan dewa. Oleh karena itu mereka tidak mendapatkan bilah layar yang berupa undangan untuk bertemu dengan dewa secara paksa setelah dua jam berlalu.


"Sepertinya kau adalah makhluk terbuang, oleh karena itu kau tidak..." kemudian tiba-tiba saja ucapan ku di potong dengan amarah mereka, "Siapa nama yang kalian sebut dewa itu brengsek!" teriak makhluk itu yang membuat kami, dan seluruh penduduk desa yang menyaksikan perbuatan hina makhluk itu membuat kami kesal.


"Kau... akan ku beri waktu dua jam untuk hidup! setelah itu kau akan mati!" ucapku dengan amarah yang besar. Seluruh teman-teman ku, dan penduduk desa lainnya pun ikut marah, dan mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk membunuh makhluk hina ini. Tak peduli mereka harus mati, karena mereka sangat kesal karena dewa mereka di caci maki oleh makhluk kotor ini.


"Apa namanya Woltryn!" teriak makhluk itu yang membuat semua orang terdiam, dan terkejut begitu mendengarnya. Karena apa yang dia katakan itu sangat tepat, benar... dewa kami bernama Woltryn. Tapi ngomong-ngomong bagaimana dia bisa mengetahui!?.

__ADS_1


"Bagaimana bisa makhluk hina seperti kalian mengetahuinya? bukankah kalian tak mengetahuinya?" ucapku yang padahal tadi sedang mengeluarkan kekuatan yang sangat besar untuk menyerang nya dalam sekali serang. Begitu juga dengan yang lainnya mereka ikut terdiam, dan hanya ada kekesalan dalam hati mereka.


"Dasar bodoh! dia bukan dewa! dia adalah manusia yang sama seperti kami! kalian semua adalah makhluk-makhluk bodoh yang dipengaruhi si brengsek Woltryn!" ucap makhluk itu dengan lantang. Blegar! aku menyambar bagaikan kilat meninju wajah makhluk kotor itu hingga terputus.


Semua yang menyaksikannya sangat terkejut begitu melihatku yang menjadi kuat dengan tiba-tiba. Duarrrrr! aku menghantam makhluk yang ditunggangi oleh makhluk yang baru saja ku bunuh itu dengan kedua tanganku. Petir menyambar begitu hebat, dan menciptakan ledakan yang mengerikan yang membuat orang-orang di sekitarnya terhempas angin yang begitu kuat.


Monster, bersama penunggang nya pun mati dalam sekali serang. Sekarang yah tersisa hanya tinggal empat makhluk beserta monster yang mereka tunggangi. Aku menatap mata mereka dengan tajam, zzzppt! dengan gerakan yang super cepat aku menghampiri penunggang yang di sebelahnya.


Lalu tanpa basa-basi aku langsung mengerahkan seluruh kekuatan ku kepadanya, duarrrrr!. Namun sepertinya serangan ku yang kali ini berhasil di tahan oleh monster yang dia tunggangi nya. Monster itu bermutasi menumbuhkan sebuah tangan menjijikan dari perutnya yang menghadang pukulan ku barusan.


Untunglah aku tak terkena zat kimia beracun itu karena di seluruh tubuhku saat ini memiliki pelindung sihir. Namun sepertinya aku harus mundur sekarang, karena pelindung sihir yang berada di sekitar tubuhku mulai melemah karena aku terlalu dekat menyerang makhluk busuk itu.


Elysna pergi maju dengan cepat dengan membawa tombak yang bercahaya bulan di tangan kanannya. Crat! Elysna terus menebas, dan mencincang tubuh monster itu hingga terbelah. Sementara itu Mouri menembakkan roket dengan brutal ke arah monster itu hingga meledak kemana-mana. Meski begitu tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Tygruth, dan aku bisa melindungi penduduk desa yang menyerang di bawahnya agar tidak terkena serangan Mouri yang brutal.


Sepertinya ide roket itu berasal dari Tygruth juga, dia benar-benar sangat jenius, "Apa-apaan itu? bagaimana bisa makhluk rendahan ini mencipta roket?" ucap makhluk itu kepada rekannya.


"Sungguh aneh, sepertinya ada yang tidak beres disini" ucap makhluk itu sambil bertahan, dan menyerang kami.


"Biar ku akhiri saja sekarang... waktunya malapetaka datang" ucap makhluk yang mengendalikan monster lahar itu. Bum! duar! Seketika tanah bergetar dengan dahsyat, dan mengeluarkan lahar beracun yang sangat berbahaya. Lahar beracun itu menyebar melalui sela-sela tanah yang retak, dan semakin menyebar hingga keadaan di desa saat ini penuh dengan lautan api.

__ADS_1


Banyak para penduduk desa yang terkena serangannya hingga terluka, dan ada juga yang mati karena serangan yang sulit di hindari karena mereka terlalu dekat menyerangnya. Perisai sihir ku di tembus lahar yang sangat panas, dan beracun itu. Ini sangat berbahaya, sepertinya yang tadi itu aku hanya beruntung bisa membunuh satu dari mereka karena lengah.


Waktunya tinggal tiga puluh menit lagi sampai akhirnya kami dibawa pergi dari sini. Setelah itu apa yang akan terjadi? hanya ada satu cara untuk menyelesaikannya. Aku harus mengerahkan seluruh kekuatan yang ku miliki, dan menarik mundur penduduk desa yang berada di barisan depan.


"Semuanya! cepat mundur! kalau tidak kalian akan mati!" ucapku yang membuat para penduduk desa menuruti perintah ku.


"Tak akan kubiarkan mereka lari!" ucap makhluk itu yang mengejar penduduk desa yang berlari. Namun Tygruth langsung menahannya dengan menaikan tanah dengan tinggi seperti sebuah tebing agar makhluk itu tak dapat lewat. Setelah itu Tygruth membuat tebing yang besar di sekitar makhluk itu hingga makhluk itu tak dapat keluar seperti serangga yang berada di dalam botol kaca.


"Cepat keluarkan kekuatan terbaikmu Gernath!" ucap Tygruth yang menahan tebing tinggi itu dari makhluk-makhluk yang mencoba keluar menerobos dinding itu.


"Baiklah! Ring Solar Eclipse!" ucapku yang mengucapkan sebuah mantra. Di langit terlihat lingkaran sihir yang sangat besar yaitu bercahaya dengan gelap. Lingkaran sihir itu mengeluarkan sinar panas yang mengerikan dengan cepat menuju para makhluk itu. Duarrrrr! serangan yang sangat luar biasa menimpa ke empat makhluk itu dengan tepat.


Sampai-sampai tebing tinggi, dan kokoh buatan Tygruth pun ikut hancur meledak tak tersisa. Aku sudah sangat kelelahan sekali karena energi kekuatan ku hampir habis. Tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk membuat pelindung sihir untuk melindungi semuanya.


"Cukup sampai sini saja! biar aku, dan lainnya yang melindungi semua orang" ucap Mouri yang menciptakan sebuah Shelter dengan cepat menggunakan besi yang sangat kuat, dan kokoh. Sepertinya besi ini lebih kokoh dari sebelumnya, dengan kekuatan Mouri kami dapat melindungi penduduk desa yang tersisa.


Namun... cring! waktu undangan telah berakhir, sudah waktunya kami berteleportasi ke suatu tempat seperti biasanya. Tempat yang sama seperti sebelumnya setiap acara tahunan God's Meeting. Seperti biasa pula ke empat bangsa di per satukan di suatu tempat, iblis, malaikat, Leonis, dan juga Elf.


Semuanya sedang berkumpul di satu tempat mengelilingi dewa kami yang duduk di singgasana nya. Semuanya terlihat panik, dan tak tahu apa yang harus mereka lakukan karena saat ini dunia mereka sedang di serang oleh makhluk aneh. Namun dengan satu jentikan jari dewa semuanya langsung bersikap dengan tenang. Dan lagi... ada yang ingin kutanyakan pada dewa di sesi terakhir sebelum acara ini selesai.

__ADS_1


__ADS_2