Artificial God

Artificial God
Perdamaian


__ADS_3

Pagi yang cerah, dan indah... seperti biasanya udara di pagi hari sangat segar. Mulai bagi hari ini adalah hari pertama untuk bangsa Leonis, dan bangsa Elf berdamai. Meskipun perdamaian ini sudah di sepakati oleh pemimpin desa mereka berdua, tetap saja para penduduk desa masih belum terbiasa dengan hal ini. Saat ini para penduduk desa baik dari bangsa Leonis, dan Elf sedang bekerja sama menebang hutan Agnuth.


Mereka memiliki tujuan untuk menggabungkan kedua desa yang terpisah, sekaligus berbeda itu. Awalnya hal ini di tentang oleh para penduduk desa, namun apalah daya bagi mereka yang hanya seorang penduduk desa biasa. Dengan begini, bangsa Leonis, dan bangsa Elf akan hidup berdampingan satu sama lain, karena kedua desa mereka akan bersatu.


Ini adalah kontruksi besar-besaran dalam sejarah, dan sekaligus sebagai perubahan besar-besaran terhadap dua bangsa yang selalu membenci satu sama lain. Hanya dalam beberapa Minggu saja, akhirnya kedua desa itu telah bergabung menjadi satu desa yang sangat besar.


"Kenapa kita harus hidup berdampingan dengan kucing-kucing itu" keluh bangsa Elf.


"Entahlah, tapi apakah ini akan berakhir baik untuk bangsa kita?" tanya mereka yang terus mempertanyakan hal ini.


Kemudian ada satu anak kecil dari bangsa Leonis yang menghampiri mereka dengan membawa banyak barang. Anak kecil itu menabrak Elf itu, dan terjatuh, begitu juga dengan barang-barang yang dia bawa. Kemudian Elf itu menatap anak kecil itu, namun yang di lihat anak kecil itu adalah tatapan kebencian yang membuatnya menangis ketakutan.


"Huwaaaa! menyeramkan! huhu!" tangis anak kecil itu.


"Hei apa wajahku seseram itu?" tanya Elf itu kepada temannya.


"Haha, wajahmu memang sedikit menyebalkan... baiklah nak maafkan temanku yang membuatmu terjatuh" ucap Elf itu yang mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. Kemudian temannya yang satu lagi menyusun kembali barang-barang yang terjatuh itu untuk di berikan kepada anak kecil itu.


"Te-terima kasih... a-aku pergi dulu... ini hadiah untuk paman baik" ucap anak itu yang memberikan sebuah boneka dari kayu yang di ukir. Kemudian anak kecil itu segera pergi dengan membawa barang-barangnya. Sementara itu kedua Elf itu hanya bisa terbengong, karena mereka tak menyangka akan melakukan hal seperti itu pada bangsa lain.


"Hei... kenapa kita membantunya?" ucap Elf itu.


"Entahlah... tapi kenapa hanya kau saja yang diberikan hadiah itu?" ucap temannya yang iri karena hanya dia yang diberikan hadiah, yang padahal dia sendiri sudah menolongnya juga.


"Hahaha! apa kau menginginkannya?" sindir Elf itu itu kepada temannya.

__ADS_1


"Tidak, mungkin menurutku... hal ini akan berakhir dengan baik" gumam temannya.


"Ya, kau benar... ayo kita pergi ke sana, mungkin ada yang sedang membutuhkan bantuan" ucap Elf itu.


Begitulah kehidupan desa ini, yang awalnya penuh dengan kebencian, berlanjut menjadi canggung, dan berlanjut menjadi malu-malu, dan di akhiri dengan persahabatan antara kedua bangsa yang berbeda. Kini kami bukan lagi menyebutnya desa Elf, ataupun desa Leonis, kami menyebutnya sebuah kota. Pastinya sebuah kota memiliki nama bukan, nama kota ini adalah, "Leonelf".


Sementara itu The Power of Peace saat ini sedang membantu para penduduk desa Vampir. Dengan mengobati mereka, dan membangun kembali desa mereka yang telah hancur. Mereka semua sangat berterima kasih kepada kami karena mau membantunya dengan cuma-cuma. Hanya dengan membantu seperti ini adalah hal yang membahagiakan bagi kami, entah kenapa terasa sangat menyenangkan.


Seluruh penduduk desa yang sebelumnya terlihat suram, dan tak memiliki masa depan kini kembali ceria. Namun tetap saja sosok yang berharga bagi mereka telah direnggut oleh monster itu membuatnya masih terasa sedih. Tentu saja kehilangan sesuatu yang berharga itu sangat menyedihkan, dan membuat seseorang putus asa dengan harapannya.


"Hei Vloid, kenapa kau melamun di sini?" ucapku yang tak sengaja menemukannya di hamparan bangunan yang hancur. Karena hubungan ku dengan Vloid masih belum membaik, sepertinya lagi-lagi dia tak mendengarkan perkataan ku. Aku memang sangat kesal sekali padanya, namun aku berusaha untuk sabar agar aku memiliki hubungan yang baik dengannya.


Kemudian aku duduk di sampingnya, dan berkata, "Sejak aku lahir aku sudah tak memiliki orang tua, dan pemimpin desa mengatakan kalau orang tuaku sudah meninggal. Aku selalu hidup sendiri selama ini, sebelum akhirnya aku mengenal mereka. Mungkin aku tak akan pernah bisa memahami apa yang kau rasakan.


Sambil memandang ke depan aku terus menceritakan tentang diriku. Tapi tak seperti biasanya, dia selalu menghindari ku begitu aku mendekat dengannya. Kini dia hanya diam saja, meskipun aku tak tahu saat ini dia mendengarkan perkataan ku atau tidak. Saat ini aku hanya ingin bercerita, entah kepada siapapun itu aku ingin bercerita saja.


Lalu perlahan dia mulau menatapku, dan mendengarkan ceritaku. Aku terus bercerita tentang diriku tanpa henti, tentang penyesalan, penderitaan, kebahagiaan, atau apapun itu. Rasanya hatiku semakin ringan begitu aku mengeluarkan semua yang ku pendam selama ini, dan aku semakin bersemangat untuk menceritakannya.


"Walaupun aku tak sekuat Tygruth, tapi tekad ku untuk menjadi yang terkuat tak akan pernah hilang. Aku akan menjadi yang terkuat, demi kedamaian dunia ini, karena itulah kami melakukan perjalanan ini, dan..." ucapku yang kemudian Vloid memotong pembicaraan ku.


"Kenapa kau tak pernah menyerah dengan tujuan mu?" ucap Vloid dengan datar, aku sangat senang karena pada akhirnya kami dapat berbicara berdua.


"Karena... masih ada seseorang yang mau menerima ku" ucapku.


"Pantas saja aku menyerah pada tujuanku, karena aku tak memiliki apa yang kau maksud" ucap Vloid dengan sedih.

__ADS_1


"Kau hanya tak menyadarinya... kami sudah menerima mu sejak awal bertemu. Begitu juga jangan kau lupakan dengan penduduk desa yang sangat khawatir padamu" ucapku yang berterus-terang.


"Penduduk desa... tapi tidak ada satupun dari mereka yang menyelamatkan ku" ucap Vloid.


"Mungkin karena ada seseorang yang berharga bagi mereka yang harus di selamat kan lebih dulu" ucapku yang terus memberikan harapan padanya.


"Jadi aku bukanlah sosok yang berharga bagi mereka ya?" ucap Vloid.


"Apa kau memiliki sesuatu yang berharga?" tanyaku.


"Tentu saja, bagiku yang berharga adalah keluarga ku, dan kini mereka telah tiada" ucap Vloid. Kemudian aku menepuk kepalanya dengan pelan, "Begitu juga dengan penduduk desa ini, bagi mereka yang berharga adalah keluarganya. Ketimbang orang lain, kau pasti akan lebih memilih menyelamatkan keluarga mu ketimbang orang lain bukan?" tanyaku padanya yang membuatnya terdiam, tak dapat membalas perkataan ku.


Untuk saat ini aku membiarkan dia merenungkan kata-kata ku terlebih dahulu. Agar dia dapat memahami dengan baik tentang orang lain, dan perasaan seseorang. Kemudian Elysna, dan yang lainnya datang menghampiri kami yang sedang berduaan disini.


"Akhirnya kami menemukan mu, eh!? apa ini? apa kalian sudah baikan?" tanya Elysna.


"Apa!? dengan dia? tentu saja tidak, dan itu tidak akan pernah terjadi. Elysna! aku merindukan mu!" ucap Vloid yang segera meninggalkan ku, dan memeluk Elysna. Entah kenapa saat ini aku tak bisa marah melihat sikapnya yang seperti ini, apa karena aku sudah terbiasa dengan sikapnya ya?.


"Tygruth ayo kembali, para penduduk desa sudah menyiapkan hidangan yang lezat" ucap Elysna padaku.


"Nanti saja aku kembali, aku masih ingin disini sementara waktu" ucapku.


"Oh, baiklah kalau begitu kami pergi dulu!" ucap Elysna yang kemudian mereka semua meninggalkan ku. Namun sebelum pergi Vloid tersenyum padaku, dan mengatakan, "Terima kasih" kepadaku lewat telepati miliknya. Kemudian aku membalas senyuman itu, dan sepertinya hubungan kami ke depannya akan mulai terasa baik.


Dunia ini memang unik...

__ADS_1


__ADS_2