Artificial God

Artificial God
Pertarungan Yang Ditunggu


__ADS_3

Akhirnya sudah satu bulan berlalu sejak kejadian saat itu. Hari ini Tygruth sudah sehat seperti semula, hanya saja sikapnya yang sialan tidak kembali seperti semula. Hari-hari yang ku lalui begitu suram, dan sepertinya untuk selamanya aku akan menjalani kehidupan yang suram ini. Aku tak bisa hidup dengan tenang jika Tygruth selalu berada di sampingku seperti ini.


Dan juga sesuai janjiku, karena aku sudah menantang Tygruth untuk bertarung dengan ku sebulan yang lalu. Maka ini adalah hari yang sempurna untuk menentukan siapa yang terkuat di antara kami. Aku sudah sangat menantikan hari-hari ini, karena rasanya aku sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Aku juga menciptakan kekuatan yang baru dari sebelumnya, yang tentunya tak kalah hebatnya.


Sebelumnya kami menghampiri rumah pemimpin desa untuk menjadi juri di pertarungan ini. Kami bertarung di dimensi yang berbeda, agar tidak ada kerusakan yang menimpa desa ini seperti sebelumnya. Tentunya juga agar rumah kami tak menjadi korban seperti sebelumnya.


"Apa kalian sudah siap?" ucap guru sebelum pertarungan di mulai.


"Kami siap guru!" teriak kami serentak.


"Ayo semangat semuanya! aku mendukungmu Gernath!" teriak Mouri yang kegirangan sendiri.


"Hei Gernath... apa kau sekarang sudah sangat percaya diri sekali sekarang? kalau kaulah yang akan memenangkan pertandingan ini?" ucap Tygruth yang tersenyum sinis.


"Huh, sepertinya kau yang sangat percaya diri, Tygruth. Akan ku tunjukkan kemampuan ku yang sebenarnya selama latihan keras yang kulakukan sebulan ini" ucapku dengan percaya diri kalau akulah yang akan memenangkan pertarungan ini.


"Baiklah kalau begitu aku akan menghitung mundur. Tiga... dua... satu, mulai!" teriak guru kami yang sepertinya bersemangat sekali.


Kemudian seperti biasa Tygruth meletakkan kedua telapak tangannya ke tanah, "Rasakan ini!" ucap Tygruth yang tiba-tiba saja tanah di sekeliling ku naik ke permukaan, dan mengunci semua pergerakan ku sehingga aku tak dapat bergerak sedikitpun, ataupun mengeluarkan kekuatan sihir ku.


"Sial... kau curang, Tygruth" ucapku yang sambil berusaha lepas dari tanah yang mengikatku.


"Hahaha... sepertinya aku telah membuat hilang kepercayaan dirimu terhadap dirimu ya" ucap Tygruth yang tersenyum.

__ADS_1


Kemudian aku tersenyum sinis padanya, dan aku menggunakan kekuatan kekuatan untuk melesat ke udara. Kemudian aku membuat lingkaran sihir yang melindungi ku, sekaligus membuatku melayang di udara. Kini aku bisa menggunakan berbagai kekuatan sihir tanpa batas yang menggangu pengguna.


"Apa!? bagaimana bisa? kalau begitu rasakan ini!" ucap Tygruth yang menghantam tanah di bawahnya yang seketika tanah berbentuk runcing menumbuk sihir pelindung milikku. Namun itu semua percuma, karena kekuatan sihir ku lebih kuat dari sebelumnya karena aku terus berlatih dengan keras, sementara Tygruth hanya berbaring di kasur, dan tak berlatih sedikit pun.


Aku mengarahkan tanganku kepada Tygruth "Kini giliran mu yang terkena serangan ku... rasakan ini, South Pole!" teriakku sambil mengucapkan mantra, yang kemudian muncul lingkaran sihir di sekitar Tygruth. Setelah itu dalam sekejap muncul es batu yang sangat dingin hingga terlihat uapnya, es itu membekukan Tygruth yang ada di dalamnya.


"Hei! hentikan itu! Tygruth bisa mati membeku jika seperti itu!" teriak Mouri yang segera berlari menuju Tygruth untuk menyelamatkannya.


"Ah benarkah?" ucapku yang terkejut.


Kemudian guru menghalangi Mouri yang ingin berlari menuju Tygruth, "Tidak apa, Gernath! kau tak perlu khawatir selama ada gurumu disini. Tetap serang dia sampai aku bilang berhenti!" teriak guruku.


Aku jadi tak yakin dengan apa yang di ucapkan guru padaku. Aku jadi bimbingan dengan perkataan Mouri, apa aku sedikit keterlaluan menggunakan kekuatan ku?. Aku jadi ragu-ragu untuk menyerang nya lagi, bagaimana nanti jika dia benar-benar aku bunuh?. Tapi kenapa guru tak khawatir dengan keadaan seperti ini? apa memang benar tidak apa ya?.


"Eh!? kenapa di belakang Gernath ada kabut tebal?" gumam Mouri yang menyaksikan pertarungan ini.


"Lightning Explosion!" ucapku yang tiba-tiba petir yang besar menyambar Tygruth hingga es batu yang menyelimutinya hancur bersamaan dengan Tygruth yang ada di dalamnya. Aku yang melihatnya sangat syok, begitu juga dengan Mouri yang sampai pingsan setelah melihatnya.


"Tidak mungkin... Tygruth mati karena ulahku!?" ucapku yang syok. Karena aku terlalu syok saat itu, tanpa sadar aku melepaskan kekuatan sihir yang melindungi ku. Yang kemudian tiba-tiba saja Tygruth berada di belakang ku, aku sangat terkejut begitu melihat dia muncul dari balik kabut yang tebal itu.


Dia langsung mengerahkan kekuatannya, kini dia mengendalikan udara. Dia membentuk udara disekitarnya menjadi berbentuk segitiga yang sangat runcing. Kemudian angin itu menusuk-nusuk tubuhku secara bertubi-tubi hingga aku terjatuh dari langit. Tubuhku penuh luka gores, walau kekuatan anginnya begitu tajam, kekuatannya masih belum bisa menembus tubuhku karena masih tak cukup kuat untuk menembus daging. Tapi tetap saja rasanya sakit sekali setelah terkena serangan darinya.


Bruk! aku terjatuh terlentang, aku sangat putus asa begitu bertarung dengannya. Sekuat apapun diriku aku tak mungkin bisa mengalahkannya, lalu untuk apa selama ini aku berlatih begitu keras sampai rasanya tubuhku hancur berkeping-keping. Untuk apa aku melakukannya kalau kenyataannya aku akan kalah darinya. Toh sudah tidak ada harapan lagi untukku mengalahkan Tygruth.

__ADS_1


Lebih baik aku menyerah saja, dan berhenti melakukan sesuatu yang tidak berguna. Mungkin aku harus berhenti belajar kekuatan sihir, dan keluar dari kelompok ini. Kalau dalam sebulan aku tak ada perubahan, percuma saja aku memiliki harapan yang begitu besar untuk menciptakan perdamaian, toh tak ada yang bisa kulakukan selain menyerah terhadap sesuatu yang dinamakan takdir. Karena pada akhirnya hanya Tygruth lah yang dapat menciptakan perdamaian itu, karena dia begitu kuat, melampaui kami dengan sangat jauh.


Kemudian Tygruth turun secara perlahan menggunakan kekuatan angin yang ada di bawah kakinya untuk membantunya terbang. Dia turun ke hadapan ku, dengan tatapan yang menyeramkan sama seperti Mouri saat itu. Tatapan yang benar-benar ku benci, yang membuatku sangat menderita walau hanya melihat tatapan itu.


"Terus berusaha untuk menjadi dirimu sendiri, kalau tidak kau tak akan bisa melakukan apapun, dan hanya akan menjadi sampah" ucap Tygruth yang setelah itu pergi meninggalkan ku. Kata-katanya... sangat menyakitkan, apa benar dia mengatakan itu dari hatinya? atau dia hanya bercanda?. Entah kenapa rasanya sangat aneh sekali dengan sikapnya akhir-akhir ini.


Tapi apa maksudnya berusaha untuk menjadi diri sendiri? apa yang dia katakan barusan. Aku benar-benar tak mengerti, dia hanya berbicara omong kosong. Aku sangat kesal, aku ingin marah, aku ingin berteriak, aku ingin melangkah lebih maju. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya dari semua yg kukatakan dalam hatiku.


Aku sangat kesal, tapi kenyataannya aku tak bisa melakukan hak itu, dan malah jadi murung. Aku ingin marah namun aku tak bisa melakukannya, dan aku hanya menjadi sedih. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, namun kenyataannya aku hanya bisa terdiam, dan tak melakukan apapun terhadap diriku. Dan aku ingin melangkah maju untuk mengejar sesuatu yang kuinginkan, namun aku malah berjalan mundur entah kemana tanpa tujuan yang pasti.


Sangat menyedihkan... kenapa diriku begitu menyedihkan seperti ini?. Kenapa aku terlahir begitu menyedihkan? kenapa harus aku yang melalui kehidupan yang menyedihkan ini?. Percuma saja kalau aku hanya bertanya kepada diriku, dan tak menemukan jawaban yang pasti. Sangat membosankan sekali bukan? diriku yang seperti ini tidak layak untuk mereka.


"Eh!?... apa yang terjadi?" gumam Tygruth yang melihatku.


"Ini... harus di hentikan sekarang juga" ucap guruku yang melesat dengan cepat ke arahku sampai-sampai terdengar suara guntur karena saking cepatnya. Guru mengayunkan pukulannya ke arahku dengan sangat kuat, namun serangan guru tak mempan kepada ku, karena ada semacam dinding yang tak terlihat yang melindungi ku.


"Guru! apa yang sebenarnya terjadi pada Gernath? kenapa ada aura hitam di sekelilingnya?" ucap Tygruth yang terlihat panik.


"Cepat kau bawa Mouri pergi dari sini! biarkan aku yang menghadapinya. Saat ini tak ada yang bisa kau lakukan untuk mencegahnya!" ucap guru. Kemudian Tygruth pergi meninggalkan dimensi yang dibuat oleh guru. Lalu seketika langit berubah menjadi gelap, dan mulai turun hujan yang perlahan-lahan semakin deras.


"Tidak mungkin... dia bisa menggunakan teknik sihir ku!? seharusnya hanya aku saja yang bisa mengendalikan dimensi ini!" gumam guruku. Kemudian aku mulai beranjak berdiri, aura hitam yang ada di sekeliling ku semakin pekat. Sampai-sampai aura hitam itu mengubah pakaian ku menjadi warna hitam yang berjubah, dan terlihat usang.


"Death Sword" begitu aku mengucapkan mantra itu, sambil melentangkan tanganku ke samping. Tiba-tiba saja ada sebuah pedang berwarna hitam yang terbakar oleh api hitam. Kemudian aku menggenggam pedang itu, dan untuk saat ini... pertama kalinya aku tak bisa mengendalikan diriku. Seperti ada sesuatu, atau seseorang yang mengendalikan ku saat ini. Sesuatu yang terasa amat dingin, dan kejam, penuh dengan aura kejahatan, aku harap semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2