
Pagi hari itu aku segera pergi masuk ke dalam hutan untuk menemui Elysna. Entah kenapa jantungku berdebar-debar begitu semakin dekat ke tempat tujuan. Pikiranku juga tidak bisa tenang, hatiku sangat resah sekali, sepertinya aku sangat menantikan untuk bersenandung bersama dengannya.
Seperti dugaan ku, begitu aku sampai aku melihat dia bersenandung di depan pohon yang sudah tampak besar itu. Pohon itu bergoyang, dan mengeluarkan cahaya yang indah, sepertinya semakin besar ukuran pohon itu, rasanya terlihat semakin lebih indah dari sebelumnya.
Kemudian aku pergi menghampiri Elf yang sedang bersenandung itu. Begitu dia melihatku, wajahnya langsung berubah terlihat senyuman, dan kebahagiaan. Dia langsung berlari ke arahku, dan melompat kemudian memelukku dengan erat. Sepertinya dia juga sudah sangat menantikan ku, karena aku sudah membuat dia menunggu kedatangan ku begitu lama.
"Bodoh... akhirnya kau kembali juga, setiap hari aku selalu datang ke tempat ini sambil berharap kau juga ada disini bersamaku. Tapi kau malah tidak pernah datang, dan di saat aku benar-benar menyerah untuk datang ke sini lagi, kau malah datang menghampiriku" ucap Elysna sambil menangis dengan pelan.
Kemudian aku membalas pelukannya, "Maafkan aku... aku memang bodoh, maaf karena aku telah membuatmu menunggu. Maaf karena aku tak bisa berjanji untukmu, tapi apa kau mau mendengar apa yang terjadi padaku selama ini?" ucapku yang berusaha mengubah topik pembicaraan ini. Karena jantungku berdetak begitu kencang, aku bisa malu kalau dia mengetahui detak jantungku yang berdebar ini.
"Hmmph" ucap Elysna sambil membuang muka.
"E-eh..." aku malah jadi khawatir kalau hubungan kami akan menjadi buruk karena hak ini. Namun begitu dia balik menghadap ku, dia malah tersenyum, dan tertawa dengan manis. Syukurlah kalau dia tidak benar-benar membenciku, lalu setelah itu aku menceritakan semua yang terjadi selama ini, saat aku tak dapat berkunjung kembali ke tempat ini.
Mungkin aku perlu menyebutnya tempat pertemuan kita. Kami sangat bersenang-senang, dan saling bercerita tentang kehidupan kami. Aku sangat senang begitu dia bercerita tentang dirinya, aku selalu menatap wajahnya yang menawan itu. Jantungku terus berdebar-debar, mungkin aku harus mengakuinya kalau aku memang jatuh cinta pada Elf ini.
Namun, "Apa!? jadi kau adalah seorang putri pemimpin desa Elf!" teriakku yang tak menyangka kalau dia adalah seorang putri, dan lagi kenapa seorang putri yang penting seperti dia berkeliaran sendirian di hutan seperti ini. Apa dia tidak takut kalau ada binatang yang berbahaya, atau bertemu dengan salah satu dari ras kami, dan mungkin yang lebih berbahaya adalah jebakan yang di tanam oleh Tygruth.
"Eh!? kukira kau sudah tahu saat kejadian itu, saat temanmu terluka parah" ucap Elysna yang tiba-tiba mengingatkan ku kepada keadaan Tygruth saat ini. Aku jadi bingung apakah aku harus kembali, atau bersama dengannya untuk menemaninya di tempat pertemuan kami.
__ADS_1
"Saat ini dia juga sedang terluka lebih parah dari sebelumnya" ucapku dengan murung.
"Ah... maafkan aku..." ucap Elysna yang merasa tidak enak karena membicarakan hal seperti ini.
"Kenapa kau minta maaf? kau kan tidak ada hubungannya dengan ini" ucapku, yang entah kenapa Elysna terlihat kesal karena ucapan ku barusan. Memangnya apa yang salah dengan ucapan ku padanya tadi? ah dasar wanita benar-benar sulit sekali untuk di pahami.
"Eh!? kau kenapa? apa kau marah padaku? kalau kau marah padaku setidaknya jelaskan apa yang salah denganku?" ucapku yang jadi terlihat bodoh di depannya.
"Bukankah kalian ingin membangun hubungan yang baik dengan ras kami? tentu saja kalau teman kalian, atau salah-satu dari ras kalian sudah menjadi masalah dalam hidupku. Tapi kenapa kau tidak beranggapan seperti itu, padahal saat itu kau mengatakannya dengan sangat keren" ucap Elysna yang terlihat masih kesal denganku.
Namun aku hanya bengong mendengarkan kata-katanya, tentang bagaimana dia bisa tahu kalau aku ingin membangun hubungan yang baik dengan ras Elf?. Apa saat itu aku pernah mengatakannya, atau jangan-jangan selama ini dia menaruh semacam sihir untuk mengetahui gerak-gerik ku selama ini!? hiiiii menyeramkan!.
"Hehe... kau benar aku sudah lupa, maaf" ucapku sambil mengusap-usap kepala.
"Apa!? jadi benar? astaga kau ini benar-benar menyebalkan. Padahal masih muda tapi kau sudah pikun seperti ini, bagaimana jika kau semakin dewasa!" ucap Elysna yang geram denganku, sambil menghadap ke belakang
"Hei... aku ingin menanyakan sesuatu berhubungan dengan ras kalian, apa itu boleh ku tanyakan?" ucapku yang ragu-ragu dalam bertanya, dan juga karena mendengar kata-katanya barusan yang berhubungan dengan umur entah kenapa tiba-tiba aku menjadi sedih.
Aku juga ketakutan saat mendengar kata-kata itu, karena umur Elf lebih panjang dari pada umur Leonis. Bagaimana jika suatu hari nanti, aku sudah menua, dan dia masih muda. Apa dia akan sedih begitu tahu kalau ajal ku sudah semakin dekat, apa dia akan menangis untukku? dan... apakah kita masih dapat bersama seperti saat ini?.
__ADS_1
"Hmm? tanyakan saja, aku akan menjawab pertanyaan mu jika aku tahu" ucap Elysna.
"Berapa lama kalian ras Elf dapat hidup?" ucapku sambil menundukkan kepalaku karena aku tak ingin dia melihat wajahku yang payah ini. Kemudian Elysna terkejut begitu mendengarnya, dan dia langsung menghadap ku, dengan tatapan sedih. Mungkin sepertinya dia tahu apa maksud dari perkataan ku tadi.
"K-kau... maksudku kami para bangsa Elf dapat hidup 1000 tahun sampai 2000 tahun lamanya" ucap Elysna yang terlihat sedih.
Kalau dipikir-pikir jika aku membandingkan bangsa kami dengan bangsa yang lainnya. Sepertinya ras kami lah yang memiliki rata-rata usia hidup yang singkat. Kami dapat bertahan hidup 100 tahun, hingga 120 tahun lamanya. Umur yang begitu pendek, aku jadi membenci waktu karena waktu terus berjalan tanpa henti, dan mendekati diriku dengan kematian.
"Apa yang kau lakukan... jika suatu hari nanti aku sudah tidak ada di samping mu" gumam ku yang tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutku. Namun Elysna menanggapi nya dengan senyuman seperti biasanya, sepertinya para Elf sangat murah senyum yah.
"Mungkin... aku akan sangat kesepian, dan tak memiliki tujuan hidup lagi... ah!? bu-bukan seperti itu maksud ku, lupakan apa yang ku katakan barusan!" ucap Elysna sambil merasa malu, dan lagi-lagi dia membelakangi ku.
"Apa kau... mau menikah denganku?" ucapku yang lagi-lagi tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutku. Kemudian tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencang, dan halus. Dedaunan mulau berguguran, dan sinar matahari menerangi tempat kami.
Entah kenapa tiba-tiba roda waktu berhenti berputar, suara angin yang menghembus pohon begitu nikmat di dengar. Lalu wajah Elf di depanku terlihat semakin menawan, dan indah. Dengan bulu mata yang lantik, dan kulit yang seputih susu, dia tersenyum padaku dengan mata yang hampir menangis.
"Aku mau... aku mau menikah denganmu" ucap Elf itu dengan lembut.
Wush... angin masih berhembus dengan kencang, yang membuat suasana ini menjadi lebih damai. Kata-kata Elf itu membuat hatiku sangat senang, kegembiraan yang belum pernah kurasakan selama ini akhirnya hadir pada hari yang indah. Aku bertanya-tanya kepada diriku, apakah ini mimpi? namun untunglah kalau ini adalah kenyataan.
__ADS_1
Kenyataan yang indah untuk kami, untuk dua ras yang berbeda. Mungkin ini adalah hadiah yang diberikan dewa kepada kami, dan juga sebuah keajaiban. Dari sesuatu yang benar-benar berbeda, dan dikatakan tidak mungkin dapat bersatu, namun karena takdir sudah berkehendak, maka tak ada siapapun yang dapat menghalangi kisah kami yang ajaib ini. Rasanya memang benar-benar ajaib.