
Karena ucapan ayahnya Elysna yang berterus-terang padaku. Membuat keadaan ini menjadi runyam, ayahnya terus menatap ku dengan tajam seolah-olah dia ingin membunuhku. Aku sangat kebingungan dengan apa yang harus kukatakan, sepertinya ayahnya ingin segera mendengar jawaban dariku secara langsung.
Baiklah kalau begitu aku akan mengatakannya, maafkan aku Mouri, "Kenapa anda tak menyetujuinya? aku berjanji kepada kalian semua, dan juga pada diriku. Aku akan membuatnya bahagia lebih dari siapapun! aku tak akan pernah membuatnya menangis. Aku tak akan membuatnya merasa kesepian, karena aku akan selalu berada di samping putri anda, sampai akhir hayat aku akan terus memegang janjiku!" ucapku yang kebablasan. Gawat! aku sepertinya sudah keterlaluan di depan ayahnya, dan lagi dia adalah pemimpin desa Elf.
"Gernath... baiklah aku mengerti" ucap Mouri dalam hati dengan tersenyum rapuh padaku, aku yang melihatnya menjadi merasa bersalah padanya. Tapi apalah dayaku, aku hanya manusia biasa, dan seperti inilah cinta. Cinta begitu pahit, dan menyakitkan, jika kau tak mau melalui itu semua. Maka kau harus bergerak lebih dulu, sebelum ada seseorang yang menyusul mu, dan merebut semua cinta itu.
Kemudian ayahnya Elysna terlihat sangat marah padaku, matanya melotot seperti akan keluar. Aku merinding ketakutan, dan tak berani menatap matanya, sementara itu Elysna sangat khawatir dengan ayahnya yang terlihat sangat marah itu.
"Putriku... kenapa harus dia? kenapa harus bangsa lain?" ucap ayahnya yang masih tak mengerti kenapa putrinya memilikiku yang berbeda bangsa dengannya.
"Aku pun tidak tahu ayahanda, mungkin inilah yang disebut dengan orang-orang terdahulu. Kalau cinta itu buta, cinta tak memandang apapun, cinta lahir dengan waktu yang berharga dihabiskan untuk bersama dengan orang terkasih" ucap Elysna, yang membuatku terharu mendengarnya.
Kemudian ayahnya menghela nafas, dan menatapku dengan tajam, "Baiklah kalau begitu, aku akan menikahkan mu dengan kucing ini. Tapi sampai harapan, yang kalian bangun bersama itu berhasil. Baru aku akan menikahkan kau dengar putriku, karena sebenarnya aku juga menginginkan perdamaian itu" ucap ayahnya yang membuatku ikut terharu mendengarnya.
Bagaimana bisa aku tak terharu mendengar kata-kata yang indah itu dari mulut pemimpin desa lain. Ini adalah kemajuan besar untuk kami, dengan begini mungkin perselisihan antara bangsa kami, dan bangsa Elf akan terselesaikan dengan mudah. Karena kedua pemimpin desa ini sangat menginginkan perdamaian yang indah itu.
"Kalau begitu kenapa ayahanda tidak mencoba membicarakan hal ini dengan pemimpin desa kami? aku yakin dia menginginkan hak yang sama dengan anda" ucapku dengan penuh hormat.
"Wow... kau terlalu cepat memanggilku begitu, bukannya aku tak ingin membicarakannya. Tapi... aku, ah sudahlah pergilah kalian!" ucap ayahnya Elysna yang terlihat malu-malu. Ternyata orang yang berwibawa seperti ayahnya Elysna pun bisa bersikap konyol seperti ini. Tidak jauh berbeda dengan guru, apa semua pemimpin desa memang memiliki sifat konyol seperti itu ya?.
Kemudian kami berempat pun mulai pergi menjelajah, "Ayah! kami pergi dulu, sampai jumpa!" teriak Elysna sambil melambaikan tangannya dengan bahagia. Sepertinya dia tak merasa sedih dengan meninggalkan orang tuanya, mungkin yang membuat dia begitu bahagia karena bisa bersama ku saat ini.
__ADS_1
"Hati-hati dijalan anakku! huhu... tetaplah hidup meski dunia ini menyakitkan" teriak ayahnya yang sambil menangis dengan sedih karena putrinya telah tumbuh besar, dan mulai menjelajahi dunia dengan membawa harapan yang besar untuk dunia ini. Ku nyatakan! dengan begini perjalanan, The Power of Peace telah di mulai!.
Kami melewati gunung, lembah, dan samudra yang sangat luas. Sebenarnya belum sampai seperti itu, kami masih berada di dalam hutan Agnuth, kami terus berjalan lurus tanpa tujuan yang jelas. Tak ku sangka kalau hutan Agnuth seluas ini, dan semakin ke dalam keadaan hutan ini semakin menyeramkan karena sepertinya belum ada yang melewati area ini.
Malam hari pun tiba, sebelumnya kami sudah menyiapkan kayu bakar, dan rumah sederhana yang kami buat sendiri dengan benda-benda sekitar, dan juga batang yang kami bawa sebelum pergi. Kami membuat dua tenda untuk malam ini, satu tenda berisi aku, dan Elysna, dan satu tenda laginya berisi Mouri, dan Tygruth.
Entah kenapa keadaan di dalam tenda membuatku canggung saat bersamanya. Elysna hanya diam saja sedari tadi yang membuatku ikut terdiam. Namun begitu aku memanggil namanya dia sangat terkejut, sepertinya dia juga sangat canggung padaku.
"Ngomong-ngomong Elysna... bagaimana kau tahu kalau hari ini kami akan segera pergi menjelajah?" tanyaku.
"Ah... soal itu bukan aku yang tahu, tapi ayahku yang mengetahuinya. Ayahku menggunakan kekuatannya untuk melacak kalian, lewat ingatanku" ucap Elysna dengan polos, aku tak menyangka kalau para pemimpin desa ternyata memiliki kekuatan yang menyeramkan.
"Oh ya... ngomong-ngomong kenapa Mouri tak membawa satu barang pun? kukira kau sudah menyiapkannya saat guru menyuruh kalian untuk menyiapkan barang-barang untuk pergi" kataku sambil membakar ikan.
"Benar juga... aneh sekali, kenapa Mouri tak membawa satu barang pun ya?" gumam Tygruth yang baru menyadarinya.
"Hah!? seharusnya aku yang bertanya kepada kalian kenapa kalian membawa barang sebanyak itu" ucap Mouri yang heran pada kami, yang padahal kami juga heran kenapa Mouri tak membawa satu barang pun. Tapi kenapa Mouri malah mengatakan kalau kami yang aneh karena membawa banyak barang untuk berpergian.
"Hah!? apa maksudmu, tentu saja karena kami akan berpergian jauh. Karena itulah kami membawa barang-barang ini" ucap Tygruth yang tak mengerti.
Kemudian Mouri menghela nafas dengan kesal, "Apa kalian lupa dengan kekuatan ku yang dapat menciptakan apapun?" ucap Mouri yang membuat kami semua terdiam. Entah kenapa kami malah terlihat seperti orang bodoh di mata Mouri saat ini.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau hanya diam saja! kalau begitu kami tak perlu membawa barang yang merepotkan ini!" teriak Tygruth yang sangat kesal karena merasa sia-sia membawa barang yang dia bawa.
"Ah... aku lupa mengingatkannya kepada kalian, hehe" ucap Mouri sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Alasan macam apa itu! bagaimana bisa kau hanya ingat pada dirimu saja! sini kau!" teriak Tygruth yang bermain kejar-kejaran dengan Mouri. Aku pun menghela nafas yang melihatnya, sepertinya hari ini akan berakhir dengan menyebalkan juga, tapi sepertinya tidak begitu... karena rasanya, ini adalah hari yang akan menjadi hari terbaik bagi kami.
Entah mengapa rasanya malam ini jauh lebih indah dari malam yang pernah ku lalui selama hidupku. Bintang-bintang bersinar begitu terang, dan cahaya rembulan seperti sedang menatapku. Langit yang gelap terlihat begitu menenangkan, seakan-akan mereka sedang melambaikan tangannya, karena esok akan di gantikan dengan hari yang cerah.
Kemudian begitu kami selesai makan sampai puas, hingga perut kami membengkak seakan mau meledak. Kami pun segera pergi tidur, dan kembali ke tenda masing-masing. Namun... aku merasa jengkel begitu melihat Mouri yang menciptakan rumah yang besar, dan mewah dari tangannya. Sedangkan kami hanya tinggal berdua di tenda yang kecil ini, benar-benar tidak adil, dan kekuatan yang menyebalkan!.
Dan apa-apaan senyuman sombong tadi itu! namun aku berusaha tak mempedulikannya, dan tetap berusaha untuk tidur dengan nyaman di tenda kecil ini. Saat tengah malam, "Hei... Elysna... bangun" ucap Mouri yang menghampiri tenda kami, si saat kami sedang tertidur dengan pulas. Kemudian Elysna membuka matanya yang terkantuk-kantuk itu.
"Ada apa? hmm... aku lupa namamu" ucap Elysna sambil menguap.
"Tentu saja kau tidak tahu karena aku belum memperkenalkan diriku padamu saat itu karena kau sibuk mencubit pipiku" ucap Mouri sambil menarik tangan Elysna keluar dari tenda.
"Eh!? kau mau membawaku kemana?" ucap Elysna yang tubuhnya masih lemas.
"Sudahlah ikuti aku saja, ada yang ingin ku bicarakan padamu" ucap Mouri sambil tersenyum lebar kepada Elysna. Elysna merasa senang karena diperlakukan dengan baik, kemudian Elysna tergoda dengan pipi Mouri, dan akhirnya dia mencubit pipinya selama perjalanan entah kemana Mouri akan membawa Elysna.
Mouri membawa Elysna ke suatu tempat yang jaraknya tidak jauh dari tenda. Tempat itu adalah tebing yang sangat tinggi, dan di bawahnya adalah jurang yang terjal. Kemudian Mouri duduk di pinggir tebing itu sambil menikmati keindahan langit, dan menepuk tanah di sampingnya dengan tanda untuk menyuruh Elysna duduk di sampingnya. Kemudian mereka berdua pun duduk di atas tebing itu bersama, yang ditemani dengan langit yang indah, dan cahaya rembulan yang bersinar terang.
__ADS_1