
"Kenapa aku dilahirkan di dunia ini? kenapa aku hidup di dunia yang seperti ini. Untuk apa aku hidup di dunia yang seperti ini? kalau hanya merasakan penderitaan. Aku selalu menangis tanpa henti di balik kegelapan dunia ini. Sangat gelap, dingin, sunyi, dan tidak ada seorangpun di sana kecuali diriku.
Untuk apa aku hidup jika hanya untuk merasakan penderitaan. Untuk apa aku hidup kalau hanya merasakan kepedihan. Untuk apa aku hidup kalau hanya untuk menangis. Untuk apa aku hidup kalau hanya untuk terluka. Untuk apa aku hidup kalau hanya untuk merasakan pahitnya dunia ini.
Padahal aku tidak menginginkannya, tapi kenapa semua kehidupan busuk itu harus ku terima. Kenapa orang lain bisa tertawa dengan bahagia, kenapa orang lain tak merasakan apa yang ku rasakan saat ini. Dunia ini benar-benar tidak adil, dunia ini sangatlah busuk. Aku sangat menyesal, menyesal, menyesal!.
Aku ingin pergi dari kegelapan ini, tapi tak ada seorangpun yang yang dapat menarik ku keluar dari kegelapan itu. Tidak, bukan karena tidak ada seorangpun yang ingin menarik ku keluar dari kegelapan itu. Mereka memang hanya tak ingin membantuku keluar sejak awal, mereka takut kalau mereka yang akan menggantikan ku di dunia yang gelap itu.
Namun sekarang kau ada bersamaku menemani ku di dunia yang gelap ini. Kau tidak akan pernah meninggalkan ku kan?" ucap anak kecil itu yang wajahnya tertutup oleh awan hitam. Sosok anak kecil ini sama seperti sebelumnya, dan tempatnya pun sama. Entah sejak kapan aku berada di kamar yang saat itu hanya ada pada mimpiku.
Apakah ini nyata? tidak mungkin!? ini pasti tidak nyata. Karena bagaimana mungkin tiba-tiba aku berada di sini dalam sekejap. Tapi entah kenapa rasanya ini sangat nyata sekali, sampai-sampai aku terseret di dunia yang gelap itu bersama dengan anak kecil aneh ini.
Sebenarnya siapa dia? kenapa dia selalu muncul di pikiran ku. Apa salahku padanya? bahkan aku belum pernah melihatnya sekalipun, "Kenapa kau terlihat kebingungan? kau akan bersamaku kan? tinggal di dunia yang gelap ini?" ucap anak kecil itu yang mendekati ku.
"Siapa kau!? apa yang mau kau lakukan padaku? apa kau adalah seorang penyihir yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan pikiran?" ucapku yang perlahan-lahan mundur menjauhi anak itu hingga akhirnya aku tersudut di tembok kamar itu.
"Selama ini kau selalu merasa kesepian kan? kau selalu sedih bukan karena selalu sendirian?" ucap anak itu yang tak menjawab pertanyaan ku.
__ADS_1
"Kau benar... itu adalah aku yang dulu, tapi sekarang aku memiliki teman-teman yang ingin ku lindungi!. Bahkan aku sampai memiliki tunangan, dan aku sangat menyayangi mereka semua. Meski ada satu anak kecil yang baru-baru ini masuk ke dalam kehidupan ku, dan dia bersikap sangat menyebalkan, tapi aku tahu betul apa yang dia rasakan" ucapku.
"Tidak! kau tidak boleh memiliki yang seperti itu!. Karena kau akan terus bersama ku disini untuk selama-lamanya! karena kita adalah orang yang sama!" ucap anak itu yang di akhir perkataannya dengan tiba-tiba anak kecil itu menghilang menjadi kabut hitam. Aku sangat terkejut sekali, dan saat ini aku benar-benar sedang sendirian di tempat yang tidak ku kenal.
Lalu aku merasa sangat panik saat itu, karena aku tidak tahu aku sedang berada di mana. Suasananya pun menjadi sangat menyeramkan dengan lampu yang bersinar dengan redup. Kemudian aku segera berlarian kesana-kemari untuk mencari jalan keluar dari sini, dan akhirnya aku menemukan sebuah pintu. Kemudian aku segera membuka pintu itu, dan yang ada di balik pintu itu sangat membuatku merasa putus asa.
Hingga aku jatuh terduduk, memandang sesuatu yang kulihat di balik pintu itu. Aku menatap dengan melotot, dan mulutku terbuka lebar karena terkejut. Kemudian air mataku mulai mengalir, dan hatiku terasa tergores secara terus-menerus. Kemudian aku berteriak, dan menangis dengan sangat keras, melihat Elysna yang mati penuh dengan luka, dan darah di seluruh tubuhnya dalam keadaan berdiri.
"Huwaaaa!" tangis ku dengan sangat kencang, yang tanpa sadar kalau aku sudah bangun dari tidur ku. Semua orang memandang ku dengan heran, mereka berkumpul di kamarku. Aku baru ingat kalau saat itu aku tertidur karena sangat lelah sekali karena terus berjalan hingga malam hari datang.
Lalu seperti biasa saat malam hari kami beristirahat terlebih dahulu, dan melanjutkan perjalanan kami di esok pagi. Seperti biasanya juga saat kami ingin beristirahat Mouri menggunakan kekuatannya untuk membangun rumah yang nyaman untuk beristirahat.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya? apa dia sering seperti ini?" ucap Elysna yang ikut merasa khawatir padaku.
"Ini adalah yang ketiga kalinya kalau tidak salah, dan kalian tidak perlu khawatir karena dia baik-baik saja" ucap Tygruth dengan santai. Sepertinya dia tak terlalu serius dalam masalah yang terjadi padaku, yah... lagi pula memang tidak perlu di seriusin juga sih. Karena apa yang dikatakan Tygruth itu benar, kalau aku baik-baik saja.
Tapi ngomong-ngomong... lagi-lagi aku menangis saat bermimpi. Lalu kenapa wajah mereka terlihat malu-malu begitu, dan sepertinya mereka menghindari bertatapan mata dengan ku. Sebenarnya apa yang terjadi, dan yang paling membuatku merasa aneh adalah bocah busuk ini. Kenapa dia terlihat sungkan padaku? sebenarnya apa yang terjadi.
__ADS_1
"Sepertinya semua yang kau katakan di dalam mimpimu membuatmu mengatakannya di dunia nyata" ucap Elysna. Yang membuatku sangat malu begitu tahu kalau semua yang kukatakan pada anak kecil yang aneh dalam mimpiku ini membuatku mengatakannya di kehidupan nyata.
"Apa kau benar-benar merasa begitu?" ucap Vloid padaku yang wajahnya memerah. Benar-benar tidak cocok jika sikapnya yang seperti itu menjadi seperti ini untuk seorang bocah yang menyebalkan. Tapi karena mereka semua tahu yang kukatakan, sudah tidak ada yang bisa kulakukan untuk menyangkalnya, dan lebih baik aku jujur saja.
"Ya itu benar... lalu kau mau apa?" ucapku yang membuatku merasa ikutan malu.
"Terima kasih... kakak" ucap Vloid yang membuat semuanya terkejut begitu kata-kata seperti itu muncul untuk orang seperti ku. Aku sangat syok begitu dia memanggilku dengan sebutan kakak seperti yang lainnya, dan sepertinya aku merasa kalau aku sedang memiliki seorang adik laki-laki yang lucu.
"Baiklah... karena sepertinya hari ini sudah pagi, lebih baik..." ucapku yang kemudian pembicaraan ku di potong oleh Tygruth, "Sudah pagi katamu? ini sudah masuk siang hari tahu!" ucap Tygruth yang membuatku terkejut kalau aku tertidur cukup lama.
"Apa!? kenapa kalian tidak membangunkan ku, dan malah menonton ku yang sedang bermimpi!" ucapku.
"Haha maaf" ucap mereka.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya untuk hari ini kita tak perlu melanjutkan perjalanan kita. Lebih baik kita gunakan hari ini untuk berlatih! ayo kita adu fisik lagi Tygruth!" ucapku yang kali ini aku akan menunjukkan kehebatan ku di depan Glasya, karena pertarungan sebelumnya Glasya sedang tidur.
"Apa kau ingin cari gara-gara denganku hah!" ucap Tygruth yang kesal padaku karena sudah kalah, "Lalu kenapa? apa kau takut!" ucapku yang menantang keras Tygruth supaya bertarung adu fisik denganku. Kemudian di tengah keributan itu Vloid mengangkat tangan, dan berkata, "Bagaimana kalau kalian berdua melawan ku?" ucap Vloid yang perkataannya sulit dimengerti.
__ADS_1
Karena kami berpikir akan mudah sekali untuk mengalahkan seorang anak kecil, dan lagi dia menantang dua lawan satu?. Sepertinya dia sudah meremehkan kami berdua, dan saat itu aku, dan Tygruth mengambil keputusan gencatan senjata. Kemudian kami menerima tawaran bocah yang tak tahu diri itu.