Artificial God

Artificial God
Siapa Yang Menjadi Pemenang?


__ADS_3

Saat aku terjatuh, dan tak bisa bangkit lagi karena serangan Toro yang mematikan yang Bertubi-tubi menghajar seluruh anggota tubuhku hingga tak berdaya. Aku berbaring menatap tanah sambil menangis, dan menyesali semuanya. Aku marah, dan aku menangisi diriku sendiri karena lemah. Kalau seperti ini terus, aku tak bisa melindungi teman-temanku, dan ramalan masa depan yang dilihat oleh anak kecil yang waktu itu ku temui... pasti akan terwujud.


Oleh karena itu aku tak boleh kalah, dan berbaring menyedihkan seperti ini. Aku harus bangkit mesti rasanya mau mati sekalipun, aku harus bangkit!. Tapi tubuhku tidak mau digerakkan, rasanya seluruh tubuhku remuk karenanya. Meski begitu aku terus mencoba untuk bangkit kembali dengan amarahku.


"Lima!... empat!... tiga!... dua!... sa...!? oh lihat!? peserta Gernath sudah bangkit lagi! walau dia keadaannya terlihat sangat buruk. Tapi apakah dia masih mampu untuk membalikkan keadaan!" teriak sang pembawa acara yang kembali bersemangat karena pertarungan masih berlanjut dengan bangkitnya aku kembali setelah tersungkur di atas tanah dengan menyedihkan.


Di saat itu semua reaksi penonton sangat terkejut, dan kembali bersorak-sorai. Mereka memberikan ku rasa semangat,. mereka semua mendukung ku dengan sorakan yang sangat keras. Tentu saja hal itu membuat para anggota Toro merasa jengkel karena tidak ada yang mendukung pemimpin mereka.


Raut wajah sedih dari teman-teman ku pun berhenti, dan terdiam setelah melihat ku bangkit kembali. Setelahnya mereka tersenyum, dan kembali bersemangat untuk menyemangati ku dalam pertarungan ini, meski mereka masih menyimpan rasa khawatir padaku karena kondisi ku yang sangat buruk saat ini.


"Dasar bocah sialan! akhirnya kau memegang kata-kata mu! tapi pertarungan ini masih belum selesai hingga kau benar-benar telah memegang ucapan mu sendiri waktu itu" ucap Tygruth dalam batinnya sambil tersenyum menyeringai.


Sementara itu Milan merasa kesal, dan jengkel kepadaku yang tak tahu diri. Dia merasa kesal padaku sambil berkata, "Dasar orang bodoh itu! apakah dia masih berpikir bisa menang melawan tuan kami! dia sungguh bodoh!" ucap Milan dengan mata melotot ke arahku.


"Kau benar, padahal dia sama sekali tak memiliki kesempatan untuk menang. Tapi dia keras kepala sekali, sepertinya nyawanya kali ini tak akan terselamatkan" sambung Nizard yang ikut merasa jengkel juga.


".........."

__ADS_1


Sementara itu di arena Pertarungan yang memanas ini, aku berdiri dengan lemas menghadap lawan ku sambil tersenyum, "Ha... kau masih bisa tersenyum seperti itu ya, dasar... padahal kau sudah babak belur begitu" ucap Toro.


"Memangnya kenapa kalau aku sudah babak belur? toh aku yang akan memenangkan pertarungan ini, haha!" tawaku kepada Toro yang membuat dia ikut tertawa melihat sikapku dengan kondisinya yang seperti itu.


Lalu tanpa basa-basi aku langsung menerjang ke arahnya, membelah angin, dan memukul perutnya dengan sangat keras hingga membuat Toro terpental. Meski dengan pukulan sekeras itu aku masih tidak bisa membuat dia terjatuh, dia hanya terhuyung-huyung setelah menerima pukulan ku tadi, dan tetap bertahan untuk berdiri.


"Ukh... sialan!... hah!?..." ucap Toro yang memegang perutnya karena kesakitan, dan tanpa sadar aku sudah berada di hadapannya. Aku sedang melayang di udara sambil bersiap untuk melayangkan tendangan maut. Duagh! tendangan itu masih belum cukup untuk menjatuhkan orang sekuat dia. Aku masih perlu menghajarnya lebih kuat lagi! buagh! dugh! bugh!.


Aku terus melayangkan serangan ku ke arahnya yang membuat dia terjatuh. Tapi pria besar ini keras kepala sekali! dia tetap bertahan, dan tidak mau terjatuh. Meski begitu dia masih dalam posisi yang harus bertahan dari semua serangan ku yang brutal, dan aku tetap menghajarnya habis-habisan.


Hingga akhirnya aku lengah, dan dia segera mengambil kesempatan yang ada dengan sigap. Toro segera melayangkan pukulan dengan wajahnya yang merah, dan matanya melotot yang kesal kepadaku. Pukulan itu melayang ke arah kepalaku, dan saat itu aku sedang melayang di udara setelah memberikan tendangan kepada Toro.


Di detik-detik terakhir sebelum aku menerima pukulan Toro, aku menatap wajah Elysna dengan tersenyum rapuh. Yang dapat di artikan dari wajahku itu adalah, "Maafkan aku, aku terlalu lemah untuk melindungi kalian". Aku sangat kesal, dan menyesali diriku sendiri, karena kalau aku tak bisa melindungi teman-temanku... maka masa depan yang mengerikan itu akan hadir di depan mataku suatu saat nanti.


Aku memejamkan mataku, dan bersiap untuk menerima pukulan itu karena tak dapat menghindari serangannya. Tapi... tiba-tiba saja semua orang berteriak setelah mendengar suara benda terjatuh begitu keras. Semua orang bersorak, dan menyebut namaku... mereka semua memberiku selamat atas sesuatu yang tidak ku ketahui.


Kemudian aku membuka mataku, dan melihat sekitar dalam keadaan bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Aku baru sadar setelah sedari tadi aku tak terkena serangan Toro, dan di saat itulah aku baru melihat kalau Toro jatuh tergeletak di depanku. Dia masih sadar, namun wajahnya terlihat kesal, sedih, dan perasaan yang tidak asing... rasanya... dia terlihat sama seperti ku.

__ADS_1


"Berikan sorakan, dan tepuk tangan yang meriah kepada peserta petarung Gernath!" teriak sang pembawa acara dengan suara yang melengking. Kemudian setelahnya orang-orang semakin memeriahkan suasana di sana. Aku merasa senang, dan segera turun kembali berkumpul dengan teman-teman ku.


"Dasar sialan kau membuatku khawatir saja" ucap Tygruth sambil menepuk pundak ku.


"Ukh! itu masih terasa sakit tahu!" ucapku sambil meringis kesakitan, dan kemudian tertawa bersama dengan Tygruth. Kemudian tiba-tiba saja Elysna memelukku dengan penuh haru, dia menahan air mata bahagianya agar tidak terjatuh. Memeluk ku dengan erat seakan-akan pelukan ini tidak akan pernah lepas dariku.


"Selamat! kau telah memenangkan pertarungan ini. Karena itu... kau tidak perlu lagi... mengkhawatirkan kami" ucap Elysna yang terus menahan air matanya. Aku terkejut kalau apa yang kupikirkan saat itu bisa dibaca oleh Elysna hanya dengan menatap wajahku yang penuh dengan keputusasaan.


"Terima kasih..." ucapku dengan singkat yang kemudian membalas pelukannya yang erat itu. Lalu tiba-tiba saja...


"Huwaaaaa! Gernath! kau membuatku takut! hiks hiks tapi syukurlah kau menang. Huwaaaaa!" tangis Boa Boa yang membuat menarik perhatian banyak orang.


"H-hei tenanglah Boa Boa... kita jadi diperlihatkan banyak orang kan... dan lagi pula... apa yang kalian khawatirkan sih? apa kalian tidak tahu aku ini siapa?" ucapku yang mulai menyombongkan diri.


"Dasar bocah ini, benar-benar pingin ku hajar" ucap Tygruth sambil tersenyum.


"Apa kau bilang haha, kau ingin bertarung dengan ku setelah sekian lamanya kita tidak pernah bertarung lagi" ucapku yang membalas perkataan Tygruth. Lalu kami tertawa bersama-sama dengan akhir yang bahagia untuk orang-orang yang saat ini ku anggap sebagai keluarga ku.

__ADS_1


Namun disaat kami sedang merayakan kemenangan ku dengan kebahagiaan yang melimpah ruah, dengan canda tawa yang mengguncang hati kami. Ada sekumpulan orang yang merasa sedih karena tidak bisa lolos untuk ke pertarungan yang sebenarnya yang akan di tonton oleh raja secara langsung di Colosseum kerajaan yang sangat megah.


Para peserta yang lolos akan diberikan waktu istirahat untuk bersiap-siap sebelum mereka bertarung untuk menentukan pemenang yang sebenarnya selama tiga hari. Lalu... untuk Toro yang kalah bertarung denganku, dia menjadi peserta pilihan yang akan lolos menjadi gladiator seperti orang beruntung yang memiliki potensi lainnya sebelum pertarungan kami di mulai.


__ADS_2