
Malam itu benar-benar membuat kami semua canggung. Kami berkumpul di satu ruangan, di tengah keheningan itu hanya suara detak jantung saja yang terdengar. Tatapan pemimpin desa begitu tajam, sampai membuat kami merinding. Terutama entah kenapa pemimpin desa menatapku terus-menerus, apa mungkin karena sambutan yang tidak ramah sebelumnya ya.
"Apa yang kau lakukan pada pemimpin desa!" bisik Tygruth sambil meremas lutut ku.
"Sakit woi... nanti akan ku jelaskan" bisik ku sambil menahan rasa sakit.
Lalu tiba-tiba saja di tengah keheningan itu pemimpin desa memulai pembicaraan, "Kau yang bernama Gernath?" tanya pemimpin desa padaku dengan serius. Begitu namaku keluar dari mulutnya entah kenapa aku merasakan firasat yang buruk akan terjadi padaku. Namun mereka berdua hanya menatapku sambil tersenyum-senyum, menyebalkan.
"Be-benar... aku Gernath" ucapku dengan gugup.
"Bisa kau perlihatkan pedang yang kuberikan padamu?" tanya pemimpin desa padaku.
"Te-tentu saja... saya akan segera pergi mengambilnya tuan pemimpin desa" ucapku yang segera buru-buru mengambil pedang milikku. Setelah itu aku kembali duduk, dan memberikannya kepada pemimpin desa. Aku tak tahu apa yang akan terjadi, apa mungkin pemimpin desa akan mengambil kembali pedang yang sudah dia berikan.
Kalau hal itu terjadi aku akan merebutnya kembali meski aku harus mati. Karena hanya itu sajalah peninggalan dari orang tuaku, dan juga rumah ini. Walau dulu rumah ini tak sebesar saat ini, karena aku sudah merenovasi rumah ini, namun tetap saja aku tak mengubah gaya rumah ini sejak dulu.
"Mungkin kau sudah merasakan kejadian yang aneh dengan pedang ini, benar begitu?" ucap pemimpin desa sambil mengelus bilah pedangnya.
"Ya... seperti ada kekuatan yang tersimpan dalam pedang itu" ucapku yang membuat Tygruth terkejut, "Benar juga! aku pernah melihat sesuatu yang aneh dengan pedang itu. Saat aku sedang pergi berburu bersama dengan Gernath, pedang itu bisa menancap ke hewan buruan kami, dan tidak lepas begitu kami tarik keluar dari lubang" ucap Tygruth.
"Tak hanya itu saja! terkadang aku menggunakan pedang itu sebagai tombak. Begitu aku melemparnya pedang itu melayang dengan kecepatan tinggi, syuuuu! seperti itu! pokoknya sangat cepat sekali" ucapku yang malah mengobrol dengan Tygruth di depan pemimpin desa.
Lalu Mouri pun ikut masuk ke dalam pembicaraan kami, sementara itu pemimpin desa merasa dirinya tidak di hargai. Saking asiknya kami mengobrol tentang keanehan pada pedang yang ku miliki, kami sampai lupa kalau sedari tadi pemimpin desa memperhatikan kami dengan wajah suram... ah maksudku dengan wajah datarnya.
"Ehem..." seketika kami semua yang sedang asik mengobrol langsung berhenti. Kemudian kami menundukkan kepala sambil mengucapkan permintaan maaf karena tak memperhatikan pemimpin desa yang sudah rela datang ke rumah kami meski aku masih tidak tahu apa tujuan, dan maksud pemimpin desa mengunjungi rumah kami.
"Saya ingin bertanya kepada kalian, kenapa kalian sangat bersikeras sekali untuk membuat hubungan yang baik dengan bangsa Elf?" tanya pemimpin desa yang pada akhirnya pembicaraan, dan suasana ini menjadi sangat serius.
__ADS_1
Dengan berani aku menjawab pertanyaan pemimpin desa, "Karena kami menginginkan dunia yang damai, tanpa kebencian. Kami hanya ingin hidup damai dengan bangsa lainnya, karena kurasa akan sangat menyenangkan, dan tentunya dunia akan lebih indah, bukan?" kataku dengan serius.
"Hanya karena kau sudah memiliki hubungan yang baik dengan satu Elf. Kau menyimpulkannya akan semudah itu untuk membangun hubungan yang baik kepada seluruh bangsa Elf?" ucap pemimpin desa yang membuatku terkejut, karena dia mengetahui rahasia besar yang hanya diketahui olehku, dan juga Tygruth.
"Hah!? apa maksudnya ini?" tanya Mouri yang kebingungan, dan menatap mataku dengan tajam karena aku tak memberitahu soal ini. Karena jika aku memberitahu hal ini pada Mouri, mungkin saja Mouri akan sangat sedih, dan membenci bangsa Elf karena mereka yang telah melukai Tygruth sahabatnya.
"Jadi kalian belum memberitahukan hal ini padanya?. Baiklah kalau begitu biar aku sendiri yang memberitahunya. Mouri... yang telah melukai Tygruth hingga sekarat beberapa bulan yang lalu itu karena ulah bangsa Elf" ucap pemimpin desa yang membuat Mouri terkejut.
"Apa!? i-itu tidak mungkinkan? hei... jawab pertanyaan ku" ucap Mouri dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Begitulah sifat busuk bangsa Elf, tidak hanya bangsa Elf, akan tetapi semua bangsa selain bangsa Leonis sendiri, bangsa kita. Karena itu tidak ada kemungkinan, meski sepersen pun kemungkinan itu... tak ada yang namanya perdamaian. ingat itu baik-baik" ucap pemimpin desa yang segera meninggalkan tempat duduknya.
Kemudian aku berdiri, "Apa yang dikatakan pemimpin desa itu benar Mouri. Meski begitu... kami tidak akan pernah menyerah dengan apa yang kami harapkan! sekeras apapun hidup yang kami jalankan... kami akan terus melangkah lebih maju kepada kedamaian dunia" ucapku.
Begitu mendengar ucapan ku, pemimpin desa itu menghentikan langkahnya, "Kami? apa maksud kalian? lihat wajah teman kalian, Mouri. Apa dia masih tetap setuju dengan harapan kalian?" ucap pemimpin desa.
"Aku tidak akan pernah merubah jalan yang telah ku pilih. Aku akan tetap bersama kalian untuk meraih harapan kita bersama. Karena kita akan selalu bersama, kita tak akan pernah terpisahkan!" ucap Mouri dengan semangat, dan senyuman yang kembali lebar.
"Kau benar! kita akan selalu bersama" ucapku, dan Tygruth.
"Kalian... mulai besok, dan seterusnya aku akan mengunjungi rumah ini pada malam hari" gumam kepala desa yang kemudian pergi.
"Tadi dia bilang apa?" tanya Tygruth.
"Entahlah... mungkin persoalan untuk memecahkan harapan kita" ucapku.
"Kita harus membuat janji bersama, kalau kita akan terus bersama sampai akhir!" teriakku sebagai penyemangat.
__ADS_1
Aku, dan Tygruth sangat tak menyangka sekali kalau Mouri akan tetap berada pada jalan yang dia pilih. Kami pikir begitu melihat wajahnya yang sangat syok begitu mengetahui kebenarannya tentang mengapa Tygruth sampai terluka parah seperti itu, Mouri akan pergi meninggalkan kami berdua, begitu juga dengan harapan kami bersama.
Tapi syukurlah kalau hal itu tidak terjadi, dan malah sebaliknya. Aku sudah sangat ketakutan kalau Mouri akan pergi meninggalkan kami. Namun aku sangat lega mendengarnya begitu dia masih mempertahankan dengan apa yang dia harapkan meski dia mengetahui kebenaran terburuknya.
Setelah pemimpin desa pergi, kemudian kami membicarakan sesuatu, "Hei bagaimana kalau kita memberi nama untuk kelompok yang ingin mewujudkan perdamaian dunia ini!" ucapku dengan semangat.
"Terlalu kekanak-kanakan sekali harus memberi nama untuk kelompok kita" ucap Tygruth dengan yang terlihat dewasa.
"Baiklah aku setuju!" ucap Mouri dengan mata yang berbinar-binar. Sepertinya Mouri sangat tertarik dengan topik pembicaraan ini.
"Bagaimana kalau kita memberi nama kelompok kita dengan nama perkumpulan orang-orang keren!" kataku dengan percaya diri, namun mereka semua menatapku dengan suram. Sepertinya dari wajah mereka sangat tidak menyukai usulanku.
"Nama macam apa yang kau ucapkan itu? buruk sekali" ucap Mouri yang kata-katanya sangat menusuk.
"Kalau begitu apa nama yang tepat? oh ya aku tahu nama yang keren! bagaimana kalau nama kelompok ini adalah, tiga kesatria tak terkalahkan!" ucapku dengan membara.
Namun seperti sebelumnya, mereka sama sekali tak menyukai usulan yang ku berikan. Setelah itu kami berbincang-bincang mengenai nama yang tepat untuk kelompok kami. Namun sepertinya Tygruth tak tertarik dengan topik pembicaraan ini, karena sedari tadi dia hanya diam saja seperti orang mati.
Lalu tiba-tiba saja Tygruth memberikan usulan nama yang bagus, "Bagaimana dengan, The Power of Peace, itu adalah bahasa Inggris, yang berarti kekuatan perdamaian" ucap Tygruth. Ternyata aku salah, penyebab Tygruth diam saja seperti orang mati adalah karena dia sangat serius untuk memberikan nama yang tepat untuk kelompok kami.
"Wah! nama yang keren sekali! tak seperti nama yang diberikan oleh Gernath" ucap Mouri.
"Aku sependapat dengan Mouri, itu adalah nama yang keren. Tapi pertanyaannya... apa itu bahasa Inggris?" tanyaku.
"Eh?"
Begitulah kami menemukan nama yang tepat untuk kami, namanya mungkin terdengar keren. Yaitu, "The Power of Peace" kami akan berjalan di jalan yang benar untuk memimpin dunia yang hancur ini menuju dunia yang damai. Lalu besoknya pada malam hari... kami terkejut dengan kedatangan pemimpin desa. Sebenarnya apa yang akan dia lakukan terhadap kami?.
__ADS_1