Artificial God

Artificial God
Dua Pahlawan, dan Dua Makhluk Busuk


__ADS_3

Dunia yang damai pun akhirnya tercipta, seluruh dunia terasa sangat menyenangkan, dan menenangkan. Semuanya saling berhubungan dengan baik, sudah tidak ada lagi kebencian di dunia ini. Semuanya hidup bersama dengan damai, dan tak ada siapapun yang menghancurkan perdamaian ini.


Karena Para pahlawan yang memiliki tekad baja untuk menciptakan perdamaian telah melakukan tugasnya dengan benar. Demi seseorang yang sudah tidak ada, para pahlawan itu terus mewujudkan keinginan orang itu. Untuk menciptakan dunia yang damai, pahlawan itu menyebut diri mereka sebagai The Power of Peace.


"Sepertinya kita bisa bersantai untuk selamanya! ah... nyaman sekali!" ucap Mouri.


"Benar, dunia sudah damai, sudah tidak ada lagi peperangan yang sia-sia" ucap Vloid.


"Hei kau masih saja membaca buku buku itu, padahal kau sudah menamatkan seluruh buku itu" ucap Boa Boa.


"Entahlah... setiap kali aku membaca buku ini, rasanya kenangan ku bersamanya ada pada buku ini" ucap Tygruth yang membuat semuanya terdiam, dan merenungkan sosok orang yang dimaksud Tygruth.


"Apa kau melihatnya sekarang? sekarang dunia ini sudah damai seperti yang kau inginkan... tapi keinginan kita berdua... tidak tercapai" ucap Elysna yang menangis dengan tenang.


"Dia pasti sangat senang, dan bangga kepada kita karena telah mewujudkan harapan terakhirnya. Jadi kau tak perlu bersedih lagi Elysna" Mouri.


"Aku akui dia adalah sosok kakak yang sangat baik. Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku yang berharga" ucap Vloid yang memasang wajah sedih.


"Kalau dia masih ada disini... kira-kira dia akan menunjukkan wajah konyolnya... hahaha!" ucap Tygruth yang menangis sambil merenungkan sosok orang itu.


"Mau bagaimana pun juga dia adalah sosok yang terbaik. Kalau bukan karenanya dunia akan terus kacau seperti dulu" ucap Boa Boa yang menangis cengeng.

__ADS_1


Semuanya menangis ku begitu mereka berhasil menciptakan dunia yang damai. Para pahlawan itu terus memegang janji sosok orang tersebut. Lalu untuk pahlawan yang sudah tidak ada, sosoknya di kenang oleh semua orang. Para pahlawan itu menangis, dan berharap sosok yang mereka tangisi itu berada di samping mereka.


Namun... Cling! ada seseorang yang melempar sesuatu yang membuat sebuah pedang itu terpental dari genggaman seseorang. Pedang? apa ini? siapa orang-orang aneh di depanku? dan siapa sosok yang sedang terlihat kelelahan itu? apa dia yang melempar sesuatu yang membuat pedang yang akan menusuk ku itu terpental?.


"Sadarlah Gernath! berjuanglah! jangan menyerah dari apa yang kau inginkan! kalau kau ingin mati lebih baik kau ku bunuh! dasar bodoh! apa yang kau lakukan!" teriak seseorang yang terlihat menangisi ku. Orang itu terus memberikan ku dorongan untuk bangkit dengan kata-katanya yang menyebalkan.


"Sial padahal tadi hampir saja, tapi tetap saja dia akan mati!" ucap seseorang yang mengambil pedang itu kembali, dan segera menikam ku dengan pedang itu.


Ting! dalam sekejap aku langsung bangkit, dan menangkis pedang yang akan menusuk ku itu, "A-apa? jadi kau kebal dengan benda tajam ya, baiklah kalau begitu... ukh!" ucap Bordeaux yang kemudian terpental dengan cukup jauh karena pukulan maut ku.


Kemudian rekan-rekannya marah melihat pemimpinnya diperlakukan seperti itu. Mereka semua segera menyerang ku dengan berbagai serangan yang berbeda, "God's Shield" ucapku yang kemudian muncul sebuah penghalang yang melindungi ku dari serangan mereka.


"Apa-apaan ini? kenapa tiba-tiba dia menjadi sangat kuat?" ucap Blos.


Dengan secepat kilat aku segera menghindari serangannya, dan mendarat di sebelah makhluk kotor itu, "A-apa!?" ucap Gallen yang terkejut melihat ku berdiri di belakangnya, "Ku bunuh kau" ucapku yang memukul kepalanya dalam satu serangan hingga makhluk itu mati.


"Kekuatan macam apa itu!? sialan! sialan! sialan! kalau begini aku harus mengorbankan diriku demi tuanku!" ucap Vauntins yang kemudian bergabung dengan ketiga monster milik rekannya yang sudah tumbang, "Tak akan ku biarkan!" ucapku yang melesat dengan cepat berada di hadapan Vauntins.


Blarrrrr! tiba-tiba saja ada semburan lahar dari samping, dan aku segera menghindar melompat ke belakang. Ternyata semburan lahar itu berasal dari kekuatan yang dimiliki Bordeaux, wajahnya terlihat sangat marah. Sepertinya dia akan melakukannya dengan serius, sementara itu Vauntins sudah bergabung dengan ketiga monster itu, dan merubah wujudnya menjadi menyeramkan.


Tulang-tulang yang besar keluar dari seluruh tubuhnya, tanduk yang berasal dari tulang keluar dari kepalanya. Rahangnya membesar, dan giginya berubah menjadi tulang-tulang yang sangat tajam. Benar-benar sosok yang menjijikkan, makhluk seperti itu harus dihapuskan dari dunia ini.

__ADS_1


"Mati kau sialan!" ucap Vauntins yang menghantam tanah kemudian tulang-tulang besar, dan tajam keluar dari tanah. Aku melompat, dan melompat menghindari tulang-tulang berbahaya itu. Di ujung tulang itu terdapat sebuah racun yang pastinya sangat berbahaya jika tersentuh, karena itu bagian dari zat kimia entah apa yang pastinya semua serangannya menjadi sangat berbahaya.


Kemudian Bordeaux menggabungkan Kekuatannya bersama dengan Vauntins yang menciptakan tulang-belulang yang mengeluarkan lahar panas, dan gas beracun dari tanah. Keadaan desa semakin memburuk, dan rusak parah, kemudian aku pergi menjauh dari desa untuk menghindari kerusakan yang parah.


Mau bagaimana pun juga ini adalah desa mereka yang tercinta, "Tygruth bantu warga desa yang terluka, dan temukan yang lainnya" ucapku yang meninggikan Tygruth. Aku memerintahkan Tygruth untuk menyelamatkan warga desa yang ikut bertarung yang tersisa, dan juga untuk menemukan anggota The Power of Peace yang lainnya.


Karena aku tak melihat anggota The Power of Peace yang lainnya setelah menerima ledakan dahsyat itu. Mungkin saja mereka tertimbun di tanah, atau terpental jauh dari desa. Aku pergi sejauh mungkin untuk menghindari kerusakan yang parah di desa, untunglah dua makhluk busuk itu mengikuti ku pergi. Dengan begini sesuai dengan yang ku rencana kan mereka akan bertarung dengan ku di lahan kosong.


"Mau kemana kau bocah sialan! kemari lah!" ucap Bordeaux, yang mengejar ku bersama dengan Vauntins.


Aku terus berlari menjauhi desa, dan akhirnya aku menemukan tempat yang cocok untuk bertarung dengan mereka. Ini adalah lahan kosong, dan jauh dari permukiman, dengan begini kami bisa bertarung sepuasnya tanpa khawatir dengan kerusakan di sekitar.


"Akhirnya berhenti juga kau sialan! kau akan mati oleh kami!" ucap Vauntins.


"Sepertinya kau terlihat kelelahan nak, jadi jangan melawan perkataan orang tua ya!" ucap Bordeaux yang terlihat kesal.


"Apa-apaan ini!? dua orang dewasa ingin menjahili anak kecil seperti ku?" ucapku dengan menyeringai.


"Jangan banyak bicara brengsek! hari ini akan kami pastikan kau akan mati!" ucap Bordeaux yang geram kepadaku.


"Jadi dua lawan satu ya? benar-benar tidak adil" ucapku yang mengerjai mereka, kemudian tiba-tiba saja ada sebuah kabut di sebelah ku. Kemudian kabut itu menghilang, dan muncul seseorang di balik kabut itu, "Jangan lupakan aku, sekarang... adil bukan?" ucap Tygruth yang tiba-tiba saja datang di balik kabut itu yang membuatku terkejut.

__ADS_1


Sepertinya kabut ini adalah teknik yang dia gunakan saat dia bertarung bersamaku dulu. Dasar mengagetkan saja, tapi dengan begini pertarungan akan lebih menyenangkan, dan mudah. Makhluk-makhluk busuk itu akan melawan dua pahlawan kedamaian, siapakah yang akan memenangkan pertarungan ini?.


__ADS_2