
Sebelumnya, beberapa menit yang lalu sebelum kami menyusul Elysna menuju suara anak kecil itu. Anak kecil itu di temukan dengan keadaan yang lebih parah dari sebelumnya, sampai-sampai seluruh tubuhnya mati rasa. Pertemuan pertama dengan Elysna tentu saja sangat buruk sekali.
"Argh! kumohon pergilah dari sini! apa kau masih tak cukup mengambil keluargaku! huhu... kumohon, biarkan aku hidup" tangis anak itu, dan sangat ketakutan hingga membekas di hatinya yang menjadi trauma baginya. Kemudian Elysna mendekati nya dengan perlahan, dan berbicara padanya untuk mencoba menenangkannya.
"Tenanglah... aku bukan orang jahat, aku datang sebagai seseorang yang akan menemani hidupmu" ucap Elysna, namun anak itu berteriak ketakutan begitu Elysna semakin dekat dengannya.
"Jangan buat aku menderita lagi dasar monster! kumohon biarkan aku hidup lebih lama lagi... huhu" tangis anak kecil itu yang terlihat sangat pasrah, dan rapuh dengan apa yang terjadi pada dirinya. Harapan, dan tujuan hidupnya di dunia ini telah di rebut, sekarang dia bagaikan orang buta yang tak tahu akan berjalan kemana. Namun Elysna hadir dalam hidupnya untuk menuntun dia kembali kepada harapan, dan tujuan hidupnya.
Elysna memeluknya dengan erat, sambil menangis, rasa empati itu membuat seorang anak kecil yang menderita itu terkejut dengan seseorang yang memeluknya penuh dengan kasih sayang. Padahal dia adalah orang asing, yang bahkan baru saja dipertemukan, kasih sayang itu telah tertanam pada hati anak kecil itu, dan membuat dia mempercayai orang ini.
"Tenanglah... jangan menangis, meski dunia tidak adil, meski dunia tidak memihak mu, meski dunia merenggut impianmu, kau harus tetap hidup dengan memiliki tujuan untuk hidup. Jangan pernah melepaskan semua harapan yang kau bangun selama ini, hanya karena tangis, dan penderitaan yang diberikan dunia bukan berarti kau harus menyerah" ucap Elysna sambil menangis tersedu-sedu.
Perkataan lembut daru sangat gadis bertelinga runcing itu terdengar sangat nyaman, yang membuat hati anak kecil itu bergetar dengan merinding. Kata-kata yang sungguh indah, perkataan yang membuat dirinya terbangun, dan yang membuat hatinya bergerak. Sungguh perkataan yang luar biasa dari orang asing, perkataan yang membuat seorang anak kecil itu menaruh harapan besar padanya.
Pada diri anak kecil itu telah berjanji pada orang yang memeluknya. Kalau dia akan menjadi kuat, untuk menjaga, dan melindungi orang ini. Karena dia telah membuka pintu kegelapan dalam hatiku, karena dia telah menerangkan hatiku yang gelap dengan kata-kata, dan tangisnya padaku.
"Ke-kenapa... kenapa kau hadir di saat aku sudah berputus asa pada tujuan hidupku. Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini? apakah dewa tak menyukai bangsa kami? apakah dewa berniat menyapu habis bangsa kami?" gumam anak kecil itu dengan sangat rapuh yang terdengar jelas dari suaranya.
__ADS_1
"Maaf karena aku datang terlambat, dan jangan pernah berpikir buruk. Mungkin saja dewa telah memilih mu, dia menaruh harapan besar padamu untuk dunia ini. Dia melakukan ini semua karena dia ingin melihatmu tumbuh dengan hebat, dan tangguh" ucap Elysna sambil menggunakan kekuatan penyembuhan untuk menyembuhkan luka yang di derita anak kecil itu.
"Cahaya apa yang keluar dari tangan mu? apa yang sedang kau lakukan? tapi... entah kenapa tubuhku terasa sangat nyaman" ucap anak kecil itu yang terkejut.
"Aku akan menyembuhkan lukamu, jadi bersabarlah, dan aku akan memanggil teman-teman ku" ucap Elysna, tapi perkataannya tidak di dengar oleh anak kecil itu karena takjub melihat sesuatu yang bercahaya keluar dari tangan Elysna. Mungkin karena itulah dia menjadi salah paham dengan kami yang baru saja datang, karena dia tak mendengarkan kata-kata Elysna yang sebelumnya.
Kemudian begitu Elysna menceritakan kesalahan pahaman itu, akhirnya anak kecil itu menurut dengan tenang. Akhirnya dia menonaktifkan kemampuannya yang membuat Mouri terus berdarah. Mouri terlihat sangat kesal sekali pada anak kecil itu, namun dia menahan amarahnya karena tujuannya. Aku juga sedang menahan amarah, karena tujuan kami, sial.
"Wajah anak kecil ini terlihat sangat tampan sekali, dan menggemaskan" ucap Elysna yang mencubit pipi anak kecil itu. Entah kenapa bagiku lebih baik Elysna mencubit pipinya Mouri ketimbang bocah sialan itu.
"Baiklah anak kecil! mungkin aku tidak sebaik gadis ini. Aku akan berlaku kasar padamu, jadi kau ini dari bangsa mana, dan siapa namamu?" tanyaku kepada anak kecil itu. Tapi bocah itu membuat ku merasa jengkel karena dia tidak mendengarkan kata-kata ku.
"Namaku Vloid, dewa memberikan nama untuk bangsa kami dengan sebutan, Vampir" ucap anak kecil itu dengan mata yang berbinar-binar.
"Baiklah, sekarang aku akan memanggil mu Vloid, dan aku akan memperkenalkan diriku, dan juga teman-teman ku" ucap Elysna.
"Tidak perlu, hanya kakak saja yang kuinginkan" ucap anak kecil itu dengan senang, namun sepertinya ini sudah melebihi batas kesabaran ku. Kemudian aku menghampiri anak kecil itu, dan memegang kepalanya dengan kesal.
__ADS_1
"Hei bocah... ingat kata-kata ku, jangan coba-coba melakukan sesuatu pada tunangan ku! kalai tidak kau akan ku bunuh" bisik ku ke telinga anak kecil itu. Meskipun aku tidak tahu dimana letak telinganya, yang penting dia mendengarkan kata-kata ku kali ini. Tapi sepertinya ancaman ku tidak berpengaruh padanya, dia malah menatapku dengan kejam, dan membalas perkataan ku.
"Kau pikir aku takut hanya dengan ancaman seperti itu? aku tidak akan pernah merasa ketakutan lagi, aku akan tumbuh menjadi pria yang berani" bisik anak kecil itu padaku, namun aku tak mendengar perkataannya karena...
"Telinga ku ada di atas" ucapku dengan datar, karena dia berbisik di tempat yang salah, "Oh maaf... akan ku ulangi" ucap anak kecil itu. Begitulah pertemuan ku dengan bocah menyebalkan ini, benar-benar pertemuan yang sangat menyebalkan bagiku. Berani sekali dia berbicara seperti itu kepada yang lebih tua, tapi... entah kenapa kata-kata yang dia ucapkan membuatku sedih pada diriku.
Padahal seharusnya yang kurasakan adalah amarah, namun begitu aku mendengarnya hatiku malah menjadi sedih. Tapi yang anehnya lagi, kenapa di saat pertemuan yang di adakan dewa setiap tahunnya aku tak pernah melihat bangsa Vampir?. Hanya ada banga Elf, iblis, dan juga malaikat saja? kenapa bangsa sepertinya tidak di ikut sertakan.
"Baiklah sepertinya hari ini kita harus tinggal disini untuk sementara. Karena sebentar lagi matahari akan segera terbenam" ucap Tygruth.
"Baiklah kau benar, hei bocah... lihat ini" ucap Mouri dengan sombong. Lalu Mouri menggunakan kekuatannya untuk memperbaiki rumah yang hancur ini kembali seperti semula, lalu anak kecil yang membencinya kini takjub dengan kekuatannya. Sepertinya bocah itu mudah sekali takjub dengan melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat.
"Woah! kekuatan kakak hebat sekali! aku sayang kakak" ucap anak kecil itu sambil berlari ke arah Mouri, dan memeluknya. Namun karena perubahan sikap yang drastis pada bocah itu, Mouri malah jadi malu-malu begitu di peluk oleh bocah kurang ajar sepertinya. Sepertinya permasalahan di antara mereka sudah terselesaikan, dan sepertinya sekarang hanya tinggal aku, dan... Tygruth!?.
"Lalu kakak yang ini, apa yang bisa kau lakukan?" tanya anak kecil itu yang sangat berharap kalau Tygruth akan menunjukkan sesuatu yang luar biasa padanya. Sepertinya aku salah, sepertinya hanya aku yang tersisa, hanya aku yang masih memiliki hubungan yang buruk dengan bocah itu.
"Eh... hmm bagaimana ya, sepertinya aku tidak bisa menunjukkannya sekarang. Tapi aku hanya bisa berkata kalau aku adalah yang terkuat dari mereka semua" ucap Tygruth dengan menyindir kami, yang membuat kami merasa jengkel meskipun perkataannya benar. Tapi hanya dengan kata-kata nya anak kecil itu langsung percaya padanya, dan sangat senang.
__ADS_1
Aku jadi malah iri dengan mereka yang bisa akrab secepat itu dengan bocah itu. Sepertinya aku juga harus memulai hubungan yang baik dengan bocah itu, dan melupakan hal buruk yang terjadi saat pertemuan pertama kami. Ya! itu adalah keputusan yang tepat! aku harus bisa berbaikan dengan bocah ini.
"Hei bocah... apa kau mau melihat kekuatan yang kumiliki?" ucapku, yang lagi-lagi dia tak mendengarkan perkataan ku. Sepertinya aku harus menarik kembali kata-kata yang ku ucapkan dalam hatiku. Bocah ini! sampai kapanpun sepertinya kami tidak akan bisa akrab!. Brak! lalu tiba-tiba saja ada suara bising dari luar, dan kami semua terkejut kalau mata bocah itu bersinar terang secara tiba-tiba.