
"Kakak, apa suatu saat nanti aku bisa melampaui kakak?" ucapku. ini adalah sedikit cerita tentang dunia yang lama, saat itu aku sedang berada di meja belajar ku di malam hari bersama kakak ku.
"Tentu saja, kau adalah adikku yang hebat! kau pasti bisa melampaui ku" ucap kakakku yang membuatku bersemangat untuk belajar lebih giat lagi untuk melampaui nya. Begitu aku melampauinya orang-orang akan memandang ku dengan tinggi, dan aku tak perlu menjadi orang yang hina seperti ini, itu adalah pemikiran ku.
"Tapi kapan hari itu akan tiba kakak?" ucapku.
"...Hari itu mungkin akan tiba sebentar lagi, oleh karena itu kau teruslah berusaha semampu mu untuk menjadi sosok yang kau inginkan" ucap kakakku dengan lembut. Aku benar-benar sangat menyayangi kakakku, dia adalah matahari ku yang menyinari gelapnya duniaku.
"Sosok yang aku inginkan? kalau begitu aku ingin menjadi sosok yang tak terkalahkan, dan sangat kuat. Sehingga semua orang akan tunduk di atas perintah ku!" ucapku, yang saat itu adalah impianku saat berumur 8 tahun.
"Baiklah... kakak yakin suatu hari nanti kau akan menjadi sosok yang seperti itu" ucap kakakku dengan tersenyum sambil membelai rambut ku dengan lembut. Aku sangat senang sekali bisa menghabiskan waktu berdua bersama kakak seperti ini.
Tapi... waktu yang kami habiskan berdua semakin lama semakin sedikit. Sejak hari itu kakak sedikit berbeda, dan kakak jadi jarang pulang ke rumah setelah bekerja di tempat penelitiannya. Aku terus menunggu kakak di setiap malamnya, namun kakak tak kunjung datang.
Mungkin dari satu bulan yang ada kakak hanya mengunjungi ku tiga sampai empat kali saja, dan lagi waktu yang dihabiskan untuk berdua tidak sampai satu jam. Itu membuatku sedih karena kakak menjadi jarang bermain dengan ku. Aku sangat merindukan sosok kakakku yang dulu yang menghabiskan waktunya hanya untukku saja.
Kakak hanya bilang ada yang harus kakak teliti di tempat kerjanya, dan dia sama sekali tak memberitahu padaku tentang apa yang dia teliti. Aku sendirian, dan matahari itu terlihat redup, membuat suasana hatiku menjadi hancur berantakan karena terus memikirkannya.
Aku jadi kesulitan untuk belajar, dan aku terus dipukuli ayahku karena aku adalah anak yang bodoh. Ibuku pun tak mempedulikan ku sama sekali, walau dia tak melakukan hal yang jahat padaku seperti ayah. Tapi sikap ibu yang tak mempedulikan ku bagaikan udara yang tak terlihat itu membuatku sedih.
__ADS_1
Rasanya semakin sakit saja, kenapa begitu sakit, dan sesak. Aku tidak menginginkan hal itu sama sekali, tapi hatiku terus menginginkannya. Bukan, bukan hatiku yang menginginkannya, tapi dunia inilah yang menginginkan hatiku seperti ini.
Kembali ke masa kini...
"Aku hanya akan memberikan kepada lima orang yang ingin bertanya padaku" ucap dewa kami. Setelahnya semuanya langsung mengangkat tangan, dan saling mendorong demi memperebutkan kesempatan yang istimewa itu.
Namun ini bukan soal siapa yang mengangkat tangan lebih dulu, tapi dewa akan memilih orang yang mengangkat tangan dengan acak untuk dipersilahkan bertanya apapun itu. Satu, dua, tiga orang sudah terpilih, dan sekarang sisa dua orang lagi yang memiliki kesempatan untuk bertanya kepada dewa.
"Kamu! yang disana kemarilah" ucap dewa yang menarik seseorang ke hadapannya di tengah kerumunan. Aku terkejut begitu melihat orang itu kalau ternyata dia adalah salah-satu anggota tim kami. Dia adalah Boa Boa, dia pergi melayang di hadapan sang dewa untuk bertanya.
"Sebuah kehormatan bagiku yang tidak ada apa-apa nya ini di hadapan sang dewa. Aku sangat berterima kasih kepada anda sang dewa kami yang maha agung. Aku memiliki satu keinginan... tolong hilangkan kebencian bangsa malaikat kepadaku.
Kemudian dewa mengangkat kepalanya dengan kekuatannya, "Baiklah... semuanya untuk bangsa malaikat! dengarkan perkataan ku yang mulia ini! mulai sekarang perlakuan lah malaikat ini dengan baik!" ucap sang dewa yang membuat siapapun yang menerima perintahnya pasti akan patuh.
Sungguh karisma yang sangat tinggi, kami juga ikut senang melihatnya kalau pada akhirnya Boa Boa akan diperlakukan dengan baik oleh sesama bangsanya. Setelah itu untuk orang kelima, seperti biasanya semua orang mengangkat tangannya sambil berteriak menyebut, "Dewa" agar di pilih olehnya.
Namun, "Kau yang duduk diam disana... kemarilah" ucap sang dewa. Aku sangat terkejut begitu dewa menunjukkan jarinya ke arahku yang padahal aku sama sekali tak mengangkat tanganku. Dan lagi tak seperti yang lainnya, begitu orang yang dipilih dewa untuk bertanya, atau mengabulkan permohonan, orang itu akan melayang ke arahnya dengan kekuatan dewa.
"Ta-tapi hamba tak mengangkat tangan hamba dewa" ucapku yang menundukkan kepalaku.
__ADS_1
"Kemarilah... ini adalah perintah ku, perintah mutlak!" ucap sang dewa yang membentak ku yang membuatku terkejut. Maka aku langsung menuruti perintahnya, dan naik ke atas di hadapan sang dewa. Aku menundukkan kepalaku, dengan memohon ampunan padanya.
"Katakan apa saja yang kau inginkan" ucap dewa itu.
"Ba-baiklah... Apa sosok yang saat itu... adalah dirimu?" ucapku yang bermaksud kepada sosok seseorang yang menyelamatkan ku saat bertarung dengan makhluk aneh unik pertama kalinya. Sosok yang sangat cepat, dan hebat yang tak tertandingi.
Sementara itu di dunia nyata, semua monster, dan penunggangnya sedang beristirahat untuk memulihkan tenaga. Begitu juga mereka sedang mempersiapkan sesuatu yang sangat licik saat kami tiba nanti. Syuuuuut... Seluruh umat manusia baru diturunkan dari langit ke tempat asal mereka.
Kami akan terjatuh ke tanah, dan mendarat dengan mulus. Itu semua karena kekuatan dewa agar kami tak terluka sedikitpun saat kami kembali. Kami melayang di udara, dan melihat indahnya dunia ini dari atas. Dan kami sudah siap lagi untuk bertempur melawan makhluk-makhluk busuk itu, kami akan menghajarnya hingga tak tersisa sedikitpun.
"Hei Gernath, soal yang tadi apa yang kau tanyakan padanya?" ucap Tygruth.
"Maaf, aku ingin merahasiakannya meski kau sudah mengetahuinya" ucapku.
"Hei aku akan turun lebih dulu! selamat tinggal!" ucap Mouri yang menciptakan baling-baling yang sangat besar yaitu mempercepat Mouri untuk turun.
"Apa itu ide gila darimu Tygruth?" ucapku.
"Haha... yang pertama sampai dialah yang menang!" ucap Tygruth yang mengerahkan seluruh angin di sekitar untuk mendorong dirinya turun dengan cepat. Aku juga tak mau kalah darinya! aku menggunakan kekuatan ku, untuk mendorong diriku juga.
__ADS_1
Dan para makhluk-makhluk busuk itu tengah menunggu kami di bawah sana sambil mengangkat kepalanya untuk melihat kami yang sedang terjun bebas, "Kita bertemu lagi bocah... bersiaplah untuk yang kedua kalinya" ucap Bordeaux.