
Crat! pedang yang panjang, dan tajam itu lagi-lagi menebas seseorang. Semua orang yang melihatnya sangat terkejut, karena Alzheimer's menebas tubuhnya sendiri hingga terluka. Gyrsa yang melihatnya pun merasa terkejut, dan kebingungan dengan apa yang dia lakukan pada dirinya. Padahal saat itu Gyrsa mengira dirinya sudah mati setelah mendengar suara sayatan pedang itu.
"Tuan muda! apa yang anda lakukan!?" ucap para pengawalnya yang khawatir.
"Kalian pergilah, tinggal kan kami pergi berdua disini" ucap Alzheimer's yang memegang pedang itu dengan bergemetaran.
"Anakku, apa yang sedang kau lakukan?" ucap ayahnya Alzheimer's yang terkejut melihatnya.
"Ayah, aku mohon tinggalkan kami berdua disini" ucap Alzheimer's memohon kepada ayahnya, dan kemudian ayahnya segera meninggalkan mereka berdua. Hingga akhirnya di tempat ini hanya ada aku, dan Gyrsa berdua saja. Keadaan menjadi mencengkeram begitu dia menebas dirinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Gyrsa yang masih menangis untuk orang tuanya.
"Apa ini sudah cukup?" ucap Alzheimer's dengan datar.
"Kau bilang itu sudah cukup? setelah apa yang kau lakukan pada orang tuaku! huhu!" ucap Gyrsa yang masih tak bisa memaafkan Alzheimer's. Kemudian tanpa ragu Alzheimer's menebasnya sekali lagi, dan lagi-lagi Gyrsa di buatnya terkejut.
"Apa ini cukup?" ucap Alzheimer's yang sedang menahan rasa sakitnya.
"Kau pikir jika kau melukai dirimu aku akan merasa kasihan padamu! tidak ada satupun orang yang mengasihani mu karena sikapmu yang sangat buruk itu!" tangis Gyrsa.
Crat! sring! crat! pedang itu terus menebas tubuhnya hingga Alzheimer's sudah tak sanggup lagi untuk berdiri dengan tegak. Tubuhnya berlumuran dengan darah, dan wajahnya terlihat sangat pucat. Sambil berkata apakah yang sudah dilakukan cukup atau tidak, sampai Gyrsa mau menerima dirinya dia terus menebas dirinya.
"Apa... hosh... ini... cukup?..." ucap Alzheimer's.
__ADS_1
"K-kau... ada apa denganmu?... kenapa kau sampai melakukan yang seperti ini?" ucap Gyrsa yang sangat terkejut, dan ini adalah suatu hal yang tidak terduga.
"Aku... melakukan ini, sampai kau mau menerima ku... karena aku sangat mencintaimu... aku akan menjagamu disisi ku. Aku tak akan pernah membiarkan mu sendirian, karena aku akan selalu hadir dalam hidupmu. Aku akan membuatmu bahagia, dan tak akan pernah lagi membuat mu menangis karena sedih. Aku sudah tak peduli lagi pada nyawaku.
Itu adalah kata-kata mu, kau membuatku sadar akan kata-kata itu. Aku janji, padamu... aku tidak akan mempermainkan wanita lagi" ucap Alzheimer's yang menahan rasa sakitnya.
"Hahaha!... sepertinya kau sudah gila! huhu, orang seperti mu tidak akan pernah bisa berubah! aku sangat membenci mu!" ucap Gyrsa yang masih belum bisa memaafkan perbuatan kejamnya.
"Kumohon... terima aku, kau adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta. Aku belum pernah... merasakan cinta dari para wanita sebelumnya" ucap Alzheimer's, namun Gyrsa tetap menolaknya dengan keras. Karena perbuatannya yang sangat kejam itu memang tidak pantas untuk dimaafkan.
"Jatuh cinta? padaku? aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan. Sudah ku bilang aku sangat mem... a-apa!?" ucap Gyrsa yang terkejut begitu Alzheimer's menaruh pedang itu di lehernya yang bersiap untuk menebas lehernya. Tak hanya itu saja, yang dilihat Gyrsa saat ini sangat mengejutkan, karena melihat Alzheimer's yang memiliki kepribadian busuk itu sedang menangis di depannya.
"Baiklah... kumohon, maafkan aku... semoga ini cukup untuk memuaskan mu, dan... selamat tinggal" ucap Alzheimer's yang ingin menebas pedang itu ke lehernya sendiri. namun dengan cepat Gyrsa bangkit, dan bergerak ke arahnya tanpa sadar untuk menolongnya. Prang! pedang itu terjatuh, karena Gyrsa melakukan sesuatu yang tak terduga dihadapan Alzheimer's.
Gyrsa menangis, sambil memeluknya dengan kencang, dan memohon kepada dirinya agar tidak menebas lehernya. Saat ini tangisan Gyrsa adalah tangisan untuk Alzheimer's. Kemudian Alzheimer's membalas pelukannya, dan tersenyum sambil mengeluarkan air mata kesedihan. Saat ini adalah saat semua sikap yang buruk, dan busuk Alzheimer's itu menghilang pada dirinya, dan menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik.
"Kenapa?... bukankah kau, sangat membenciku?... kenapa kau menyelamatkan ku?" ucap Alzheimer's sambil menangis pelan.
"Aku... tidak ingin, huhu... kehilangan seseorang yang mencintai ku lagi... cukup sampai sini saja aku kehilangan orang yang mencintai ku" ucap Gyrsa yang batinnya merasa tersakiti, sakit yang luar biasa membekas di hati kecilnya. Sebuah cahaya hidup yang dikira menghilang, namun cahaya itu ternyata bersembunyi di sela-sela kegelapan, dan membuat dirinya merasa terbangun, dan tak menginginkan cahaya satu-satunya menghilang lagi.
"Terima kasih... dan aku minta maaf, untuk semua yang kulakukan terhadap dirimu, dan orang tuamu. Aku sungguh..." ucap Alzheimer's yang kemudian dia pingsan dalam pelukan hangat dari Gyrsa. Menyadari Alzheimer's saat itu sedang tak sadarkan diri, Gyrsa sangat panik, dan khawatir pada dirinya karena tubuhnya yang penuh dengan luka itu.
Kemudian Gyrsa mencari pertolongan kepada orang-orang disana. Setelah itu Alzheimer's di bawa ke rumah sakit untuk di sembuhkan luka-luka di tubuhnya. Namun meski sudah di sembuhkan sekalipun, Alzheimer's tetap tak kunjung sadar dari pingsannya. Sementara itu Gyrsa di perbolehkan untuk mengurusnya, oleh ayahnya karena pembicaraan mereka berdua di dengar oleh ayahnya menggunakan kekuatan miliknya untuk meningkatkan indra pendengarannya.
__ADS_1
Ayahnya pun meminta maaf kepada Gyrsa atas apa yang dilakukan oleh anaknya, dan untuk saat itu juga sikap ayahnya juga telah berubah karena ucapan, dan tindakan anaknya demi seseorang yang dicintainya. Sungguh itu adalah perubahan yang sangat besar yaitu terjadi di desa Elf itu yang penuh dengan perlakuan kotor terhadap penduduk desa ini, yang dilakukan oleh ayahnya selama menjabat menjadi pemimpin desa. Namun karena kejadian itu Kini ayahnya merubah dirinya menjadi lebih baik, dan keadaan desa yang penuh dengan kebusukan itupun menghilang digantikan dengan tawa, dan bahagia yang dirasakan oleh penduduk desanya.
Dua tahun berlalu... Alzheimer's tak kunjung bangun, dia masih dalam keadaan koma saat ini. Setiap malamnya Gyrsa terus menunggunya, dan berharap kalau dia akan segera bangun, dan menangis untuknya. Sambil memegang tangannya dengan penuh perhatian untuknya, dan perasaan yang tidak disangka itu akhirnya muncul pada diri Gyrsa.
Perasaan yang dia benci, dan tidak diinginkan itu pun hadir untuk Alzheimer's. Perasaan cinta kepadanya, Gyrsa selalu berkata-kata dalam dirinya kenapa aku bisa mencintai orang sepertinya. Orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya dengan sadis dihadapan dirinya. Tapi kini perasaan kebencian terhadap dirinya berubah menjadi cinta.
"Kumohon... hiks... bangunlah! jangan buat aku menangis lagi! kau sudah berjanji padaku kan! huhu. Kumohon, Alzheimer's... aku sudah tak membencimu lagi... dan sekarang, aku... aku sangat... sangat mencintaimu, huwaaaa!" tangis Gyrsa sambil menggenggam tangan Alzheimer's. Gyrsa merasa sangat terpukul karena satu-satunya orang yang mencintai dirinya tidak sadarkan diri selama dua tahun, dan selalu membuatnya merasa khawatir kalau dia pun akan meninggalkan dirinya.
Cinta itu memang rumit, dan tak terduga. Di setiap cinta seseorang memiliki kisahnya sendiri, meski harus merasakan pahitnya hidup cinta tetaplah cinta, dan itu adalah sebuah takdir yang tidak bisa dipisahkan. Meski dunia menolak sekalipun, kalau itu sudah bagian takdir dari cinta mereka, pasti suatu hari nanti cinta itu akan datang kepadanya, dan membuat semua yang dilaluinya akan berakhir bahagia.
Kemudian perlahan-lahan jari-jemari Alzheimer's pun mulai bergerak, dan membuat Gyrsa terkejut, dan bahagia. Karena akhirnya Alzheimer's akan segera bangun, dan kembali ke pelukannya. Begitu Alzheimer's membuka matanya, dia terkejut begitu melihat Gyrsa yang senantiasa menunggunya yang menggenggam tangannya sambil menangis untuknya.
"Akhirnya kau bangun... huhu, dasar bodoh... aku sudah menunggu mu selama dua tahun!. Tapi kau tak kunjung bangun juga, dan membuatku merasa khawatir. Aku kira kau akan meninggalkan mu! huwaaaa! kenapa kau selalu membuatku menangis!. Bukankah kau sudah janji kepada ku kalau kau tidak akan membuatku menangis, huhu.
Aku sangat takut... aku takut kehilangan dirimu, dasar bodoh! bodoh! bodoh! bodoh!" ucap Gyrsa yang menangis tersedu-sedu di pelukannya. Alzheimer's pun membalas pelukannya dengan hangat, dan senyuman yang menenangkan hatinya.
"Tapi tangisan mu yang ini adalah tangisan karena bahagia kan?" ucap Alzheimer's.
"Tapi tetap saja huhu, selama dua tahun aku menunggumu aku terus menangis karena sedih" ucap Gyrsa yang masih menangis dengan kencang.
"Maafkan aku, tapi apa dengan begini kau sudah mau menerima ku di sisimu?" ucap Alzheimer's yang menunggu keputusan Gyrsa, lalu tanpa ragu Gyrsa menjawabnya, "Tentu saja... lagi pula aku sudah jatuh cinta padamu" ucap Gyrsa yang malu-malu, dan wajahnya memerah. Begitu juga dengan Alzheimer's yang mendengarnya membuat wajahnya, dan telinganya memerah.
"Jadi... apa kau mau menikah denganku?" ucap Alzheimer's.
__ADS_1
"Iya... aku mau" ucap Gyrsa dengan bahagia, dan itulah akhir dari penderitaan yang dirasakan oleh Gyrsa. Semua penderitaan yang dialami dalam hidupnya kini sudah dilupakan olehnya, dan memilih untuk bahagia bersamanya. Karena tiada yang lebih baik dari sesuatu yang membuat kita bahagia dengan orang lain yang kita cintai, dan itu adalah kebahagiaan sejati.
Beratus-ratus tahun kemudian pun Alzheimer's terus membuatnya bahagia, dan tak pernah membuatnya menangis. Karena janji tetaplah janji, dan lagi ini adalah janji seorang pria kepada seorang wanita yang pastinya harus ditepati. Hingga akhirnya Alzheimer's di angkat menjadi pemimpin desa selanjutnya oleh ayahnya, dan seluruh desa bahagia di hari itu. Semuanya benar-benar telah berubah karena kejadian itu, sungguh sesuatu yang tak dapat dilupakan dalam sejarah bangsa Elf.