
Sebelum itu karena Louris tidak bisa mengendalikan Kraken yang sudah dia keluarkan. Akhirnya dia memindahkan kami ke daratan, setelah itu aku segera menghampiri Elysna yang terbaring lemah itu. Aku tak sanggup melihatnya yang penuh luka itu, jadi aku hanya bisa menangisinya.
"Maafkan aku Gernath, aku obat-obatan yang ku ciptakan sepertinya tidak terlalu berpengaruh" ucap Mouri yang mencoba menciptakan berbagai obat-obatan dari kekuatannya. Saat ini aku sangat ketakutan, aku semakin merasa takut karena perlahan-lahan energi sihir miliknya mulai menghilang drastis.
"Tidak! tidak! tidak! tidak mungkin!... hiks, ini tidak akan berakhir seperti ini kan! semuanya! ini pasti tidak akan berakhir seperti ini kan?" ucapku yang penuh dengan keputusasaan, dan menangis dengan kencang. Aku benar-benar takut, aku sangat takut seperti seorang anak kecil yang lemah.
"Bersabarlah Gernath, aku tahu ini sangat menyakitkan! tapi kenapa kita tak membunuh dia yang sudah melakukan semua ini!" ucap Tygruth yang menunjuk Louris dengan kesal.
"Benar! aku akan membunuhnya! kau! akan mati sekarang juga brengsek!" ucap Vloid yang memusatkan amarahnya kepada Louris. Vloid segera menerjang dengan cepat, dan menusuk-nusuk tubuh Louris, namun apa yang dilakukan Louris saat ini? semuanya hanya bisa terkejut, dan terdiam. Kenapa? kenapa dia tak membalas serangan Vloid? kenapa dia hanya diam saja!?.
"Jangan memasang wajah menyedihkan itu! untuk orang seperti mu itu hanya wajah yang busuk! mati kau! mati! mati!" ucap Vloid yang benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya. Saat ini hatinya benar-benar terluka terlalu dalam hingga dia kehilangan akal sehatnya, dan masuk kedalam emosinya yang berlebih.
"Kalau kau ingin membunuhku, tebas saja leherku" ucap Louris yang membuat Vloid terkejut, dan berhenti menyerang, "Kau... aku... aku tak mengerti, sebenarnya apa mau mu... kau sudah melukai orang yang berharga bagiku... tapi... apa-apaan ini. Jangan terlihat menyedihkan seperti itu, dan serang lah aku!" ucap Vloid yang seluruh tubuhnya bergemetar.
__ADS_1
"Makhluk seperti kau... berhentilah terlihat menyedihkan seperti itu! kau tidak pantas! sama sekali tidak pantas terlihat seperti itu!" ucap Tygruth yang ikut marah kepadanya, sementara itu aku hanya bisa menangis, dan tak bisa marah kepadanya lagi. Karena aku mengetahui perasaan yang dia rasakan, karena itu aku tidak bisa marah padanya.
Energi sihir yang ada dalam tubuh Elysna kian menipis. Aku menggenggam kedua tangannya sambil menangis di hadapannya, dan berharap dia akan bangun. Jika Elysna mati... maka aku juga harus mati, karena alasanku untuk hidup sudah tidak ada lagi disini. Lebih baik aku mengakhiri semuanya saja saat ini, itulah yang kupikirkan saat ini.
Semua penderitaan ini, penyesalan ini, tidak akan pernah berhenti di dunia yang busuk ini. Meskipun dunia damai sekalipun, tetap saja... tetap saja untuk orang-orang seperti kami akan merasakan penderitaan itu. Selama penderitaan itu tak di hapus, maka tidak akan pernah ada kebahagiaan abadi. Tidak... itu sudah hukum mutlak di dunia ini, karena penderitaan, dan kebahagiaan hidup berdampingan bersama dengan kita yang menikmati hidup.
Tapi mengapa... mengapa harus penderitaan yang lebih menyakitkan? kenapa kebahagiaan itu tak terasa lebih daripada penderitaan. Kenapa... kenapa... kenapa... penderitaan begitu menyakitkan, kenapa penderitaan itu harus ada? kenapa penderitaan itu diciptakan? bukankah dunia akan lebih indah dengan adanya kebahagiaan saja?.
"Kumohon... kumohon... kumohon Elysna... bangunlah! kau pasti bisa bangun! ingat pada janji kita! kalau kita akan menikah! karena itu jangan tinggalkan aku Elysna... jangan tinggalkan aku di dunia yang menyedihkan ini... kumohon..." tangis ku yang begitu sesak, sakit benar-benar sakit yang luar biasa.
"Memangnya... hiks... membunuhnya dapat membuatnya hidup kembali?" ucapku yang membuat Tygruth terdiam, dan tak dapat membalas pertanyaan ku. Menangis, balas dendam... benar... tidak akan ada yang berubah jika melakukan keduanya. Tidak... mungkin apa yang akan dilakukan selain dari keduanya pun, tetap tidak akan ada yang berubah.
Kemudian tiba-tiba saja Louris berdiri, dan menghampiri ku yang sedang terduduk tengah menangis itu. Sementara itu Vloid, dan Tygruth terus menghajarnya sambil berjalan dengan pukulannya yang lemah karena penuh dengan tangisan. Benar... orang yang menangis hanya membuatnya terlihat lemah, dan tidak bertenaga. Tapi bukan berarti orang itu lemah, orang yang menangis memiliki kekuatan sejati yang tersimpan pada dirinya. Kekuatan sejati yang dapat mengubah apapun, sekalipun itu adalah takdir.
__ADS_1
Tangisan murni, yang menjadi kekuatan sejati akan mengubah segalanya melalui tindakan yang akan dia lakukan pada masa depan, "Berhenti kau!" ucap Vloid yang terus memukulnya, "Aku tak akan membiarkan mu!" ucap Tygruth yang terus memukulnya hingga terjatuh karena lemah.
Semuanya... mereka hanya bisa menangis, semuanya sedang menangis saat ini. Menangis menunggu sisa waktu hidup Elysna, energi sihir yang ada pada dirinya... terasa sangat sedikit sekali, dan sepertinya beberapa menit, tidak! beberapa detik lagi akan menghilang. Dan jika itu terjadi, maka berakhir sudah, tak ada yang bisa kami lakukan lagi, dan hanya bisa menerima kepergiannya.
Kemudian Louris mengerahkan tangannya di depan Elysna. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan, aku sudah tak peduli lagi, saat ini aku hanya bisa menangis. Namun sebuah cahaya yang menenangkan bersinar darinya, dan mengeluarkan sesuatu berbentuk bulat yang penuh dengan kekuatan.
"Uakh... mungkin dengan ini, kalian akan memaafkan ku..." ucap Louris yang terjatuh, dan muntah darah begitu cahaya bulat itu keluar dari tangannya. Kemudian cahaya itu terbang, dan masuk ke dalam tubuh Elysna, aku masih tak mengerti apa yang baru saja dia lakukan, tapi... energi sihir milik Louris menghilang, dan dia... tak sadarkan diri.
Bukan... lebih tepatnya dia sudah mati saat ini begitu mengeluarkan cahaya bulat itu. Tapi aku sangat terkejut begitu energi sihir milik Elysna kembali terasa, dan keberadaan energi miliknya terasa berbeda. Energi sihir miliknya terus berkembang menjadi besar, sungguh energi sihir yang luar biasa!. Sebenarnya apa yang terjadi tadi? apa yang dia lakukan? apa dia... memberikan nyawanya untuk Elysna.
"Gernath... kenapa... kau menangis?" ucap Elysna yang baru saja sadar. Aku sangat terkejut, dan teman-teman ku yang lainnya pun terkejut, dan segera berlari menghampiri Elysna yang baru sadarkan diri itu. Semuanya terlihat bahagia, dan lega... karena pada akhirnya salah satu cahaya The Power of Peace tak jadi menghilang.
Semuanya terlihat bahagia, benar-benar sesuatu yang melegakan. Kami menceritakan semua yang terjadi pada Elysna saat itu, dan karena kejadian yang tak terduga itu yang membuat Elysna bangkit kembali, semuanya menjadi merasa bersalah pada Louris yang telah menyerahkan nyawanya pada Elysna.
__ADS_1
Aku benar-benar merasa bersalah padanya, karena perkataan terakhir ku padanya saat itu adalah bersedia untuk mendengarkan kehidupannya. Tapi aku belum sempat mendengar hidupnya yang penuh dengan penderitaan dunia itu, sampai akhirnya dia mati lebih dulu sebelum bercerita.
Sebelum kami melanjutkan perjalanan kami, kami segera mengurus jasad Louris terlebih dahulu. Kami menguburnya, dengan hormat, dan rasa terima kasih padanya untuk pemberian terakhir yang diberikan untuk Elysna. Benar-benar sangat berarti bagi kami, karena The Power of Peace tidak akan sempurna jika kehilangan seseorang. Dan sudah saatnya kamu melanjutkan perjalanan kami kembali, untuk mewujudkan harapan yang kami bangun bersama.