
Setelah selesai bicara empat mata, Fajar memanggil Elfa kembali. Elfa kini sudah berada di ruangannya. Menatap dua pria yang ada di hadapannya.
Reaksi Papanya tetap sama, masih dingin kepada Ethan tapi Elfa pura - pura cuek. Dia duduk di samping papanya tepat di hadapan Ethan.
"Papa pergi dulu Elf ada urusan yang harus Papa selesaikan di luar. Selamat bekerja di hari pertama kamu" ucap Fajar.
Fajar berdiri dan bergegas pergi dari ruangan Elfa tanpa sedikitpun melirik ke arah Ethan.
Elfa terkejut tiba - tiba Papanya pergi dan meninggalkan dia berdua saja dengan Ethan di ruangannya.
Sedangkan Ethan semakin kikuk dengan sikap Fajar. Tapi setidaknya sedikit lega karena Fajar memberinya kesempatan untuk mendekati Elfa.
Ethan menunduk hormat ketika Fajar pergi meninggalkan mereka berdua. Kini hanya mereka yang ada di ruangan itu. Untuk sesaat mereka hanya diam dan saling pandang.
"Mengapa kemarin kamu tidak mengatakan kalau Papa kamu yang ingin bertemu denganku?" tanya Ethan kepada Elfa.
"Kamu keberatan?" Elfa balik bertanya.
"Tidak.. aku hanya tidak punya persiapan" Jawab Ethan jujur.
"Emangnya ini sebuah ujian sehingga butuh persiapan?" sindir Elfa.
"Aku anggap seperti itu" balas Ethan.
"Ujian? Ujian apa?" tanya Elfa penasaran.
"Ujian untuk mendekati kamu, setiap akhir lulus melalui tahapannya membuat aku semakin dekat dengan kamu. Aku sudah lulus mendekati Mama kamu, saudara - saudara kamu, Opa dan Oma kamu. Dan terakhir Papa kamu? Aku yakin saat aku lulus ujian ini hati kamu sudah condong kepada aku" ungkap Ethan.
"Kamu terlalu percaya diri" sindir Elfa.
"Untuk meraih dan memperjuangkan sesuatu, senjata awalnya adalah pecaya diri dan yakin. Kalau kedua itu sudah dimiliki tentu kekuatan dan keberanian akan bertambah. Hanya tinggal sedikit lagi menuju langkah kemenangan" ujar Ethan.
"Sayangnya kita tidak sedang berperang saat ini" elak Elfa.
"Kamu salah Elf, aku sedang berperang merobohkan beberapa benteng yang melindungi kamu dan berada di sekeliling kamu. Satu persatu harus aku hancurkan agar aku bisa mendekati kamu. Sedangkan kamu, kamu juga sedang berperang melawan perasaan kamu sendiri. Aku yakin saat ini perasaan kamu tidak seratus persen lagi menolak keberadaanku di sisi kamu. Pasti saat ini kamu sedang perang batin. Menerima atau menolak aku. Andai saja kamu mau sedikit saja menyadari apa yang kamu rasakan kamu pasti mengakui apa yang aku katakan ini semuanya benar" ungkap Ethan.
__ADS_1
Elfa terdiam sesaat mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Ethan.
"Aku pergi dulu ya.. Aku tidak ingin mengganggu kerja kamu di hari pertama kamu menjabat sebagai CEO. Nanti Papa kamu mikir jelek tentang aku yang mempengaruhi kerja kamu. Lebih baik aku pulang dan mengurus beberapa kerjaan aku di luar. Selamat bekerja dan semangat agar kita bisa holiday minggu depan" Ethan akhirnya berdiri dan pamitan kepada Elfa.
Elfa tak tau harus berkata apa. Mau menahan Ethan tapi untuk apa dia menahannya? Apa yang akan mereka bahas. Lagian Elfa gak mau Ethan salah mengartikannya.
Elfa hanya menatap kepergian Ethan dari ruangannya.
"Dah Elfa, yang serius ya kerjanya. Jangan fikirin aku terus. Sampai ketemu minggu depan ya di holiday" goda Ethan sebelum dia pergi.
"Weeeek" Elfa mengeluarkan lidahnya mengejek Ethan.
Ethan tertawa melihat tingkah lucu. Wajah Elfa yang seperti itu tetap cantik dimata Ethan. Apapun yang dilakukan Elfa selaluenjadi perhatian Ethan dan Ethan menyukainya.
Elfa akhirnya bisa bernafas lega sepeninggal Ethan pergi dari ruangannya. Walau sangat berat mengakuinya tapi semua perkataan Ethan tadi benar.
Akhir - akhir ini keberadaan Ethan mengganggu hidup Elfa. Berulang kali Ethan berhasil membuatnya tersipu malu, kesal dan sekaligus bertanya - tanya apa yang saat ini sedang dia rasakan.
Apakah Ethan sudah berhasil masuk ke dalam hatinya perlahan demi perlahan. Elfa sendiri masih bingung dan belum menemukan jawabannya.
Setelah ketemu lokasi yang sesuai Fael juga akan membantu Ethan mencari arsitek yang akan menangani pembangunan gedung untuk kantor cabang Diamond Corp di Jakarta.
Setelah mengemudi satu jam lebih akhirnya Ethan sampai di ADS Corp dan langsung masuk ke ruangan Fael.
"Kamu dari mana? Kok rapi banget, seperti ada pertemuan bisnis?" tanya Fael penasaran.
"Emang, ada pertemuan bisnis masa depan. Aku baru saja bertemu dengan calon mertuaku" jawab Ethan sambil mengambil posisi yang nyaman duduk di sofa yang ada diruangan kerja Fael.
"Maksud kamu?" tanya Fael tidak mengerti..
"Aku baru saja bertemu dengan Papa kamu di Gedung Barrakh Corp" jawab Ethan.
"Papa? Ngapain Papa bertemu dengan kamu? Urusan bisnis apa?" tanya Fael penasaran.
"Urusan masa depanku bersama Elfa" ungkap Ethan.
__ADS_1
"Oh ya, serius?" tanya Fael masih tidak percaya.
"Serius donk masak ketemu calon mertua masih bisa main - main" balas Ethan.
"Papa ngomong apa aja?" Fael masih penasaran.
"Biasalah namanya juga orang tua yang berat melepaskan anak kesayangannya di dekati pria lain. Kamu nanti juga akan merasakan hal yang sama saat bertemu dengan calon mertua kamu nanti Fael. Aku rasa semua pria di dunia ini akan merasakan hal yang sama saat ingin meminta izin menikahi wanita pilihan hati mereka. Dan dengan suka rela mereka akan menjalaninya karena itu adalah perjuangan untuk mendapatkan wanita itu" ungkap Ethan
Fael mencoba mengerti perkataan Ethan.
"Iya benar juga apa yang kamu katakan ya.. Mungkin sebentar lagi giliranku tapi sepertinya aku harus memperdalam pengetahuan caturku. Jangan sampai aku kalau dengan calon mertuaku. Karena dari informasi yang aku dengar tentang calon mertuaku itu dia suka mengajak putrinya bermain catur" ucap Fael mengingat - ingat semuanya yang berhubungan dengan Dokter Shyana.
Ethan tidak mengerti apa yang dikatakan Fael.
"Fael, apakah kita sudah bisa pergi?" ajak Ethan.
"Eh iya jadi lupa. Yuk.. kita pakai mobil kamu aja ya" sambut Fael.
"Bereeees... " Mereka keluar dari ruangan Fael dan berjalan menuju mobil Ethan.
Setelah itu mereka mendatangi beberapa lokasi yang akan menjadi pilihan Ethan untuk membangun kantor cabang perusahaannya di Indonesia.
Dia sudah membicarakannya dengan Papanya dan Papanya sangat menyambut usulan Ethan tersebut. secepatnya Ethan mencari lokasi dan kalau sudah menemukan tempat yang sesuai pembangunan akan langsung di kerjakan.
Dia berniat saat pembukaan kantornya nanti, dia akan meminta Mommy dan Daddynya datang ke Indonesia. Siapa tau pada saat itu Elfa sudah menerima cintanya alangkah senangnya jika hal itu terjadi.
Eh tapi lama banget ya... pembangunan gedung perkantoran memakan waktu berbulan - bulan bahkan bisa lebih satu tahun.
Di ralat, semoga saat pelantikan nanti Elfa sudah menjadi istriku. Aamiin... Doa Ethan dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1