
Perjalanan di mulai. Mobil melaju menuju Bandung. Mereka akan berlibur di sana. Liburan yang hanya memakan waktu dua hari membuat mereka tak bisa pergi jauh - jauh dari Kota Jakarta.
Tapi bukan tempat yang menjadi tujuan utama mereka melainkan kebersamaan mereka. Karena beberapa orang dari mereka ingin sekali mengambil kesempatan ini untuk mendekatkan mereka dengan target incaran mereka.
Seperti Fael kali ini, pria dingin dan pendiam itu sekarang sudah muali menghangat. Perubahan itu tak lain adalah karena rasa cinta.
Fael mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Nih buat kamu" ucap Fael sambil menyerahkan bungkusan kepada Dokter Shyana
"Apa ini?" tanya Dokter Shyana penasaran.
"Coklat, tadi sebelum ke rumah Opa aku singgah ke supermarket beli sesuatu tiba - tiba aku lihat coklat itu di dekat meja kasir jadi aku beli. Aku fikir kamu suka coklat karena kedua adikku pecinta coklat. Biasanya para perempuan sangat suka coklat" ucap Fael yang masih belum mau terlihat bucin padahal aslinya dia memang sengaja dan khusus singgah ke supermarket untuk membelikan coklat buat Dokter Shyana.
Fael masih malu terlihat sangat tertarik dengan Dokter Shyana. Dokter Shyana membuka bungkus coklat itu dan mulai memakannya.
"Kamu mau? Aku tidak mau gemuk sendiri. Benar kamu bilang, para wanita sebahagian besar pecinta coklat tapi sekaligus mereka takut coklat ini akan membuat mereka gemuk" Dokter Shyana menyodorkan bungkus coklat kepada Fael.
Fael mengambil sepotong coklat dan memakannya.
"Mmmm... manis banget, beda seperti rasa coklat yang biasanya. Mungkin karena makannya berdua kali ya" goda Fael.
"Menurut aku rasanya masih sama seperti yang biasa" jawab Dokter Shyana.
"Apa terasa manis karena kamu duduk disebelahku?" ucap Fael masih terus menggoda Doker Shyana.
"Apaan sih" ujar Dokter Shyana.
Tiba - tiba terdengar suara riuh dari belakang.
"Mas.. tolong hidupin donk musiknya. Elfa kamu udah kasih ke Pak supirkan lagu - lagu yang di rekam Sitha?" tanya Fathir.
"Sudah Fath, sebentar ya.." jawab Elfa.
Elfa langsung melirik kedepan.
"Pak tolong hidupin lagu - lagu yang tadi saya kasih ke Bapak" pinta Elfa
__ADS_1
"Baik Non" jawab sang supir.
Tak lama musik mulai mengalun merdu..
Ya Tuhaaaaan.... bisa - bisanya mereka memutar lagu seperti ini. Padahal mereka semua para pejabat perusahaan. Aku benar - benar gak menyangka selera musik mereka seperti ini. Batin Dokter Shyana.
Fael mengeluarkan headset dari dalam tasnya. Dia memasangkannya ke ponselnya dan memakai headset nya ke telinganya sebelah kiri. Satu kabel lagi dia tawarkan ke Dokter Shyana.
"Kamu mau dengerin lagu aku?" tawar Fael.
"Aku bawa headset juga kok" jawab Dokter Shyana.
Dia mencari headset di dalam tasnya tapi mengapa tidak dia temukan juga ya.
Sial.. sepertinya tadi terjatuh saat aku masukkan ke dalam tas. umpatnya dalam hati.
"Kenapa, tinggal?" tanya Fael kembali.
Dokter Shyana mengganggukkan kepalanya.
"Nih pakai" Fael kembali memberikan satu kabel headset kepada Dokter Shyana.
Fael mulai memilih lagu favouritenya. musik mulai mengalun merdu, alirannya sangat berbeda dengan musik yang di putar di mobil. Sangat bertolak belakang.
Fael memutar lagu barat tembang kenangan dengan genre musik slow rock.
"Ini genre musik kamu?" tanya Dokter Shyana.
"Yup" Fael tersenyum manis.
"Gak nyangka ternyata kamu suka lagu seperti ini" ucap Dokter Shyana.
"Yang suka lagu dangdut itu Fathir dan Sitha tapi Elfa dan Celine juga terkadang suka ikutan. Yang lain hanya penikmat, tidak membenci tapi juga bukan itu genre musik kami" ungkap Fael.
"Hebat ya kalian, bisa saling menghargai" puji Dokter Shyana.
"Kami sudah bersahabat sejak masih dalam kandungan. Orang tua kami semua bersahabat, bukan hanya orang tua kami tapi Oma dan Opa kami" Fael mulai bercerita.
__ADS_1
Dokter Shyana mulai mencari posisi duduk yang nyaman dan tanpa dia sadari dia mulai menyandarkan tubuhnya ke tubuh Fael.
"Kami tumbuh dan besar bersama. Sekolah sama dan bermain bersama. Sampai tamat SMU, aku, Fathir dan Shaby memilih untuk kuliah di Bandung. Fela, Sitha dan Ryntia kuliah di Jakarta sedangkan Elfa kuliah di London bersama Celine. Oh Iya Celine adalah anak dari asisten Papaku dulu di London. Setiap kami ke London dia sering ikut bermain bersama kami. Kami sudah akrab dengannya sejak kecil walau jarak kami berjauhan. Saat kuliah dia yang menemani Elfa di London. Dan ikut dengan Elfa kembali ke Indonesia" sambung Fael.
"Mengapa kamu tidak bekerja di Barrakh Corp?" tanya Dokter Shyana.
"Aku tidak suka bisnis perhotelan. Aku lebih suka belajar tehnik makanya aku lebih memilih kerja di ADS Corp punya Opa Adit dan Opanya Sitha. Sedangkan Fela menyukai design seperti Mamaku. Dia memilih meneruskan usaha Mama. Hanya Elfa yang menyukai masak memasak seperti Opa Jasmine dan suka dunia perhotelan karena dia dekat dengan Opa Omar" ungkap Fael.
Satu persatu rahasia Gengs F3STER C diketahui oleh Dokter Shyana. Dia semakin memuji kepintaran dan keahlian Geng F3STER. Walaupun mereka semua lahir dalam keluarga yang serba berkecukupan tapi tidak membuat mereka manja dan berfoya - foya.
Mereka rajin belajar dan bekerja, meraih kesuksesan mereka sendiri di bidang yang mereka sukai. Dokter Shyana merasa malu karena sering merasa puas dengan apa yang dia dapatkan saat ini.
Dibandingkan para anggota F3STER C kemampuan dia belum ada apa - apanya.
"Kamu berapa bersaudara?" tanya Fael.
"Aku dua bersaudara. Aku mempunyai adik yang beda usianya sepuluh tahun" jawab Dokter Shyana.
"Waaah jauh ya, sama donk dengan Shaby dan Fathir. Mereka punya adik yang jauh beda usianya" balas Fael.
"Iya, itu mungkin yang membuat aku jadi sangat dekat dengan Papaku. Karena Papa sangat menyukai anak - anak sedangkan dia hanya punya aku saat itu. Jadilah semua kasih sayangnya dia curahkan padaku" ungkap Dokter Shyana.
"Aku sangat yakin Papa kamu pasti sangat sayang dan bangga kepada kamu" puji Fael.
"Keluargaku tak sekaya keluarga kalian. Papa hanya PNS biasa yang tidak mempunyai jabatan tinggi. Aku kuliah di kedokteran karena mendapatkan beasiswa" sambung Dokter Shyana.
"Wah hebat donk. Kamu tidak boleh merasa minder dengan keadaan keluarga kamu. Kamu punya kelebihan yang lain" ucap Fael memberi semangat.
"Aku tidak pernah merasa minder ataupun malu mempunyai keluarga seperti ini. Aku sangat bangga telah menjadi anak dari Papa dan Mamaku. Mereka mendidikku dengan sangat baik sehingga aku bisa meraih cita-citaku seperti sekarang ini" balas Dokter Shyana.
"Katanya kamu sebentar lagi akan wisuda spesialis ya? Hebat ya, di usia kamu yang baru dua puluh tujuh tahun kamu sudah berhasil mengambil spesialis" ujar Fael.
"Semua karena aku ingin segara membuat orang tuaku bangga. Aku ingin membahagiakan mereka" ucap Dokter Shyana.
"Boleh aku bertemu mereka dan hadir di acara wisuda kamu?"
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG