CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
80


__ADS_3

"Skak... " ucap Dokter Shyana.


Sial.. dia memang benar - benar pintar. Aku kalah dengannya. Bisa dimarahin Opa ini, tadi pesannya jangan sampai kalah. Mati aku.. umpat Fael dalam hati.


Fael menjalankan anak caturnya.


"Kamu mati" ucap Dokter Shyana sambil tersenyum.


Fael menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Apa di kampus kamu ada pelajaran catur selain pelajaran biologi?" tanya Fael kesal.


"Hahaha ternyata kamu lucu juga" Dokter Shyana tertawa mendengar ucapan Fael.


Duh manisnya senyum dan tawanya. Ada apa denganku ya? Fael terpesona dengan wajah Dokter Shyana.


"Ma.. maksud aku, kok bisa seorang dokter pintar bermain catur?" tanya Fael masih tidak percaya.


"Aku sering berlatih dan bermain catur di rumah dengan Papaku. Aku sudah mengenal catur sejak kecil" jawab Dokter Shyana ceria.


"Aku juga sering bermain catur dengan Opa dan adikku Elfa tapi mengapa aku bisa kalah dengan kamu?" tanya Fael tanpa sadar.


"Itu karena kamu tidak konsentrasi, dari tadi kamu bukannya melihat papan catur ini. Tapi kamu terus memandangi wajahku. Hati - hati bung, kamu bisa jatuh cinta" goda Dokter Shyana.


Fael terpana tak percaya dengan jawaban Dokter Shyana.


"Kalau aku beneran jatuh cinta bagaimana?" todong Fael.


Dokter Shyana tersadar dengan apa yang baru saja mereka bicarakan.


"Jangan bercanda bung, cinta bukanlah bahan yang tepat untuk dijadikan candaan?" balas Dokter Shyana.


"Bukannya kamu yang mengejekku lebih dulu dengan mengatakan kata - kata itu" desak Fael.


Dokter Shyana terdiam.


"Dan aku tidak bercanda dengan kata - kataku tadi. Bagaimana kalau aku beneran jatuh cinta pada kamu?" tantang Fael.


"Tidak mungkin, kamu tidak akan secepat itu jatuh cinta. Kita kan baru bertemu tiga kali dan pertemuan kita pertama dan kedua menurut aku bukanlah pertemuan yang indah malah sebaliknya. Kamu menatapku horor seperti musuh" ungkap Dokter Shyana.


"Tidak ada yang bisa menolak cinta jika rasa itu sudah datang dan mengendap di hatimu. Seperti itu juga yang aku alami saat ini. Aku rasa aku beneran jatuh cinta padamu" tegas Fael.


"Tapi aku tidak bisa semudah dan secepat itu jatuh cinta pada kamu. Aku tidak harus menjawab dan menerimanya kan?" tanya Dokter Shyana.

__ADS_1


"Ya, kamu boleh tidak menjawab dan menerimaku saat ini tapi aku pastikan kelak kamu pasti akan mengatakan Ya" ungkap Fael.


Jantung Dokter Shyana berdetak tidak karuan. Baru kali ini ada pria yang bisa mengucapkan cinta kepadanya segamblang dan secepat ini. Tanpa ada basa - basi dan tanpa keromantisan.


Dalam pertemuan ketiga pria ini sudah mengungkapkan isi hatinya. Apakah dia ingin mempermainkanku? Tanya Dokter Shyana dalam hati.


Dokter Shyana melirik jam di tangannya.


"Sepetinya waktu istirahatku sudah selesai. Aku harus kembali bertugas" elak Dokter Shyana.


Fael menahan Dokter Shyana dengan menarik jilbab Dokter Shyana bagian belakang.


"Aku tunggu jawaban kamu selanjutnya. Dan aku harap jawaban kamu itu akan berubah" ucap Fael.


"Aku harus pergi, permisi" elak Dokter Shyana.


Dokter Shyana langsung bergegas pergi menjauhi Fael yang menatap punggungnya menjauh dari pria yang kini berhasil membuat jantungnya berdetak kencang.


Sepertinya aku singgah dulu ke dokter spesialis jantung untuk memeriksakan jantungku. Kurasa aku baru saja mendapatkan serangan jantung. Ucap Dokter Shyana dalam hati.


Fael kini bisa tersenyum menatap kepergian Dokter Shyana. Kini hatinya sudah yakin pada perasaannya kepada Dokter Shyana.


Ternyata jatuh cinta bisa seindah ini. Apa si bule tengil itu juga sama sepertiku ya makanya dia melakukan hal gila seperti itu. Sampai dia tega mengejar Elfa jauh - jauh dari London ke Indonesia dan bela - belain setiap hari muncul di keluargaku hanya untuk bertemu dengan Elf.


Bahkan dia mau mengurus Opa yang rewel itu untuk mendapatkan restunya. Ah tapi Opa sudah berjasa dalam hidupku. Dia telah menyadarkanku tentang perasaanku pada Dokter cantik itu.


Fael melipat papan catur dan membawanya kembali ke kamar rawat inap Opanya. Sesampainya dia di ruangan Omar, Fael melihat Omar sedang berbincang dan tertawa bersama Ethan.


"Lho kok udah selesai? siapa yang kalah?" tanya Omar penasaran.


"Aku yang kalah" jawab Fael.


"Payaaaah, padahal tadi Opa sudah menang" ejek Omar.


"Siapa bilang, Opa juga tadi kalah sama Dokter Shyana" balas Fael.


"Itu di pertandingan pertama Fael, pertandingan kedua sudah hampir menang tadi" ujar Omar.


"Masih hampir tapi belum menang, itu artinya bisa saja kalah kan. Lagian Dokter itu memang pintar" jawab Omar.


"Hati - hati Fael, sepertinya dia juga pintar mencuri hati" goda Omar.


"Mencuri hati siapa?" tanya Fael.

__ADS_1


"Mencuri hati siapa saja yang bertemu dengannya. Sebentar lagi kamu juga akan jatuh hati padanya. Atau mungkin sudah" goda Omar lagi.


"Apaan sih Opa. Eh Ethan kamu ngapain setiap hari ke sini? " Fael langsung mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin melihat Grandpa" jawab Ethan.


"Grandpa atau Elfa?" goda Omar.


"Sekalian Grandpa" jawab Ethan malu.


"Hahaha.. aku berada diantara dua pria yang sedang jatuh cinta" tawa Omar pecah.


Fael dan Ethan saling pandang.


"Kalian pasti bingung kan mengapa aku bisa mengetahuinya? Wajah kalian itu merona, seperti orang yang sedang jatuh cinta" ledek Omar.


"Sepertinya Opa harus istirahat jangan terlalu banyak berbicara" Fael segera membaringkan Omar.


"Hey... aku belum mengantuk" tolak Omar.


"Kalau Opa belum ngantuk sebaiknya jangan banyak bicara atau aku.. " ucap Fael terputus.


"Atau apa? Kamu mau memanggil Dokter Shyana?" Omar tersenyum menang.


"Tidak.." elak Fael.


"Hahahaha... panggil saja. Kan itu memang yang kamu mau. Kalau sudah jatuh cinta, setiap hari pasti ingin selalu menatap wajahnya" goda Omar.


"Lihat saja si The Ghost sampai rela - relain terbang dari London ke Indonesia hanya untuk mengejar cintanya Elfa. Hey anak muda kalau mau mendekati Elfa kamu tanya pada Grandpa bagaimana caranya. Elfa itu cucu kesayanganku. Aku tau apa yang ada dikepalanya" ucap Omar.


Mata Ethan terlihat berbinar ketika dia mendengar Omar berkata seperti itu.


"Tapi kamu jangan lupa syaratnya. Kamu harus pinter bahasa Indonesia dulu. Itu cara yang paling utama untuk mendekati Elfa dan keluarganya" ungkap Omar.


Hari ini Omar sangat senang sekali karena dua cucunya sepertinya akan menemukan tambatan hatinya.


Mungkin usia dan pengalamannya yang membuatnya bisa menyimpulkan seperti itu. Dua lelaki yang ada di hadapannya ini, Omar sangat yakin mereka sedang jatuh cinta.


Omar bisa melihat jelas dari binar mata mereka. Rasanya jiwa Omar kembali muda. Dia tersenyum mengingat dulu bagaimana dia jatuh cinta kepada istrinya.


Persis sama seperti yang sedang dialami dua pria ini. Omar tertawa dalam hati.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2