
Keesokan harinya Fael menjemput Calon Mertuanya pulang dari rumah sakit dan mengantarkan mereka kembali ke rumah mereka.
Fael membantu Pak Nugroho berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hati - hati Pak" ucap Fael ketika Pak Nugroho hendak duduk di sofa ruang keluarga rumahnya.
"Makasih Fael" jawab Pak Nugroho.
Dokter Shyana dan Mamanya masuk dengan membawa barang - barang dari rumah sakit.
"Shyan, kamu besok aja baru mulai bekerja lagi merawat Ethan. Hari ini kamu istirahat aja di rumah sekalian lihat Bapak kan masih masa pemulihan" ucap Fael.
"Gak apa - apa Fael aku sudah kelamaan cutinya" jawab Dokter Shyana.
"Gak apa nanti aku bilang sama Ethan dia pasti mengerti" balas Fael.
"Iya Shyan, dengar tuh pesan Fael. Lagian kalian juga mulai belajar di ubah panggilannya. Telinga Papa kok gatal ya dengan kamu panggil Fael hanya namanya saja. Rasanya gak sopan. Panggil Mas atau apalah asal jangan panggil namanya" nasehat Pak Nugroho.
Fael tersenyum menang karena di bela oleh Calon mertua.
"Kamu juga Fael jangan panggil Bapak panggil seperti Shyana memanggil Bapak. Sebentar lagi kamu juga akan jadi anak Bapak. Mulai sekarang panggil Papa ya" sambung Pak Nugroho.
"Siapa Pak eh Pa" jawab Fael cepat.
"Shyan buatin minum untuk Fael sana gih, kasihan tamu datang kok gak di suguhin minum" ujar Mama Dokter Shyana.
"Katanya sebentar lagi udah mau jadi anak Ma. Berarti dia bukan tamu lagi donk di rumah ini" sambut Dokter Shyana.
"Husss... sama calon suami kok gak ada sopannya" tegur Pak Nugroho.
"Iya Pa.. ini aku buatin minum" Dokter Shyana langsung berdiri dan jalan ke dapur mengambilkan minum untuk Fael.
Tak lama kemudian Dokter Shyana sudah kembali dengan membawa beberapa gelas yang berisikan sirup.
"Silahkan di minum bos" ucap Dokter Shyana.
"Kok Bos?" tanya Fael.
"Kan tadi Papa bilang terserah mau panggil apa asal jangan panggil nama. Ya udah aku panggil aja kamu Bos. Toh kamu memang Bos aku kan? Kan kamu yang mengurus surat tugasku di Rumah Sakit" sindir Dokter Shyana.
Fael mendelikkan matanya ke arah Dokter Shyana.
"Bapak mau ke kamar dulu ya" ujar Pak Nugroho.
"Eh Iya Pa" jawab Fael.
"Ma, bantu Papa" ajak Pak Nugroho.
Pak Nugroho beserta istrinya segera masuk ke kamar. Sepertinya mereka mengerti dan tidak mau mengganggu pembicaraan anaknya.
"Kamu kenapa ngomong gitu sih di depan Papa? Aku kan jadi gak enak, nanti Papa kira aku mempermainkan kekuasaan" protes Fael begitu Papa dan Mama Dokter Shyana masuk ke kamar.
__ADS_1
"Lah memang kenyataannya seperti itu. Kamu kan yang punya ide agar aku pindah tugas ke rumah kamu?" tuduh Dokter Shyana.
"Ya itu kan salah satu trik aku agar tetap bisa melihat dan bersama kamu setiap harinya" jawab Fael jujur.
Dokter Shyana langsung diam dan tertunduk malu, dia tidak menyangka Fael akan berkata jujur. Kemudian Dokter Shyana sibuk membuka ponselnya untuk mengalihkan perhatiannya.
"Shyan.. " panggil Fael.
"Hem... panggil aku Mas ya" pinta Fael.
"Apa Mas? berapa karat?" tanya Dokter Shyana.
"Itu emas Shyanaaaa.. berbeda" protes Fael.
"Aku panggil kamu Kakak aja bagaimana seperti Fela dan Elfa?" tanya Dokter Shyana.
"Gak mau, kamu kan bukan adikku. Masak panggil Kakak. Kamu kan calon istriku. Lagian kalau di panggil Kakak gak ada mesra - mesranya" bantah Fael.
"Baiklah Bos" goda Dokter Shyana.
"Sayaaaang " panggil Fael.
"Apa?" tanya Dokter Shyana tak percaya.
"Shyanaku sayaaang" ulang Fael.
"Oh tidak.. tidak.. geli aku dengarnya" Dokter Shyana menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Dokter Shyana menarik nafas panjang.
"Baiklah Mas Fael. Puas?" ucap Dokter Shyana.
"Sangat puas" jawab Fael sambil tersenyum.
"Kira - kira minggu depan Papa sudah benar - benar pulih tidak?" tanya Fael serius.
"Gak tau" jawab Dokter Shyana.
"Kamu kan dokter harusnya kamu tau" ucap Fael kesal.
Ternyata Dokter Shyana sama jahilnya dengan dua adiknya yang suka membuatnya jengkel dan kesal.
"Kalau secara kedokteran harusnya sudah, hanya Papa gak boleh angkat barang - barang berat dulu" jawab Dokter Shyana.
"Kalau minggu depan Papa dan Mamaku datang ke sini sudah bisa ya?" tanya Fael.
Uhuk.. uhuk... uhuk... Batuk Pak Nugroho dari dalam kamar. Sontak Fael dan Dokter Shyana saling tatap. Wajah mereka berdua berubah menjadi merah karena menahan malu.
Sepertinya Pak Nugroho mencuri dengar pembicaraan mereka sebelumnya.
Addduuuuh gawaaat.. malunya ketahuan calon mertua mesra - mesran dengan calon istri. Ucap Fael dalam hati.
__ADS_1
"Pa udah bisa belum Papa nya Fael datang minggu depan?" tanya Dokter Shyana dengan suara yang besar.
Nanggung udah ketahuan juga Papa nguping sekalian aja deh langsung basah. Pikir Dokter Shyana.
"Bisa.. bisa.. " Jawab Pak Nugroho dari dalam kamar.
Dokter Shyana tertawa geli membayangkan wajah Papanya. Pasti saat ini wajah Papa Dokter Shyana sudah memerah karena malu ketahuan nguping.
"Tuh aku yakin wajah Papa pasti udah merah banget nih" bisik Dokter Shyana kepada Fael.
"Kamu ya suka banget buat orang salah tingkah karena malu. Awas kamu ya... " ancam Fael.
Dokter Shyana tersenyum menang.
"Ya sudah Shyan kalau begitu nanti setelah pulang aku akan kabari Papa Mama kalau minggu depan kami akan datang ke rumah ini untuk melamar kamu secara resmi" ujar Fael.
"Papa udah dengar kan Pa?" tanya Dokter Shyana kepada Papanya.
"Heeemm.. " jawab Pak Nugroho.
"Hahahah.. Papa masih nguping" jawab Dokter Shyana lucu.
"Sudah ah aku pulang aja. Makin lama kamu makin ngaco, doyan banget ngerjain Papa. Dosa tau" ujar Fael.
"Habis Papa kepo banget urusan anaknya" balas Dokter Shyana.
"Aku pulang ya, bilang sama Papa dan Mama" perintah Fael.
"Pa.. Ma.. Fael pulang ya" teriak Dokter Shyana lagi dari luar.
Tapi kali ini tidak ada jawaban dari dalam.
"Aku rasa Papa sudah istirahat. Kalau begitu aku pulang ya.. Sampai ketemu besok di rumah ya sayang" ujar Fael.
"Fael jangan panggil aku seperti itu" protes Dokter Shyana.
"Aku gak akan berhenti sebelum kamu panggil Mas" balas Fael.
"Iya Maaaaas. Hati - hati di jalan ya" ujar Dokter Shyana.
"Oke sayang daaaa" Fael melangkah menuju ke luar rumah dan segera masuk ke dalam mobilnya. Dokter Shyana mengantarnya sampai depan pintu.
"Aku pulang ya... " ucap Fael lagi. Sebenarnya dia masih berat untuk berpisah tapi gak enak kalau lebih lama di sini bisa mengganggu waktu istirahat Papanya Dokter Shyana.
"Iya Maaas" jawab Dokter Shyana.
Mobil berlalu dari halaman rumah Dokter Shyana. Keduanya berpisah dengan perasaan yang masih ingin terus bersama.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG