
Fela menarik nafas panjang dan mulai konsentrasi bekerja. Kalau saat sedang bekerja dia harus fokus dan sementara lupakan tentang Fathir. Fela mulai membuka laptopnya tiba - tiba ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
Fela segera meraih ponselnya kemudian membuka layar ponselnya dan melihat pesan yang masuk. Ternyata ada pesan dari Dokter Rasya.
Dokter Rasya
Fel bisakah kita bertemu sore ini? Ada yang ingin aku sampaikan?
Fela
Boleh, masalah apa Sya? Apakah tentang Kak Fael dan Shyana?
Dokter Rasya
Nanti kamu akan tau. Jam berapa aku bisa menemui kamu?
Fela
Sore bisa Sya sepulang dari Butik sekitar jam lima sore. Mau ketemu dimana? Di Butik atau tempat lain?
Dokter Rasya
Di luar aja ya Fel, biar lebih nyaman aja ngobrolnya. Kalau begitu aku jemput jam lima ya di Butik?
Fela
Aku bawa mobil Sya, gimana kalau kita langsung aja ketemu di tempat?
Dokter Rasya
Baiklah kalau begitu, kita ketemu di Restoran XXX Jalan XYZ
Fela
Oke sampai ketemu disana ya
Dokter Rasya
Terimakasih Fel
Fela menatap layar ponselnya lama, setelah menutup menu pesan kita layar ponsel kembali ke pengaturan awal. Terlihat gambar anggota Gengs F3STER C di layar handphone Fela. Dimana dia duduk tepat di dekat Fathir dan wajah mereka terlihat berhadapan. Mereka saling tersenyum bahagia.
Foto yang diambil saat Elfa dan Celine baru kembali dari London. Saat itu hubungan dia dan Fathir belum serumit ini. Mereka masih bisa bercanda bebas tanpa beban dan tidak saling menyakiti.
Fela mulai melanjutkan pekerjaannya dengan serius. Siang harinya Elfa sudah tiba di ADS Butik.
"Kak makan siang yuk?" ajak Elfa.
"Kamu kok datang nggak kabari dulu?" tanya Fela.
"Mau buat kejutan" jawab Elfa sambil tersenyum.
"Terlalu banyak kejutan hari ini" gumam Fela pelan sambil menghembuskan nafasnya dengan kesal.
"Kenapa sih mukanya jutek gitu, jelek tauuuk. Gak seperti Kak Fela yang cantik dan selalu bersemangat" ucap Elfa mulai memancing perhatian Fela.
Fela menarik nafasnya panjang, dia memang tidak bisa menyimpan permasalahan ini sendiri, dia butuh teman untuk bertukar fikiran agar dia bisa tenang.
__ADS_1
"Yuk kita makan di luar. Ke Restoran kamu aja ya. Aku pengen makan makan Eropa" Fela meraih tas dan ponselnya kemudian menarik tangan Elfa dan berjalan menuju lift.
Mereka sudah sampai di lantai dasar dan jimin sedang berjalan menuju parkiran.
"Naik mobil kamu ya, aku lagi malas nyetir" ucap Fela.
"Oke, asalkan kakak senang" jawab Elfa.
Elfa dengan sabar menemani Kakaknya itu. Sepertinya masalah Fela kali ini begitu besar sampai bisa merubah sikapnya menjadi pendiam seperti ini.
Tibalah mereka di EIC Restoran. Elfa langsung melihat menu makanan dan mencari makanan yang ingin dia makan. Sampailah dia pada sebuah menu.
Eh biasanya kalau sedang bersama Fathir dia pasti pesan makanan ini. Batin Fela tiba - tiba.
Eh aku kok malah mikirin Fathir sih. Saat ini aku pusing juga karena dia. Fela kembali menghembuskan nafasnya kasara.
"Kakak kenapa sih dari tadi seperti itu?" tanya Elfa tak sabar lagi.
"Seperti ini bagaimana?" tanya Fela balik.
"Kakak lagi ada masalah ya? Cerita donk ke aku, beberapa hari ini Kakak beda banget lho bukan seperti Fela yang biasanya. Kakak malah tampak murung, menyendiri dan lebih pendiam. Aku merasa tubuh Kakak sama jiwa Kakak lagi gak singkron" ujar Elfa.
"Gak singkron gimana?" tanya Fela bingung.
"Tubuh kakak di sini tapi jiwa kakak seperti sedang terbang entah kemana" jawab Elfa.
Fela kembali menarik nafasnya panjang.
"Tuh seperti ada beban berat yang sedang kakak pikul. Apa masalahnya berat sekali?" tanya Elfa.
"Elfa... Fathir ngutarain perasaannya padaku" Fela langsung memeluk adiknya itu dan mencurahkan isi hatinya.
"Fathir?" tanya Elfa tak percaya.
Fela menganggukkan kepalanya.
"Maksud Kakak Fathir suka sama Kakak?" tanya Elfa lagi.
Fela kembali menganggukkan kepalanya.
"Kapan, dimana, bagaimana dan seperti apa? trus kakak jawab apa?" tanya Elfa penasaran.
"Ih banyak banget pertanyaannya" Fela menepuk bahu Elfa.
"Oke satu - satu ya.. Kapan dia ngutarain perasaannya pada Kakak?" tanya Elfa lebih lembut dan pelan.
"Dua hari yang lalu di rumah kita sepulang dari kita makan bakso di warung bakso Mamang" jawab Fela.
"Bagaimana bisa?" tanya Elfa lagi.
"Berawal saat di warung bakso, aku melihat kamu mesra dengan Ethan dan Kak Fael juga udah punya calon istri Shyana. Aku iri melihat kalian berdua. Trus Fael bilang ngapain iri kan ada aku. Dia nyuapin aku bakso tapi aku tolak. Aku bilang gak seru kamu kan sahabat aku. Setelah itu sikapnya jadi berubah padaku. Aku pikir dia tersinggung dengan perkataan aku. Jadi pada saat di rumah aku minta maaf karena sikap dan perkataanku mungkin membuat dia tersinggung. Nah di situ dia bilang padaku kalau perasaannya serius kepadaku. Dia sudah lama menyukai dan menyayangiku tapi bukan sebagai sahabat melainkan perasaan seorang pria kepada wanita" ungkap Fela.
"Trus kakak jawab apa?" tanya Elfa.
"Saat itu aku sangat shock dan langsung menolaknya. Aku tidak bisa menerima perasaannya dan aku meninggalkannya sendirian di teras. Sejak saat itu aku tidak mau menerima teleponnya, tidak membaca pesannya dan menjauhinya" sambung Fela.
"Trus?" tanya Elfa lagi.
__ADS_1
"Tadi pagi dia datang ke Butik kembali meyakinkanku kalau perasaannya tidak main - main dia serius dan meminta aku untuk mempertimbangkannya" ucap Fela.
Wah gawat ini kalau sudah bicara soal hati apalagi kita masih sahabatan, salah ucap bisa rusak hubungan selama ini. Batin Elfa.
Elfa menarik nafas panjang dan menatap kakak kembarnya dengan perlahan.
"Sekarang coba aku tanya gimana perasaan kakak padanya?" hanya Elfa hati - hati.
"Aku gak tau Elf. Aku sangat bingung" jawab Fela.
"Kakak sayang Fathir?" tanya Elfa.
Fela menganggukkan kepalanya.
"Aku sayang Fathir, kita sudah kenal dia sejak lahir. Masak kamu juga gak sayang sama dia?" Fela balik bertanya.
"Sayang tapi kan sebagai teman. Kalau Kakak gimana perasaan sayang Kakak padanya?" tanya Elfa lagi.
Fela menganggukkan kepalanya.
"Aku gak tau. Aku merasa nyaman di dekatnya, aku senang dan selalu ceria bila dia ada. Kamu juga kan? Fathir kan emang asik orangnya" jawab Fela.
"Iya sih.. tapi kan aku lama di London Kak, pasti Kakak lebih lama berteman dengannya apalagi kalian emang lebih dekat?" tanya Elfa lagi.
"Aku bingung Elf. Semakin bingung lagi karena nanti Dokter Rasya ingin bertemu denganku sore, katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan" ungkap Fela.
"Apaaaa? Dokter Rasya ngomong gitu?" tanya Elfa.
"Dia kirim pesan padaku" jawab Fela.
"Jadi gimana Kak?" tanya Elfa lagi.
"Aku gak tau. Benar - benar bingung" jawab Fela.
"Sepertinya Dokter Rasya juga ada hati dengan Kakak, sejak awal sepertinya dia suka deketin kakak dan sering aku lihat curi - curi pandang ke Kakak?" tanya Elfa.
"Perasaanku juga mengatakan begitu, dan entah mengapa feeling aku nanti sore dia akan mengatakan sesuatu yang menyangkut tentang perasaannya. Aaaaakh.... Elfaaaa aku harus bagaimana?" tanya Fela bingung.
"Perasaan Kakak sama Dokter Rasya gimana?" selidik Elfa.
"Aku suka lihat dia, dia tampan, pintar dan baik" jawab Fela.
"Itu masih garis besarnya karena Fathir juga punya semuanya itu" balas Elfa.
"Aku gak tau Elf, aku bingung.... " Fela duduk bersandar di sofa tak bersemangat.
"Mmm... gini aja Kak, menurut aku ini ya. Kakak hadapin aja dua - duanya, kakak pastikan perasaan kakak pada mereka. Lebih condong ke Dokter Rasya atau Fathir? Kakak minta waktu juga sama Dokter Rasya untuk memastikan jawaban Kakak. Jangan buru - buru jawabnya agar tidak ada yang tersakiti" jawab Elfa memberi saran.
"Gitu ya Elf?" tanya Fela.
"Iya dunk.. udah ah ngapain pusing. Kakak hebat dua pria sedang memperebutkan Kakak itu artinya Kakak memang pantas jadi rebutan" puji Elfa memberi semangat.
Fela mulai semangat.
"Terimakasih Elf, udah mau jadi tempat curhatku dan sudah kasih ide seperti itu. Aku akan hadapi mereka berdua" tegas Fela lebih bersemangat.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG