
"Aku juga tidak masalah, kalau Opa berkata seperti itu aku tidak keberatan toh aku dan Dokter Shyana juga sudah saling kenal. Kita tinggal bicara tentang hati. Bukankah begitu Shyan?" tanya Fael.
Seketika tangan Shyana keringatan. Apakah dia sedang bermimpi? Impiannya selama ini bisa terkabul dalam waktu sesingkat ini? Dokter Shyana tidak menduga sama sekali hal ini akan terjadi.
Hatinya berbunga - bunga, Fael pria yang selama ini sudah menguasai hatinya, pria yang dengan susah payah dia usir bayangannya dalam angan dan mimpi Shyana tiba - tiba tersenyum manis kepadanya dan mengatakan kalau dia tidak masalah di jodohkan dengan Dokter Shyana dan hanya tinggal bicara tentang hati? Ya Tuhaaaaan.... Ada rezeki besar ternyata di balik sakitnya Papa. Sorak hati Dokter Shyana.
"Haaa... aa.. aku gak tau. Terserah Papa dan Opa saja" jawab Dokter Shyana terbata - bata. Dia tidak tau harus berkata apa lagi. Kalau seandainya dia tidak punya rasa malu ingin sekali Dokter Shyana berkata sambil berteriak.
'Aku mau menikah dengan kamu Faeeeel'. Lagi - lagi hati Dokter Shyana berteriak dalam diam.
Tapi kenyataannya Dokter Shyana hanya bisa tertunduk malu dan tak berani menatap ataupun melirik ke arah Fael.
"Alhamdulillah Nugroho mereka berdua bersedia untuk saling mengenal lebih lanjut semoga hati mereka segera terpaut ya. Kami tunggu kabar gembira kalian selanjutnya. Kami sebagai orang tua akan mendukung apapun keputusan kalian selama itu untuk niat yang baik, bukan begitu Nugroho?" sambut Omar.
"Iya Pak" jawab Nugroho sambil tersenyum.
Ternyata keinginannya dan keinginan Pak Omar Barrakh juga sama. Sebelum hari ini dia sudah jatuh hati pada pemuda itu. Tapi menurut istrinya, putri mereka tidak punya kepercayaan diri untuk lebih dekat dengan Pria itu mengingat status keluarga mereka sangat jauh bedanya.
Tapi dengan terjadinya hal barusan membuat Nugroho mempunyai harapan dan keyakinan bahwa keluarga Barrakh dapat menerima putrinya apa adanya, bahkan mereka sudah sangat sekat dan sepertinya mereka juga sayang dengan Dokter Shyana.
Mama Dokter Shyana juga merasa lega tanpa di duga - duga kedatangan Opanya Fael membawa langkah cerah untuk masa depan putri mereka.
Bu Nugroho sangat tau sekali bagaimana perasaan putrinya saat ini. Pasti Shyana sangat senang sekali apa yang dia inginkan akhirnya sudah ada di depan mata.
Ibarat pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba. Semua atas izin Allah sehingga semua keinginan putrinya dapat tercapai.
Jasmine juga tak kalah senang melihat jalan cinta cucu pertamanya yang sudah terbuka lebar. Mudah - mudahan bisa segera terkabul. Jasmine dan Omar saling pandang. Misi mereka datang ke Rumah Sakit ini berjalan dengan lancar dengan hasil yang sangat memuaskan.
"Mudah - mudahan kunjungan kami ke rumah kalian nanti sudah beragendakan melamar Dokter Shyana ya" sindir Omar.
Dokter Shyana semakin tertunduk malu.
Aamiin... sambut Fael dan Dokter Shyana dalam hati.
Pak Nugroho tersenyum mendengarkan perkataan Opa Omar.
"Sepertinya Bapak ingin langkah yang cepat ya?" ujar Pak Nugroho.
"Tentu saja Nugroho, saya ini sudah tua. Pengennya sebelum menutup mata saya bisa melihat cucu - cucu saya menikah" jawab Omar.
"Umur memang boleh tua Pak tapi semangat Bapak masih sangat kuat" puji Nugroho.
"Hahaha... mungkin karena sering ngumpul bareng sama mereka - mereka ini yang masih muda" balas Omar.
__ADS_1
Omar melirik jam tangannya dan menatap istri tercintanya.
"Sudah hampir malam, kita pulang yank?" tanya Omar pada istrinya. Mereka masih tetap romantis walau usia sudah tidak muda lagi. Hal ini yang sering membuat Dokter Shyana iri melihat kemesraan pasutri tua itu.
"Iya Mas, kamu harus minum obat lagi untuk malam ini" sambut Jasmine mengingatkan.
"Lihatlah Nugroho, kalau sudah tua begini minum obat itu sudah seperti makan kacang saja. Tapi tetap di syukuri, Allah sudah banyak memberikan bonus umur kepada kami" ujar Omar.
"Iya Pak, Bapak hebat bisa sampai usia segini, kami belum tentu bisa seperti Bapak" puji Nugroho.
"Kami pamit ya, semoga kamu cepat sembuh biar kita bisa segera jadi keluarga" Omar melirik ke arah Dokter Shyana dan Fael.
"Aamiin.. Terimakasih atas kedatangannya Pak" balas Nugroho.
Omar dan Jasmine saling berjabat tangan dengan Pak Nugroho dan istrinya. Setelah itu mereka keluar dari ruangan Nugroho diantar Fael dan Dokter Shyana sampai ke mobil.
"Terimakasih ya Opa.. Oma.. sudah datang mengunjungi Papa saya" ujar Dokter Shyana.
"Iya Dokter Shyana. Eh jangan lupa pesan Opa tadi ya, kalian bicarakan saja dari hati ke hati mudah - mudahan cocok" goda Omar kepada Dokter Shyana.
Fael membantu Opanya masuk ke dalam mobil. Saat dia menuntun Omar masuk di sempatkan berbisik di telinga Omar.
"Terimakasih atas semuanya ya Opa" ujar Fael sambil tersenyum.
Omar mengangkat tangan kanannya dan membentuk isyarat OK ke arah Fael. Fael tersenyum melihat balasan Opanya itu.
"Kamu ada waktu gak, kita makan di luar yuk?" ajak Fael.
"Aku gak bawa tas Fael, balik ke kamar Papaku dulu ya" jawab Dokter Shyana.
"Kamu bawa Handphone?" tanya Fael.
"Bawa" balas Dokter Shyana cepat.
"Sudah.. itu saja sudah cukup. Hubungi Papa atau Mama kamu. Katakan pada mereka kamu aku ajak keluar sebentar" perintah Fael.
Dokter Shyana berpikir sejenak kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Mamanya.
"Assalamu'alaikum Ma" sapa Dokter Shyana lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam. Ya Naaa... " jawab Bu Nugroho.
"Ma aku keluar sebentar sama Fael ya. Nanti aku diantar dia lagi ke Rumah Sakit. Papa dan Mama makan saja duluan. Gak usah tunggu aku" ujar Dokter Shyana.
__ADS_1
"Iya sayang, hati - hati ya" balas Bu Nugroho.
"Iya Ma" sambung Dokter.
"Yuk kita pergi" ajak Fael.
Mereka berjalan menuju mobil Fael. Jantung Dokter Shyana saat ini sedang berdisko karena berada dalam situasi seperti ini. Ada rasa bahagia campur resah dan canggung pergi berduaan seperti ini dengan Fael.
Seperti mau pergi kencan saja. Batin Dokter Shyana malu.
Fael melajukan mobilnya menuju sebuah restoran yang terlihat sangat romantis. Fael memesan ruangan khusus untuk mereka berdua.
Waaaah beneran kencan ini. Teriak Dokter Shyana dalam hati.
Fael memesan menu terbaik Restoran ini untuk santapan malam mereka. Pelayan Restoran segera menyiapkan menu pilihan mereka. Kini hanya tinggal mereka berdua yang ada di dalam ruangan itu.
Dokter Shyana hanya diam karena merasa canggung. Apalagi Fael dari tadi menatapnya terus membuat Dokter Shyana semakin salah tingkah.
"Aku mau menyambung pembicaraan Opa tadi di Rumah Sakit" ujar Fael memulai kata membuat debaran jantung Dokter Shyana semakin tak karuan.
"Aku sudah mengenal kamu dengan sangat baik. Kamu pekerja keras, penyabar, mandiri, tekun, pintar dan yang terakhir cantik" puji Fael.
Dokter Shyana rasanya tak sanggup lagi bernafas.
"Bagiku tahap mengenal kamu itu sudah sangat cukup, aku yakin penilaian aku pada kamu tidak akan salah dan tidak akan pernah berubah. Aku tidak tau kapan rasa itu mulai hadir. Apakah saat pertama kita bertemu dalam tabrakan yang tak di sengaja, atau saat pertama kali kalah tanding catur dengan kamu atau saat bernyanyi, bermain dan memasak bareng kamu. Yang jelas kini aku sadar hatiku hampa bila jauh dengan kamu. Aku merasa ada yang hilang saat tak melihat kamu. Inginnya terus bersama kamu. Shyana Nugroho mau kah kamu menikah denganku?" Fael bangkit dari tempat duduknya dan mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya.
Bersamaan dengan itu lampu ruangan mati dan di dinding terlihat lampu kerlap kerlip dengan tulisan will you marry me?
Dokter Shyana menutup mulutnya karena terpana dengan hal romantis yang dilakukan Fael untuknya. Dokter Shyana tak kuasa menahan air mata yang menetes dari sudut matanya.
Fael terus menatap wajah Dokter Shyana dengan tatapan menuntut. Menuntut jawaban Dokter Shyana secepatnya.
"Shyan?" tanya Fael.
"Apakah kamu....?" desak Fael lagi.
"Ya aku mau Fael.. aku mau" jawab Dokter Shyana.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Guys... sudah lama tidak menyapa. Apa kabar kalian semua? Semoga semua sehat dan baik - baik saja ya. Selamat membaca dan jangan lupa like, koment dan kembangnya ya..
Terimakasih ππ