
Fael mendorong kursi roda Opanya ke arah taman Rumah Sakit, tempat dimana kemarin dia melihat Dokter Shyana membantu anak kecil belajar berjalan menggunakan tongkatnya.
Apakah Wanita ini selalu memberikan pelayanan gratis kepada para pasiennya? Tanya Fael dalam hati.
Mereka berhenti di bangku taman yang terletak di bawah pohon rindang.
"Kita berhenti di sini saja ya Opa?" tanya Dokter Shyana ramah.
"Okey" jawab Omar.
Fael berhenti mendorong kursi roda Opanya. Dokter Shyana meletakkan papan catur di atas meja taman. Kini dia duduk tepat di hadapan Omar. Dan mulai menyusun anak catur di atas papannya.
"Kita langsung main catur sekarang?" tanya Dokter Shyana tetap dengan senyuman ramahnya.
Fael melihat senyuman indah Dokter Shyana dan merasa penasaran.
Apakah dia tersenyum tulus seperti itu pada semua orang? Tapi mengapa padaku tidak? Apa dia tersenyum seperti itu hanya kepada pasiennya? Kemarin dia tersenyum dengan anak kecil, sekarang dia tersenyum juga dengan Opa? Batin Fael.
Omar dan Shyana mulai memainkan anak caturnya.
Gak nyangka ternyata walau profesinya Dokter tapi dia bisa bermain catur. Ucap Fael dalam hati.
Dokter Shyana terlihat sangat serius bermain catur dengan Opa Omar. Walau ini hanya permainan tapi dia tidak mau kalah. Karena kalau dia kalah dengan secepat itu pasti Opa Omar tidak akan semangat.
Sebaliknya kalau pertandingan catur mereka seimbang pasti Opa Omar akan penasaran dan betah bermain di taman. Ini bisa membuat fikiran Opa Omar lebih fresh dan berdampak baik untuk tekanan darahnya. Fikir Dokter Shyana.
Omar tersenyum dan memuji kecantikan dan kepintaran Dokter Shyana dalam hati.
Gadis ini pintar, ramah dan baik. Dia juga selalu ceria, hampir sama karakternya dengan Elfa. Cocok nih kalau seandainya dia bisa sama Fael. Biar cucuku yang dingin seperti kulkas ini bisa berubah jadi dispenser, panas dingin hahaha... Tawa Omar dalam hati.
Satu putaran berhasil di menangkan oleh Dokter Shyana, sudah pasti membuat Omar penasaran.
"Aku semakin sadar kalau aku sudah semakin tua. Kemarin aku kalah sama bule itu, sekarang aku kalah sama Dokter cantik ini. Mungkin otakku mulai mengkerut ya sehingga lupa trik - trik bermain catur yang jitu" komentar Omar.
"Ah itu karena Opa saja yang mengalah padaku. Ayo Opa keluarkan semua kekuatan Opa" jawab Dokter Shyana memberi semangat.
Fael memperhatikan Dokter muda yang ada di hadapan Opanya. Entah mengapa dia merasa ada magnet pada senyuman wanita ini.
Setiap dia senyum entah mengapa bibirku juga ikutan senyum. Apa senyumannya menular ya seperti penyakit? Batin Fael.
__ADS_1
Dari kejauhan Omar melihat Ethan berjalan menuju kamar ruang rawat inap Omar.
"Ethan Mohammed" panggil Omar.
Ethan yang merasa seperti mendengar suara seseorang memanggil namanya melirik ke kanan dan ke kiri.
"Hey The Ghost" panggil Omar lagi
Ethan melirik ke arah taman. Dan ternyata benar saja, dia melihat Omar sedang bersama Fael dan seorang dokter wanita duduk di taman Rumah Sakit.
Sepertinya mereka sedang ngobrol sambiiiilll.... main catur? Grandpa main catur sama dokter wanita itu? Mata Ethan mendelik tidak percaya.
Ethan segera berjalan menuju ke arah Omar berada.
"Hai Grandpa.. kalian sedang apa?" tanya Ethan ramah.
"Seperti yang kamu lihat" jawab Omar.
"Opa bermain catur dengan Dokter ini?" tanya Ethan penasaran.
"Yup" jawab Omar singkat.
"Dokter Shyana" Omar menunjuk ke arah Dokter tersebut.
"What's... Dokter ini yang menang? Waaah hebat kamu. Aku saja kemarin sempat kewalahan melawan Grandpa bermain catur" puji Ethan.
"Ternyata kepintarannya bukan di bidang medis saja, Grandpa juga tidak menyangka kalau dia juga pintar main catur" sambut Omar.
Ethan duduk di samping Fael.
"Hai Bro.. kamu gak kerja hari ini? Elfa mana?" Ethan melirik ke kanan dan ke kiri mencari sosok wanita yang menjadi pujaan hatinya.
"Elfa ke kantor, aku yang gantian jaga Opa hari ini" jawab Fael sudah tidak segalak sebelumnya karena nasehat Opanya tadi untuk mulai berteman dengan Ethan.
"Kalau kamu juga mau ke kantor hari ini gak apa - apa kok. Biar aku yang jaga Grandpa di Rumah Sakit. Aku bisa menjaganya" pinta Ethan tulus.
"Tidak perlu, Opa adalah Opaku jadi sudah menjadi tanggung jawabku juga menjaganya di sini" balas Fael.
"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Omar kepada Ethan.
__ADS_1
"Eh iya aku lupa. Tadi aku singgah ke Toko Roti Jasmine milik Grandma. Aku membeli beberapa kue khas makanan Indonesia. Dulu aku pernah juga beli di sana dan aku suka, makanya aku ke toko roti itu lagi membelinya dan membawanya ke sini" jawab Ethan.
"Ngapain kamu beli ke sana, kamu tinggal bilang sama grandma biar grandma buatkan untuk kamu" balas Omar.
"Kasihan grandma, dia kan sudah tua pasti membuat makanan seperti ini sangat melelahkan baginya" ujar Ethan.
Benarkah perhatiannya tulus seperti ini? Atau dia hanya ingin mencari muka dan simpatik aku dan Opa saja? Ah ... kata Opa aku tidak boleh berfikiran negatif. Ujar Fael dalam hati.
"Opa mau?" Ethan memberikan satu bungkusan untuk Omar. Satu bungkusan untuk Dokter Shyana, satu bungkusan untuk Fael dan satu bungkusan lagi untuk dia sendiri.
"Seperti sudah di rencanakan ya, mengapa pas banget aku belinya" gumam Ethan.
Mereka berbincang di taman sambil menikmati kue - kue yang di belikan Ethan tadi. Tiba - tiba Omar mempunyai ide brilliant yang baru saja terlintas dalam kepalanya.
"Duh.. tiba - tiba aku sakit perut. Ethan bisa kamu antar grandpa ke kamar?" pinta Omar.
"Kenapa Opa minta Ethan. Aku kan bisa membawa Opa ke kamar?" tanya Fael.
"Kalau kamu yang bawa Opa ke kamar kasihan Dokter Shyana dan bule ini tinggal berdua. Mereka kan belum saling kenal. Mending Opa sama Ethan saja dan kamu yang menggantikan Opa main catur dengan Dokter Shyana" jawab Omar.
"Kalau Opa mau kita bisa kok menghentikan permainan ini. Ini kan hanya permianan Opa, besok - besok bisa di sambung lagi" balas Dokter Shyana merasa sungkan.
"Santai aja Dokter, aku memang ingin berdua saja sama bule tengil ini ke kamar. Aku ingat masalah Dokter dengan cucuku kemarin pagi sepertinya belum selesai. Ada baiknya kalian selesaikan dulu masalahnya biar tidak ada yang mengganjal. Aku tidak suka kalau di hadapanku ada wajah kesal apalagi itu cucuku sendiri" Omar menyindir dan melirik ke arah Fael.
Fael menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo Ethan bantu Grandpa kembali ke kamar. Biar Fael yang melanjutkan permainan ini. Awas kalau sampai kalah, sekarang ini Opa sudah hampir menang" ancam Omar.
"Oke Grandpa" jawab Ethan.
Ethan segera berdiri dan mendorong kursi roda Omar menuju kamar rawat inapnya. Kini yang tinggal hanya Dokter Shyana dan Fael berdua di taman.
Fael mengambil posisi dan duduk tepat di hadapan Dokter Shyana. Untuk sesaat mereka saling pandang dan saling menikmati pemandangan indah di hadapan mereka.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1