CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
70


__ADS_3

"Guys... kita harus segera ke Rumah Sakit" ucap Fela dengan suara yang kuat karena musik yang masih mengalun.


Sontak Elfa menghentikan suara musik yang masih mengalun.


"Ada apa Kak, siapa yang sakit?" tanya Elfa dengan nada khawatir.


"Opa Omar, barusan Mama telepon katanya Opa jatuh di kamar dan sudah di bawa ke rumah sakit. Kita harus segera ke rumah sakit" perintah Fela.


Fael, Shaby dan yang lainnya juga langsung berdiri begitu mendengar perkataan Fela.


"Ada apa Elf?" tanya Ethan. Dia tidak mengerti apa yang barusan Fela katakan. Karena Fela mengatakannya dalam bahasa Indonesia.


Sepertinya aku memang harus segera belajar bahas Indonesia. Agar memudahkanku berkomunikasi dengan mereka. Tekad Ethan.


"Grandpaku sakit. Dia baru saja terjatuh di kamarnya dan dibawa ke rumah sakit" jawab Elfa.


"Kalau begitu ayo kita segera ke rumah sakit" ajak Ethan.


Anggota Gengs F3STER plus Ethan segera keluar dari ruangan karaoke mereka dan keluar dari gedung tersebut setelah membayar tagihannya.


Masing-masing masuk ke dalam mobil semula dan dengan komando dari Fael mereka berangkat menuju Rumah Sakit dimana Opa Omar Barrakh di rawat.


Untung saja lalu lintas tidak ramai, tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di Rumah Sakit.


Setibanya mereka di parkiran, mereka segera berlari menuju UGD. Disana sudah banyak menunggu para keluarga dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


Ada Jasmine, Kevin beserta istri, August beserta istri, Ela dan Fajar, Shakira adiknya Fajar dan suaminya.


"Bagaimana keadaan Opa Ma?" tanya Elfa sambil mengatur nafasnya karena baru selesai berlari.


"Opa kamu jatuh di kamar sayang, sekarang masih di periksa dokter di dalam" jawab Ela.


Fajar melihat Ethan datang bersama anak - anaknya.


"Ngapain pria ini ada di sini?" tanya Fajar dengan nada tidak suka.


"Mas.. jangan begitu. Ini Rumah Sakit, jangan buat keributan. Nanti di rumah kan bisa kita bicarakan" jawab Ela menenangkan.


Ethan yang tidak mengerti bahas Indonesia dia merasa bingung dan tidak tau apa yang sedang terjadi dan juga apa yang sedang mereka bicarakan.


"Iya tapi mengapa tiba - tiba dia bisa berada di sini bersama Elfa dan yang lainnya?" tanya Fajar.

__ADS_1


"Beberapa hari yang lalu dia menemuiku dan meminta izin untuk berteman dengan anak - anak kita. Aku yang mengizinkan untuk berteman dengan mereka" jawab Ela.


"Kamu mengizinkannya sayang?" tanya Fajar terkejut.


"Aku melihat dia tulus ingin berteman dengan putri kita Mas" Ela berusaha membujuk suaminya.


"Dia pasti punya maksud tertentu sayang mendekati putri kita" balas Fajar.


"Aku memberikannya sebuah tantangan, kalau dia bisa mengenali yang mana Fela dan Elfa maka dia boleh berteman dengan mereka. Ternyata dia bisa menebaknya Mas. Jadi aku harus penuhi janjiku. Hanya itu saja Mas, selanjutnya terserah anak - anak apakah mau berteman dengan dia. Dia juga harus bisa mengambil hati semuanya kan agar dia bisa diterima. Dan sepertinya dia mulai berhasil" ungkap Ela.


"Mereka hanya tidak tau kalau pria sombong ini mempunyai maksud lain" ujar Fajar.


"Maaas... anak - anak kita sudah besar, mereka sudah dewasa. Sudah bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk dan juga bisa mengetahui mana yang tulus ataupun tidak. Aku percaya pada putra dan putri kita Mas" jawab Ela meyakinkan.


"Kita lihat saja nanti. Kalau saja dia berbuat macam - macam pada keluargaku, akan aku kejar dia sampai ke ujung dunia" tegas Fajar.


"Sudah Mas.. Fokus saja sama kesehatan Papa" balas Elfa.


Tak lama dokter keluar dari UGD dan menemui mereka semua.


"Keluarganya Bapak Omar Barrakh?" tanya Dokter yang di dampingi seorang perawat.


"Bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Fajar.


"Bapak Omar hanya cidera di bagian kaki, sudah kami pasang gif di kakinya tapi selama beberapa minggu ini tidak boleh berjalan dulu Pak. Pakai kursi roda atau tongkat. Mengingat usia beliau, sebaiknya di rawat saja beberapa hari di sini. Untuk menjaga hal - hal yang tidak di inginkan" jawab Dokter tersebut.


"Baik dok, saya akan segera mengurus semua administrasinya. Terimakasih banyak" balas Fajar.


"Kalau begitu saya tinggal dulu ya Pak. Bapak Omar Barrakh sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap" perintah Dokter


"Baik" sambut Fajar.


Dokter kemudian pergi meninggalkan Fajar dan keluarganya.


"Bagaimana keadaan Papa Fa?" tanya Jasmine.


"Papa hanya cidera di kaki Ma dan sudah di gif kakinya tapi kata dokter beberapa hari ini menginap saja di rumah sakit" ungkap Fajar kepada Mamanya.


"Yuk kita antar Papa ke ruang rawat inap" sambung Fajar.


Omar Barrakh di dorong ke ruang super VVIP untuk rawat inap. Seluruh keluarga yang ada di sana ikut mengantarkannya sampai ke ruangannya.

__ADS_1


"Biar Elfa yang jaga Opa malam ini Pa" pinta Elfa.


Elfa adalah cucu kesayangan Omar Barrakh, dia yang paling dekat dengan Opanya itu.


"Biar Oma saja yang jaga" jawab Jasmine.


"Gak boleh, Oma kan sudah tua. Gak kuat lagi merawat orang yang sakit di rumah sakit. Oma pulang aja ya, biar Elfa yang jaga Opa di sini" tolak Elfa.


"Biar sayang.. biarkan Elfa yang menjagaku di sini" sambut Omar.


Ethan memperhatikan wajah Omar dan Jasmine. Membuatnya teringat sebuah foto yang ada di Toko Kue Jasmine di samping EIC Restoran.


Ternyata mereka ini para tetua Barrakh Corp. Dan sepertinya Elfa yang paling dekat dengan Mr. Omar Barrakh. Apakah aku harus mengambil hati Grandpanya Elfa saja agar aku mendapatkan restu semuanya? Batin Fajar.


Omar memperhatikan satu persatu keluarganya yang ada di ruangan itu. Dia merasa asing melihat seorang anak muda yang tidak dia kenal.


"Siapa anak muda ini?" tanya Omar kepada Fajar.


"Dia Ethan Mohammed dari London. Apakah Papa mengingatnya?" Jawab Fajar.


"Ethan Mohammed? Keluarga Mohammed pemilik Diamond Corp dari London?" tanya Omar.


"Iya Grandpa" jawab Ethan sigap.


"Grandpa?" tanya Omar.


"Anda kan Grandpanya Elfa berarti Grandpaku juga" ucap Ethan penuh percaya diri.


Omar melihat anak muda ini berdiri tepat di samping Elfa dan dia memperhatikan wajah Elfa. Tidak ada tanda - tanda sedang menahan rasa mual karena alerginya kumat. Omar tersenyum penuh makna.


Sepertinya antimonya cucuku sudah hadir di sini? Apakah dia pria yang bisa dipercaya? Aku akan cari tau dan mengujinya. Apakah dia pria yang bertanggung jawab dan pantas mendampingi cucuku? Batin Omar.


"Enak saja kamu memanggil Papaku Grandpa. Dia memang Granpanya Elfa tapi bukan Grandpanya kamu" potong Fajar kesal.


Waduuuh gawat sepertinya calon mertuaku tidak menyukaiku. Batin Ethan.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2