CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
62


__ADS_3

Ethan dan Jack kembali ke Barrakh Hotel. Karena selama mereka ada di Indonesia mereka menginap di Hotel tersebut.


Saat mereka hendak masuk ke Loby Hotel secara bersamaan Elfa juga datang dari arah yang berlawanan dengan mereka.


"Kamu naik saja duluan ke kamar. Ada yang harus aku lakukan" perintah Ethan sambil berbisik kepada Jack.


Jack yang melihat kehadiran Elfa yang semakin mendekati mereka mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.


"Baik, aku duluan ya" Jack mengambil langkah untuk melangkah meninggalkan Ethan dan Elfa di sini.


Elfa belum menyadari kehadiran Ethan di hadapannya karena dia sedang asik memainkan ponselnya sambil berjalan.


"Hai Nona sebaiknya saat berjalan jangan sambil bermain ponsel, nanti kau bisa jatuh" ucap Ethan menyapa Elfa.


Elfa menghentikan aktivitasnya ketika menyadari suara siap yang barusan menyapanya.


"Kamu lagi? Kamu mengikutiku ya?" tuduh Elfa.


"Kamu jangan berburuk sangka, aku menginap di Hotel ini" jawab Ethan.


"Ooh kalau begitu selamat menikmati liburan kamu. Maaf aku sedang sibuk" Elfa kembali berjalan hendak meninggalkan Ethan sendirian.


Ethan langsung mengejar Elfa dan mensejajarkan tubuhnya berjalan di samping Elfa.


"Apa kamu punya waktu nanti malam?" tanya Ethan.


"Tidak, aku sangat sibuk sampai larut malam" jawab Elfa cuek.


"Di Hotel ini?" tanya Ethan lagi.


"Apa peduli kamu" balas Elfa cuek.


"Ya jelas peduli donk karena itu adalah kamu. Apapun tentang kamu sangat mengusik hidupku" tegas Ethan.


"Maaf ya aku tidak pernah mengusik hidup kamu, bukan malah sebaliknya kamu yang sudah mengusik hidupku yang tenang ini" protes Elfa.


"Kehadiran kamu tidak bisa aku abaikan lagi di hatiku. Kamu berhasil memaksa masuk kedalam hatiku lebih dalam lagi" jawab Ethan.


"Itu masalah kamu. Jangan salahkan aku atas tuduhan kamu itu. Salah kamu sendiri kamu tidak bisa membentengi dan menjaga hati kamu" ujar Elfa.


"Andai hati punya gembok, sudah aku kunci lebih dahulu tapi sayangnya nama kamu malah sudah terkunci di dalam hatiku" goda Ethan.


"Palsu... kamu jangan coba - coba menipuku. Kali ini aku tidak akan kalah dalam permainan kamu" balas Elfa.


Elfa berjalan masuk ke dalam lift, Ethan langsung bergerak cepat menyusulnya. Kini mereka berada di lift berdua.


"Kamu ngapain sih ngikutin aku terus?" Tanya Elfa kesal.

__ADS_1


"Aku cuma ingin berteman dengan kamu" jawab Ethan.


"Cih.. " gumam Elfa pelan.


"Bagaimana?" desak Ethan.


"Bagaimana apanya?" tanya Elfa.


"Kamu mau kan berteman denganku?" tanya Ethan.


"Tergantung" jawab Elfa.


"Tergantung apanya?" tanya Ethan lagi.


"Kalau kamu memaksa aku, aku tidak mau" balas Elfa.


"Aku janji, aku tidak akan pernah memaksa kamu lagi. Kita murni berteman tidak ada lagi dendam diantara kita" ikrar Ethan tulus.


"Baiklah, kalau begitu sudah selesai kan?" tanya Elfa.


"Belum" jawab Ethan tersenyum.


"Kalau kita sudah berteman kamu tidak boleh menolak kehadiranku lagi. Dan maukah kamu aku ajak besok untuk menemaniku berkeliling untuk wisata kuliner di Indonesia?" ajak Ethan.


"Maaf, aku sibuk" tolak Elfa.


"Emang, apalagi orang yang pernah menyandang status mantan musuh dan mantan majikan. Eh salah bukan.. bukan... tepatnya mantan penjajah" balas Elfa.


"Hey... aku minta maaf akan hal itu. Saat itu jujur aku akui aku memang masih dendam pada kamu tapi sekarang kan berbeda" bela Ethan.


"Tetap sama saja. Kamu tetaplah pria sombong yang ingin sekali aku tonjok persis seperti kejadian tujuh belas tahun yang lalu" jawab Elfa kesal.


"Kalau itu bisa membuat kamu tidak kesal dan marah lagi kepadaku aku siap" Ethan berdiri dengan tenang di hadapan Elfa. Bersiap untuk di pukul Elfa tanpa perlawanan.


Tiba-tiba...


Ting....


Pintu lift terbuka.


"Awas aku mau keluar" perintah Elfa karena Ethan berdiri menutupi pintu keluar lift.


Ethan menahan pintu itu tetap terbuka.


"Kamu harus jawab dulu permintaan aku. Kita berteman?" Ethan mengacungkan jadi jentiknya ke arah Elfa.


Elfa menatap wajah pria sombong itu, ada ketulusan dari tatap matanya.

__ADS_1


"Baiklah, berteman" Elfa menyambut tangan Ethan dan mengaitkan jari jentiknya ke jari Ethan.


"Terimakasih Elfa, sampi ketemu lagi di lain waktu.. temaaaan... " Ethan memberikan celah agar Elfa bisa keluar dari dalam lift.


Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Elfa untuk pergi menjauh dari Ethan. Sementara Ethan melanjutkan perjalanannya sampai ke lantai paling atas, letak kamarnya dan Jack di Hotel milik keluarga Elfa ini.


Ting.... Lift berhenti di lantai paling atas. Begitu pintu Lift terbuka langsung berhadapan dengan pintu masuk ke kamar Ethan.


Ethan membuka kamarnya dan melihat Jack sedang berenang. Negara ini memang sangat bersahabat iklimnya. Kalau tidak hujan, setiap hari bisa berenang kapanpun kita mau.


Ethan berjalan menyamperi Jack. Dan duduk di kursi santai di pinggir kolam renang. Jack menyadari kehadiran Ethan. Dia segera menepi di dekat Ethan.


"Bagaimana, berhasil?" tanya Jack penasaran.


"Apa pernah Ethan gagal?" jawab Ethan sombong.


"Cih... sifat sombong kamu belum hilang juga? Aku yakin kali ini tidak semudah masalah yang bisa kamu selesaikan dengan cepat. Entah mengapa aku kasihan melihat Daddy" ujar Jack.


"Apa hubungannya dengan Daddy?" tanya Ethan bingung.


"Aku kasihan melihatnya kembali bekerja dan aku rasa kali ini dia akan lama kembali bekerja di kantor. Karena urusanmu di sini tidak akan selesai dengan cepat. Aku melihat Elfa bukanlah wanita yang mudah di dekati oleh pria. Karena aku perhatikan sejak di London ataupun di Indonesia dia tidak pernah berdekatan dengan pria" ujar Jack.


Ethan mencoba mengingat - ingat.


"Dia hanya jual mahal saja. Dan aku suka wanita seperti itu. Membuat aku semakin semangat. Lagi pula itu artinya memang dia bukan wanita biasa. Seorang Ethan Muhammed tidak akan memilih wanita biasa. Istrinya haruslah wanita yang sangat luar biasa" ucap Ethan bangga.


Jack memercikkan air kolam renang ke arah Ethan.


"Banyak gaya kamu. Aku jadi penasaran melihat perjuangan kamu untuk mendapatkan hati wanita itu. Hati - hati bro nanti kamu patah hati. Jangan marah ya kalau aku ketawain kamu saat kamu menangis karena cinta kamu di tolak" ejek Jack.


"Itu tidak akan pernah terjadi, lihat saja. Kamu dengar ucapanku ini" tegas Ethan dengan penuh percaya diri.


"Tapi selama di Indonesia aku kok gak pernah melihat Celine ya? Dimana dia?" tanya Jack penasaran.


"Kangen bro? usaha donk" ejek Ethan.


"Kangen juga sih, tapi kamu tenang saja. Aku akan tetap pegang janjiku pada kamu. Aku akan memikirkan hidupku dan masa depanku setelah kamu menikah dan bahagia" tegas Jack.


"Bagus kalau kamu menyadarinya. Jadi, kalau kamu ingin cepat memikat Celine bantu aku meraih masa depanku. Jangan sampai Celine di sambar orang baru gigit jari" ejek Ethan.


"Dasaaaaaar...... " umpat Jack kesal.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2