
"Aku akan minta Diamond Corp berpusat di Indonesia saja setelah kita menikah" ungkap Ethan.
"Apaaaaa????" Elfa terkejut tak percaya
"Kenapa Elf, kamu tidak percaya aku bisa melakukannya?" tanya Ethan balik.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan Than?" Elfa merasa tidak enak.
"Kita kan bisa mengambil langkah hubungan jarak jauh atau LDR" sambut Elfa.
"Aku gak mau hubungan yang seperti itu. Apa gunanya menikah tapi hidupnya terpisah. Di London atau Indonesia sama saja. Aku tetap bisa menjalankan usaha keluargaku. Lagian aku sudah mulai mencintai Indonesia. Aku sudah betah tinggal di sini dan sudah mulai terbiasa dengan suasana di sini. Aku juga sudah lancar berbahasa Indonesia" ungkap Ethan.
"Tapi bagaimana dengan Mr dan Mrs. Mohammed?" tanya Elfa.
"Mommy dan Daddy Elf" ucap Ethan mengingatkan.
"Eh iya Mommy dan Daddy bagaimana?" ulang Elfa.
"Mereka pasti akan mengerti, asalkan aku bahagia. Lagian sekarang sudah serba canggih kok. Kalau rindu bisa telepon, video call atau langsung datang ke Indonesia. Atau kita yang datang ke sana mengunjungi mereka. Bukankah dulu kamu juga seperti itu waktu kuliah di London?" tanya Ethan.
"Iya tapi kamu melakukan semua itu.. meninggalkan keluarga dan hidup kamu di sana demi... " ujar Elfa.
"Demi kamu... tak mengapa Elfa semua demi kamu. Mereka tau tujuh belas tahun ini aku lalui dengan mencari kamu, kini setelah aku menemukan kamu mereka pasti mengerti kalau aku tak bisa hidup tanpa kamu" tegas Ethan.
"Apakah kamu sudah yakin dengan keputusan kamu ini?" tanya Elfa.
"Yakin.. aku sangat yakin" ucap Ethan lantang.
Elfa menarik nafasnya panjang.
Dia tidak tau apakah dia harus bahagia atau bersedih dengan perkataan Ethan barusan. Dia merasa Ethan terlalu banyak berkorban demi dirinya. Setelah apa yang Ethan lalui, bahkan hampir kehilangan nyawanya saja sudah Ethan lakukan demi menyelamatkan Elfa di Tebing Kraton.
"Jangan putuskan sekarang Than, lebih baik kamu fikirkan lagi" pinta Elfa masih belum lega dengan keputusan Ethan.
"Tidak ada kata nanti, untuk apa aku memikirkannya lagi toh jawabannya pasti akan sama. Sekarang atau nanti aku tidak akan merubah keputusanku" ujar Ethan meyakinkan.
"Tapi ini terlalu besar dan aku belum bisa menerimanya. Hidup kamu, keluarga kamu dan dunia kamu itu disana" gumam Elfa.
"Ya kamu benar Elfa. tapi itu dulu. Sekarang dan untuk masa depan kamu lah hidupku, duniaku dan kelak kita akan membangun keluarga kecil kita di sini" tegas Ethan.
Elfa meneteskan air mata haru, dia tidak percaya rasa cinta Ethan kepadanya sangat besar.
Ethan menarik tangan Elfa dan menggenggamnya.
"Kamu belum yakin kalau aku begitu mencintai kamu?" tanya Ethan sambil menatap Elfa dengan lekat.
"Aa.. aku yakin. Hanya saja aku tidak mau kamu kehilangan jati diri kamu dan berubah sejauh ini demi aku" jawab Elfa sambil terisak.
__ADS_1
Ethan tersenyum menatap Elfa.
"Justru kamu yang membuat aku menemukan jati diriku. Kamu tau sebelum ada kamu aku hanya memiliki teman Jack. Hanya Jack teman aku selebihnya duniaku hanya dunia bisnis dan bisnis. Bersama kamu aku mendapatkan banyak teman, aku memiliki banyak saudara dan aku mengerti apa artinya persahabatan dan keakraban berkeluarga. Dulu aku pria yang dingin Elf, aku pendiam dan suka menyendiri tapi kini kamu yang membuat aku berubah. Hidupku kini penuh warna. Kamu mengajarkan aku kehangatan, mengajarkan aku cara berkomunikasi dengan orang banyak dan sekarang aku lebih benci sendiri. Aku lebih suka keramaian sekarang. Bantu aku Elf, bantu aku menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku ingin menjalani hidup yang penuh warna dengan kamu. Dengan anak - anak kita nanti" ungkap Ethan.
Tangisan Elfa semakin deras mendengar perkataan Ethan barusan.
"Kamu mau kan menemaniku menjalani semua itu bersama?" tanya Ethan.
Elfa menganggukkan wajahnya.
"Aku mau.. aku mau Than" jawab Elfa.
Ela dan Fajar yang masih berada tak jauh dari mereka saling berpelukan mendengar semua permbicaraan putri mereka.
"Sekarang aku semakin yakin kalau Ethan memang benar - benar mencintai putri kita" ujar Fajar.
"Aku sudah meyakininya Mas sejak dia menemuiku untuk mengungkapkan isi hatinya. Saat itu aku melihat dia benar-benar menyukai putri kita makanya aku memberi izin dia untuk mendekati Elfa. Tatap matanya persis seperti mata kamu saat kamu meyakinkan aku bahwa aku adalah wanita yang sudah lama kamu cari - cari Mas. Mata seorang yang sudah mendapatkan cintanya" ujar Ela.
"Aku lega sekarang dan ikhlas melepas putri bungsu kita menikah. Ethan adalah pria yang tepat, aku harap dia bisa membahagiakan putri kita" sambut Fajar.
"Amiin... Ya sudah Mas, sekarang kita bisa tidur dengan tenang kan? Yuk kita ke kamar. Aku sudah ngantuk" ajak Ela.
"Ayo sayang.. aku juga sudah ngantuk. Lega rasanya sudah melihat mereka saling mencintai seperti itu. Aku sudah bisa dengan tenang melepas mereka menikah. Bagaimana kalau kita buat sebuah kejutan untuk mereka?" ucap Fajar.
"Kejutan? Apa itu Mas?" tanya Ela.
Fajar segera membisikkan suatu ide kepada istrinya.
"Ya sudah ayo kita ke kamar, malam semakin larut kita gak jadi - jadi ke kamar" ajak Fajar.
"Habis Mas yang ngajak aku ngobrol terus" balas Ela.
Fajar merangkul mesra istrinya dan mengajaknya berjalan ke kamar mereka.
ceklek....
Elfa melompat terkejut mendengar ada suara dari arah depan.
"Suara apa itu?" tanya Elfa.
"Suara? Aku tidak mendengar suara apapun" jawab Ethan.
"Aku mendengarnya tadi jelas sekali" ucap Elfa yakin.
"Tapi aku tidak mendengar apa - apa sayaaaaang" sambut Ethan.
"Ethaaaaaan... " panggil Elfa.
__ADS_1
"Ya sayaaaaaang... " goda Ethan.
"Ih kamu lebay ah.. aku geli ah dengar kamu bilang sayang" protes Elfa.
"Geli.. geli.. mau kan sayaaaang" goda Ethan lagi.
"Ethaaaan" Elfa memukul lengan Ethan.
"Aaaw.. sakit sayang. Belum nikah kamu udah KDRT duluan" protes Ethan.
"Berhenti memanggilku sayang. Nanti saja kalau sudah halal" ujar Elfa.
"Ah katanya kamu pengen di lamar yang romantis - romantis tapi di panggil sayang aja kamu geli. Gak romantis ah kamu" Ethan pura - pura ngambek.
"Habis kamu kan biasanya sombong, dingin dan lebih banyak diam tiba - tiba ngomong gitu rasanya telingaku gatel mendengarnya" jawab Elfa.
"Aku kan udah bucin sama kamu" ujar Ethan.
"Hahaha.. bule udah tau aja artinya bucin" tawa Elfa.
"Tau donk, kan aku udah banyak diajari Fathir istilah - istilah dalam bahas Indonesia" ungkap Ethan.
"Kamu dapat guru yang gak bener jadinya ya gak bener. Awas nanti si Fathir aku getok kepalanya pakai sutil dapur" ancam Elfa.
"Apa itu sutil dapur?" tanya Ethan bingung.
"Sejenis makanan ringan" jawab Elfa asal.
"Ooo.. enak donk" sambut Ethan polos.
"Hahahaha... " tawa Elfa.
"Dari tawa kamu saja sudah mencurigakan. Aku gak yakin itu adalah makanan" ujar Ethan.
"Udah ah yuk kita tidur, udah malam. Nanti ada setan lagi iih serem" ajak Elfa.
"Ya sudah kita bobok ya sekarang" sambut Ethan.
"Kamu ke kamar duluan gih baru aku naik setelah kamu masuk ke kamar" perintah Elfa.
"Goodnight sweet heart.. happy nice dream" ujar Ethan.
Elfa tersenyum memandang kepergian Ethan dari dapur. Ethan menjalankan kursi rodanya sampai ke pintu kamarnya. Setelah Ethan berlalu baru Elfa naik dan masuk ke kamarnya.
Aaaah... malam yang indah. Gumam Elfa dan Ethan di kamarnya masing-masing.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG