CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
119


__ADS_3

"Saya dinas di luar lagi Pak? Dan kali ini di rumah Bapak Fajar Barrakh?" tanya Dokter Shyana tak percaya.


"Ya kamu akan merawat Bapak Ethan Mohammed. Pasien yang terjatuh di Tebing Kraton Bandung kemarin. Dan bukanlah saat itu kamu juga sedang bersama mereka.


" Iya saya memang ada dilokasi kejadian. Tapi mengapa harus saya lagi Pak?" tanya Dokter Shyana.


"Kamu adalah calon satu - satunya dan yang terbaik. Kamu sudah berpengalaman dengan keluarga itu, kamu sudah di kenal dan di terima di keluarga Barrakh disamping itu juga kamu memang spesialis Ortopedi jadi tidak ada lagi alasan kamu untuk menolaknya" tegas Direktur.


"Kapan saya mulai bertugas Pak?" hanya Dokter Shyana.


"Besok pagi. Hari ini kamu bisa pulang ke rumah dan berlibur. Sekalian lepas kangen dengan keluarga kamu. Besok pagi akan ada utusan keluarga Barrakh yang akan menjemput kamu di Rumah Sakit ini" perintah Direktur.


"Kalau saya menolaknya Pak?" tanya Dokter Shyana.


"Sayang sekali Dokter Shyana kamu akan di pecat dengan tidak hormat dan tidak mendapatkan rekomendasi di Rumah Sakit manapun" jawab Direktur.


Dokter Shyana menelan salivanya.


Sial kerjaan siapa ini? Mengapa aku tidak bisa lepas dari keluarga itu. Walaupun mereka sangat baik tapi akan sangat berbahaya kalau aku terlalu lama ada di dalamnya. Aku tidak akan pernah bisa melupakan pria itu dalam hidupku. Apa yang harus aku lakukan Tuhaaan... mengapa nasibku harus sekejam ini? Teriak Dokter Shyana dalam hati.


Dokter Shyana menarik nafas panjang.


"Baiklah Pak kalau begitu izinkan saya pamit pulang dan besok saya akan kembali ke Rumah Sakit ini" jawab Dokter Shyana.


"Saya anggap itu adalah keputusan dari kamu menerima penawaran ini. Mereka pemilik saham terbesar di Rumah Sakit ini Dokter Shyana kita tidak bisa menolak permintaan keluarga Barrakh. Lagian kamu punya peluang yang besar untuk maju. Siapa tau mereka akan merekomendasikan kamu sehingga kamu bisa mengikuti pelatihan atau pendidikan yang lebih tinggi. Bersabarlah dan yakin akan ada hikmah dibalik sebuah perjuangan" nasehat Sang Direktur.


"Iya Pak, terimakasih. Saya pamit undur diri dulu" ujar Dokter Shyana.


Dokter Shyana keluar dari ruang Direktur dan kembali ke ruangannya untuk mengambil kopernya kemudian dia memesan mobile online untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Sesampainya di rumah Dokter Shyana disambut oleh kedua orang tuanya. Ketepatan hari itu Papa Dokter Shyana sedang mengambil cuti jadi ada di rumah. Beruntung sekali hari ini dia bisa bertemu keduanya dan berkumpul kembali walau hanya satu hari karena besok dia akan kembali bertugas.

__ADS_1


"Kamu sudah selesai dinasnya nak?" tanya Papa Dokter Shyana.


"Sudah Pa, hari ini aku libur. Tapi besok aku akan bertugas lagi dan tak tau sampai berapa lama" jawab Dokter Shyana tak semangat.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Papa Dokter Shyana penasaran.


"Karena cidera pasien kali ini lebih berat dari pada pasien sebelumnya. Tapi syukurnya dia masih muda. Aku harap itu akan mempermudah dia sembuh dengan cepat" jawab Dokter Shyana.


"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja di kamar nikmati hari libur kamu" perintah Papanya.


"Aku tidak capek Pa, tugas aku sebenarnya tidak berat di sana. Aku hanya memantau dan memeriksa kesehatan pasien selebihnya dia punya banyak pelayanan di rumahnya. Pasien ku kemarin adalah dari keluarga kaya tapi mereka sangat baik menganggap aku sebagai keluarganya" ungkap Dokter Shyana.


"Kamu beruntung sekali sayang berkerja di sana" sambut Mama Dokter Shyana.


"Iya Ma, dan besok aku akan bekerja di rumah anak dari orang kaya tersebut" jawab Dokter Shyana.


"Kalau begitu mengapa kamu terlihat tidak senang?" tanya Dokter Shyana.


"Apakah dia jahat pada kamu?" tanya Mamanya.


"Tidak Ma, dia tidak jahat hanya saja aku tidak suka berada dekat dengannya. Makanya aku tidak mau kesana lagi. Tapi ya sudahlah ini kan tugas jadi sudah menjadi tanggung jawabku untuk tetap menjalaninya walau apapun yang terjadi" jawab Dokter Shyana.


Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kedua orang tuanya melihat sepertinya masalah anaknya sedikit berat.


"Ayo ambil papan catur, lebih baik kita bermain catur untuk mengurangi beban pikiran kamu" ajak Papa Dokter Shyana.


"Ah iya aku sudah lama tidak bermain catur dengan Papa. Sebentar ya Pa, aku ambil papan catur nya" Dokter Shyana setengah berlari ke arah lemari untuk mengambil papan catur kemudian membawanya kembali ke hadapan Papanya.


Mereka mulai bermain catur dengan sangat serius. Inilah hal yang paling dia rindukan saat pulang di rumah. Bermain catur dengan Papanya dan tak lama kemudian Mamanya akan membawakan cemilan untuk mereka berdua.


Tepat seperti yang Dokter Shyana bayangkan. Mamanya datang membawa kripik ubi untuk camilan kali ini dan segelas teh susu panas.

__ADS_1


Dokter Shyana langsung menyeruput susu itu.


"Sruuuup aaaaah... Teh susu Mama memang yang terbaik" puji Dokter Shyana.


"Halaaah bohong kamu. Kamu baru pulang dari rumah orang kaya pasti lebih banyak makanan dan minuman enak yang kamu cicipi dari sekedar teh susu Mama ini" jawab Mama Dokter Shyana.


"Bagi seorang anak masakan Ibunyalah yang puaaaaling enak karena dibuat dengan bumbu kasih sayang dan juga doa" jawab Dokter Shyana bijak.


"Sepertinya kamu sudah beralih profesi menjadi seorang ustadzah" goda Papa Dokter Shyana.


Mereka tertawa bersama mendengar candaan Papa Dokter Shyana. Setelah seharian bercengkrama dengan kedua orang tuanya dan melepas rindu malamnya Dokter Shyana kembali memeriksa isi kopernya. Memastikan apakah ada yang kurang untuk dia bawa ke rumah Fajar Barrakh. Setelah selesai memeriksa semuanya Dokter Shyana berbaring di atas tempat tidur untuk beristirahat.


Dia berbaring telentang sambil memandang langit - langit kamarnya. Dokter Shyana kembali mengingat awal pertemuan dia dengan Fael. Awal yang mengesalkan karena selisih paham.


Tanpa sengaja dia yang pagi itu datang terlambat ke Rumah Sakit menabrak Fael dan dia marah. Wajah Fael terlihat dingin dan sangat kejam. Sekilas Dokter Shyana merasa takut tapi karena dia terburu - buru akhirnya dia meninggalkan Fael begitu saja.


Waktu berganti waktu dia bertemu Fael kedua kalinya, wajah pria itu masih tetap dingin kemudian pertemuan ke tiga mereka sudah bertanding catur dan dia berhasil mengalahkan Fael membuat wajah Fael semakin kesal kepadanya.


Tapi lama kelamaan setelah mereka sering bertemu dan mengenal lebih dalam sifat Fael ternyata dia pria yang baik dan hangat. Dia sangat bertanggung jawab dan menyayangi kedua adiknya.


Saat di Tebing Kraton kemarin sangat terlihat sekali dia menjaga Fela dan Elfa adik - adiknya. Dokter Shyana semakin merasa jatuh hati pada sosok Fael.


Dokter Shyana meraba jantungnya ada yang nyeri di sana, seolah - olah memberi peringatan kepada hatinya kalau dia punya batasan. Cukup berhenti pada tempatnya sekarang dan menjaga jarak.


Tapi bagaimana caranya? Apalagi besok dia akan tinggal di rumah Fael otomatis setiap hari dia akan bertemu dan melihat wajah Fael. Bisakah dia menjaga hatinya untuk tidak jatuh lebih dalam lagi pada perasaan cinta?


Dokter Shyana memejamkan matanya mencoba beristirahat untuk mengisi full tenaganya besok. Dia harus punya stamina yang kuat untuk bertarung dengan hatinya sendiri melawan gejolak hatinya yang memimpikan untuk memiliki Fael.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2