CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
76


__ADS_3

"Mungkin Fael tertarik pada pandangan pertama kali" goda Omar.


"Opa jangan berfikiran macam - macam ah. Mana ada cinta pada pandangan pertama? Kalau kalian melihat bagaimana tadi aku bertabrakan dengannya, ih kacau banget deh. Wajahnya acak - acakan. Jilbabnya belum rapi, wajahnya masih polos belum bermake-up dan pakaiannya juga masih amburadul" jawab Fael.


Jasmine tersenyum melihat cucunya ini.


"Kamu ini persis banget seperti Opa dan Papa kamu waktu pertama kali bertemu jodohnya" sambut Jasmine.


"Maksud Oma?" tanya Fael.


"Opa dulu waktu ketemu sama Oma pertama kali juga cuek banget tapi butuh. Dia butuh istri tapi jual mahal untuk ngajak Oma nikah. Ya gitu deh pakai siasat buruk sama Oma agar Oma mau menikah dengan dia. Papa kamu lebih parah, awalnya malah bermusuhan dengan Mama kamu. Dia menolak mentah - mentah ketika Opa mengatakan kalau Mama kamu adalah antimonya. Eh dia malah ngotot mengejar Princess yang ternyata adalah Mama kamu. Begitu dia tau kalau Mama kamu itu adalah Princess langsung deh Papa kamu bucin" ungkap Jasmine.


"Ah kamu buka kartu aja yank, aku kan malu kamu ceritain kenangan masa lalu kita pada cucu - cucu kita ini" sambut Omar.


"Sekarang kan sudah menjadi kenangan indah Mas. Dulu dan sekarang beda Fael. Sekarang kamu boleh membenci Dokter cantik tadi tapi kedepannya siapa tau. Bisa jadi malah terjadi sebaliknya. Jangan kamu nilai dia dari kulit luarnya dan jangan komentar apapun kalau kamu belum mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Semakin dalam kamu membencinya biasa jadi sedalam itu juga kamu menyukainya" nasehat Jasmine.


"Tuh kak Fael, dengar tuh nasehat Oma" sambut Elfa.


Tiba - tiba Ethan datang memotong pembicaraan mereka.


"Maaf apakah kalian sedang membicarakan aku?" tanya Ethan dengan wajah polos.


"Heh The Ghost, jadi orang kok kepo banget sih. Makanya secepatnya kamu belajar bahasa Indonesia biar kamu gak suudzhon pada kami. Gak ada faedahnya ceritain kamu tauuuk" jawab Elfa.


"Baru aja kamu suruh aku dengerin nasehat Oma. Kamu sendiri juga sama Elf" sindir Fael.


"Hahaha... kalian memang cucu - cucuku" sambut Omar sambil tertawa lucu.


"Iya sombongnya tujuh turunan. Harga diri terlalu tinggi dan sok jual mahal" sambung Jasmine.


"Kamu benar sekali yank hahaha" balas Omar.


Ethan semakin bingung melihat mereka tertawa.


Apakah mereka sedang mentertawakanku? Ethan bingung.

__ADS_1


"Udah ah aku mau ke kantor dulu, sudah telat dari tadi gara - gara Dokter gila itu" ucap Fael.


"Kalau gila dia gak akan jadi Dokter Fael" balas Omar.


"Pokoknya Opa hati - hati sepertinya dia bukan Dokter Tulang tapi Dokter Jiwa. Ikutan gila gara - gara kebanyakan ngurusin pasien gila" ujar Fael.


Fael mencium tangan Omanya kemudian tangan Opa dan pamit pergi.


"Hey bule songong... awas kamu kalau macam - macam sama adikku ya" ancam Fael sambil berlalu pergi.


Ethan menaikkan kedua bahunya, dia bingung apa yang baru saja Fael katakan dalam bahasa Indonesia.


Sepertinya aku harus bawa penerjemah nih setiap hari. Batin Ethan.


"Sepertinya Kak Fael kesambet hantu Rumah Sakit Opa. Kok pagi - pagi udah ngeselin ya" ucap Elfa.


"Mungkin lagi datang bulan" sambut Omar.


"Hahaha... iya.. iya.. gw suka gaya lo" Elfa tertawa bersama Opanya Omar.


"Yank kamu bawa papan catur yang aku pesan kemarin?" tanya Omar.


"Bawa Mas" jawab Jasmine.


"Coba bawa ke sini. Aku mau ajak bule gendeng satu itu main catur. Apakah dia sepintar Elfa" ucap Omar.


"Aku rasa dia tidak pintar main catur Opa" jawab Elfa.


"Hey anak muda, kamu bisa main catur?" tanya Omar kepada Ethan.


"Bisa Opa tapi aku tidak pintar" jawab Ethan sopan.


"Kalau begitu mendekatlah. Mari kita main catur" ajak Omar.


Ethan segera berjalan mendekati Omar yang sedang duduk di atas tempat tidur.

__ADS_1


Mereka mulai menyusun anak catur di atas papahnya dan mulai bermain.


Sedangkan Fael sudah di luar berjalan menuju parkir mobilnya. Tak jauh dari kamar Opanya di rawat tanpa sengaja dia melihat wanita yang tadi menabraknya sedang duduk di taman dengan seorang anak cacat yang memakai tongkat di bahunya.


Tampak mereka sedang berbincang dan tertawa. Sepertinya pembicaraan mereka sangat menarik dan lucu. Terlihat dari lebarnya senyuman anak yang sedang bersama Dokter yang bernama Shyana itu.


Cih bisa juga dia menghibur orang, aku kira kerjanya cuma bisa membuat keributan dan kegaduhan saja. Tunggu dulu... saat seperti itu mengapa dia terlihat sangat cantik ya.


Oh tidak.. tidak.. bahaya. Jangan sampai Oma dan Opa melihat ini, apalagi Elfa. Bisa hancur harga diriku di injak - injak sama mereka.


Fael masih memperhatikan Dokter muda tadi. Dia terlihat sedang membantu anak kecil itu berdiri dengan menggunakan tongkatnya. Dengan penuh kesabaran Dokter Shyana menghibur dan memberikan semangat pada anak kecil itu agar dia mau belajar berjalan dan tidak putus asa.


"Ayo Willy mulailah berlatih berjalan. Kamu pasti bisa. Rasa sakitnya hanya di awal saja. Nanti kalau kamu sudah terbiasa tidak akan terasa begitu menyakitkan dan berat. Percaya padaku" ucap Shyana meyakinkan.


Anak yang bernama Willy itu perlahan - lahan dilepas Shyana agar dia bisa mulai berjalan sendiri. Awalnya dia memang sangat takut. Tapi lama kelamaan kakinya mulai terbiasa.


Kini di wajahnya sudah terbit senyum manis. Fael tanpa sadar juga ikut tersenyum dengan keberhasilan anak kecil itu belajar berjalan.


Tanpa sadar Shyana menatap ke arah Fael berdiri dan terdiam. Mereka saling menatap dan mengunci dalam beberapa saat.


Ngapain pemuda galak itu tersenyum padaku. Apa dia ingin meminta maaf atas kesombongannya? Ah tidak mungkin, aku tidak mau terlihat terlalu senang. Aku rasa dia bukan tipe pria yang seperti itu.


Anak orang kaya punya harga diri yang tinggi. Dia pasti malu untuk meminta maaf padaku atas kata - katanya tadi di kamar VIP.


Fael juga tersadar kalau mereka saat ini sedang saling menatap. Tiba - tiba dia jadi salah tingkah karena ketahuan tersenyum ke arah Dokter Shyana dan anak kecil yang sedang bersamanya.


Fael segera melangkahkan kakinya kembali menuju parkir mobilnya. Meninggalkan Shyana yang terus menatap kepergian Fael sampai jauh.


Tuh bener kan pria galak itu langsung pergi begitu aku menangkap basah dia sedang tersenyum ke arahku. Dasar pria yang aneh. Batin Dokter Shyana.


Fael sudah sampai di mobilnya dia segera masuk dan menyalakan mobil kemudian melaju menuju kantornya di ADS Corp.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2