CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
122


__ADS_3

Fael dan Dokter Shyana bersiap - siap hendak pergi ke Rumah Sakit tempat Papanya Dokter Shyana di rawat. Mereka pergi dengan mengendarai mobil Fael. Saat mereka hendak pergi, mobil Elfa masuk ke dalam garasi mobil.


"Kakak mau kemana, kok terburu - buru gitu?" tanya Elfa.


Dokter Shyana keluar dari mobil dan menghampiri Elfa dan Ethan yang baru saja keluar dari mobil.


"Ethan, Elfa aku izin cuti beberapa hari. Aku baru saja mendapat kabar dari Mamaku kalau Papaku saat ini tak sadarkan diri dan sudah di periksa di RS. Mutiara hati. Ini aku mau ke sana di antar Fael" ucap Dokter Shyana.


"Tidak masalah Dokter Shyana, kamu urus saja orang tua kamu. Aku akan lanjutkan terapi bersama Jack nanti" jawab Fael.


"Iya Dokter Shyana jangan pikirkan Ethan. Kamu konsentrasi saja sama kesehatan Papa kamu. Sudah sana cepetan pergi " perintah Elfa.


"Terimakasih" jawab Dokter Shyana.


Dokter Shyana kembali masuk ke dalam mobil Fael.


"Aku pergi dulu ya mengantarkan Dokter Shyana ke RS. Mutiara Hati" ujar Fael.


"Iya Kak, hati - hati. Shyan semoga Papa kamu gak kenapa - kenapa ya dan semoga cepat sembuh" ujar Elfa.


"Aamiin.. makasih Elfa" jawab Dokter Shyana lagi.


Mobil Fael segera meluncur menuju RS. Mutiara Hati. Sesampainya di parkiran Rumah Sakit Dokter Shyana langsung keluar dari mobil dan ingin berlari menuju ruang UGD.


"Shyan.. tenang, tunggu aku" pinta Fael.


Dokter Shyana tersadar kalau dia kesini bersama dengan Fael tak sopan kalau harus meninggalkan Fael sendirian. Dokter Shyana akhirnya menunggu Fael keluar dari mobil dan bersama - sama berjalan ke UGD Rumah Sakit.


Dokter Shyana melihat Mamanya sedang menangis menunggu di depan UGD.


"Mama" Dokter Shyana langsung berlari dan memeluk Mamanya.


"Shyan" balas Mamanya.


"Gimana Papa Ma?" tanya Dokter Shyana.


"Papa masih di periksa. Mungkin sebentar lagi selesai" jawab Mamanya.


Benar saja tak lama kemudian seorang perawat memanggil mereka.


"Keluarga dari Bapak Nugroho" panggil perawat.


"Iya Sus" jawab Dokter Shyana.


Dokter Shyana dan Mamanya langsung berjalan menemui dokter yang memeriksa Papanya.


"Silahkan masuk bu" perintah Perawat.


"Terimakasih" jawab Dokter Shyana.

__ADS_1


"Selamat sore Dok" sapa Dokter Shyana.


"Anda anaknya Bapak Nugroho?" tanya Dokter


"Iya Dok" jawab Dokter Shyana.


Dokter Shyana menarik nafas panjang sambil melantunkan doa dalam hati.


"Bagaimana keadaan Papa saya, apakah ada yang mengkhawatirkan. Apa diagnosa penyakit Papa saya?" tanya Dokter Shyana tak henti.


Dokter merasa pertanyaan Dokter Shyana seperti bukan pertanyaan orang umur. Jarang keluar pasien bertanya di awal diagnosa penyakit pasien yang sedang di rawat.


"Maaf apakah anda seorang Dokter?" tanya Dokter tersebut penasaran.


"Eh iya Dok, saya sedang mengambil spesial ortopedi" jawab Dokter Shyana.


Dokter tersebut tersenyum memandang Dokter Shyana dan Mamanya.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Papa Anda mengidap penyakit usus buntu. Beliau pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakit yang sangat di perutnya. Saya memanggil Anda kesini karena ingin menyampaikan kalau Bapak Nugroho harus segera menjalani operasi usus buntu" ungkap Dokter.


Dokter Shyana kini bisa bernafas lega mendengar penjelasan Dokter tersebut.


"Syukurlah kalau tidak ada yang mengkhawatirkan. Secepatnya Dok, lakukan yang terbaik untuk Papa saya. Saya akan mengurus administrasinya" jawab Dokter Shyana.


"Baik, kalau begitu Anda dan Ibu Anda bisa langsung ke bagian administrasi dan selanjutnya bisa menunggu di depan ruang operasi. Kami akan segera melakukan operasi kepada Bapak Nugroho" tegas Dokter.


"Terimakasih Dok, kalau begitu kami pamit dulu. Selamat sore" ujar Dokter Shyana.


"Bagaimana keadaan Papa kamu?" tanya Fael tak sabar.


Dokter Shyana tersadar kalau dia tadi meninggalkan Fael begitu saja. Dia kira Fael langsung pulang setelah mengantarkannya ke Rumah Sakit tapi ternyata dia masih menungguinya di ruang UGD Rumah Sakit.


"Papa kena usus buntu dan akan segera di operasi. Syukurnya tidak ada yang mengkhawatirkan" jawab Dokter Shyana.


"Syukurlah, aku turut bersyukur Papa kamu gak kenapa - kenapa" balas Fael tulus


"Sebentar ya Fael aku urus administrasinya dulu" sambung Dokter Shyana.


Dokter Shyana langsung menandatangani persetujuan untuk melakukan tindakan operasi pada pasien setelah itu dia mengurus administrasi lainnya. Setelah semua selesai Dokter Shyana dan Mamanya menunggu di depan ruang operasi.


Fael mengikuti mereka dengan sabar dari belakang.


"Shyan, siapa dia?" tanya Mama Dokter Shyana.


"Eh iya aku jadi lupa. Kenalkan Ma ini Fael putra sulungnya Bapak Fajar Barrakh tempat aku bertugas" ungkap Dokter Shyana kepada Mamanya untuk mengenalkan Fael kepada Mamanya.


Fael mengulurkan tangannya dan tersenyum hormat kepada Mama Dokter Shyana.


"Saya Rafael Tante, panggil saja Fael" ujar Fael mengenalkan diri.

__ADS_1


"Saya Mamanya Shyana. Maaf kalau keadaan suami saya mengganggu pekerjaan Shyana di rumah Anda" jawab Mamanya Dokter Shyana.


"Tidak.. tidak.. Anda tidak perlu sungkan Tante. Kesehatan Papa Shyana lebih penting. Masalah pekerjaan Shyana masih bisa di handle oleh yang lain" jawab Fael.


Mama Dokter Shyana memandang wajah Fael dengan terpesona. Dokter Shyana langsung menyenggol lengan Mamanya mengingatkan agar Mamanya bisa menahan rasa terpesonanya pada Fael.


"Ih Mama ingat umur" bisik Dokter Shyana kepada Mamanya.


"Habis dia ganteng banget Shyan" balas Mamanya.


Fael tersenyum menatap anak dan Ibu itu saling berbisik. Dia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Silahkan duduk Nak Fael, kalau terus berdiri kamu pasti capek" ujar Mama Dokter Shyana.


"Mama jangan terlalu berlebihan padanya. Cobalah biasa saja. Jangan terlalu kelihatan kalau Mama terpesona pada wajahnya" bisik Dokter Shyana lagi ke telinga Mamanya.


Mama Dokter Shyana mencubit lengan putrinya.


"Aww.. Mama sakit" pekik Dokter Shyana. Dia menutup mulutnya takut suaranya mengakibatkan keributan di Rumah Sakit ini.


"Kamu harusnya bersikap lembut di depannya. Harus manis dan cantik. Dia ini tipe ideal Mama sebagai menantu idaman" bisik Mama Dokter Shyana.


"Mama jangan mimpi kejauhan. Ingat status keluarga kita. Mereka sangat jauh di atas kita Ma" jawab Dokter Shyana mengingatkan.


"Kalau jodoh gak ada yang bisa menghalanginya Shyana. Mulai sekarang Mama akan berdoa semoga anak muda ini kelak menjadi suami kamu" tegas Mama Dokter Shyana.


Aamiin... teriak Dokter Shyana dalam hati.


"Mama... " protes di bibirnya.


"Sudah kamu diam dan tenang saja. Kekuatan doa seorang Ibu tidak akan ada yang bisa mengalahkannya. Percaya deh sama Mama" sambung Mamanya.


"Iya.. iya deh, sesuka hati Mama saja. Yang penting jangan sampai membuatku malu untuk kembali bekerja di rumah mereka" balas Dokter Shyana.


Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya operasi Bapak Nugroho selesai dan beliau dipindahkan ke ruang pemulihan. Setelah itu Bapak Nugroho di pindahkan ke ruang rawat inap.


Fael dengan setia menemani mereka menunggu Pak Nugroho sampai masuk ke ruang rawat inap. Pak Nugroho di bawa ke ruangan yang paling besar di Rumah Sakit ini. Dokter Shyana merasa aneh dan curiga dengan apa yang terjadi.


"Mengapa Papa saya di bawa ke sini?" tanya Dokter Shyana ketika melihat nama ruangan tempat Papanya di pindahkan.


Kamar super VIP, berapa harganya menginap semalam di ruangan termewah di Rumah Sakit ini? Dari mana kami bisa membayarnya? Tanya Dokter Shyana dalam hati.


"Ini adalah permintaan dari Bapak Fael Barrakh" jawab seorang perawat.


"Apa???? "


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2