
"Aaah Fael saja yang temani Opa hari ini" ucap Omar semangat.
"Aku, kenapa dengan aku?" tanya Fael bingung karena dia baru saja tiba di ruangan Opanya.
"Elfa pagi ini mau ke kantor jadi tidak ada yang temani Opa di Rumah Sakit. Kamu saja ya yang temani Opa" pinta Omar.
Kalau sudah Opanya yang meminta Fael tidak bisa menolaknya lagi.
"Ya sudah kalau begitu. Sebentar ya Opa aku kabari Shaby dulu, kalau aku tidak bisa datang ke kantor hari ini. Temani Opa di Rumah Sakit" jawab Fael.
Omar tersenyum penuh arti.
"Aku bersiap dulu ya Kak, mana pakaian yang aku pesan sama Mama?" pinta Elfa.
"Nih" Fael memberikan bungkusan yang tadi di titipkan Mamanya kepadanya sebelum datang ke Rumah Sakit ini.
Elfa segera ke kamar mandi dan berganti pakaian. Setelah itu dia pergi dengan terburu - buru.
"Opa aku pergi dulu ya.. Kak titip Opa. Daah semua" Elfa mencium Opa dan kakaknya untuk berpamitan.
"Hati - hati kamu jangan ngebut" balas Omar.
"Hari - hati juga ketemu sama bule songong itu" sambut Fael mengingatkan.
"Iyaaaaaa" jawab Elfa sambil berlalu dari ruangan Opanya.
"Pria itu baik kok Fael, tidak seperti pemikiran kamu. Tidak semua apa yang kamu lihat dari luarnya itu juga isi di dalamnya. Opa lihat dia pria yang baik dan bertanggung jawab dan juga sangat pintar. Untung saja usaha kita tidak di bidang yang sama. Dia bisa menjadi saingan bisnis yang sangat berat bagi kita" komentar Omar.
"Tapi dia pernah mengancam Fela Opa, dia akan menghancurkan usaha keluarga kita" lapor Fael.
__ADS_1
"Itu kan dulu waktu dia belum mengenal Elfa dengan baik. Lagian saat itu dia salah menebak yang mana Elfa dan mana Fela" jawab Omar.
"Tapi tetap saja kita harus waspada" balas Fael.
"Waspada kan bisa saja dengan merangkul musuh bukan malah mengajaknya bertarung. Adakalanya sebuah masalah tidak harus di selesaikan dengan kekerasan. Dengan pendekatan lebih, mengenal karakter orangnya dengan baik bisa kok menyelesaikan masalah itu sendiri. Sering masalah itu terjadi karena kita salah menduga dan mengira. Kita lebih dahulu mencurigai dan berfikiran buruk pada lawan kita itu. Sampai kapanpun ya tetap akan buruk hasilnya karena cara pandang kita sudah seperti itu. Coba deh kamu ubah cara pandangnya pasti hasilnya akan berbeda. Misalnya, bisa jadi dia bertindak seperti itu untuk mendekati Elfa cuma dia tidak tau dari mana dia harus memulainya. Dia tau Elfa pintar bela diri karena dulu dia pernah di tonjok Elfa. Nah dari situ dia memulainya untuk mendekati Elfa dengan mengajaknya bertarung kembali" ungkap Omar panjang lebar.
Fael terlihat masih belum terima dengan perkataan Opanya.
"Kamu belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta kan? Nanti di saat kamu sudah merasakannya kamu akan memikirkan ribuan rencana bagaimana caranya agar kamu bisa mendekati wanita itu. Bahkan cara buruk sekalipun mungkin akan kamu lakukan asalkan kamu bisa mendekatinya" sambung Omar.
"Seperti yang Opa lakukan pada Oma?" tanya Fael.
"Ya, itu salah satu contohnya. Tapi dulu kan kehidupan Opa berbeda dengan kalian. Dulu Opa tidak mendapatkan pengajaran yang lengkap dari Papa dan Mama Opa. Sedangkan kalian bukan hanya pendidikan dari Papa dan Mama saja, Opa dan Oma kalian juga masih lengkap. Kalian mendapatkan kasih sayang yang lengkap dan cukup banyak. Jadi sudah sewajarnya kalian tumbuh menjadi anak - anak yang baik. Kalau ingat saat dulu. Opa sangar beruntung bertemu dengan Oma kamu. Karena dia yang merubah hidup Opa dari kegelapan dan kesepian menjadi terang benderang dan penuh kehangatan" ungkap Omar.
Fael terdiam mendengar nasehat Opanya yang terakhir.
"Rubahlah sudut pandang kamu berfikir. Bagaimana kalau mulai saat ini kamu mulai mendekati si Ethan dan berteman dengannya agar kamu tau jelas apa tujuan dia mendekati Elfa dan keluarga kita. Jangan malah kamu jauhi dan musuhi. Kamu pasti tidak akan menemukan jawabannya yang ada kamu hanya terus bermain dengan prasangka buruk kamu" nasehat Omar.
"Itu baru cucuku. Eh iya, tolong kamu bantu Opa. Opa mau ganti baju dan bersih - bersih. Nanti jam sepuluh Opa mau kencan dengan gadis cantik" perintah Omar.
"Opa mau kencan dengan gadis cantik? Yang benar saja Opa. Kalau Oma tau bisa dihajar nanti kita. Apalagi kalau Papa tau, bisa gawat" jawab Fael.
"Sudah tenang saja, lakukan apa yang Opa pinta. Nanti Opa yang akan tanggung jawab, kamu tinggal laksanakan saja perintah Opa" tegas Omar.
Dengan rasa penasaran Fael mengerjakan apa yang diperintahkan Opanya, Omar Barrakh.
Tiga puluh menit kemudian Omar sudah terlihat lebih segar dan wangi. Omar terus melirik ke arah jam dinding. Seperti sedang menunggu dan akan menyambut tamu spesial yang akan datang.
Tepat jam sepuluh pagi pintu ruangan Omar terbuka dan masuklah seorang wanita dengan memakai jas putih kebesarannya. Itu adalah jas seorang dokter, Fael bisa melihatnya dengan jelas.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Opa, sudah siap aku bawa jalan - jalan?" tanya Dokter Shyana.
Fael terkejut melihat siapa tamu yang sedang di tunggu - tunggu Omar.
Apa? Opa akan berkencan dengan Dokter ceroboh ini? Mata Fael mendelik tidak percaya
"Wa'alaikumsalam Dokter Shyana. Opa sudah menunggu kamu dari tadi" jawab Omar gembira.
"Lho satpamnya Opa sudah ganti ya, Elfa mana Opa?" tanya Dokter Shyana lembut kepada Omar tapi lirikannya sangat tajam ke arah Fael.
"Satpam?" tanya Fael.
"Iya satpam. Penjaga kan? untung aku masih sebut kamu satpam. Kalau tadi aku sebut kamu pembantu gimana?" ucap Dokter Shyana menantang.
"Hahaha.. cocok Dok, sebutan itu cocok untuk dia. Pembantuku hari ini ya pria dingin ini. Cepat bantu aku duduk di kursi roda yang dibawa Dokter Shyana" perintah Omar kepada Fael.
Sebenarnya Fael ingin protes tapi dia sadar gak ada gunanya dia bertengkar dengan Opanya karena pasti Opanya yang akan menang. Hanya kepada Elfa Opanya ini mau mengalah. Ditambah lagi, Fael sangat malu kalau dia harus kena marah Opanya di depan Dokter ceroboh ini. Pasti Dokter ini akan tertawa senang melihat penderitaan Fael saat ini.
Fael segera membantu Opanya pindah ke kursi roda.
"Dokter, tolong bawa papan catur itu, biar pembantuku ini saja yang mendorong kursi rodanya. Kamu tidak akan kuat mendorongku berjalan ke luar" perintah Omar.
"Baik Opa" jawab Dokter Shyana.
Dokter Shyana meraih papan catur yang ada di atas nakas samping tempat tidur Omar dan membawanya. Sedangkan Fael mendorong kursi roda Omar berjalan menuju keluar.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG