CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
135


__ADS_3

Pagi harinya Dokter Shyana sudah tiba di rumah keluarga Barrakh saat semuanya sedang berada di depan meja makan.


"Eh Shyana sudah sampai rupanya. Sini Shyan makan bareng" sambut Ela ketika melihat calon menantunya baru datang.


"Eh iya Nyo.. " jawab Dokter Shyana.


"Mama.. panggil Mama ya, lamaran kamu dan Fael tinggal hitungan hari. Sebentar lagi kamu juga akan menjadi anak Mama" potong Ela.


Fael menarik kursi di sampingnya dan menyuruh Dokter Shyana duduk di sampingnya.


"Kok gak bilang aku mau datang pagi, tadi kan bisa aku jemput" ucap Fael.


"Gak apa" jawab Dokter Shyana lembut.


"Naik apa tadi ke sini?" tanya Fael.


"Naik ojek on-line" jawab Dokter Shyana.


"Tuh kan.. lain kali hubungi aku ya biar aku jemput" ucap Fael.


"Iya Mas" Dokter Shyana tersenyum.


"Ehm.. ehm... yang lagi falling in love" goda Elfa.


"Kayak kamu nggak aja" balas Fael.


Mereka melirik ke arah Fela yang lebih banyak diam beberapa hari ini. Fael melirik ke arah Fela yang terlihat sedang melamun.


"Dia kenapa?" tanya Fael kepada Elfa. Elfa menaikkan kedua bahunya.


"Aku gak tau" jawab Elfa.


"Coba kamu tanya nanti kalau ada waktu senggang. Gak biasanya dia murung seperti itu? Biasanya kan dia selalu ceria seperti kamu" ujar Fael.


Dokter Shyana melirik hangat ke arah calon suaminya. Inilah salah satu yang membuatnya mencintai pria ini. Walau awalnya dia itu terlihat dingin dan lebih banyak diam tapi dia sangat perhatian kepada dua adiknya. Dan dia selalu memperhatikan apa yang terjadi dengan adik - adiknya.


"Iya Kak nanti aku akan ajak Kak Fela bicara" jawab Elfa.


"Fela kamu kok gak makan? Dari tadi cuma ngaduk - aduk makanan kamu saja?" tanya Fela yang juga sedang memperhatikan putrinya itu.

__ADS_1


"Ah iya Pa.. " jawab Fela tersadar. Dia segera menyantap sarapan paginya dengan cepat.


Setelah selesai makan Fela segera mengambil tasnya dan kunci mobilnya.


"Ma aku duluan ke Butik ya. Pa aku pergi duluan" Fela mencium tangan Papanya dan mencium pipi kanan dan kiri Fajar.


"Yuk semuanya aku pergi duluan" sapa Fela dia berlalu dan berjalan dengan terburu - buru.


"Ada yang tau apa yang sedang terjadi dengan Fela?" tanya Fajar kepada semua yang ada di meja makan.


"Aku gak tau Pa" jawab Elfa.


"Aku juga" sambung Celine.


"Apa lagi aku" ujar Fael.


"Ada yang bisa cari tau?" tanya Fajar dengan tegas.


"Nanti aku akan tanya Kak Fela pelan - pelan Pa" jawab Elfa.


"Papa gak mau melihat anak Papa bersedih. Kalian Fael dan Elfa jangan sampai karena kalian sedang berbahagia kalian melupakan saudara kalian sendiri. Cari tau apa yang membuat dia terlihat sedih dan diam seperti itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengannya" tegas Fajar.


Waaah memang hebat hubungan keluarga mereka. Papa Fajar terlihat sangat tegas terhadap anak - anaknya. Dan sangat perhatian sekali dengan apa yang sedang terjadi dengan anak - anaknya. Bersyukur aku bisa di terima di keluarga ini. Batin Dokter Shyana.


"Maaf bukannya aku mau ikut campur. Dua hari yang lalu setelah kita pulang makan bakso di warung Mamang. Aku lihat Fela dan Fathir sedang bicara serius di teras belakang. Sepertinya pembicaraan yang penting, aku lihat Fathir dan Fela terlihat sedang bertengkar. Setelah selesai berbicara Fela langsung pergi meninggalkan Fathir sendiri. Aku gak tau apakah itu penyebabnya atau tidak tapi gak ada salahnya kalau aku ungkapkan berita ini agar Elfa bisa mencari tau kelanjutannya" ujar Jack tiba - tiba di tengah pembicaraan mereka.


"Elfa kamu cari tau informasi yang dikatakan Jack barusan" perintah Fajar.


"Iya Pa, nanti akan aku cari tau" jawab Elfa segera.


"Fela dan Fathir bertengkar? Gak biasanya mereka seperti itu. Biasanya mereka selalu akur" gumam Ela.


"Sepertinya pertengkaran itu dimulai saat kami makan di warung bakso si Mamang Ma. Setelah itu Fela dan Fathir memang terlihat seperti menjaga jarak dan saling diam" jawab Celine.


"Apa masalah mereka ya?" tanya Ela lagi.


"Makanya Papa suruh Elfa untuk mencari taunya Ma. Jangan sampai berlarut - larut dan jadi masalah yang besar. Kalau ada apa - apa dengan mereka kan bisa rusak hubungan baik kita dengan Rafa dan Keket" jawab Fajar..


Iya Mas, pelan - pelan aku juga akan cerita ke Keket siapa tau dia bisa cari tau dari Fathir apa yang sedang terjadi dengan Fathir dan Fela" sambung Ela.

__ADS_1


Elfa dan Celine sudah selesai makan dan hendak pamit pergi ke kantor.


"Pa.. Ma.. aku pergi dulu ya" Elfa mencium pipi kedua orang tuanya begitu juga Celine mencium tangan Fajar dan Ela.


"Than aku pergi ya, kamu mulai terapi dengan Shyana hari ini kan? Yang semangat ya biar cepat sembuh" ujar Elfa.


"Oke" jawab Ethan sambil tersenyum lembut.


"Yuk semua aku berangkat dulu" ujar Elfa dan Celine.


"Aku juga berangkat sekarang ya Pa, Ma" Fael bangkit dari tempat duduknya dan mencium kedua orang tuanya untuk berpamitan.


"Shyan aku pergi ya, yuk semuanya... " ujar Fael.


"Kalau begitu kita bareng keluarnya Fael, aku juga mau memantau pembangunan gedung Diamond Corp" ujar Jack.


Jack ikut - ikutan yang lain menjabat tangan Fajar dan Ela untuk berpamitan. Kemudian mereka segera meninggalkan meja makan. Kini hanya tinggal Fajar, Ela, Ethan dan Dokter Shyana yang ada di ruang makan melanjutkan sarapan pagi mereka.


Fela sudah sampai di ADS Butik, dia melihat mobil Fathir sudah terparkir di halaman gedung ADS Butik. Fela menarik nafas panjang kemudian dia turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam Butik.


Fela langsung naik ke lantai empat dan segera masuk ke dalam ruangan kerjanya. Begitu dia masuk Fela melihat Fathir sudah duduk di sofa di dalam ruang kerja Fela.


"Maaf Fel jika kedatanganku pagi - pagi ke sini mengagetkan kamu" ujar Fathir begitu melihat Fela masuk.


Fela meletakkan tasnya di atas meja kerjanya kemudian duduk di sofa tepat di depan Fathir.


"Fel aku minta maaf, please.. jangan seperti ini. Kalau kamu tidak bisa menjawab perasaanku tidak bisakah kita berteman seperti dulu lagi? Jangan diamkan aku Fel, aku gak bisa seperti ini" ujar Fathir.


"Fath, tolong beri aku waktu. Aku tidak bisa secepat itu menganggap sesuatu tidak pernah terjadi diantara kita. Aku butuh waktu untuk menerimanya, aku sangat terkejut dengan perkataan kamu beberapa hari lalu Fath" jawab Fela.


"Baiklah kalau begitu aku akan beri kamu waktu. Tapi jangan lama - lama ya Fel. Apapun keputusan kamu aku akan menerimanya. Tolong pikirkan lagi perasaanku. Tanya hati kamu? Apakah aku ini punya arti tersendiri di hati kamu selain seorang sahabat" Fathir berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruangan Fela.


Fela menatap kepergian Fathir dari ruangannya. Kedekatannya dengan Fathir selama ini memang berbeda di banding Shaby sepupunya. Fathir juga lebih dekat dengan Fela selama ini. Setiap mereka ngumpul bareng Fathir memang selalu memberikan perhatian lebih kepada Fela. Seperti saat rebutan makanan Fathir pasti selalu berkorban untuk Fela. Banyak sekali hal - hal kecil yang Fela lewatkan dan ternyata ungkapan perasaan Fathir kepadanya. Seperti film drama Korea lagu - lagu kesukaan Fela yang selalu Fathir dapatkan bahkan tak jarang Fathir rela menemaninya belanja keliling Mall di saat Sitha dan Ryntia tidak bisa menemaninya.


Tapi saat ini Fela benar - benar bingung perasaan apa yang saat ini dia rasakan. Jujur dia memang sayang Fathir, tapi sebagai apa? Apakah sayang sebagai seorang sahabat atau lebih. Fela sangat pusing memikirkannya beberapa hari ini.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2