
"Enak saja kamu memanggil Papaku Grandpa. Dia memang Granpanya Elfa tapi bukan Grandpanya kamu" potong Fajar kesal.
"Fa... dia kan menghormatiku. Lagian kan memang pantas dia memanggilku Grandpa, dari pada aku di panggil Uncle nanti Mama kamu marah" canda Omar.
"Hahaha... walau pun sakit bisa juga kamu bercanda ya Din" sambut Kevin.
"Keviiiiin, sudah sering aku katakan. Berhenti memanggilku Din" bentak Omar.
"Vin, Omar lagi sakit. Nanti kita bisa di usir dari sini karena sudah membuat keributan" August menyenggol lengan Kevin.
"Gitu aja kamu marah, tinggal balas. Panggil aku Abu. Gitu aja kok repot" oceh Kevin.
"Maaas kamu lagi sakit. Jaga tekanan darah kamu. Jangan marah - marah ah. Gak malu di lihat cucu - cucunya" ucap Jasmine menenangkan Omar.
Fajar terdiam melihat Papanya sedang marah. Apa mungkin karena kesal dengan ucapannya tadi tapi Kevin yang kena imbasnya, habis di semprot. Untung saja bukan aku yang dimarahin tadi. Bisa malu aku di depan anak muda sombong itu.
Ternyata tiga orang tua inilah para tetua keluarga Barrakh. Tidak aku sangka, walaupun usia mereka sudah tua tapi jiwa mereka tetap muda. Mereka masih suka saling bercanda. Batin Ethan memperhatikan.
"Sudah.. kata dokter aku cuma cidera saja. Lebih baik kalian pulang, biar Elfa saja yang menjagaku di sini" Omar mengedipkan sebelah matanya.
Elfa tersenyum melihat tingkah Opanya.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang ya. Semoga kamu cepat sembuh" sambut Kevin.
"Aku juga pulang ya Mar" ucap August.
Mereka saling berpelukan dan berpamitan.
"Ma sudah malam, yuk kita pulang" ajak Shakira kepada Jasmine.
"Aku pulang dulu ya Mas. Kamu beneran gak apa - apa aku tinggalkan?" tanya Jasmine.
"Tidak apa - apa. Besok pagi saja kamu datang dan bawakan kami sarapan pagi yang enak ya" jawab Omar.
"Baiklah kalau itu mau Mas" balas Jasmine.
"Opa kami pulang juga ya. Semoga Opa cepat sembuh" ucap Anggota Geng F3STER.
Mereka satu persatu mencium tangan Omar dan berpamitan pulang.
"Ma nanti tolong suruh supir antarkan pakaianku ya. Sekalian pakaian kerja aku besok. Aku perginya ke kantor dari rumah sakit saja" pinta Elfa kepada Mamanya.
"Iya, nanti Mama suruh Mang Supri yang antar pakaian kamu" jawab Ela.
"Apa lagi Fa, kamu masih belum mau pulang? Tuh Ela sudah siap - siap dari tadi" perintah Omar.
"Iya Pa. Kami pulang dulu ya Pa" Fajar mencium tangan Papanya.
"Elf, jaga Opa kamu ya. Jangan di ajak bergadang. Ingat ini rumah sakit" pesan Fajar.
"Oke Bossss" Elfa mengangkat tangannya memberi hormat.
Ethan tersenyum melihat tingkah Elfa. Enak sekali bisa sedekat ini dengan orang tuanya. Mereka seperti berteman. Ujar Ethan dalam hati.
Kini semuanya sudah pergi meninggalkan ruang rawat Omar. Yang tinggal hanya Elfa dan Ethan yang masih ada di ruangan itu menemani Omar.
"Kamu belum pulang?" tanya Elfa.
__ADS_1
"Iya sebentar lagi. Aku belum menyapa Grandpa kamu" jawab Ethan.
Ethan segera mendekat ke samping tempat tidur Omar dan menjabat tangan Omar.
"Perkenalkan saya Ethan Muhammed Grandpa" Ujar Ethan memperkenalkan diri.
"Aku sudah tau, tadi kan Fajar sudah menyebut nama kamu" jawab Omar.
"Siapa tau Grandpa lupa" balas Ethan.
"Hey.. aku memang sudah tua tapi aku belum pikun" balas Omar dengan lantang.
Wah gawat nih orang tua ini sepertinya mudah marah. Batin Ethan.
"Maaf Grandpa, bukan maksudku seperti itu" ucap Ethan segera agar tidak terjadi kesalahan pahaman.
Elfa tersenyum melihat raut wajahnya Ethan yang cepat berubah.
Rasain kamu cowok sombong, dikerjain sama Opaku. Belum tau dia siapa Opa. Papa saja takut, apa lagi kamu. Ejek Elfa dalam hati.
"Berapa usia kamu?" tanya Omar.
"Dua puluh tujuh tahun Grandpa"
"Status?"
"Single"
"Pendidikan?"
"Magister ilmu bisnis dan komunikasi"
"Pekerjaan?"
"Diamond Corp"
"Jabatan"
"CEO"
"Dimana kamu tinggal?"
"Untuk sementara di Barrakh Hotel"
"Ngapain ke sini?"
Ethan melirik ke arah Elfa dan seperti sedang memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan Omar pada dirinya.
"Menemani Elfa untuk menjenguk Grandpa di rumah sakit"
"Bodoh... bukan itu" Bentak Omar.
Ethan sedikit terkejut sedangkan Elfa sudah hampir tertawa.
"Ngapain ke Indonesia?"
"Aku ingin membuka cabang perusahaanku di sini"
__ADS_1
"Cuma itu?" desak Omar.
"Sekalian aku ingin berteman dan mengenal Elfa lebih jauh" jawab Ethan cepat.
"Cuma itu" Omar menjebak Ethan.
"Aku ingin mengejar Elfa"
"Untuk apa?"
"Aku menyukainya" jawab Ethan jujur tanpa dia sadari.
Mata Elfa melotot, dia tidak menyangka Ethan akan menjawab seperti itu.
Apa? Dia menyukaiku. Bagaimana bisa? Bukannya waktu di London dia sudah menindasku habis - habisan. Mengapa sekarang dia mengatakan kalau dia menyukaiku? Apa dia sudah gila, mengatakan hal itu di hadapan Opa langsung. Pernyataan hati seperti apa ini? Masak iya aku ditembak cowok di Rumah Sakit dan di depan Opa lagi. Cih dasar gak punya modal, pelit dan sombong. Kamu fikir aku akan menerima perasaanmu? Umpat Elfa dalam hati.
Omar tersenyum mendengar jawaban jujur Ethan.
"Kamu fikir kamu pantas menyukai cucu kesayanganku?" tanya Omar.
"Mengapa tidak? Bukankah rasa suka itu hak azasi setiap manusia?" Ethan balik bertanya.
"Kamu benar, tapi apakah kamu pantas akan hal itu?" tanya Omar lagi.
"Aku tau mungkin untuk saat ini bisa dikatakan aku belum pantas Grandpa. Tapi aku akan berusaha untuk hal itu" balas Ethan.
"Bagaimana caranya?" selidik Omar.
"Aku akan berusaha menjadi yang terbaik dan memantaskan diriku untuk berada di sisi Elfa" jawab Ethan penuh keyakinan.
"Apa kamu berharap perasaan kamu akan berbalas?"
"Itu sudah pasti Grandpa. Setiap orang yang mempunyai perasaan suka pasti ingin sekali perasaannya di balas"
"Apa kamu yakin perasaan kamu akan dibalas?"
"Yakin" jawab Ethan tegas.
Elfa tersenyum mengejek.
Percaya diri sekali kamu pria sombong. Sebegitu yakinnya kamu, aku akan membalas perasaanmu. Hahaha... jangan harap. Batin Elfa.
"Mengapa kamu sangat yakin" tanya Omar.
Anak muda ini sepertinya memang pintar dan percaya diri. Aku suka pria seperti ini. Tegas dan yakin atas pilihannya. Sedikitpun dia tidak terlihat ragu ataupun takut.
Menarik.... Sepertinya cucuku pantas mempunyai antimo seperti kamu. Tapi apakah kamu bisa di percaya? Kita lihat saja nanti. Ujar Omar dalam hati.
"Aku meyakini, sesuatu yang dilakukan dengan tulus pasti akan menghasilkan kebaikan. Lagian aku percaya Grandpa sebenarnya cucumu itu terpesona padaku tapi dia tidak mau mengakuinya" Ethan melirik ke arah Elfa.
Sontak mata Elfa melotot.
Enak saja mau berkata seperti itu. Cih.. gak sudi ya terpesona padamu.
"Hahahahaha.... sepertinya kamu punya selera humor yang tinggi anak muda"
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG