
"Maaf ya kamu jadi lama menunggu" ucap Elfa ketika berdiri di dekat Ethan.
"Kamu gak salah, aku yang datangnya kecepatan. Yuk kita pergi, siapa yang bawa? Aku atau kamu?" tanya Ethan.
Ethan ingat kalau Elfa mabuk darat jika naik mobil kecuali kalau dia yang membawa mobilnya.
"Kamu saja, aku capek seharian di kantor. Bahuku rasanya pegal sekali" jawab Elfa.
"Baiklah" sambut Ethan.
Ethan membukakan pintu mobil untuk Elfa. Elfa kemudian masuk dan duduk di kursi samping supir. Sedangkan Ethan berjalan dan mengambil posisi di depan kemudi.
Ethan mulai menyalakan mobilnya dan bergerak keluar dari area parkir Barrakh Corp.
"Bukannya kamu mabuk kalau naik mobil yang dikemudikan orang lain?" tanya Ethan heran.
"Aku rasa kalau saat ini tidak apa - apa. Moodku lagi bagus" jawab Elfa berbohong.
"Tunjukkan aku arahnya ya, aku tidak tau kita mau pergi kemana dan aku belum mengingat jalanan di Jakarta ini" ujar Ethan.
"Okey" balas Elfa.
Ethan memperhatikan gerak gerik Elfa selama di mobil. Tidak ada tanda - tanda dia mabuk darat. Wajahnya terlihat tenang dan biasa saja. Jadi mengapa waktu di London dia sampai muntah - muntah saat Jack yang mengemudikan mobilnya.
Begitu juga saat hari terakhir Elfa di rumahnya. Mereka naik mobil ke kantor Ethan. Walau saat itu Elfa tidak muntah tapi wajah Elfa memucat dan berkeringat.
Ethan merasa ada yang aneh dengan Elfa dan entah mengapa dia teringat ucapan Mrs. Fajar mengenai penyakit langka Elfa juga dugaan Jack tentang mabuk daratnya Elfa.
Sebenarnya apa sih penyakit langka kamu? Sepertinya kamu baik - baik saja, tidak ada tanda - tanda bahwa kamu sakit. Apa kamu menyembunyikan sesuatu yang besar kepadaku? Batin Ethan.
Elfa menyalakan tape yang ada di mobil Ethan dan mencari channel radio. Ethan hanya memperhatikan tingkah Elfa itu.
Saat mendengar suara musik dangdut, Elfa tersenyum simpul. Tangannya berhenti, Elfa menekan tombol volume dan membersarkan suara musik itu.
Lagu dangdut menggema di mobil. Walau Elfa tidak terlalu pintar bernyanyi dangdut tidak seperti Sitha dan Fathir tapi dia penikmat lagu dangdut. Elfa suka mendengar lagu dangdut saat bersama kedua sahabatnya itu.
"Ini genre yang sama dengan lagu yang kami nyanyikan saat di Restoran Barrakh Corp dulu" ucap Ethan memulai pembicaraan mereka di mobil.
"Iya, ini namanya musik dangdut hanya ada di Indonesia" jawab Elfa.
Walau tidak menyukai genre musik itu karena Ethan merasa sedikit aneh dengan musiknya. Tapi Ethan diam saja dan mencoba untuk menikmati suasana ini.
Dia sangat jarang mendapatkan kesempatan seperti ini, bisa berjalan jalan keliling kota Jakarta hanya berdua saja bersama Elfa.
__ADS_1
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di Bakso Mamang. Di sana sudah berkumpul para sahabatnya.
Elfa dan Ethan turun dan mobilnya dan masuk ke dalam warung bakso Mamang. Hal ini membuat semua sahabatnya terheran - heran karena Elfa datang bersama seorang pria.
"Kamu datang bersamanya?" tanya Fela terkejut.
"Iya, dia merengek minta ikut" jawab Elfa.
Ethan tersenyum ramah pada semua teman Elfa yang ada di situ.
"Kamu baik - baik saja Elf?" tanya Shaby tak percaya dengan apa yang saat ini dia lihat.
"Elf jarak kantor ke sini lebih tiga puluh menit lho?" tanya Celine tak percaya.
Sedangkan Fael terlihat hanya menatap adik bungsunya itu dengan tatapan khawatir.
"Tenaaaang aku baik - baik saja, kalian tenang ya" Elfa mengedipkan sebelah matanya pada semua yang ada di situ.
Sedangkan Sitha berbisik kepada Fathir.
"Wajah bule kamu kalah cakep sama dia Fath" ujar Sitha.
"Ck.... " gumam Fathir.
Membuat Ethan bingung dia harus duduk dimana. Karena kursinya sudah penuh. Hanya ada kursi yang kosong di tengah - tengah Fael dan Shaby.
Sementara wajah Fael terlihat tidak bersahabat dan sepertinya tidak suka dengan kehadiran Ethan di sana. Ethan dapat merasakan aura permusuhan dari sikap Fael.
"Kamu duduk di sono aja noh dekat Kak Fael" Elfa menunjuk kursi kosong.
Mau tidak mau Ethan duduk di kursi yang kosong itu.
"Guys kenalkan ini teman baruku dari London" Elfa memperkenalkan Ethan kepada teman - temannya.
"Kamu yang ada di pameran perhiasan waktu itu kan?" tanya Ryntia.
"Iya, saya Ethan Mohammed" jawab Ethan memperkenalkan diri.
"Dia juga anak laki - laki yang di pukul dan tendang Elfa di London saat kita liburan bersama tujuh belas tahun yang lalu" sambung Fael.
"Apa?" ucap Shaby, Fathir, Sitha dan Ryntia.
Ethan hanya tersenyum menjawab pertanyaan mereka.
__ADS_1
"Ja.. jadi kamu anak laki - laki yang sombong itu?" tanya Shaby tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Sambil tersenyum Ethan menganggukkan kepalanya.
"Maaf waktu itu aku masih anak - anak" jawab Ethan.
"Sekarang juga masih sombong" celetuk Fela.
"Sekarang kan aku tidak seperti itu Fela" bantah Elfa.
"Cih sok kenal sok dekat, pakai sebut - sebut namaku. Dia pernah mengancamku saat di pameran perhiasan di Hotel waktu itu" ungkap Fela.
"A.. apa?" lagi - lagi Fathir, Shaby, Sitha dan Ryntia bertanya tidak percaya.
"Okey baiklah... aku akan jujur pada kalian. Saat itu aku memang sedang mencari Elfa, anak perempuan yang sudah memukulku tujuh belas tahun yang lalu. Kedatanganku memang untuk balas dendam tapi aku tidak ingin berbuat jahat aku hanya ingin bertarung kembali dengan Elfa setelah sekian lama aku mencarinya dan aku sudah belajar dan berlatih taekwondo. Aku sudah mempersiapkan diriku selama tujuh belas tahun untuk sebuah pertarungan. Makanya saat bertemu Fela aku menantangnya bertarung di Dojang" jawab Ethan dengan tenang.
"Trus gimana Fel, kalian jadi bertarung di Dojang?" tanya Shaby.
"Jadi, tapi Elfa yang bertarung dengannya dan dia kalah" jawab Fela.
"Kamu kok gak pernah cerita sama kita - kira?" tanya Ryntia.
"Karena waktu itu Papa melarang kami untuk membahas masalah itu lagi dan Elfa juga sudah berangkat ke London" jawab Fela.
Gawat sepertinya pandangan mereka negatif padaku. Batin Ethan.
"Itukan dulu, setelah mengenal Elfa lebih lanjut aku tulus ingin berteman dengan Elfa dan kalian semua. Aku senang memiliki banyak teman" ungkap Ethan.
"Tapi kami tidak bisa menerima teman baru dengan mudah" tolak Fael.
"Aku akan menerima apapun syarat yang kalian berikan padaku agar kalian bisa menerimaku sebagai teman kalian" ucap Ethan.
"Kalau begitu apakah kamu bersedia setiap minggu bertarung dengan aku, Fathir dan Shaby secara bergantian?" tantang Fael.
"Melawan kalian bertiga sekaligus setiap minggu?" tanya Ethan memperjelas.
"Kami tidak egois kamu mengajak seorang wanita bertarung. Lawan kami satu orang satu minggu. Misal minggu ini aku, minggu depan Shaby dan minggu depannya lagi Fathir. Bagaimana?" tantang Fael.
"Setuju"...
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG