
"Elfa..... " panggil Ethan.
Elfa terbangun karena merasakan belaian tangan Ethan di kepalanya.
"Ethan kamu sudah sadar? jangan banyak bicara dulu. Aku panggil dokter ya" jawab Elfa panik.
"Hey.. hey.. jangan panik. Aku sudah tidak apa - apa. Pelan - pelan ya panggil dokternya. Jangan buru - buru seperti itu" perintah Ethan.
"I.. iya" jawab Elfa.
Elfa segera memencet bel yang ada di dekat tempat tidur Ethan. Tak lama kemudian datang seorang dokter bersama beberapa perawat bersamanya. Mereka memeriksa keadaan Ethan.
"Syukurlah Pak Ethan sudah sadar dan hasil pemeriksaan semua baik. Kini tinggal masa pemulihan. Sungguh luar biasa mukjizat yang Anda dapatkan. Anda bisa selamat jatuh dari tebing di kedalaman 1500 meter tanpa luka berat yang Anda derita" puji sang Dokter.
"Terimakasih Dok, semua berkat doa - doa dari keluarga dan orang - orang tersayang saya. Yang terus melakukan pencarian saya sampai satu harian tidak kenal letih, hujan, cuaca dingin dan gelap mereka tempuh demi untuk menemukan saya" ungkap Ethan.
"Itu karena Anda juga sangat luar biasa Pak makanya banyak yang menyayangi dan takut kehilangan Anda. Seperti istri Anda ini yang sangat setia menunggui Anda sejak Anda tiba di Rumah Sakit ini. Dia selalu menangis dan memanggil nama Anda" ungkap Dokter.
Elfa malu dan menundukkan kepalanya.
"Dia belum jadi istri saya Dok, tapi akan. Sebentar lagi dia pasti akan menerima lamaran saya. Lihatlah tangisannya itu menandakan kalau dia takut kehilangan saya" ucap Ethan dengan penuh percaya diri.
"Apaan sih" tanpa sadar Elfa memukul tangan Ethan yang terluka
"Awww... sakit" ucap Ethan.
"Eh maaf.. maaf... " balas Elfa.
Dokter dan para perawat tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Kalau begitu semoga lamaran Anda segera di terima ya dan kalian secepatnya menikah. Kalau nanti nikah jangan lupa undangannya untuk kami" goda sang Dokter.
"Pasti Dok, tunggu saja undangan dari kami" tegas Ethan.
Elfa semakin tertunduk malu.
"Baiklah, kami permisi dulu ya Mr. Ethan. Kalau ada keluhan lain segera hubungi kami" ucap Dokter.
__ADS_1
"Terimakasih Dokter" balas Ethan dan Elfa berbarengan.
Dokter dan para perawat berjalan melangkah keluar dari ruang rawat inap Ethan. Kini hanya tinggal mereka berdua yang ada di ruangan itu. Ethan terus memandang wajah Elfa yang masih tertunduk malu.
"Dibawah ada apa sih? Emang ada semut ya yang lebih ganteng dari aku sampai bisa menarik perhatian kamu seperti itu?" goda Ethan.
Elfa menatap wajah Ethan dengan tatapan bingung.
"Kamu terus mandang ke bawah, aku cemburu pada semut di bawah dilihatin terus sama kamu sedangkan aku di cuekin terus. Kalau tau begitu mending aku milih tetap di dalam jurang aja" Ethan pura - pura ngambek.
"Ethaaaaan... " Elfa kembali mendekati Ethan dengan tatapan sedih dan ingin menangis.
"Kata Mommy.. kamu yang meyakinkan mereka semua kalau aku masih hidup, aku kedinginan dan kelaparan, aku juga kesepian dan gelap tidak bisa melihat apapun" ungkap Ethan.
Elfa kembali meneteskan air matanya. Rasanya saat itu jantungnya ingin berhenti berdetak dan saat di tebing dia ingin sekali ikut terjun bersama Ethan.
"Kamu mendengar suaraku?" tanya Ethan.
Elfa menganggukkan kepalanya.
"Benarkah.. Kamu benar - benar mendengar suaraku" tanya Ethan lagi meyakinkan. Matanya membesar karena tak percaya.
Ethan semakin mendelikkan matanya.
"Benar kah Elfa kamu mendengar aku memanggil namamu. Elfa.. Elfaaaaa" ucap Ethan sekali lagi.
Air mata Elfa semakin deras mengalir.
"Ya Tuhaaaan... aku tak percaya Elfa.. Hal ini benar - benar terjadi" ucap Ethan.
Elfa terus menganggukkan kepalanya dan terus menangis.
"Aku juga mendengar kamu memanggil namaku. Ethaaaan maaf kan aku.. maafkan aku.. " Air mata Ethan juga mengalir dari sudut matanya.
Elfa mengangkat kepalanya dan menatap wajah Ethan tak percaya.
"Kamu juga mendengar suaraku?" tanya Elfa tak percaya.
__ADS_1
"Iya. Kamu terus meminta maaf kepadaku. Kamu merasa bersalah karena kamu yang menyebabkan aku terjatuh. Benarkah?" tanya Ethan lagi.
"Iya.. kamu mendengar semua?" Elfa masih tak percaya.
"Saat aku putus asa karena tak ada sedikitpun cahaya di bawah sana, aku kedinginan dan kelaparan. Aku terus mendengar suara kamu meminta maaf kepadaku. Saat itulah aku memanggil namamu untuk mengatakan kalau aku masih hidup Elfa.. " mereka berdua menangis bersama.
"Kamu yang menemani aku menghadapi itu semua. Karena kamu aku tidak merasa takut sedikitpun dan karena kamu aku tidak merasa kesepian sendiri di bawah. Karena kamu juga aku bertekad untuk bertahan, aku harus kuat agar aku selamat dan bisa melihat kamu lagi" ungkap Ethan.
Andai saja saat ini Elfa boleh memeluk Ethan rasanya ingin sekali dia menghambur dalam pelukan Ethan, memeluknya erat. Melepaskan kelegaan jiwanya yang terdalam.
Saat dia melihat Ethan kembali untuk yang pertama kali dia sudah bertekad akan membaktikan hidupnya untuk Ethan. Dia akan menerima dan membalas cinta Ethan untuknya.
Elfa berjanji dalam hati untuk hidup bersama dengan Ethan sampai mereka tua. Berbagi kebahagiaan bersama sampai anak cucu mereka.
"Taukah kamu apa arti dari semua ini Elfa?" tanya Ethan.
Elfa menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
"Itu namanya kontak batin. Jiwa dan perasaan kita sudah terhubung sehingga diantara kita bisa merasakan apa yang sedang kita rasakan. Kamu tau keadaan aku saat itu, apa yang aku rasakan. Aku kegelapan, kesepian, kedinginan dan kelaparan. Kamu bisa mengetahuinya dan merasakannya begitu juga aku.. aku bisa mengetahui dan merasakan perasaan bersalah kamu yang begitu besar padaku" ungkap Ethan.
"Elfa... sudah sejauh ini perasaan kita terhubung apakah kamu tetap tidak mau menerima perasaan aku?" tanya Ethan.
Elfa menatap Ethan dengan tatapan penuh haru.
"Aku mencintai kamu Elfa dengan segenap hatiku dengan seluruh jiwa ragaku. Aku rela menyerahkan seluruh hidup dan matiku untukmu. Hanya untukmu, apakah kamu bisa melihat ketulusanku?" tanya Ethan.
Elfa menganggukkan kepalanya.
"Apa jawaban kamu Elfa, aku membutuhkan jawaban kamu saat ini" pinta Ethan dengan memohon.
"Aa.. aku.. juga mencintai kamu Ethan. Aku.. aaaku.. takut kehilangan kamu lagi. Rasanya saat itu aku ingin ikut kamu terjun ke dalam jurang, menemani kamu yang kesakitan, kesepian dan kelaparan. Aku ingin bersama - sama merasakan apa yang kamu rasakan saat itu. Rasanya jantungku seperti berhenti berdetak setiap mendengar kabar kamu belum di temukan. Aku tak sanggup melanjutkan hidupku lagi tanpa kamu. Aku gak tau apa yang harus aku lakukan tanpa keberadaan kamu di sisiku" ungkap Elfa.
Mereka sama - sama menangis. Tangisan dan air mata bahagia. Kini perasaan mereka sudah saling menyatu dan berbalas.
"Terimakasih Elfa... Terimakasih kamu sudah menerima cintaku. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi, tidak akan pernah.. Aku akan selalu menjaga kamu sampai kapanpun" ikrar Ethan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG