
Waktu yang di tunggu - tunggu Omar akhirnya tiba. Hari ini dia akan pulang di jemput oleh seluruh keluarganya.
Fajar dan Ela sudah datang bersama istrinya Jasmine untuk menjemput kepulangan Omar dari rumah sakit.
"Kamu sudah siap untuk pulang sayang?" tanya Jasmine.
"Sudah... aku sudah sangat merindukan rumah" jawab Omar tersenyum.
"Sini Oma biar aku saja yang mendorong kursi roda Opa" pinta Fael.
"Tunggu.." cegah Omar.
"Ada apa Opa? Kita sudah diperbolehkan pulang?" tanya Fael bingung.
"Aku masih menunggu seseorang" jawab Omar.
"Siapa Pa?" tanya Fajar bingung.
"Tunggu saja dan kalian lihat. Sebentar lagi dia akan datang" jawab Omar.
****
Satu hari sebelumnya.
Dokter Shyana melihat amplop putih di atas meja kerjanya.
"Apa ini?" dia membaca kepala amplop tertera nama Rumah Sakit. Dokter Shyana membuka amplop tersebut dan mengeluarkan selembar kertas di dalamnya.
Dokter Shyana duduk di depan meja kerjanya dan mulai membaca.
"Apa? Aku di tugaskan selama satu bulan dari Rumah Sakit untuk menjadi Dokter Pribadi di rumah Opa Omar Barrakh setelah dia keluar dari Rumah Sakit? Itu artinya besok aku mulai bertugas di rumahnya? Ya Tuhaaaan... apa - apaan ini? Mentang - mentang orang kaya, yah... walaupun sebenarnya Opa itu sangat baik dan ramah tapi apa maksud dari semua ini?" gumam Dokter Shyana sendirian di ruangannya.
Dokter Shyana keluar dan berjalan menuju ruangan Direktur Rumah Sakit.
"Selamat pagi Pak" Ucap Dokter Shyana ketika memasuki ruangan Direktur Rumah Sakit.
"Eh Dokter Shyana, silahkan masuk.. Kamu sudah menerima surat tugas?" tanya Direktur Rumah Sakit.
"Sudah dan saya sudah membacanya, oleh sebab itulah kedatangan saya kesini untuk menanyakan hal itu. Apa maksud surat itu Pak?" tanya Dokter Shyana tegas.
"Ya sesuai dengan isinya, masak kamu tidak bisa mengerti isi surat itu. Di situ kan sudah jelas disebutkan bahwa kamu akan bertugas selama satu bulan untuk menjadi Dokter Pribadi Bapak Omar Barrakh. Kamu tinggal di rumahnya selama satu bulan memantau perkembangan kesehatannya secara keseluruhan" jawab Direktur Rumah Sakit.
"Tapi mengapa bisa begini Pak?" tanya Dokter Shyana kesal.
"Ya bisa saja Dokter Shyana. Bapak Omar Barrakh adalah pemilik saham terbesar di Rumah Sakit ini. Dia secara pribadi menyampaikan kepuasannya atas pelayanan kamu di rumah sakit ini. Menurutnya kamu sangat pintar membuat beliau rileks sehingga berdampak pada tekanan darahnya yang stabil. Dia meminta selama satu bulan ke depan kamu menjaganya di rumahnya sampai dia benar - benar sehat" ungkap Direktur Rumah Sakit.
__ADS_1
"Tapi Pak.. " protes Dokter Shyana.
"Saya tidak menerima penolakan karena ini adalah tugas Kamu. Kamu tidak perlu merasa khawatir selain gaji bulanan kamu penuh, Kamu juga akan mendapatkan insentif dan bonus untuk satu bulan ke depan" tegas Direktur Rumah Sakit.
Dokter Shyana menarik napas panjang dan pasrah. Tidak ada gunanya lagi dia berdebat karena dia pasti akan kalah. Satu - satunya jalan adalah dia menjalankan tugasnya ini untuk satu bulan ke depan kalau dia masih tetap mau bekerja di Rumah Sakit ini.
"Baik Pak" jawab Dokter Shyana pasrah.
"Bagus, hari ini kamu bebas tugas. Kamu boleh pulang untuk mempersiapkan semua pakaian dan perlengkapan kamu untuk satu bulan, selama kamu berada di rumah keluarga Barrakh" perintah Direktur Rumah Sakit.
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi dulu" balas Dokter Shyana tidak bersemangat.
Dia kembali ke ruang kerjanya. Tadi malam memang dia tugas malam dan baru selesai pagi ini. Dua memang sangat memerlukan waktu istirahat sebelum besok dimulai tugas barunya di rumah keluarga Barrakh.
Dokter Shyana mengambil tasnya kemudian berjalan menuju parkiran rumah sakit dan pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya dia sudah membawa kopernya yang berisikan perlengkapannya untuk satu bulan ke depan selama dia bertugas di rumah keluarga Barrakh.
Saat dia sampai di Rumah Sakit Direktur Rumah Sakit memanggilnya lagi dan menyampaikan pesan bahwa pagi ini dia akan pergi bersama dengan keluarga Barrakh ke rumah mereka.
Itu artinya dia harus ke ruangan Opa Omar Barrakh dan kemudian bersama - sama pergi ke rumahnya.
Dokter Shyana menarik kopernya menuju ruangan rawat inap Omar Barrakh. Sebelum membuka pintu kamar VVIP tersebut dia menarik nafas panjang.
kreeeeeeaaaak.....
"Apakah saya terlambat?" tanya Dokter Shyana begitu dia masuk ke dalam ruangan rawat inap Omar Barrakh.
"Tidak Dokter, kami memang sedang menunggu kamu tapi kamu tidak terlambat kok" sambut Elfa.
Omar tersenyum melihat ke arah Dokter Shyana.
"Apakah kamu sudah siap untuk bertugas di rumah saya Dokter?" tanya Omar ramah.
"Siap Opa, dengan senang hati" jawab Dokter Shyana.
Apa? wanita ini akan bertugas di rumah Opa? Batin Fael. Seketika fikirkan Fael penuh dengan bunga - bunga. Jantungnya sudah menari - nari dan bersorah hore.. sangkin senangnya.
Elfa dan Omar melirik ke arah Fael. Mereka melihat senyum tipis yang terbersit di wajah dingin Fael.
Dasar Kakak payah, sudah jelas kamu memang jatuh cinta pada Dokter ini tapi kamu sangat lambat Kak. Batin Elfa.
"Fael.. bawakan koper Dokter Shyana" perintah Omar.
"Ba.. baik Opa" jawab Fael.
__ADS_1
"Ti.. tidak apa - apa, saya bisa membawanya sendiri" tolak Dokter Shyana.
"Sudah Shyana berikan saja koper kamu pada Kakakku biar dia yang membawanya" ucap Elfa.
Akhirnya Dokter Shyana pasrah memberikan kopernya kepada Fael. Mereka keluar Rumah Sakit bersama - sama.
Omar dan Jasmine masuk ke dalam mobil Fajar dan Ela. Sedangkan Fela dan Elfa ikut masuk di mobil kakaknya dan mereka duduk di kursi penumpang.
"Kenapa kita berdua duduk di sini?" tanya Fela tidak mengerti.
"Biarkan saja Dokter Shyana duduk di depan bersama Kak Fael" jawab Elfa.
Fael memasukkan koper Dokter Shyana ke dalam bagasi mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Dokter Shyana.
"Silahkan masuk Dokter" ucap Fael.
"Ba.. baik.. " jawab Dokter Shyana gugup.
Fael menyalakan mobilnya dan melakukan mobilnya di belakang mobil Papanya.
Tiba - tiba ponsel Fael berbunyi dan tertera nama Ethan di layarnya.
"Elfa, jawab telepon ini" Perintah Fael sambil menyerahkan ponselnya kepada Elfa.
Elfa melirik ka layar ponsel Fael dan membaca nama Ethan yang tertera di situ.
"Ngapain Setan ini nelepon kakak?" tanya Elfa curiga.
"Ya mana kakak tau. Kamu tanya saja sama dia langsung. Kakak kan lagi nyetir" jawab Fael.
"Hallo.... " ucap Elfa.
"Hallo Elfaaaaa.. akhirnya kamu juga yang terima telepon aku, padahal aku sudah telepon ke hp kamu dari tadi tapi tidak kamu angkat" jawab Ethan.
"Sorry hpku silent. Ngapain kamu nelepon?" tanya Elfa cuek.
"Aku sekarang sudah di rumah sakit tapi ruangan Grandpa kosong? Grandpa dimana? Kamu juga dimana?" tanya Ethan bingung.
"Gawat Kak.. kita lupa kabari si The Ghost kalau Opa pulang hari ini"....
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1