
Setelah pulang dari rumah sakit mereka berencana hendak ngumpul di luar.
"Kemana kita guys?" tanya Fathir.
"Aku pengen makan bakso" jawab Fela.
"Weisss... Fel kamu tau banget isi perutku" sambut Fathir.
"Aku juga" jawab Ryntia.
"Boleh juga tuh, udah lama gak ke warung bakso mamang" ujar Shaby.
"Ayuklah kita ke sana" balas Sitha.
"Gimana yang lain?" tanya Fael.
"Ya sudah Kak kami ikut aja" jawab Elfa.
Akhirnya semua sepakat makan bakso di warung mamang langganan mereka. Satu jam kemudian mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Lho si bule cakep kenapa Den?" tanya Mang Bakso ketika melihat Ethan keluar dengan kursi rodanya.
"Jatuh mang kemarin dan kakinya terluka" jawab Fael.
"Kasian pisan euy.. jauh - jauh ke Indonesia hanya menjemput maut" sambut istri mamang bakso.
"Huuus... kamu buk gak boleh ngomong begitu" larang suaminya.
"Dia mah beda Bu, jauh - jauh ke sini menjemput jodoh" ujar Sitha.
"Siapa jodohnya Neng?" tanya Istri Mamang Bakso.
"Tuh yang selalau dekat dengannya " tunjuk Fael.
"Neng Elfa?" tanya Si Mamang tak percaya.
"Neng Elfa emang pinter banget cari calon suami, guanteng pisan" sambut istri si Mang Bakso.
"Buk pesan seperti biasa ya" pinta mereka.
"Oke Den" jawab Istri penjual Bakso.
__ADS_1
Mereka duduk di depan meja yang panjang, seketika saja warung bakso si Mamang jadi penuh karena kedatangan mereka semua.
Fathir mengambil tempat duduk tepat di samping Fela dan berusaha tidak memberi celah pada Dokter Rasya.
Tak lama kemudian bakso sudah tersaji di depan mereka. Mereka memakannya dengan lahap sekali.
"Fel minta saos dan cabenya donk" pinta Fathir.
"Nih" Fela memberikan botol saus dan tempat cabe keadaan Fathir.
"Dokter Rasya kok bengong aja, dimakan baksonya, keburu dingin lho" perintah Ryntia.
"Eh iya Ryn" balas Dokter Rasya.
"Mau saos?" tanya Ryntia.
"Sudah cukup, terimakasih" jawab Dokter Rasya.
Sementara Ethan dan Elfa tampak semakin mesra. Sesekali Ethan menyuapkan bakso ke mulut Elfa.
"Aku iri melihat mereka mesra seperti itu" ucap Fela melirik ke arah Elfa dan Ethan.
"Ngapain iri, kita juga bisa. Nih" Fathir memberikan baksonya ke mulut Fela. Tapi Fela langsung menolaknya.
"Anggap aja aku keduanya bagi kamu" potong Fathir.
"Ya gak bisa donk, kamu kan sahabat aku. Mana bisa semudah itu merubahnya" balas Fela.
Fathir menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal. Dokter Rasya merasa ada celah untuknya setelah mendengar perdebatan Fela dengan Fathir.
"Kalau begitu sini aku saja yang suapin kamu" ujar Dokter Rasya.
Dokter Rasya menyendokkan bakso ke arah mulut Fela. Fela terkejut sehingga dengan refleks langsung membuka mulutnya. Fathir dan Ryntia saling tatap, mereka juga terkejut melihat reaksi Dokter Rasya kepada Fela.
Dokter Rasya tersenyum menang ke arah Fathir membuat Fathir panas dan kesal. Cuma dia tidak ingin merusak suasana pertemuan mereka ini. Akhirnya Fathir lebih memilih diam dan melanjutkan makannya.
Fela menyadari kalau Fathir tersinggung dengan sikapnya barusan. Fela menatap Dokter Rasya.
"Terimakasih Sya tapi cukup aku juga tidak bisa menerima lagi pemberian kamu" tolak Fela.
Akhirnya mereka makan dalam diam, mencoba bertanya pada hati mereka. Apa yang sedang terjadi saat ini diantara mereka.
__ADS_1
Setelah acara makan bakso selesai mereka akhirnya memutuskan untuk ngumpul di rumah triplet. Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah kediaman Fajar Barrakh.
Urusan perut sementara aman, kini mereka berkumpul di teras belakang rumah mereka sambil bersantai. Fael mengeluarkan gitarnya dan Fathir langsung memainkannya.
Sejak kejadian di warung bakso tadi Fathir jadi menjaga jarak kepada Fela. Fela menyadari perubahan sikap Fathir dan merasa bersalah. Mereka saling berbincang - bincang, bercanda dan bercerita hingga larut malam.
Saat semuanya sudah masuk ke dalam rumah menikmati makan malam Fathir lebih memilih bermain gitar sendirian di teras belakang. Hal ini dimanfaatkan Fela untuk mendekatinya.
"Fath... kamu marah padaku?" tanya Fela.
"Nggak, kenapa aku harus marah?" tanya Fathir balik.
"Maaf kalau penolakan aku tadi membuat kamu malu di depan Dokter Rasya. Aku tidak berniat seperti itu sebenarnya" ungkap Fela.
"Kamu gak salah Fel, aku kan memang hanya sahabat kamu, bukan pacar ataupun calon suami kamu. Akunya saja yang terlalu berharap banyak pada kamu" sambut Fathir.
Fela terkejut mendengar perkataan terakhir yang di ucapkan Fathir.
"Aa.. apa maksud kamu Fath?" tanya Fela bingung.
"Aku salah sama kamu Fel, aku sudah merubah hubungan persahabatan kita dengan sebuah perasaan yang lain. Mendengar mereka membicarakan pesta pernikahan serentak untuk kalian dan melihat wajah sedih kamu karena belum menemukan calon suami membuat aku tergerak untuk mewujudkan impian itu. Entah sejak kapan perasaan ini dimulai. Yang jelas perasaan aku sekarang sudah berubah kepada kamu. Kamu bukan hanya seorang sahabat di mataku Fel. Kamu lebih dari itu. Melihat orang lain mencoba mendekati kamu membuat aku tersadar kalau aku sangat takut kehilangan kamu. Aku.. aku... menyukai kamu Fel lebih dari rasa suka antara sahabat. Aku sering membayangkan kamu sebelum tidur bahkan berharap kamu hadir di dalam mimpiku. Setiap melihat kamu aku selalu ingin membuat kamu tersenyum, melindungi kamu dan membuat kamu ceria dan bahagia. Sebaliknya saat aku tidak melihat kamu aku merasa kehilangan dan rindu. Maafkan aku sudah mengotori hubungan persahabatan kita dengan perasaan ini" ungkap Fathir akhirnya.
Dia merasa posisinya saat ini sangat terancam dengan hadirnya Dokter Rasya diantara mereka. Apalagi Fathir bisa melihat dengan jelas tatapan Dokter Rasya kepada Fela adalah tatapan penuh cinta.
Itu yang membuat Fathir tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya yang sudah lama terpendam di hatinya. Dia tak tau tepatnya kapan perasaannya kepada Fela terlah berubah. Kapan rasa cinta tumbuh di hatinya. Kapan dimulainya bayang - bayang Fela yang terus menemani hari - harinya. Tapi yang pasti saat ini dia merasa sangat terancam akan kehadiran Dokter Raysa.
"Aku tau ini terlalu cepat untuk kamu, aku tau kamu pasti terkejut mendengar isi hatiku. Aku tidak memaksa kamu Fel. Aku sadar mungkin aku bukan yang terbaik tapi izinkan aku berjuang menjadi yang terbaik untuk kamu. Berikan aku kesempatan Fel. Aku janji, aku akan membuat kamu menjadi wanita yang paling bahagia dimuka bumi ini. Aku akan menyayangi kamu dengan seluruh hatiku" ucap Fathir meyakinkan.
Fela masih diam terpaku. Fathir mencoba menggenggam tangan Fela.
"Fel lihat aku, lihat ketulusanku. Berikan aku kesempatan untuk mengisi hati kamu" sambung Fathir lagi.
Fela menarik tangannya dan melepaskan genggaman tangan Fathir.
"Maaf Fath.. aku tidak bisa menerimanya. Ini terlalu cepat untukku. Aku tidak bisa memikirkannya. Maaf... " Fela langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Fathir sendirian terpaku menatap kepergiannya.
Ya Tuhaaan.. hancur sudah semuanya.. Mungkin hubungan kami tidak akan bisa seindah dulu. Fathir tertunduk sedih meratapi nasib dirinya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG