
"Lho kok ada dua?" ucap Dokter Rasya tanpa sadar. Dia terkejut melihat Elfa dan Fela datang bersamaan.
Jasmine tersenyum melihat wajah terkejutnya Dokter Rasya.
"Mereka ini triplet. Fael anak sulung, Fela anak tengah dan Elfa anak bungsu" jawab Jasmine.
"Trus yang mana Elfa dan Fela?" tanya Dokter Rasya bingung.
"Gimana Than, kamu sudah bisa membedakan mereka?" tanya Omar kepada Ethan.
"Sudah donk Opa. Yang ini Fela dan ini Elfa" Ethan menunjuk ke arah mereka berdua.
Omar tersenyum senang. Kamu memang antimonya Elfa. Batin Omar.
"Sudah pintar kamu ya. Sekarang Elfa duduk di dekat Ethan dan kamu Fela di dekat Dokter Rasya" perintah Omar.
"Oke Opa" jawab mereka berbarengan.
Sesuai perintah Opa Oma, Fela duduk di dekat Dokter Rasya.
Berarti wanita yang aku temui setelah dari kamar mandi adalah kembarannya Elfa. Apakah dia mempunyai penyakit yang sama dengan Elfa? Tapi mengapa Opa Omar menyuruhnya duduk di dekatku, apakah dia tidak takut penyakitnya kumat? tanya Dokter Rasya dalam hati.
Mereka makan siang sambil bercerita.
"Jadi Dokter Rasya ini temannya Dokter Shyana?" tanya Omar.
"Iya Opa, aku teman seangkatan cuma beda spesialis" jawab Rasya.
"Mmm begitu. Dokter Shyana kan spesialis Ortopedi. Kalau Dokter Rasya sendiri?" selidik Omar.
"Saya Dokter spesialis penyakit dalam Opa" jawab Rasya hormat.
"Waaah kalian orang-orang yang hebat ternyata" puji Omar.
"Ah Opa bisa aja, lebih hebat juga Opa" balas Dokter Rasya merendah.
Fael terlihat tidak senang mendengar pujian Opanya pada Dokter Rasya. Dia sudah terbakar api cemburu sejak tadi.
Setelah selesai makan siang asisten rumah tangga mengeluarkan bubur sumsum buatan Ela sebagai dessert mereka siang ini.
"Mmm.. enak sekali bubur sumsumnya Oma. Manisnya pas" puji Dokter Rasya.
"Iya ini buatan menantu saya. Namanya mereka ini" jawab Jasmine.
__ADS_1
"Waah kalian beruntung sekali ya punya Mama pintar masak" jawab Rasya.
"Masakan Mrs. Fajar memang enak tapi lebih enak lagi masakan Elfa" sambut Ethan.
"Itu karena kamu udah jatuh cinta sama masakan Elfa" potong Fael.
"Hehehe kamu bisa saja" jawab Ethan.
"Jadi cuma jatuh cinta sama masakannya saja?" pancing Omar.
"Berawal dari lambung Opa naik ke jantung Opa" balas Ethan spontan.
"Kok ke jantung?" tanya Dokter Shyana.
"Iya Dokter, karena setelah itu jantungku jadinya gak karuan. Aku jadi takut terserang penyakit jantung karena jantungku rasanya mau copot kalau bertemu Elfa. Jedag.. jedug... bunyinya" gombal Ethan.
Elfa secara refleks menginjak kaki Ethan.
"Awwww... sakit Elf" ujar Ethan sambil merintih.
"Itu karena kamu terlalu banyak menggombal. Sudah habisin saja makanan kamu. Mentang - mentang semakin mahir bahasa Indonesia, sekarang sudah pinter merayu ya" ejek Elfa.
"Itu karena kakak ipar aku yang ajari. Ya kan Fael" sambut Ethan.
"Kamu Fael bisanya bantuin orang ngegombal. Kamu sendiri aja gak pernah bisa, ya kan Dokter Shyana" sindir Omar.
"Haa...? iya eh gak tau Opa" jawab Dokter Shyana gugup. Dia tidak mengangkat pasiennya Omar Barrakh akan bertanya seperti itu.
"Hahaha... Opa, Dokter Shyana sampai merah itu pipinya" ucap Jasmine.
"Seperti kamu dulu sayang, malu - malu waktu aku godain" sambut Omar.
"Waaaah Opa dan Oma hebat sampai usia sekarang ini masih tetap romantis" puji Ethan.
"Harus itu agar hubungan tetap langgeng. Dia adalah penyemangat hidupku. Aku termotivasi untuk sehat karena aku belum mau meninggalkannya" jawab Omar sambil mencium lembut tangan istrinya.
Jasmine tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.
"Kalian tau, dia ini dulu sangat menyebalkan, dingin dan datar. Oma pernah memanggilnya Mr. Flat. Karena wajahnya yang selalu datar. Oma masak apa saja dia tidak pernah menanggapinya. Satu kali Omar buatkan nasi goreng yang asin. Baru deh Opa komentar dan membuat nasi dari mulutnya" ungkap Jasmine sambil bernostalgia mengenang awal pernikahan mereka dulu.
"Hahaha... serius Oma?" tanya Dokter Shyana tidak percaya.
"Serius Dokter Shyana" jawab Jasmine.
__ADS_1
"Dan sifat dingin Opa itu menurun ke Papa kami kan?" tanya Fela.
"Ya begitulah, tapi Papa kalian lemot tentang cinta. Menyadarkan dia jatuh cinta pada Mama kamu saja butuh waktu yang lama. Mereka selalu bertengkar setiap bertemu. Persis sama seperti Ethan dan Elfa dulu" goda Omar.
"Sekarang masih sama" jawab Fela.
"Tida Fel, kalau Elfa masih sama tapi aku sudah berubah dan aku yakin perlahan - lahan dia juga akan berubah sama seperti Mr. Fajar" sindir Ethan.
Elfa kembali menginjak kaki Ethan di bawah meja makan.
"Aaaww... sakit Elfa. Yang lembut donk kalau mau colek aku" goda Ethan.
"Enak saja" jawab Elfa ketus.
Semua tertawa melihat interakasi Elfa dan Ethan di meja makan.
Makan siang mereka berakhir dengan tawa dan canda. Tentu saja Omar dan Jasmine sangar senang banyak anak muda yang kumpul di rumahnya. Rumah mereka kembali ramai dengan tawa.
"Kalau kalian sering datang dan berkumpul seperti ini rasanya kami kembali muda ya kan Yank" ucap Omar kepada istrinya.
"Iya Mas, kita jadi kembali bernostalgia pada kenangan kita masih muda dulu" jawab Jasmine.
"Satu nasehat kami sebagai orang tua.. Jangan salah mengenali cinta kalian dan jangan terlalu fokus pada apa yang kalian lihat di luarnya saja. Belum tentu buruk yang kalian lihat di luar itu yang ada di dalamnya begitu juga sebaliknya. Cinta bisa datang kapan siapa, pada siapa saja tanpa kita bisa memilih. Jika cinta kalian sudah bermuara peliharalah agar cinta itu terus bersemi. Cobaan akan datang silih berganti untuk menguji cinta kalian. Sekuat apa kalian bisa bertahan? Saling percaya itulah kuncinya" nasehat Omar.
Semua mendengarkan dengan hikmat, ini adalah ilmu kehidupan yang tidak mudah mereka dapatkan. Bahkan di bangun sekolahan sekalipun tidak mereka dapatkan.
"Cintailah sesuatu pada porsinya, jangan terlalu berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik. Jika kamu kecewa kamu akan hancur berkeping-keping. Rasa cemburu itu pasti ada karena itu adalah bumbu - bumbu cinta. Seperti garam dalam masakan akan terasa hambar bila kurang. Tapi jika kita tepat dan ukurannya pas tentu masakan itu akan sangat nikmat. Begitu juga kehidupan ini" sambut Jasmine.
"Terimakasih Opa, Oma. Nasehat kalian sangat berarti bagi kami yang sedang dalam pencarian cinta. Mudah - mudahan kami semua bertemu dengan orang yang tepat" ucap Fael sambil terus menatap Dokter Shyana dengan intens.
Sementara Dokter Shyana hanya bisa tertunduk malu dan tidak berani kembali menatap wajah Fael.
"Di usia kalian saat ini, bisa dikatakan mapan. Temukanlah cinta kalian, jangan berlama - lama karena Setan akan senang turut campur di dalamnya" sambung Omar.
"InsyaAllah Opa. Kalau aku sudah sangat yakin, tinggal Elfa bilang 'Iya' aku akan segera menghalalkannya" sambut Ethan dengan tegas.
Untuk yang ketiga kalinya Elfa menginjak kaki Ethan di bawah meja.
"Aaaawwww........ "
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG