
"Wa'alaikumsalam... Opa... Oma... Ka.. kaliaaan dataaaaang?" sambut Dokter Shyana.
"Berdua saja, kok tau aku ada di sini?" tanya Dokter Shyana beruntun.
"Nih biang keroknya" Omar menunjuk ke arah belakang ternyata Fael juga ikut bersama mereka. Sontak wajah Dokter Shyana memerah karena malu.
"Silahkan masuk Oma Opa... " Dokter Shyana langsung menyambut Oma Jasmine dan memeluknya.
"Mama Papa kita kedatangan tamu Opa dan Oma Barrakh" ucap Dokter Shyana kepada kedua orang tuanya.
Mama Dokter Shyana yang sedang asik menyuapi suaminya cemilan sore langung menghentikan kegiatan mereka dan segera menyambut Omar dan Jasmine yang baru datang ke ruangan mereka.
"Eh Nyonya jad merepotkan kalian datang ke sini" sambut Mama Dokter Shyana canggung.
"Kami senang kok, Dokter Shyana sudah kami anggap sebagai keluarga dan cucu kami jadi sudah sewajarnya kami kemari menjenguk Palanya yang sedang sakit" balas Jasmine.
Omar jalan sambil di pegang Fael dari samping, kemudian dia duduk di kursi yang berada dekat di samping tempat tidur Bapak Nugroho.
"Tadi pagi Fael datang ke rumah kami mengabarkan kalau Papanya Dokter Shyana sakit usus buntu, katanya tinggal pemulihan pasca operasi" ungkap Omar.
"Iya Tuan" jawab Bapak Dokter Shyana.
"Jangan panggil saya seperti itu, panggil saja Bapak atau Om juga boleh" sambut Omar.
"Eh Iya Pak" ulang Pak Nugroho.
"Gimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?" tanya Omar ramah.
"Sudah Pak, sudah mulai berlajar jalan. Lusa mungkin sudah bisa pulang" jawab Pak Nugroho.
"Mama mana bingkisan yang kamu bawa tadi?" tanya Omar kepada Jasmine
"Ini Mas" Jasmine menyerahkan bingkisan yang dia bawa kepada Mama Dokter Shyana.
"Duh jangan repot - repot Nyonya" jawab Mama Dokter Shyana.
"Panggil Tante atau Ibu juga boleh.
" Iya Bu, jadi ngerepotin" balas Mama Dokter Shyana sambil menerima bingkisan yang dibawa Jasmine membukanya dan menyuguhkannya untuk makanan mereka sore itu di Rumah Sakti.
"Mimpi apa kita ya Pa langsung kedatangan pemilik Toko Kue Jasmine dan dibawain makanan spesial. Pasti ini buatan Ibu sendiri kan?" tanya Mama Dokter Shyana.
"Hahaha... resep jadul itu. Zaman sekarang sudah begitu banyak jual kue dan roti yang beraneka ragam rasa dan bentuknya" jawab Jasmine.
__ADS_1
"Masakan Ibu enak sekali, kemarin Fael juga bawain cake dari toko roti Ibu. Kami sangat menyukainya" balas Mama Dokter Shyana.
Suasana kamar rawat inap terasa lebih hangat dan kekeluargaan. Mereka sangat akrab berbincang-bincang dan bercanda.
"Kata Fael kamu pintar main catur, dia mengajak aku ke sini karena katanya aku akan bertemu dengan lawan catur yang seimbang" ujar Omar.
"Ah Bapak, Fael bisa aja tuh cerita begitu. Saya tidak pintar Pak hanya suka main aja" sambut Papa Dokter Shyana.
"Hahaha... bisa donk kapan - kapan kita susun jadwal pertemuan setelah kamu sembuh" ujar Omar.
"Fael juga sudah cerita pada saya Pak. InsyaAllah nanti kalau saya sudah pulang ke rumah saya akan undang Bapak untuk bermain catur di rumah saya. Itupun kalau Bapak tidak keberatan mampir ke rumah kami yang sangat sederhana" jawab Pak Nugroho merendah.
"Ah rumah yang nyaman itu tergantung dengan tuan rumahnya. Kalau pemilik rumah memiliki hati yang lapang pasti kita akan betah datang ke rumah itu. Aku yakin keluarga kamu pasti seperti itu karena aku melihat Dokter Shyana sangat sopan santun pasti begitulah ajaran dari kedua orang tuanya" puji Omar.
"Hehehe... iya Pak" jawab Pak Nugroho sambil tersenyum malu.
"Katanya Nak maaf siapa namanya?" tanya Omar.
"Saya Nugroho Pak" jawab Papa Dokter Shyana cepat.
"Iya kata Dokter Shyana kamu bekerja sebagai pegawai negeri sipil, di departemen mana?" tanya Omar.
"Saya bekerja di departemen xx" jawab Papa Dokter Shyana.
"Sudah lama PNSnya?" tanya Omar.
Omar hanya menganggukkan kepalanya.
"Berapa anak kamu?" Selidik Omar.
"Cuma satu Pak, Shyana anak tunggal" jawab Nugroho.
Wah pas ini ada cara untuk masuk. Batin Omar.
"Dokter Shyana dengar itu, Papanya tiga tahun lagi mau pensiun Dokter Shyana harus cepat - cepat nih kasih cucu buat Papanya biar nanti kalau Papanya pensiun ada kegiatan di rumah ngemong cucu" sindir Omar.
"Tu dia Pak Shyana sibuk sekolah terus sampai lupa cari calonnya jadi sekarang apa ya nama ngetrendnya anak muda sekarang. Jomblo Pak.. sampai sekarang dia masih jomblo jadinya" sambut Pak Nugroho.
Dokter Shyana tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya.
"Sama tuh sama cucuku yang paling tua itu" Omar menunjuk ke arah Fael sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Keasikan kerja sampai lupa cari calon istri" sambung Omar.
__ADS_1
"Anak - anak sekarang kalau dibilangin gak mau dengar. Kalau kita bicara tentang jodoh katanya nanti pasti akan datang sendiri. Kalau gak usaha gimana mau dapat jodoh. Itu yang sering saya ingatkan" ungkap Pak Nugroho.
Duh si Papa malah kupas tuntas. Aku kan malu di depan Fael, Opa dan Oma. Batin Dokter Shyana.
"Saya dulu juga hampir sama dengan Fael, sibuk kerja sampai dapat ancaman dari paman untuk menjodohkan saya dengan wanita pilihannya. Tapi saya malah menerima tawaran sahabat saya untuk berkenalan dengan istri saya ini. Alhamdulillah ternyata kami berjodoh. Itu kan juga salah satu usaha. Dan tiap orang punya usaha yang berbeda - beda. Siapa tau usaha mereka ini berbeda memang harus ikut jalur perjodohan kali" komentar Omar.
"Saya belum punya calon Pak untuk menjodohkan Shyana" ungkap Pak Nugroho.
Pas sekali ini. Tawa Omar dalam hati.
"Kalau saya yang ngajukan calon buat Dokter Shyana gimana? Apakah kalian setuju?" tanya Omar.
Pak Nugroho dan istrinya saling pandang mereka melirik Dokter Shyana yang masih terus menundukkan kepalanya.
"Kalau kamu terserah Shyananya sendiri aja Pak. Kalau dia setuju, kami juga setuju asalkan calonnya itu seakidah, baik dan bertanggung jawab kalau soal rezeki kan bisa di cari bersama - sama" jawab Pak Nugroho.
"Saya bisa menjamin calonnya adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, pasti donk seakidah. Dia pekerja keras dan setia" Omar melirik Fael.
Giliran Fael yang tersenyum malu. Jantungnya berdetak tak karuan ketika pembicaraan Opanya semakin menjurus ke arah perjodohan. Dia sangat tau maksud dan rencana Opanya. Pasti ingin menjodohkan dirinya dengan Dokter Shyana.
Sebenarnya itulah yang diinginkan Fael makanya dia mengajak Opanya ke sini untuk pendekatan dengan keluarga Dokter Shyana. Tapi dia tidak menyangka secepat dan selancar ini rencana Opanya itu untuk melempangkan jalan Fael mendekati Dokter Shyana.
Pak Nugroho menatap putrinya.
"Gimana Shyan? Kamu kan sudah kenal Pak Barrakh dengan baik, Papa yakin dia juga tidak akan memberikan calon yang buruk untuk kamu?" tanya Papa Dokter Shyana.
"Kalau Opa mau mengenalkan aku dengan seseorang boleh saja, ta.. tapi bukan dipaksa menikah kan?" tanya Dokter Shyana.
Dokter Shyana takut apa yang ada di hatinya meleset dan tidak sama dengan kenyataannya. Dia tidak mau berharap kalau Opa Omar akan menjodohkannya dengan pria yang ada di hadapannya. Syukur - syukur benar tapi kalau salah dia bisa gigit jari.
"Hahaha... zaman sekarang gak zamannya lagi kawin paksa Dokter Shyana. Kami hanya membuka jalan bagi kalian, selebihnya ya kalian yang jalan sendiri. Kan yang mau menikah kalian bukan kami. Ya kan Pak Nugroho. Tugas kita hanya mengenalkan masalah hati ya bebas. Kalau cocok di lanjut kalau tidak ya berteman saja" sambut Omar.
"Benar Pak saya setuju" jawab Nugroho singkat.
"Kalau seperti itu saya ikut gimana baiknya aja menurut Papa dan Opa" jawab Dokter Shyana tertunduk malu.
"Tuh dengar kan Fael, Dokter Shyana sudah setuju. Tinggal kamunya aja gimana cara mengambil hati Dokter Shyana agar mau menerima kamu" sambut Omar kepada Fael.
Sontak Dokter Shyana mengangkat wajahnya dan memandang wajah Fael dengan tatapan terkejut dan tidak percaya.
A... aaaapa.. maksud Opa pria itu adalah Fael? tanya Dokter Shyana dalam hati dan dia masih tidak percaya.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG