
"Hahahahaha.... sepertinya kamu punya selera humor yang tinggi anak muda" Omar tertawa mendengar kata - kata Ethan yang sangat percaya diri.
Sedangkan Elfa terlihat sangat kesal dengan ucapan Ethan.
"Besok kamu ada kerjaan?" tanya Omar.
"Belum Grandpa" jawab Ethan singkat.
"Kalau begitu temani aku besok main catur, bisa main catur?" tantang Omar.
"Bisa Grandpa. Besok pagi aku akan datang lagi ya. Sudah malam, grandpa harus istirahat. Nanti kita bisa di marahin sama dokter Elf kalau sampai membuat Grandpa begadang" Ethan melirik ke arah Elfa.
"Kamu aja kale yang di marahin. Kan kamu tamu yang dari tadi gak pulang - pulang? kalau aku mah jagain Opa di Rumah Sakit" jawab Elfa ketus.
Omar memperhatikan interaksi dua muda mudi itu.
"Grandpa aku pulang dulu ya, besok aku datang lagi" ucap Ethan.
"Baiklah, tapi kalau kamu tidak datang kamu akan aku coret dari kandidat calon cucuku" ancam Omar.
"Siaaap Grandpa" balas Ethan.
Ethan mencium tangan Omar saat berpamitan.
"Daaah" ucap Elfa dengan enggan.
"Elf, antarkan dia sampai depan" perintah Omar.
Wajah Elfa langsung berubah manyun karena kesal. Ethan tersenyum melihat tingkah Elfa yang ogah - ogahan.
"Baik Opa" jawab Elfa malas
Elfa mengantarkan Ethan sampai depan pintu kamar ruang inap Omar.
"Sudah ya, sampai di sini saja. Aku tidak bisa meninggalkan Opa lama - lama sendiri. Nanti dia butuh sesuatu aku tidak ada" ucap Elfa sengaja mencari alasan.
"Okey, gak apa - apa. Terimakasih ya atas hari ini. Kamu mau mengajak aku bersenang - senang tadi" ucap Ethan tulus.
__ADS_1
"Biasa aja" balas Elfa.
"Aku pulang, sampai ketemu besok" sambung Ethan.
Ethan segera berjalan meninggalkan Elfa sendirian. Setelah Ethan berlalu baru Elfa masuk kembali ke ruangan Opanya.
"Dia sudah pulang?" tanya Omar.
"Sudah" balas Elfa singkat.
Elfa menarik selimut Opanya sampai menutupi dada.
"Sepertinya kamu sudah menemukan antimo kamu" ujar Omar.
"Siapa, dia Opa? Oh tidak.. tidak... " tolak Elfa.
Omar tersenyum.
"Dulu Papa kamu juga seperti itu waktu Opa bilang bahwa Mama kamu adalah antimonya. Dia berusaha keras mengelak dan menolaknya. Tapi setelah dia menyadari perasaannya semenitpun rasanya tak ingin berpisah. Dan langsung minta di halalkan" ungkap Omar.
"Itu salah satu faktor tapi yang lebih utama Papa kamu sudah mulai menyadari perasaannya pada Mama kamu. Dia sudah jatuh cinta" Omar tersenyum lembut kepada cucunya.
Elfa duduk persis di kursi samping tempat tidur Omar. Dari kecil Elfa lah cucu yang paling dekat dengan Omar.
Bersama Elfa Omar tahan berbincang lama, dia seperti mendapatkan teman yang sangat pas untuk di ajak ngobrol apa saja.
Fael dia terlalu pendiam, sedangkan Fela sering gak nyambung. Berbeda dengan Elfa yang selalu ceria dan ada saja bahan pembicaraan yang membuatnya selalu tertawa.
Entah itu tentang latihan taekwondonya, tentang sekolahnya, tentang pelajarannya bahkan tentang ikan yang ada di selokan sekolahnya saja Elfa ceritakan kepada Opanya.
Dulu saat Elfa kuliah di luar negeri Omar sering berkunjung ke apartemen Elfa di London. Bersama istrinya, Jasmine mereka sering berjalan - jalan kota London bertiga.
Dengan Jasmine Elfa juga yang paling dekat. Mereka sering bereksperimen di dapur untuk memasak suatu makanan yang sangat enak.
Sejak kehadiran Elfa, hidup Omar dan Jasmine kembali ramai. Dan mereka selalu merindukan dan merasa sepi kalau Elfa di London dan berjauhan dengan mereka.
Omar mengelus lembut kepala cucu kesayangannya itu.
__ADS_1
"Jangan terlalu berlebihan dalam membenci. Opa pernah mengalami kejadian seperti itu dulu sama Oma kamu. Opa menikahi Oma kamu karena di desak keluarga untuk segera menikah. Opa yang mempunyai alergi pada wanita tidak mempunyai teman wanita. Sehingga Opa tidak punya calon istri pada saat itu. Pertemuan Opa dan Oma kamu tanpa sengaja, Opa, Opa Kevin dan Opa August membantu Oma kamu mengganti ban mobilnya yang kempes. Setelah itu dengan bantuan Opa Kevin dan Opa August kami menjebak Oma kamu agar dia mau menikah dengan Opa" ungkap Omar.
Omar kembali mengingat kejadian puluhan tahun silam.
"Saat itu Opa dan Oma tidak saling mencintai bahkan kami saling benci. Opa benci karena tidak mau dekat dengan perempuan sedangkan Oma kamu benci pada Opa karena merasa bahwa dia di jebak. Opa selalu mengatakan bahwa Opa tidak suka dan benci pada Oma kamu tapi akhirnya perlahan - lahan cinta itu hadir tanpa di undang. Opa menjilat ludah Opa sendiri. Setiap hari Opa semakin mencintai Oma kamu bahkan tidak sanggup berpisah sedikitpun dengannya" sambung Omar.
Elfa mendengarkan cerita Omar dengan sangat khusyuk.
"Selama ini penyakit kita ini setau Opa hanya punya satu obatnya. Tidak ada dua, dan apabila kita sudah menemukan obat itu perlahan - lahan penyakit kita akan sembuh. Nanti saat kamu sudah menemukan antimo kamu dan menikah, perlahan - lahan nanti penyakit kamu akan sembuh. Jadi secepatnya lah kamu pelajari dan teliti apakah memang benar Ethan itu antimo kamu. Sekuat apa pun kamu menolaknya kalau memang dia adalah jodoh kamu, kalian tetap akan bersatu. Jadi untuk apa kamu membencinya sekuat tenaga kamu. Yang ada kamu yang akan merasa lelah dan membuang waktu kamu" nasehat Omar.
"Pasrahkan semua pada Allah, kalau memang dia yang di kirim Allah untuk penawar penyakit kamu berdamailah dengannya. Belajar menerima semua yang ada pada dirinya apapun itu. Baik buruknya, kelebihan dan kekurangannya dan kemudian berusahalah untuk menyempurnakanny. Karena menikah itu menyempurnakan separuh agama" sambung Omar.
Kata - kata terakhir Omar sangat menyentuh perasaan Elf.
"Ta.. tapi Papa juga tidak menyukainya Opa" jawab Elfa.
"Papa kamu itu dari dulu selalu lambat menyadari siapa yang menjadi antimo untuk dirinya dan juga untuk kamu anaknya. Nanti Opa juga akan bicara dengannya" balas Omar.
"Tapi Opa... "
"Tapi apa sayang? Pilihan kamu hanya dua, kalau memang dia antimo kamu terima dia atau kamu tidak akan menikah seumur hidup kamu" ancam Omar.
Bulu kuduk Elfa tiba - tiba saja berdiri. Dia jadi gak enak sama Kakak dan sahabatnya yang perempuan.
Mereka berjanji tidak akan menikah sebelum Elfa menikah hanya karena sebuah alasan mereka kasihan melihat Elfa yang akan mabuk jika berdekatan dengan pasangan mereka.
Kalau Elfa duluan yang menikah, setelah menikah kan penyakit Elfa akan sembuh. Jadi tidak masalah lagi kalau mereka menemukan pasangan mereka masing-masing. Pasti Elfa tidak akan kumat lagi penyakitnya.
"Coba kamu fikirkan pelan - pelan. Tidak ada yang memaksa. Semua keputusan ada pada kamu. Kamu kan sudah dewasa, Opa rasa kamu sudah sangat mengerti mana yang baik untuk hidup kamu mana yang tidak. Kamu juga bisa menilai mana yang tulus dan mana yang mempunyai maksud tertentu kepada kamu. Kamu fikirkan semua yang Opa katakan ini" pesan Omar.
"Baik Opa... "
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1