CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
128


__ADS_3

"Ya aku mau Fael.. aku mau" jawab Dokter Shyana.


Dokter Shyana menyentuh dadanya mencoba untuk menetralkan jantungnya.


Ya Allah sungguh aku tidak menyangka secepat itu KAU kabulkan doa dan mimpiku. Tadi siang saja ini masih bagaikan mimpi tapi kini semua bernar nyata. Batin Dokter Shyana.


Fael memasangkan cincin ke jari manis Dokter Shyana.


"Makasih Shyan, kamu sudah menerima lamaranku. Secepatnya aku akan beritahu keluargaku kabar gembira ini. Nanti setelah Papa kamu keluar dari rumah sakit aku akan mengajak keluarga aku untuk melamar kamu" tegas Fael.


"Iya, aku juga akan kasih tau Mama dan Papa aku akan hal ini" jawab Dokter Shyana masih malu - malu.


Fael tersenyum lepas, lega rasanya perasaan hatinya sudah tersampaikan kepada Dokter Shyana. Tak lama pelayan datang menghidangkan makanan yang mereka pesan.


"Kamu sudah merencanakan semua ini?" tanya Dokter Shyana.


"Jujur aku katakan ini dadakan. Ketika Opa menyinggung soal perjodohan di Rumah Sakit tadi baru aku kepikiran untuk langsung melamar kamu secara pribadi dulu sebelum pertemuan keluarga kita nanti. Ketepatan pemilik Restoran ini adalah teman aku jadi aku minta mereka menyediakan semua ini" ungkap Fael.


"Aku masih merasa ini semua mimpi" ujar Dokter Shyana.


Fael mencubit lengan Dokter Shyana.


"Aaaawww... sakit Fael" teriak Dokter Shyana kesal. Dia bingung mengapa tiba - tiba Fael mencubit lengannya.


"Sakit kan? Itu artinya nyata Shyan, kamu tidak sedang bermimpi" tegas Fael masih dengan senyuman manisnya.


Dokter Shyana kembali bersemu merah karena menahan malu.


"Yuk kita makan" ajak Fael.


Dokter Shyana tersenyum manis sekali, ruangan yang tadi gelap kini sudah kembali terang benderang. Mereka makan sambil terus saling pandang dan tersenyum bahagia.


Setelah acara makan malam selesai Fael kembali mengantarkan Dokter Shyana ke rumah sakit.


"Assalamu'alaikum" ujar Dokter Shyana begitu masuk ke dalam kamar rawat inap Papanya.


"Wa'alaikumsalam" jawab Papa dan Mama Dokter Shyana.


Mereka melihat wajah putrinya sedang bersemu merah, pasti sudah terjadi sesuatu diantara mereka. Batin Papa dan Mama Dokter Shyana.


"Kalian dari mana, sudah makan?" tanya Mama Dokter Shyana.


"Sudah Ma, kami baru pulang makan malam di luar" jawab Dokter Shyana.

__ADS_1


"Gimana Om perkembangan pasca operasinya, masih terasa sakit bekas jahitannya?" tanya Fael memberikan perhatian kepada calon mertuanya.


"Masih sedikit - sedikit tapi tak mengapa masih bisa ditahan" jawab Pak Nugroho.


"Kalau masih sakit jangan di tahan - tahan Om, biar kita laporkan pada Dokternya, biar Om dikasih obat untuk menghilangkan rasa sakitnya" sambut Fael.


"Tidak nak Fael.. gak apa - apa. Wajar kok namanya baru operasi, biasa itu sakit sedikit biar ada kenang - kenangannya" jawab Pak Nugroho cepat.


"Iya biar Om jera dan mau menjaga pola makannya" potong istri Pak Nugroho.


Fael tersenyum menatap wajah kedua mertuanya.


"Sudah malam Om, Tante, saya mau pamit pulang. Om dan Tante juga mau istirahat. Besok saya akan datang lagi" Fael mencium tangan kedua calon mertuanya itu.


"Shyan aku pulang ya" ucap Fael kepada Dokter Shyana.


"Antar gih Fael ke depan" perintah Mama Dokter Shyana.


"Iya Ma" jawab Dokter Shyana patuh.


Pak Nugroho dan istrinya menatap kepergian dua insan yang sedang dilanda cinta itu, hingga mereka menghilang dari balik pintu.


"Sepertinya telah terjadi sesuatu Ma pada mereka, tadi Papa lihat ada cincin tersemat di jari manis Shyana" ujar Pak Nugroho.


"Papa gak tau Ma, nanti tanyakan saja pada putrimu itu" jawab Pak Nugroho.


"Cepat sekali geraknya Fael. Bukannya tadi saat Pak Omar Barrakh disini kita baru sepakat bahwa mereka akan saling kenal dulu. Masih dalam hitungan jam sudah di lamar" ujar Bu Nugroho tak percaya.


"Hahaha.. namanya anak muda Ma yang sedang jatuh cinta. Kamu seperti gak pernah muda saja, kamu juga dulu desak - desak Papa minta segera di lamar, takut Papa di rebut wanita lain begitu lulus PNS" goda Pak Nugroho.


"Ih si Papa kepedean, bukannya Papa yang desak Mama bilang mau ke rumah untuk ngelamar Mama setelah lulus PNS" protes istrinya.


"Hahahaa... " Pak Nugroho tertawa melihat wajah kesal istrinya.


Tak lama Dokter Shyana sudah kembali ke kamar rawat inap Papanya.


"Ehm... ada yang lagi berbunga - bunga Ma" goda Pak Nugroho.


"Iya ya Pak, kok kelihatannya tangan Shyana berat sebelah ya?" sambut Mama Dokter Shyana.


"Iya Ma, bahunya Shyana juga ikutkan miring tuh" timpa Pak Nugroho.


Dokter Shyana yang tidak mengerti dengan ucapan Papa dan Mamanya langsung melihat ke arah cermin.

__ADS_1


"Mana Pa? bahu aku biasa - biasa saja dan tangan aku juga baik - baik saja gak ada yang berat" Dokter Shyana mengangkat tangannya dan tanpa dia sadar menunjukkan cincin di jari manisnya.


"Tuh benar kan Ma apa yang Papa bilang, ada yang baru di lamar" goda Papa Dokter Shyana.


Sontak Dokter Shyana tersadar dan dia segera menarik tangannya ke belakang. Dokter Shyana tersipu malu.


"Ooh rupanya ada yang gak mau cerita Pa, dia mau main sendiri rupanya" sindit Bu Nugroho.


"Mamaaaaaaa" Dokter Shyana langsung berlari dalam pelukan Mamanya.


"Tadi Fael melamarku Ma, Pa saat dia mengajak aku makan malam di luar" jawab Dokter Shyana.


"Dan kamu menerimanya kan?" goda Pak Nugroho.


"Papaaaaa... aku kan jadi malu" Dokter Shyana menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Sini sayang duduk di sini" panggil Pak Nugroho.


Dokter Shyana duduk di pinggiran tempat tidur tepat di samping Pak Nugroho.


"Kamu bahagia?" tanya Pak Nugroho.


Dokter Shyana tertunduk malu sambil menganggukkan kepalanya.


"Kami juga setuju, dari awal Papa melihatnya Papa sudah tahu kalau dia pria yang baik. Bukan karena melihat siapa keluarganya dan seberapa kayanya mereka. Tapi lebih kepada pribadinya. Dia pria yang sopan, baik dan santun. Dia juga kelihatannya pekerja keras dan bertanggung jawab" Pak Nugroho mengelus punggung putrinya penuh kasih sayang.


"Tadi saat Pak Omar Barrakh mengatakan ingin menjodohkan kalian Mama terus bersyukur dalam hati ternyata keluarga mereka tidak seperti yang kamu takutkan sayang. Mereka tidak memandang status dan kelihatannya mereka sangat baik sekali" sambung Bu Nugroho.


"Aku juga masih merasa ini mimpi Ma, Pa. Fael bilang dia sudah mengenal aku sebelumnya jadi untuk apa ada kata - kata saling mengenal lagi makanya dia langsung memantapkan hatinya untuk melamar aku. Katanya nanti setelah Papa pulang dari rumah sakit dia akan membawa Papa, Mama dan seluruh keluarganya yang lain untuk datang ke rumah kita dan melamarku secara resmi" ungkap Dokter Shyana dengan mata yang berbinar penuh dengan kebahagiaan.


"Alhamdulillah... akhirnya putri Papa menikah dan sebentar lagi akan menjadi istri orang. Kita harus siap - siap Ma kehilangan Shyana" ujar Pak Nugroho bahagia sekaligus sedih.


"Papa.... aku akan sering mengunjungi kalian. Jangan katakan itu. Belum juga menikah sudah membuat aku sedih membayangkannya" Dokter Shyana langsung memeluk erat tubuh Papanya.


"Sayang... setiap wanita harus ikut kemanapun dibawa oleh suaminya. Setelah kamu menikah Papa dan Mama harus melepaskan kamu. Karena tanggung jawab kami sudah berpindah kepada suami kamu. Papa dan Mama berdosa sayang kalau harus menahan kamu untuk terus bersama kami. Kami sudah mempersiapkan hati kami sejak kami beranjak dewasa. Kamu anak perempuan kami, suatu hari kami akan melepas kamu untuk pergi bersama pria yang tepat dan itu adalah Fael. Semoga Allah meridhoi niat baik kalian ya nak" Pak Nugroho membalas pelukan Dokter Shyana.


Bu Nugroho menyeka air mata bahagia yang menetes di pipinya. Akhirnya waktu itu akan segera tiba. Waktu dimana mereka harus ikhlas melepas putri tunggal mereka untuk menikah dengan pria lain.


Semoga Fael adalah pria yang tepat yang bisa menjaga Shyana sampai mereka tua. Aamiin.. Doa Mama Dokter Shyana.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2