
Makan malam romantis Ethan, Elfa dan anggota Gengs ERASADIS berjalan dengan manis dan romantis. Sekitar jam sepuluh malam mereka pulang ke rumah masing-masing.
Elfa tentu saja bareng Ethan, Fael bareng Dokter Shyana, Fela pulang di antara Fathir, sedangkan Jack bareng Celine. Kini hanya tinggal Shaby, Sitha, Ryntia dan Dokter Rasya yang terlihat masih bingung.
"Gimana Ryn supir kamu udah datang?" tanya Sitha.
"Barusan aku supir aku kirim pesan ban mobil bocor. Aku ikut kalian aja ya" pinta Ryntia.
"Rumah kita kan jauh Ryn belum juga beda arah sama rumah Shaby kasihan kan Shaby muter - muter" ujar Sitha.
"Iya juga ya, jadi gimana ya?" tanya Ryntia.
"Emangnya rumah kamu dimana Ryn?" tanya Dokter Rasya.
"Di daerah XXX " jawab Ryntia.
"Oh searah sama rumahku. Ya sudah bareng aku aja biar aku antar sampai rumah" ajak Dokter Rasya
"Benar nih gak ngerepotin?" tanya Ryntia.
"Nggak, kan searah Ryn" jawab Dokter Rasya.
"Iya Ryn bareng Dokter Rasya aja lebih aman dari pada naik taxi online" sambut Sitha.
"Iya deh kalau gitu" balas Ryntia pasrah.
"Titip Ryntia ya Sya. Maaf ngerepotin kamu" ujar Shaby.
"Santai aja Shab kayak sama orang lain aja" balas Dokter Rasya.
"Ya udah kalau begitu kita balik ya Ryn, Sya. Hati - hati kalian" ujar Sitha.
"Yuk Sya kami duluan ya" sambut Shaby.
"Oke Shab" balas Dokter Rasya.
Shaby dan Sitha berjalan menuju mobil Shaby sedangkan Ryntia mengikuti Dokter Rasya ke mobilnya.
"Duh aku jadi gak enak Sya. Kalau kamu ada perlu mau ketempat lain gak apa - apa kok aku naik taxi online aja" ujar Ryntia.
"Udah Ryn santai aja. Aku bisa kok antar kamu pulang sampai rumah. Aku gak ada rencana mau kemanapun dan gak ada janji sama siapapun. Yuk aku antar pulang" ajak Dokter Rasya.
__ADS_1
Dokter Rasya membukakan pintu mobilnya untuk Ryntia.
Duh jadi gak enak, mana dijamu seperti ini lagi. Berasa kayak orang spesial jadinya. Batin Ryntia.
Ryntia masuk ke dalam mobil Dokter Rasya setelah itu baru Dokter Rasya naik ke mobil juga dan mulai menyalakan mobilnya. Mobil meluncur menuju rumah Ryntia.
"Kamu biasanya kalau kemana - mana selalu diantar supir Ryn?" tanya Dokter Rasya.
"Mm... Nggak. Ini karena udah malam aja, aku kurang nyaman kalau nyetir malam hari rasanya serem dan takut kalau pulang malam begini sendirian" jawab Ryntia.
"Oooh... " Dokter Rasya terus menjalankan mobilnya.
"Kamu berapa bersaudara Ryn?" tanya Dokter Rasya.
"Dua, aku punya adik laki - laki" jawab Ryntia.
Ryntia melirik ke arah Dokter Rasya.
"Kamu?" Ryntia balik bertanya.
"Aku punya dua adik tapi beda Ibu" jawab Dokter Rasya.
"Ooh adik dari tante Lisa ya?" tanya Ryntia lagi.
"Maaf " balas Ryntia merasa gak enak hati sudah membuat Dokter Rasya jadi teringat kepada Mamanya yang sudah lama meninggal.
"Gak apa - apa kok" balas Dokter Rasya.
"Mmm... maaf ya Sya aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Ryntia.
"Boleh, kamu mau tanya apa?" tanya Dokter Rasya.
"Tante Lisa gimana orangnya, baik?" tanya Ryntia sungkan.
Dokter Rasya terseyum lembut.
"Mama baik, sejak aku kenal dia dulu saat Papa menikah dengannya. Mama baik yang sayang padaku. Aku diurus seperti anaknya sendiri" jawab Dokter Rasya.
"Mmm.. dulu kan katanya Tante Lisa sempat terganggu karena kehilangan anaknya. Bahkan sempat culik Elfa waktu baru lahir. Apa Tante Lisa mmm... gak pernah kambuh lagi penyakitnya" tanya Ryntia hati - hati.
"Alhamdulillah nggak. Mungkin karena itu dia tulus menyayangiku. Dia tau bagaimana sakitnya kehilangan anak membuat dia sayang pada anak - anak termasuk padaku. Walaupun aku adalah anak tirinya Mama" balas Dokter Rasya dengan santai.
__ADS_1
"Maaf ya bukan aku mau ikut campur dengan masalah keluarga kamu. Aku hanya penasaran" ujar Ryntia.
"Gak apa - apa Ryn. Aku tau kok kalau Mama aku sempat punya kesalahan besar pada keluar besar kalian. Terlebih kepada Papanya Fathir dan Papa Mamanya Fael, Fela dan Elfa. Bahkan Mama pernah menculi Elfa. Tapi kata Papa pada saat itu Mama melakukan itu murni memang karena stres kehilangan anaknya bukan ingin balas dendam atau ingin berbuat buruk pada keluarga Elfa. Makanya Papa aku merekomendasikan Mama untuk di rawat dan menjamin Mama tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar hukum lagi. Akhirnya Papa dapat menyembuhkan Mama dan mereka menikah " ungkap Dokter Rasya.
"Gimana perasaan kamu ketika tau tentang masa lalu Mama tiri kamu yang seperti itu?" tanya Ryntia penasaran.
"Awalnya aku terkejut tapi kan aku juga belajar kedokteran Ryn. Aku mengerti mengapa Mama berbuat seperti itu. Kalau soal masalah Mama dengan Papanya Fathir dan Papanya Elfa itu sih masa lalu Mama Ryn. Aku tidak mau ikut campur apalagi menghakimi Mama. Papa saja bisa menerima semua kekurangan Mama. Asalkan Mama mau berubah dan tidak mengulanginya lagi aku rasa dia pantas mendapatkan kesempatan. Dan kita tidak berhak menghakimi dia. Allah saja maha baik mau memberikan Mama sebuah kesempatan lagi untuk berumah tangga dan membangun sebuah keluarga" jawab Dokter Rasya.
Nyess.... kok hati Ryntia adem ya dengar perkataan Dokter Rasya.
Kamu hebat Sya bisa punya pikiran seperti itu. Puji Ryntia dalam hati.
"Iya Sya kamu benar. Allah sayang kepada semua ummatnya hanya saja kita saja yang sering lupa bahwa Allah sudah berulang kali memperingatkan kita agar kita tidak berbuat hal - hal yang buruk dan kalau kita sudah terlanjur melakukan hal buruk Allah juga berulang kali memberi kita kesempatan untuk bertaubat dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi" sambut Ryntia.
"Benar sekali Ryn kata - kata kamu. Sebenarnya dalam kehidupan ini kita selalu diberikan dua pilihan yang mana masing - masing pilihan itu akan ada konsekuensinya. Ada hal yang baik dan buruknya. Tinggal kita memutuskan memilih pilihan yang mana. Misalnya seperti Papa. Saat dia memilih menikah dengan Mama dia harus siap dan bisa menerima masa lalu Mama dan berusaha untuk membantu Mama melewatinya. Bagitu juga Mama ketika dia memilih menikah dengan Papa, Mama harus bisa menerima aku sebagai satu paket. Karena Papa adalah duda beranak satu. Mereka berdua sama - sama siap dengan konsekuensi itu akhirnya mereka memutuskan menikah. Dan masih banyak contoh lain dalam kehidupan kita ini. Tinggal bagaimana dan dari mana sudut pandang kita melihat" sambung Ryntia.
"Gak nyangka kamu ternyata dewasa banget ya pikirannya padahal usia kita sama. Aku jadi malu masih terlalu sedikit ilmu kehidupannya" ujar Ryntia.
"Hahaha... kamu bisa aja" balas Dokter Rasya.
Seru juga ngobrol dengan Ryntia dan nyambun. Selain cantik dia juga ramah. Puji Dokter Rasya dalam hati.
"Sya yang itu rumah aku" tunjuk Ryntia.
Dokter Rasya berhenti di depan rumah gedung yang sangat besar, hampir sama besarnya dengan rumah Fael, Fela dan Elfa.
Yah namanya juga mereka keluarga Barrakh, keluarga orang kaya. Batin Dokter Rasya.
"Kamu gak singgah lagi?" tanya Ryntia memberikan tawaran pada Dokter Rasya.
"Maaf Ryn lain kali aja ya, udah malam" tolak Dokter Rasya halus.
"Oke deh, makasih ya Sya udah anterin aku sampai rumah" ujar Ryntia tulus.
"Iya, salam buat Om dan Tante ya.. Sampai ketemu lagi lain waktu" ucap Dokter Rasya pamit.
Mobil Dokter Rasya bergerak keluar area rumah Ryntia dan meninggalkan rumah besar itu lalu kembali menuju rumahnya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG