
Ethan dan Elfa sedang duduk di gazebo belakang rumahnya. Mereka duduk sambil bercerita santai di atas kolam ikan yang berada di bawah gazebo.
"Honey sepertinya kamu punya satu rahasia yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Ethan.
"Rahasia apa? Aku gak pernah menyembunyikan apapun dari kamu" jawab Elfa.
"Tentang Jack dan Celine dan lamaran di mesjid" ujar Ethan
"Oh itu hahaha" Elfa tertawa lebar membuat Ethan semakin penasaran.
"Lebar banget ketawanya, buat aku pengen cium kamu" ungkap Ethan.
Sontak Elfa terdiam karena perkataan Ethan. Seandainya Ethan benar - benar melakukannya apa yang harus dia lakukan.
"Coba kalau kamu berani? Kamu mau ikutan berenang bersama ikan - ikan itu?" ancam Elfa.
"Hahaha sadisnya calon istriku" sambut Ethan.
"Habis kamu, kata - katanya itu serem banget tau" balas Elfa.
"Kalau sudah nikah itu tidak akan seram lagi honey. Kamu pasti akan ketagihan" goda Ethan.
"Ya bedalah, kalau sudah nikah kan sudah halal. Sekarang mah belum boleh" protes Elfa.
"Jadi kamu masih belum mau cerita tentang Jack dan Celine? Ada apa dengan mereka di mesjid saat kira shalat di malam lamaran Fael?" Desak Ethan.
"Oh itu hahaha... aku masih lucu membayangkan wajah mereka berdua" Jawab Elfa.
"Apasih honey? Kamu membuat aku semakin penasaran aja" ujar Ethan.
Elfa menarik nafas panjang dan siap untuk bercerita.
"Malam itu, kita semua shalat di mesjid kecuali mereka berdua. Celine sedang merapikan pakaiannya di depan mobilku dan disaat yang sama Jack menghampirinya dan memuji kalau malam itu Celine sangar cantik. Kamu tau? Wajah Celine sangat merah karena menahan malu. Sedangkan wajah Jack sangat cool dan handsome" puji Elfa.
"Oh ya, bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Ethan semakin penasaran.
"Aku memasang kamera CCTV di dalam mobilku. Celine lupa akan hal itu. Jadi aku bisa melihat kejadian malam itu dengan jelas" ungkap Elfa.
"Benarkah? aku ingin melihatnya honey" pinta Ethan.
"Untuk apa? Kamu mau membully Jack?" tanya Elfa curiga.
__ADS_1
"Kamu tidak tau bagaimana dulu membullyku saat aku mulai menyadari kalau aku jatuh cinta kepada kamu" jawab Ethan.
Elfa menatap Ethan tak percaya.
"Dia mengejekku bucin" ujar Ethan kesal.
"Hahaha... kamu memang seperti itu. Bucin akut" ejek Elfa.
"Kamu sudah bisa mengejekku seperti itu ya. Untung aku sudah sangat mencintai kamu, kalau tidak aku akan menindas kamu seperti saat di London" balas Ethan sambil mengulang kenangan mereka dulu.
"O.. ooo.. di sini kamu tidak bisa menindasku. Ini negaraku, di rumahku dan aku sedang bersama keluargaku. Kamu tidak bisa memperlakukan aku semena - mena" ujar Elfa.
"Kalaupun saat ini kita ada di London aku tetap tidak akan pernah menindasmu lagi. Yah benar apa yang kamu dan Jack katakan untukku. Aku memang sudah bucin kepada kamu" Ethan mengakui julukan yang diberikan Elfa kepadanya.
"Ooowwwh.. so sweeet" puji Elfa.
"Lanjut donk tentang kejadian malam itu?" tanya Ethan penasaran.
"Malam itu Jack berkata kalau sebentar lagi kita akan menikah. Baik dia dan Celine pasti akan merasa kesepian karena kita yang selama ini selalu mereka urusin sudah bahagia dengan pasangan kita. Tinggallah mereka sendiri. Dia mengajak Celine menjalani hidup berdua setelah kita menikah. Tapi Celine tidak bisa memberikan jawabannya pada malam itu juga. Jack memberikan Celine waktu sampai waktu kita sudah menikah. Baru dia akan menagih janjinya kepada Celine. Katanya karena dia punya janji pada kamu tidak akan memikirkan masa depanmu sebelum kamu bahagia. Benar dia punya janji seperti itu pada kamu?" jawab Elfa panjang.
"Iya benar, dia memang pernah berjanji seperti itu dan janjinya itu masih belaku" ujar Ethan.
"Ada ya janji seperti itu?" tanya Elfa heran.
"Kalau begitu jangan kamu bully dia. Aku salut padanya. Dia sangat memikirkan kebahagiaan kamu" ujar Elfa.
"Kamu jangan khawatir itu sudah biasa diantara kami. Sama seperti kamu dengan teman - teman kamu" balas Ethan.
*****
Ke esokan harinya di ADS Corp.
Fael, Fathir dan Shaby kini berada di ruangan Fael setelah selesai meeting dengan para bawahan mereka.
"Gimana Fath jadi kamu ngatur jadwal kencan Sitha dengan Rasya?" tanya Fael kepada Fathir. Dia sengaja memancing emosi Shaby.
"Dokter Rasya mau kencan dengan Sitha?" tanya Shaby tak percaya.
Fael menganggukkan kepalanya.
"Kemarin kan aku udah bilang ke Sitha saat di rumahnya. Masak kamu lupa?" tanya Fathir.
__ADS_1
"Aku gak lupa, hanya saja kemarin kalian tidak menyebutkan nama pria yang akan kalian kenalkan dengan Sitha" elak Shaby.
"Shyana ingin memastikan padaku apakah Sitha setuju. Agar Shayana bisa mengatur waktu kencan mereka. Shyana akan menginformasikan kepada Rasya waktu dan tempatnya" sambut Fael.
"Oke nanti aku pastikan dengan Sitha" jawab Fathir.
"Sitha mau Fath?" tanya Shaby penasaran.
"Lho kemarin kan kamu jadi saksinya, Sitha mau dikenalkan dengan pria yang tak lain adalah Rasya" jawab Fathir.
"Sitha pasti mau, Rasya kan tampan, mapan juga dokter. Dimata wanita profesi dokter sangar bagus sekali untuk menjadi kandidat pekerjaan suami idaman. Kalau bisnisman seperti kita ini terlalu dekat dengan dunia kehidupan bebas" sambut Fael.
Shaby terlihat kesal mendengar perkataan Fael.
"Kamu kenapa Shab?" tanya Fathir.
"Aku, kenapa?" tanya Shaby, berusaha mengubah ekspresi wajahnya.
"Tampaknya kamu tidak senang kalau Sitha mau kita jodohkan dengan Rasya? Kamu tidak ingin sahabat kita mendapatkan kebahagiaan mereka satu persatu. Kamu juga sebentar lagi kan akan kami carikan jodoh" jawab Fathir.
"Betul bro, banyak lho teman sejawat Shyana yang minta di carikan pasangan?" Sambut Fael.
"A.. aku senang kok melihat Sitha bahagia" jawab Shaby.
Fael dan Fathir saling memberikan isyarat melihat sikap Shaby yang tampaknya berubah jadi kesal dan tidak semangat. Mereka semakin yakin kalau diantara Shaby dan Sitha memang ada hubungan khusus.
"Mama Ditha dan Papa Disil pasti senang sekali mempunyai menantu berprofesi sebagai seorang dokter. Pasti mereka lebih lega, ada yang bisa perhatikan kesehatan mereka saat di hari tua" ujar Fathir.
"Tapi Rasya kan anaknya Tante Lisa musuh bebuyutan Papa dan Mama kamu Fael? Apa Om Disil bisa menerimanya?" tanya Shaby.
"Mama dan Papaku kan sudah bilang kejadian dulu adalah masa lalu. Yang penting Mama Rasya kan tidak mengulanginya. Lagian Rasya bilang Mamanya menculik Elfa dulu kan karena dia baru kehilangan anaknya sehingga jiwanya terguncang dan menganggap Elfa sebagai anaknya saat dia melihat Elfa" jawab Fael.
"Benar aku rasa Papa Disil tidak masalah dan keberatan dengan Mamanya Rasya" sambut Fathir.
Shaby semakin tak nyaman berasa di ruangan Fael.
"Eh Fael, aku ke ruanganku dulu ya. Pekerjaan aku masih ada yang gantung. Oke ya aku tinggal dulu" Shaby langsung beranjak ke ruang kerjanya.
Hal itu membuat Fael dan Fathir tertawa puas sudah berhasil mengerjain Shaby.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG