
Kini tibalah hari pelantikan Elfa sebagai CEO di Barrakh Corp. Seluruh petinggi dan pemegang saham datang ke acara tersebut. Termasuk Omar Barrakh, Kevin dan Augustus.
Para pejabat sebelumnya yaitu Fajar, Keysha dan Ryza juga sudah lebih dahulu hadir sebelum kedatangan para tetua.
Karena kandidat CEO hanya satu orang, kursi wakil CEO kosong. Yang dikantin hanya Elfa sebagai CEO dan tentu saja Celine sebagai asisten pribadinya.
Omar Barrakh datang bersama dengan Dokter pribadinya yang saat ini sedang fokus merawat dan memperhatikan tekanan darah Omar.
Dokter Shyana selalu berada di samping Omar Barrakh, dia menyaksikan bagaimana proses pelantikan Elfa sebagai CEO baru.
Acara berlangsung dengan hikmat dan tenang. Semua berjalan sesuai dengan susunan acara.
Setelah satu jam berlalu akhirnya acara selesai. Omar dengan menggunakan kursi rodanya mencoba menyamperi Elfa.
"Selamat sayang atas jabatan baru kamu. Semoga kamu tetap amanah dalam menjalankan tugas kamu dan bertanggung jawab. Nasib Barrakh Corp beserta ribuan karyawan ada di tangan kamu" ucap Omar.
"InsyaAllah aku akan menjalankannya dengan sebaik mungkin Opa. Doakan ya Opa. Kalau ada kesalahanku tolong langsung di koreksi agar aku bisa segera membenahi diri" jawab Elfa.
Omar tersenyum puas melihat cucu kesayangannya akhirnya menjadi penerus perusahaannya.
"Selamat ya sayang, berkah jabatan yang kamu jabat sekarang. Pesan Papa kerjakan saja jangan tunggu orang lain yang menyelesaikannya" pesan Fajar.
"Iya Pak" jawab Elfa singkat.
Setelah acara selesai mereka masuk ke ruang kerja Fajar yang nantinya akan digantikan oleh Elfa. Semua berkumpul di ruangan tersebut untuk mengucapkan selamat kepada Elfa.
Tiba - tiba sekretaris Fajar masuk kedalam ruangan dengan membawa buket bunga yang sangat cantik.
Wanita itu menyerahkan buket tersebut kepada Elfa.
"Apa ini. Eh maksud aku ini dari siapa? Siapa pengirinnya?" tanya Elfa.
__ADS_1
"Katanya dari Diamond Corp Bu" jawab Sang Sekretaris.
"Terimakasih Des" jawab
Elfa.
Elfa melihat siapa nama pengirim buket itu, ketika dia ingin membuka kartunya tiba - tiba kartunya jatuh. Fajar yang berada paling dekat dengan Elfa mencoba membantu putrinya.
Fajar mengambil kartu itu dan kemudian membacanya.
"Ethan Mohammed? Bagaimana dia tau kalau hari ini kamu dilantik menjadi CEO Barrakh Corp?" selidik Fajar
Elfa mengambil kartu yang ada di tangan Papanya dan membaca tulisan yang ada di kartu ucapan selamat yang di kirimkan Ethan.
Selamat atas jabatan baru kamu sebagai CEO. Semoga kamu selalu amanah dalam menjalankan tugas dan tetap semangat. Dan jangan pernah lupa, aku akan selalu ada di dekat kami dengan segenap cinta dan perasaanku.
With love
Ethan Mohammed
"Kamu belum menjawab pertanyaan Papa, mengapa bule brengsek itu bisa tau kalau hari ini kamu dilantik menjadi CEO Barrakh Corp?" desak Fajar.
"Aku yang memberi tahunya dan aku juga mengundangnya nanti malam di acara syukuran pelantikan jabatan baru Elfa di rumahku. Kamu keberatan kalau aku mengundang dia?" jawab Omar yang datang tiba - tiba dari arah belakang. Tentu saja menggunakan kursi roda yang di dorong oleh asisten pribadinya.
"Pa, mengapa Papa mengundangnya sih. Aku tidak suka dengan pria itu" ucap Fajar.
"Kan kamu yang tidak suka, aku suka dengannya. Dan acara nanti malam juga diadakan di rumahku jadi terserah aku donk mau undang siapa saja. Kecuali kalah acaranya di rumah kamu, aku harus meminta izin kamu terlebih dahulu. Lagian apa sih yang membuat kamu keberatan dengan adanya dia?" tanya Omar.
"Dia bukan pria baik" jawab Fajar.
"Dari mana kamu tau dia bukan pria baik? kamu saja selalu memusuhi dan menjauhinya. Karena dia dulu pernah mengancam Fela kamu terus mencap dirinya jahat? sempit sekali fikiran kamu Fa. Bukannya Papa sudah sering mengajarkan kepada kamu, musuh itu bukan harus di jauhi tapi di dekati. Kalau kamu menganggap Ethan sebagai musuh kamu dekati dia agar kamu sifat dan kepribadiannya. Papa sudah sering bertemu dengannya dan menurut penilaian Papa dia anak yang baik. Kalau kamu masih menghargai pemikiran Papa rubahlah penilaian kamu itu kepadanya tapi kalau kamu tidak percaya, mulailah cari informasi tentang dia. Agar fikiran kamu terbuka dan jangan berburuk sangka pada orang lain. Lagian kelemahan kamu dari dulu selalu saja lemah dan sangat lambat menyadari antimo yang datang di keluarga kira. Bukannya dulu dengan Ela kamu juga berfikiran yang sama? Berulang kali Papa katakan kalau dia antimo kamu tapi kamu tidak percaya. Begitu juga dengan Ethan. Buktikan sendiri baru kamu bertindak kemudian" tegas Omar.
__ADS_1
Fajar terdiam mendengar perkataan Papa nya, karena apa yang Papanya katakan adalah sebuah fakta. Dia dulu sangar terlambat menyadari kalau Ela adalah antimonya. Dan sekarang tentang Ethan, sebenarnya Fajar sudah melihat beberapa kali bukti bahwa Ethan adalah antimonya Elfa tapi dia berulang kali juga menepis kenyataan itu. Semua itu karena dia terlanjur membenci pria itu sejak pria itu pernah mengancam Fela beberapa bulan lalu.
Hilang sudah rasa simpati Fajar pada anak muda itu. Padahal sebelumnya Fajar sangat memuji kepintaran anak muda itu dalam mengelola bisnis dan perusahaannya.
Tetapi perkataan Papanya barusan seperti menampar wajah Fajar. Mengapa Fajar yang selama ini selalu berfikir dan bertindak secara logika tiba - tiba terpengaruh dengan perasaan dan emosinya.
Fajar tersadar kalau selama ini dia sudah salah bertindak. Dia malah membangun benteng yang tinggi antara dirinya dan pria bule itu. Sehingga sangat sulit baginya untuk menyelidiki dan menebak apa yang ada dalam kepala pria itu.
"Elfa besok susun jadwal dengan pria itu. Papa ingin bertemu dengannya" ucap Fajar kepada Elfa.
Omar tersenyum sambil melirik wajah putranya.
Dasar anak bodoh, baru sekarang sadarnya. Umpat Omar dalam hati.
"Nga.. ngapain Pa?" tanya Elfa.
"Ada yang ingin Papa tanya padanya" jawab Fajar.
"Ba.. baik Pa" balas Elfa.
Elfa meletakkan buket bunga yang dia terima tadi di atas nakas di belakang meja kerja yang nantinya tempat dia bekerja di perusahaan ini.
Omar menepuk lengan putranya.
"Gitu donk, itu baru tindakan yang tepat. Kalau kamu ingin putrimu ini secepatnya sembuh maka kamu harus segera menemukan antimonya. Ingat usianya sudah dua puluh tujuh tahun. Kamu juga dulu bertemu dengan antimo kamu seumur dia kan? Mungkin memang sudah waktunya dia menemukan pendamping hidupnya. Harusnya kamu membuka jalan untuknya bukan malah menghalanginya" nasehat Omar kepada Fajar.
Fajar semakin terdiam mendengar nasehat Papanya.
Papa benar, harusnya aku memang membantu putriku untuk secepatnya menemukan antimonya. Walau saat ini aku belum setuju dan belum suka pada pria itu tapi aku akan mencoba untuk mencari tau apa maksud dia mendekati putriku. Ucap Fajar dalam hati.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG