
"Apa???? " tanya Dokter Shyana tak percaya.
"Maaf Shyan, aku yang memilih kamar ini untuk Papa kamu. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik pada keluarga kamu karena kamu sudah banyak membantu keluarga kami" ujar Fael yang tiba - tiba datang dari belakang.
"Ini terlalu berlebihan Fael" tolak Dokter Shyana.
"Tidak ada yang berlebihan untuk keluarga kamu. Bukankah kita harus memberikan yang terbaik untuk keluarga kita? Aku ingin kamu bisa memberikan yang terbaik untuk Papa kamu. Aku hanya bisa membantu kamu seperti ini" bujuk Fael.
Mama Dokter Shyana memeluk lengan putrinya dan memberikan isyarat agar Dokter Shyana terima saja apa yang sudah diberikan Fael.
"Ma.. aku tidak mau berhutang budi padanya" bisik Dokter Shyana kepada Mamanya tapi kata - katanya itu dapat di dengar jelas oleh Fael.
"Bukan kamu yang berhutang budi Shyan, sebaliknya keluargaku yang banyak berhutang budi pada kamu. Kamu sudah merawat Opaku sampai sembuh sekarang kamu sedang merawat Ethan yang sedang cidera di rumahku potong Fael.
"Itu karena memang tugasku. Aku merawat mereka kan karena tugas kalau tidak mana mungkin aku bisa masuk dalam keluarga kamu" balas Dokter Shyana.
"Kamu merawat mereka dengan tulus, menganggap Opaku sebagai Opa kamu sendiri. Aku sebagai cucunya sudah sepatutnya membalas sikap tulus kamu itu kepada Opaku" ungkap Fael.
Mama Dokter Shyana mengambil alih untuk menghentikan perdebatan antara Fael dengan Dokter Shyana.
"Terimakasih atas perhatian Nak Fael untuk keluarga kami. Kami sangat merasa tersanjung dapat perlakuan seperti ini" potong Mama Dokter Shyana.
"Sama - sama Tante, semoga Om dan Tante betah berada di ruangan ini" ucap Fael.
Mama Dokter Shyana tersenyum lembut kepada Fael.
Duh sopannya anak muda ini, andai saja dia menyukai putriku alangkah senangnya aku mempunyai menantu sebaik ini. Batin Mama Dokter Shyana.
Setelah memastikan Bapak Nugroho nyaman di dalam masa pemilihannya baru Fael pamit undur diri.
"Sudah malam, aku pamit undur diri ya Shyan, Tante" ujar Fael kepada Dokter Shyana dan Mamanya.
__ADS_1
"Iya Nak Fael terimakasih banyak" jawab Mama Dokter Shyana.
Dokter Shyana mengantar Fael sampai keluar.
"Tolong jangan terlalu berlebihan memperlakukan keluargaku Fael, aku sangat berat sekali menerima semua ini" ujar Dokter Shyana sambil mengantar Fael ke luar dari ruangan rawat inap Papanya.
"Kamu yang terlalu sungkan Dokter Shyana. Bukankah kita sudah menjadi teman? Aku hanya ingin membantu temanku. Dan kepada teman tidak ada istilah balas budi. Itu prinsip pertemananku" tegas Fael.
Dokter Shyana tidak dapat berkata - kata lagi, sepertinya susah untuk menolak semua keputusan Fael jika dia sudah berkehendak. Sama seperti dia mendapat tugas untuk kedua kalinya merawat orang sakit di keluarga Barrakh. Saat itu Fael yang menjemputnya langsung ke Rumah Sakit dan Dokter Shyana tidak dapat menolah perintah dari Direktur Rumah Sakit tempat dia bekerja. Dokter Shyana tau semua itu tidak lepas dari peranan Fael.
"Besok aku akan datang kembali ke sini untuk berkenalan dengan Papa kamu dan katakan padanya untuk bersiap. Aku akan menantangnya bermain catur" ucap Fael sambil tersenyum.
Dokter Shyana menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Bukannya kamu bilang kamu sering bertanding catur dengan Papa kamu? Melihat kamu begitu mahir bermain catur membuat aku jadi semakin penasaran dengan guru yang telah berhasil melatih kamu dengan sebaik itu. Mungkin aku bisa ikut berlatih dengan Papa kamu agar bisa menang melawan Opa. Atau apakah perlu aku membawa Opa ke sini untuk bermain catur dengan Papa kamu. Aku rasa itu ide yang sangat baik. Opa pasti senang mendapatkan lawan tanding yang hebat" ujar Fael panjang.
Entah angin dari mana membuat dia tiba - tiba mengeluarkan kata - kata sebanyak ini. Biasanya dia selalu tidak banyak cakap dan berbicara secukupnya saja tapi dengan Dokter Shyana dia rasanya ingin terus ngobrol panjang dan rasanya tidak ingin waktu diantara mereka habis. Sangat berat rasanya berpisah seperti ini.
"Hahaha.. Shyana.. Shyana.. kamu belum kenal siapa Opa Omar. Dia itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Dan Opaku itu adalah orang yang paling tau cara balas budi. Lihat saja nanti aku akan benar - benar mendatangkan Opa ke sini" tegas Fael.
"Jangan Fael Opa terlalu lelah kalau harus melakukan perjalanan ke sini" tolak Dokter Shyana halus.
"Kalau Opa mau tidak ada yang mustahil Shyana. Lihat saja" Fael tersenyum manis kepada Dokter Shyana.
Please Fael jangan tersenyum seperti itu kepadaku. Aku tidak bisa menerima semua perlakuan manismu ini kepadaku. Itu akan membuatku terkurung dalam jurang kegelapan karena cinta. Aku sadar posisiku sangat jauh dibawah kamu. Tangis Dokter Shyana dalam pon hati.
"Aku pulang dulu ya, fokus saja mengurus Papa kamu jangan pikirkan pekerjaan kamu. Ethan bisa kami atasi. Selamat malam Dokter Shyana, selamat cuti" ujar Fael.
Fael berjalan meninggalkan Dokter Shyana yang terdiam terpaku menatap kepergiannya. Setelah kepergian Fael Dokter Shyana kembali masuk ke ruangan rawat inap papanya.
"Dia sudah pergi?" tanya Mamanya.
__ADS_1
"Sudah Ma" jawab Dokter Shyana tak bersemangat.
"Dia baik ya, ganteng lagi" puji Mamanya.
"Mama jangan terlalu berlebihan seperti itu. Aku tidak mau dia mendengar semua pembicaraan kita seperti tadi. Aku tidak mau hutang budi padanya Ma" tolak Dokter Shyana.
"Kalau dia tulus membantu kita kenapa gak? " tanya Mama Dokter Shyana.
"Aku tidak mau kita jadi terbiasa bergantung pada keluarganya Ma" jawab Dokter Shyana.
"Apa dia memang sebaik itu pada semua orang atau hanya kepada kamu ya? Mama kok jadi penasaran ya?" tanya Mamanya.
"Awalnya dia itu pria yang cuek Ma, dingin, sombong dan pendiam. Bahkan lirikan matanya terlihat seperti ingin membunuh. Itu saat pertemuan pertama kami. Aku tidak sengaja menabraknya dan dia sangat marah padaku. Tapi setelah semakin lama aku mengenalnya ternyata dia tidak sejahat itu. Apalagi kalau melihat dia begitu sayang kepada Mama dan dua adik kembarnya aku melihatnya jadi pria yang berbeda" ungkap Dokter Shyana dengan mata yang bercahaya.
Mama Dokter Shyana tersenyum melihat wajah putrinya, kini dia tau apa masalah yang sedang di hadapi oleh putrinya itu.
"Dia juga punya banyak sahabat Ma, dia sangat setia kawan dan senang membantu orang lain" puji Dokter Shyana.
"Berarti dia memang anak yang baik" sambut Mama Dokter Shyana.
"Ya, dia memang pria yang baik" puji Dokter Shyana lagi.
"Kamu menyukainya?" tanya Mama Dokter Shyana.
"Mama...... "
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1