CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
84


__ADS_3

"Siapa yang memberi tahu dia alamat rumah Papa?" tanya Fajar kesal.


Sontak Fael, Elfa dan Fela terdiam melihat wajah Papa mereka yang terlihat sedang marah.


Mereka saling pandang dan melirik ke arah Opanya.


"Aku yang memberikan alamat rumahku padanya. Kenapa Fa, kamu keberatan aku kalau aku memberikan alamat rumahku pada orang lain?" tanya Omar.


"Ya bukan begitu Pa tapi dia kan?" protes Fajar.


"Dia tamu Papa di sini, jadi tolong kamu hargai dia kalau kamu masih anak Papa" tegas Omar.


Sontak Fajar terkejut mendengar pembelaan Papanya pada Bule tengil ini.


Sial.. untung saja bule ini tidak mengerti bahas Indonesia. Kalau tidak mau di letak dimana wajahku ini karena malu Papa lebih membelanya dari pada aku anak kandungnya. Batin Fajar.


"Oh jadi ini bule yang kamu ceritain itu Din, antimonya Elfa" ujar Kevin.


"Hati - hati Vin jangan asal ngomon. Semprul ini lagi belajar bahasa Indonesia. Nanti dia tau lagi penyakitnya Elfa" ujas Omar.


"Ups... sorry Din" jawab Kevin.


"Berhenti memanggilku 'Din' Keviiin" protes Omar.


"Maas kamu belum sembuh betul, nanti tekanan darah kamu naik lagi" nasehat Jasmine mengingatkan.


Ada apa dengan keluarga ini. Keluarga kaya tapi kok kerasa lucu ya mereka semua. Eh tadi Opa satu ini bilang antimo Elfa. Apa maksudnya ya? Tanya Dokter Shyana dalam hati.


"Elfa Dokter Shyana kan sebulan tinggal di sini, kamu nginap di sini juga ya selama satu bulan biar Dokter Shyana ada temannya, jadi dia gak kesepian" pinta Omar.


Elfa melirik ke arah Mama dan Papanya. Ela terlihat menganggukkan kepalanya.


"Pa" Elfa melirik ke arah Papanya.


"Terserah kamu saja" jawab Fajar.


Kalau sudah Papanya yang meminta dia tidak bisa menolaknya. Lagian memang Papanya sedang sakit dan Elfa adalah cucu kesayangan Papanya.


"Oke Opa aku akan nginap di sini selama satu bulan menemani Dokter Shyana sekalian jagain Opa deh" jawab Elfa gembira.


Omar tersenyum menatap cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


Beres kalau begini, kalau Elfa di sini si Bule tengil itu bisa bebas main ke sini. Tapi kalau Elfa di rumah Papanya pasti Si The Ghost kesulitan untuk pendekatan dengan Elfa.


Aku mau sebelum tutup usia salah satu cucuku sudah ada yang menikah. Syukur - syukur aku bisa melihat triplet ini menikah semua. Kalau tidak Elfa atau Fael, siapa yang duluan menikah sudah membuatku senang.


"Elfa tunjukkan pada Dokter Shyana dimana letak kamarnya" perintah Omar.


"Baik Opa" jawab Elfa.


"Hey kamu mau kemana?" tanya Fajar pada Ethan.


"Maaf Mr. Fajar, aku mau ikut Elfa" jawab Ethan.


"Enak saja kamu ikutin putriku. Kamu di sini saja. Itu urusan wanita" larang Fajar.


"Maaf aku tidak tau" jawab Ethan.


Ethan kembali berdiri di dekat Fael dan Omar. Karena hanya mereka berdua yang sudah berhasil dia dekati.


Semua berkumpul di ruang keluarga sambil menyicupi makanan ringan yang di sediakan tuan rumahnya.


"Mmm... enak semua makanannya. Pasti Grandma yang masak" puji Ethan.


"Grandma tidak sekuat dulu lagi. Semua bibik yang masak tapi tentunya dengan pantauan grandma" jawab Jasmine.


"Kamu sudah merasakan masakan Elfa?" tanya Jasmine.


"Sudah Oma, apalagi Boomnya, enak sekali" puji Ethan.


"Boom, makanan apa itu?" tanya Jasmine bingung.


"Rendang jengkol Oma" jawab Celine.


"Siapa yang merubah namanya?" tanya Jasmine penasaran.


"Tentu saja cucumu itu. Dia punya seribu satu ide" sambut Omar.


"Dasar anak itu memang" ucap Jasmine.


"Bagaimana persiapan pelantikan CEO yang baru?" tanya Omar kepada Fajar.


"Sudah hampir sempurna Pa. Elfa sudah mengetahui tugas - tugasnya. Tapi Papa masih sakit, apakah perlu kita tunda saja acaranya?" tanya Fajar.

__ADS_1


"Tidak, tetap saja selenggarakan minggu depan. Aku akan hadir walau menggunakan kursi roda" tegas Omar.


"Baik Pa" jawab Fajar.


"Kalian memang benar - benar tidak berminat bekerja di Barrakh Corp?" tanya Omar kepada Fael dan Shaby.


"Tidak Opa, biar Elfa saja. Sejak kecil dia memang punya bakat di bidang bisnis hotel dan masak memasak. Aku lebih menyukai teknik" jawab Fael.


"Aku juga Opa" sambut Shaby.


"Kamu Fela?" tanya Omar kepada cucunya yang lain.


"Aku lebih suka di Butik Mama Opa" jawab Fela.


"Opa hanya ingin kalian tau kalau Opa tidak pilih kasih. Siapa saja boleh melanjutkan bisnis keluarga kita. Jangan kalian fikir Opa lebih menyayangi adik kalian sehingga semua kedudukan di Barrakh Corp di serahkan kepadanya" ungkap Omar.


"Kami mengerti Opa dan kami tidak mempermasalahkannya" jawab Fael.


"Selama tiga hari berbincang dengan Ethan di Rumah Sakit aku jadi mempunyai ide untuk menjalin kerja sama dengan Ethan untuk membuat cabang perusahaan perhiasannya di Indonesia. Gak ada salahnya kita tunjukkan pada dunia perhiasan yang di miliki Indonesia. Di Kalimantan kan banyak jenis batu yang bisa dibuat jadi perhiasan Fael. Bukankah ADS Corp mempunyai cabang perusahaan di sana Adit?" tanya Omar pada besannya.


"Ya, salah satu cabang terbesar yang dimiliki ADS Corp ada di Kalimantan" jawab Adit.


"Sudah saatnya kita tampilkan kekayaan yang dimiliki Indonesia ke mata dunia. Mungkin bisa kita mulai dengan menjalin kerjasama dengan Ethan. Dia kan sudah berpengalaman di bidang itu. Bagaimana Ethan?" tanya Omar.


"Aku sangat senang sekali Opa, kalau Opa memberikan kesempatan dan jalan untuk aku memperluas dan mengembangkan bisnis perusahaan keluargaku di Indonesia" ungkap Ethan.


Sekalian kerjasama menjadi keluarga ya Opa. Pasti Mommy dan Daddy senang mendengarnya. Batin Ethan.


"Papa jangan terlalu bersemangat, fokus saja dulu dengan kesehatan Papa. Nanti kalau Papa sudah sembuh total baru kita bicarakan lagi" potong Fajar.


"Aku kan hanya memberi ide. Toh yang menjalankannya adalah Fael. Dan mengenai pembangunan gedung untuk Cabang Perusahaan kamu. Kamu bisa bekerjasama dengan Elfa. Dia sudah biasa memantau pembangunan Hotel kami. Dia punya pengalaman dan kenalan di bidang itu" ujar Omar.


"Baik Opa, nanti saya akan tanyakan kepada Elfa. Senang sekali kalau ada teman untuk bertukar fikiran di sini. Bagaimanapun negara ini masih belum terlalu aku kenal. Aku butuh seseorang yang memberikan masukan untuk pembangunan cabang perusahaanku di Jakarta ini. Kami masih dalam tahap pencarian lokasi untuk pembangunan gedung" jawab Ethan serius. Jiwa bisnisnya bangkit kembali setelah hampir dua minggu dia tinggalkan karena sibuk mencari perhatian Elfa dan keluarganya.


"Oh iya Opa mumpung semua berkumpul di sini, aku baru ingat ketika bertemu dengan Mrs. Fajar. Anda kan membuka usaha di bidang fashion. Mommy ku sedang mencari Princess seorang designer. Princess adalah designer favorit Mommy ku di London. Dia dengar Princess itu adalah orang Indonesia jadi dia menyuruhku untuk mencari Princess di negara ini. Apakah Mrs. Fajar kenal dengan Princess, secara yang aku dengar Mrs. Fajar sekolah design di London, siapa tau anda mengenalnya?" tanya Ethan serius.


"Hahaha... kamu bertanya pada orang yang tepat Ethan. Ela bukan hanya mengenal Princess tapi dialah Princess itu" jawab Omar.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2