
"Kamu menyukainya?" tanya Mama Dokter Shyana.
"Mama...... " Dokter Shyana terkejut mendengar pertanyaan Mamanya.
"Kenapa kamu terkejut? Kamu itu anak Mama sayang, Mama tau apa yang sedang ada dalam pikiran kamu saat ini" ujar Mama Dokter Shyana.
"Ma.. ternyata sulit ya berbohong kepada Mama?" Dokter Shyana memeluk manja Mamanya.
"Kalau kamu menyukainya mengapa kamu menolak semua bantuannya?" tanya Mama Dokter Shyana.
"Aku gak percaya diri Ma" jawab Dokter Shyana.
"Kenapa kamu gak percaya diri, kamu cantik, solehah, baik, pintar dan seorang dokter lagi. Apa coba kekurangan kamu?" tanya Mama Dokter Shyana.
"Keadaan keluarga kita sangat jauh di bawah mereka Ma. Aku sadar diri, dia punya segalanya. Wajah, harta, tahta dan martabat keluarga semuanya sempurna. Pasti banyak wanita yang lebih dari aku Ma berada di sekelilingnya. Aku tidak mau berharap, sekarang posisinya aku wanita Ma. Lebih baik di cintai Ma dari pada mencintai. Kalau terus mengerjarnya aku yakin aku pasti akan lelah Ma" ungkap Dokter Shyana.
Mama Dokter Shyana memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Yang penting tetaplah menjadi diri kamu sendiri sayang.. kalau memang dia jodoh kamu pasti dia akan datang untuk kamu" ujar Mamanya dengan lemah lembut.
"Sudahlah Ma, mending kita istirahat sekarang" ajak Dokter Shyana.
Dokter Shyana dan Mamanya bersiap - siap untuk tidur sedangkan Papanya sudah terlebih dahulu tidur karena pengaruh obat pasca operasi.
*****
Keesokan harinya Fael kembali datang setelah dia pulang kantor. Fael sengaja pulang lebih cepat, di perjalanan dia singgah sebentar ke toko roti milik Omanya untuk membeli buah tangan yang akan dia bawa ke Rumah Sakit dan juga makanan di EIC Restoran untuk makan malam Dokter Shyana dan keluarganya di Rumah Sakit.
Setelah semua dia rasa cukup Fael berangkat menuju Rumah Sakit dan langsung menuju kamar rawat inap Papa Dokter Shyana.
Tok.. tok.. tok..
"Assalamu'alaikum" ucap Fael ketika masuk.
"Wa'alaikumsalam eh Nak Fa, masuuuuuk" jawab Mama Dokter Shyana.
Fael masuk dengan membawa beberapa bungkusan yang tadi dia bawa dan rumah makan milik adiknya.
"Siapa Ma?" tanya Pak Nugroho
"Itu lho Pa yang tadi pagi Mama ceritain. Anaknya Pak Fajar Barrakh tempat Shyana bekerja" jawab istrinya.
__ADS_1
Fael langsung menjabat tangan Pak Nugroho hormat.
"Kenalkan Om saya Fael temannya Shyana" ujar Fael memperkenalkan diri.
"Oh ini toh yang namanya nak Fael. Silahkan duduk" sambut Pak Nugroho.
Fael memperhatikan seluruh ruangan rawat inap Pak Nugroho mencari sosok wanita yang dia rindukan.
"Shyana mana Tante?" tanya Fael.
"Shyana lagi ke luar sebentar ada yang dia cari" jawab Mama Dokter Shyana.
"Ini Tante ada makanan untuk Om mudah - mudahan Om suka dan ini makanan untuk Tente dan Shyana" Fael menyerahkan beberapa bungkusan yang tadi dia bawa.
"Duh Nak Fael ngapain repot - repot" sambut Mama Dokter Shyana.
"Gak repot kok Tante" balas Fael.
Fael kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Kata Shyana dan istri saya kamu yang pesankan kamar ini untuk saya tadi malam?" tanya Pak Nugroho.
"Itu sudah tugasnya Nak Fael sebagai seorang dokter" jawab Pak Nugroho.
"Nak Fael dari mana tadi?" tanya Bu Nugroho basa - basi.
"Saya baru pulang dari kantor dan mampir sebentar membeli roti. Oh iya Om kata Shyana Om sangat pinter main catur?" tanya Fael memulai pembicaraan.
"Ah cuma hobby saja, kalau ada waktu luang di rumah saya ajak Shyana main. Maklum anak saya cuma Shyana jadi ya gitu saya didik sebagai anak cewek plus anak cowok" Pak Nugroho tertawa.
"Tapi Shyana pinter lho Om main caturnya saya saja kalah tanding catur sama Shyana. Dulu waktu dia merawat Opa saya, Shyana sering bertanding sama Opa di rumah Opa saya" ungkap Fael.
"Oh ya, Om gak tau kalau dia sering bermain catur di tempat lain" sambut Pak Nugroho.
"Kapan - kapan kalau Om sudah sembuh dan ada waktu boleh donk saya ajak ketemuan sama Opa saya. Opa saya pasti suka bertemu dan bermain catur dengan Om" puji Fael.
"Duh Nak Fael saya gak pinter main catur hanya bisa saja" jawab Pak Nugroho merendah.
"Ah Om pasti bohong, saya yakin Om pasti jago. Kalau Opa saya tau, saya yakin saat ini juga pasti Opa ngajak Om bertanding" ujar Fael.
"Hahaha... boleh.. boleh.. kapan - kapan ajak aja Opanya ke sini eh kok malah ke Rumah Sakit ya. Ajak ketemuan aja, datang ke rumah saya atau ketemu dimana gitu" sambut Pak Nugroho.
__ADS_1
"Kita undang ke rumah aja deh Pak, sekalian menjalin silaturahmi" potong Bu Nugroho.
"Iya.. iya.. kita harus menjamu keluarga kamu di rumah kami karena Nak Fael sudah banyak membantu keluarga kami" ujar Pak Nugroho.
"Ah Om ini biasa aja kok Om" Fael tersenyum ramah.
Tak lama Shyana datang dengan membawa bungkusan di tangannya.
"Nah panjang umur" ujar Bu Nugroho.
Shyana melihat Fael sudah ada di kamar rawat inap Papanya.
"Kamu sudah lama datangnya?" tanya Dokter Shyana.
"Belum lama kok" jawab Fael.
"Shyana ini Fael ada bawa bungkusan katanya isinya makanan. Coba kamu sajikan biar kita makan bareng" perintah Bu Nugroho.
"Iya Ma" Jawab Dokter Shyana.
Dokter Shyana mengambil alih bungkusan yang tadi di bawa Fael kematian meletakkannya ke dalam piring. Dia melihat tulisan di kotak kuenya.
"Toko kue Jasmine, apakah ini toko kue milik Oma?" tanya Dokter Shyana.
Fael tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, tadi aku singgah sebentar ke toko kue milik Oma tepat disampingnya restoran milik Elfa jadi aku sekalian beli makanan untuk makan malam kamu dan Mama kamu" ungkap Fael.
"Duh Fa, kamu gak perlu repot - repot seperti ini" tolak Dokter Shyana.
"Gak repot kok sekalian aja tadi mampir sebentar" balas Fael.
Mama dan Papa Dokter Shyana memperhatikan sikap putri mereka itu dan tersenyum. Mengerti bagaimana perasaan putri mereka. Anak muda yang ada di hadapan mereka juga sangat baik.
Seandainya saja anak muda itu menyukai putri mereka, pasti mereka sangat senang sekali karena mereka tau dari sikap Shyana yang seperti itu. Shyana sangat menyukai pria itu. Hanya saja karena mereka ada di pihak perempuan mereka sadar diri dan tidak mau mencari - cari perhatian Fael. Biarlah berjalan dan mengalir seperti apa adanya saja.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1